
Setelah perpagutan itu telah usai Willy kini tengah tertidur pulas disamping El. El hanya menatap Willy dengan tersenyum. Perasaannya kini berkali lipat bahagia. Tidak menyangka bahwa ia akan secepat ini berpaling untuk mencintai.
"Mungkin dulu bukan cinta, hanya sebuah definisi kata kagum namun aku menyangka itu adalah sebuah cinta." El belai pipi Willy lalu memencet hidungnya.
Willy langsung terbangun karena tidak bisa bernapas. Ia menoleh kearah samping wanita yang telah membangunkannya.
"Bercandanya kok berlebihan El." Willy pun memeluk El.
"Mau menggoda lagi, hmm. Aku lelah El." Willy pun tertidur pulas dipelukan El.
"Willy, Alwi. Kalian dua lelaki yang sangat paling berharga didalam hidupku," gumam El, ia pun menyusul Willy kealam mimpi.
***
Tanpa terasa kini masa honeymoon pun telah satu minggu berlalu. El dan Willy tidak berdiam diri disana. Mereka selalu berwisata, mereka menganggap ini sebuah pacaran. Ia pacaran setelah menikah.
Rasanya sungguh membuat keduanya bahagia. Mereka saling melempar tawa kala mendengar lontaran mereka yang terkesan tidak masuk akal.
"Kak," panggil El.
Kini mereka tengah selesai menyantap makanan setelah berkeliling.
"Kenapa?" tanya Willy.
"Apa selain kak Putri kamu mempunyai mantan kekasih?" tanya El. Willy hanya menggeleng.
Willy hanya tidak percaya dengan apa yang El ucapkan, mengapa dia bisa bertanya hal seperti itu. Sedangkan ia dulu tahu semua apa yang Willy lakukan.
Sekian lama tinggal satu rumah, apa harus Willy mencurahkan isi hatinya. Ia hanya tersenyum kala mengingat kisahnya yang konyol. Menjalin kasih selama bertahun-tahun dengan seorang gadis yang ternyata dia adalah pacar orang lain.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya El. Ia menoleh kearah Willy yang tengah tersenyum-senyum sendiri. Sungguh aneh sekali.
"Aku hanya bingung saja." Willy menyandarkan punggungnya dipunggung kursi. Sedangkan El memiringkan wajahnya tidak mengerti dengan lontaran Willy.
"Ya tentang sekretarisku, dan juga orang kepercayaan keluarga dirimu," seloroh Willy.
"Oh kak Putri sama mas Galih," ucap El.
__ADS_1
Ia sedikit risih kala mendengar nama Putri disebut Willy. Rasanya ia cemburu, ia mengerucutkan bibirnya tanda protesnya pada Willy karena telah membuatnya cemburu.
"Kenapa harus cemburu. Ingat kan, aku menjalin kasih dengannya. Tapi dengan entengnya aku memperjuangkan dirimu. Dan kamu tahu El, dia mendukungku," terang Willy. Sedangkan El hanya mengoh kan saja.
"Tapi sedikitpun aku tidak merasa curiga dengan prilakunya, ternyata dia juga memperjuangkan pria lain. Impas ya." Willy tertawa mengingat masa itu.
"Kita harus mengintrogasi keduanya El, aku ingin tahu maksud keduanya apa untuk melakukan hal yang tidak masuk akal begini," lontar Willy. Sedangkan El hanya menggeleng tanda ia tidak mengetahuinya.
"Pulang yuk kak,"
***
Pengantin baru tengah merebahkan tubuhnya diranjang hotel. Willy tidak hentinya mengecupi Puncak kepala El. Ia begitu sangat mencintai seseorang yang tengah berada disampingnya kini.
"El mau dengar ceritaku tidak?" tanya Willy.
Posisi mereka kini tengah berpelukan diatas rajang berukuran king size itu. Mereka tidak melakukannya, selama satu minggu telah honeymoon mereka melakukannya hanya satu kali saja.
Dan tanpa sadar itu pun diberi obat perangsang oleh Ima. Sungguh pintar mama mertua Willy.
"Aku tidak tertarik kalau itu hanya seputar mantan kekasih mu," jawab El dengan memukul dada Willy.
"Baiklah, aku akan mendengarkan semuanya. Tapi kalau tentang mantanmu aku tidak mau mendengarnya," ucap El.
Willy pun mengangguk, sebelum ia menceritakan segalanya ia berjalan terlebih dulu untuk membawa minuman. Ia akan bercerita sepanjang perjalanan kisahnya memendam sebuah rasa tanpa mengungkapkan.
Bukan tanpa alasan Willy menceritakan ia hanya ingin El tahu segala tentang isi dihatinya. Ia tidak mau kalau sampai El beranggapan ia berjuang karena Alwi. Buah dari kesalahannya dulu.
Ia berjalan dengan tersenyum dan memandangi El dengan tatapan penuh cinta. Yang ditatap hanya berpura-pura memainkan ponsel untuk mengusir rasa gugupnya. Meskipun itu hanya membolak balikan menu di ponselnya.
"Apa Alwi mengirimimu pesan El, serius sekali melihat ponselnya. Sini aku lihat." Willy mengangkat tangannya hendak membawa ponsel yang tengah El pegang.
"Enggak kok, ini cuma lihat instagram saja, iya lihat instagram," ucap El dengan gelagat yang membuat Willy curiga karena El langsung menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhnya.
"Oh, ok baiklah." Willy pun merebahkan tidurnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Willy juga membelakangi El.
Seketika El hanya melongo tidak percaya, disaat dirinya penasaran akan sebuah cerita yang akan Willy bicarakan. Tetapi apa ini lelaki ini malah tertidur. El pun hanya tersenyum kecut dan mengumpatnya dalam hati.
__ADS_1
'Enggak jelas, katanya ingin menceritakan segala tentang isi hatinya,' batin El.
Dan tanpa El sadari Willy tengah melihat ekspresinya yang tengah memanyunkan bibirnya. Willy tahu ekspresi itu, El pasti tengah mengumpatnya didalam hati.
Willy menopang kedua tangannya menjadikan sebuah bantalan untuk mempertinggi penglihatannya, agar melihat jelas objek tatapannya.
"Kenapa manyun-manyun?" tanya Willy dengan tertawa.
"Kesal karena tidak diceritakan? Sini coba perlihatkan dulu kamu sedang melihat apa? Aku suamimu sekarang. Aku berhak tau apapun yang kamu lakukan. Dan termasuk aktivitas mu disosmed,"
"Aku tidak mau kalau kamu sampai berbuat yang tidak baik disana. Nanti aku juga terjerumus. Karena tidak bisa mendidik istri dengan baik," jelas Willy panjang lebar.
Dengan ragu-ragu El memperlihatkan ponselnya pada Willy. Betapa ingin tertawanya Willy kala melihat ponsel El. El hanya membuka menu dan keluar, dan itu ia lakukan berulang kali.
Sedangkan El yang tengah ditertawakan semakin marah pada Willy.
"Kamu ini." El memukul Willy dengan bantal.
"Kamu enggak jelas. Aku lihat kamu tadi serius sekali menatap ponsel. Tidak taunya cuma kemenu lalu keluar lagi. Lucu tahu," lontar Willy.
"Sudah jangan banyak bicara terus, kalo mau diceritakan cepat ceritakan aku akan mendengarkannya. Jika tidak aku akan tidur sekarang juga," seloroh El.
Willy pun mencoba menenangkan El agar ia tidak terus-menerus marah-marah karena Willy telah mengejeknya.
"Yasudah sini." Willy pun membawa El agar kedalam pelukannya.
"Ayo dong ceritakan," sahut El.
Beberapa menit El menunggu namun Willy masih bergeming tidak menjawab semua yang El ingin dengarkan. Kini El hanya mendengar dengkuran halus ciri khas seseorang yang tengah tertidur pulas.
El pun akhirnya mendongak dan menatap Willy, ia menyingkirkan tangan Willy dengan kasar dari tubuhnya. Rasanya ia sangat marah karena Willy hanya menipunya.
"Malah tidur, apaan sih enggak jelas banget jadi orang," gerutu El.
Beberapa detik kemudian seseorang menelponnya. El pun membenarkan dahulu rambutnya agar tidak berantakan. Ia langsung menyambar benda pipih itu yang sudah bergetar.
El hanya mengernyit, bercampur khawatir ketika melihat nama seseorang yang tengah menelponnya.
__ADS_1
***