
Willy beranjak dari tidurnya dengan menatap intens photo yang tengah dilihatnya.
Sebenarnya apa hubungan mereka?
***
Prosesi Pernikahan diselenggarakan pukul 11, dikarnakan ada kendala sehingga barang untuk seserahan terlambat datang untuk mendarat dirumah El.
Selama beberapa hari pun El meminta cuti kuliah, sampai keadaannya membaik. Ketika El telah selesai untuk berhias.
"Sayang... " panggilnya dengan lirih.
El pun menolah, dan membalikan badannya. Seketika itu pula matanya berkaca-kaca.
"Jangan menangis sayang, nanti make-up mu luntur. Peluk Mama sayang, gadis kecil Mama sudah tumbuh dewasa. Mama sangat-sangat merindukanmu putri kecilku." Pintanya dengan suara parau, dan memeluk El mendekapnya dengan erat.
Aku tau Mama dan Papa baik-baik saja... Tapi keadaanku yang buruk. Aku tak sanggup untuk memberi tahu kalian. Aku sudah mengecewakan kalian. Maafkan aku Mama-Papa.
***
Ijab qobul sudah berjalan lancar, semua tamu undangan dan para tetangga pun perlahan sudah mulai kembali kerumah masing-masing.
Didalam kamar... Sepasang pasutri yang baru beberapa jam sudah mendapat sorakan sah dan menjadi pasangan halal dimata agama maupun negara.
Keduanya kini tengah duduk ditepian ranjang dengan saling membelakangi. Nampak keduanya malu-malu. Malu untuk memulai pembicaraan.
Kamar yang Indah, dengan dekorasi yang sangat romantis. Menandakan pasangan pasutri harus bahagia dengan malam pertama yang akan mereka jalani.
Namun tidak dengan mereka. Antonio tidak akan menyentuh El sedikit pun, sedangkan El takut jika mas Tino nya jijik kepada dirinya. El tau dirinya sudah kotor dan tengah berbadan dua. Antonio berbalik menghadap El, dia menggenggam jemari jemari El dengan lembut.
"Kemasi barang-barang mu yah, kita akan pulang jam 10 malam." titahnya pada El dengan mengulas senyuman dibibirnya.
"Secepat itu mas?"
"Iya sayang, mas banyak pekerjaan dikantor. Mas keluar dulu." Pamitnya dengan beranjak dari kamar dan pergi keluar kamar.
El hanya mampu memegangi dadanya dengan nyeri yang sangat mendalam.
Apa begini rasa sakit diacuhkan? Apa begini rasanya bagai tak berarti dihadapan suami? Iya aku sadar, sadar El kamu tengah berbadan 2, kamu kotor. Kamu menjijikan.
Dengan langkah berat El beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Lalu kemanakah Antonio? Dia menemui ke 3 paruh baya itu yang kini tengah bercengkrama, untuk meminta izin, jika malam ini juga dia bersama rombongannya akan kembali ke ibu Kota.
"Loh kok buru-buru?" sahut Ima.
"Iya ada apa?" Ananda pun menimpali.
__ADS_1
"Ini kan malam pertama kalian?" sambung Imam.
Antonio hanya tersenyum mendapat pertanyaan beruntun.
"Banyak pekerjaan paman, nyonya, tuan," jawab Antonio.
"Loh, kok nyonya, tuan. Panggil kita Mama-Papa seperti putri kami El." ucap Ima pada Antonio.
Antonio hanya menatap keduanya dengan perasaan bahagia, haru. Sikap hangat keduanya mampu melupakan sejenak masa lalunya. Meskipun tidak akan mungkin melupakannya dengan cepat.
Antonio menatap lamat mata elang dari Ananda. Lelaki paruh baya itu nampak tidak keberatan dengan ucapan sang istri. Hanya memberikan anggukan tanda apa yang diucapkan Ima adalah benar.
"Aku permisi dulu Pah, Mah, Paman,"
"Memang kapan kalian akan kembali?" tanya Imam pada Antonio ketika Antonio akan melangkahkan kakinya.
"Sekitar jam 10malam," jawab Antonio.
Imam hanya mengangguk. Ketika dia akan kekamar Galih dia melihat jika Putri mendahului kekamar Galih.
Hmmm, sebenarnya apa yang disembunyikan Galih dariku.
Didalam kamar...
Lelaki tampan itu tengah memendam amarah atas pernikahan ini. Dia yang seharusnya menjadi pengantin pria, dia yang harusnya berada disamping El.
Dipandangnya photo kebersamaannya dahulu, sebelum peristiwa malam itu membuat Willy salah tingkah jika berada disekitaran El.
Tanpa dia ketahui bahwa memang El sudah menjadi ibu untuk anak-anaknya. Namun tidak menikah dengan Willy melainkan menikah dengan Paman nya, Antonio.
***
Sekarang sudah waktunya pulang, mereka sudah berpamitan kepada ke 3 paruh baya itu. Dengan huru-hara kesedihan didalam perpisahan ini. Perpisahan untuk kedua orang tua yang harus berjauhan kembali dengan anak semata wayangnya.
Ananda memeluk dengan menahan tangis, mengeratkan pelukan, mengisyaratkan bahwa dirinya belum siap untuk melepas putri kesayangannya. El hanya terisak dengan perlakuan Papa-nya.
Pelukan yang beberapa tahun dirindunya, pelukan hangat yang mampu membuat kesedihannya menghilang. Ananda tak henti-hentinya memberi ciuman bertubi-buti dipucuk kepala El. Ananda kemudian melepaskan pelukannya, dan menangkup kedua pipi El.
"Sayang... " cicit papah Ananda dengan sendu.
"Kau sudah menjadi seorang istri, jadilah istri yang baik untuk suamimu,"
"Kau juga harus melayani suamimu dengan baik, seperti Mama melayani Papa-mu sayang." sambung Mama Ima dengan menghapus sisa-sisa air mata yang terjatuh dipipi El.
"I-iya Papa, Mama." tangisannya pecah dengan menghambur memeluk kedua orang tuanya.
Antonio memegang bahu El, untuk menenangkan istri yang tengah bersedih karna harus kembali berpisah dengan orang tuanya.
__ADS_1
"Pah-Mah, tenang saja aku akan menuntun El kepada jalan yang sudah ditentukan syariat agama kita, aku akan berusaha menuntunnya untuk menjadi istri yang soleha. Meskipun ilmu ku masih harus didalami."
Perjalananpun dilanjutkan ketika semuanya sudah lebih tenang, meskipun masih terdengar isakan tangis dibibir El.
El membuka kaca mobil, kepalanya keluar untuk menatap Mama-Papa nya diiringi dengan lambaian tangannya tanda perpisahannya.
Air matanya tak henti-hentinya berderai, dengan memegangi dadanya.
Apa aku bisa menjalani kehamilanku tanpa sosok Mama disampingku? Tanpa sosok malaikat dihidupku? Bagaimana aku bisa menjalaninya? Batin El bermonolog dengan dirinya sendiri.
Antonio menoleh kearah El, dengan mulai meletakan kepala El untuk bersandar dipundaknya.
"Jangan bersedih terus! Kasian anak kita, kalau bundanya kelelahan menangis, dan stres memikirkan suatu masalah berat."
El pun mendongak menatap mata Indah itu, dirinya terharu dengan kata anak kita, mata El pun kembali berkaca-kaca. Rasa haru menyeruak didalam dasar hatinya.
El berfikir Antonio akan jijik terhadapnya. Namun nyatanya rasa Cinta nya tidak menyurutkan perhatiannya. Meskipun rasa Cinta yang sebenarnya lebih besar kepada orang dimasa lalu hidupnya.
Antonio tak dapat menahan rasa sedihnya, hingga dia berinisiatif untuk mencium bibir mungil itu. Persetan dengan Galih yang kini berada didepan kemudi, persetan juga bila harus menodai mata suci Galih.
Antonio sudah tak dapat menahan gejolak hasratnya. Wajar saja, Antonio kini menyandang status suami El, tentunya dirinya berhak atas El.
Tanpa permisi Antonio langsung menc**m El, menekan tengkuk kepala El, agar c**man itu bisa dia dalami.
El tersentak, dengan membelalakan matanya, namun kelembutan yang diberikan Antonio, El pun mulai masuk dalam permainan Antonio. Namun dia teringat bahwa didepan ada Galih, dengan kasar El mendorong Antonio.
"Kenapa?" tanya Antonio dengan polos.
"Kenapa? malu mas," jawab El berbisik.
"Galih apa kau melihat kami berc***an?" tanya Antonio polos pada Galih.
"Saya tidak melihat apapun tuan, saya sedang berkonsentrasi menyetir. Mana mungkin saya melirik kesana kemari." jawab Galih dengan menahan tawa.
"Kamu dengar kan dia menjawab apa?" lalu Antonio mengarahkan kepala El untuk bersandar kembali dipundaknya.
Cih, pengantin baru mengotori mata suci ku ini. Batin Galih mengumpat pasangan pengantin baru itu.
Maafkan mas El, mas khilaf malah men***mmu.
Tuan Antonio seperti mencintai nona El, tetapi jika dikorek masa lalunya. Sungguh aku tak mengerti dengan jalan pikirannya. Apa dia mau mempunyai 2 istri? Sedangkan gadis itu berada disekitaran nona El. Batin Galih.
***
"Kau kenapa?" tanya Putri ketika Willy tak bergeming.
"Memangnya kenapa denganku?"
__ADS_1
***
BERSAMBUNG