Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 67 Kebahagiaan dipagi hari.


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui keduanya membuat El dan Willy semakin dekat. Ada rasa penyesalan dihati El karna dulu menolak mentah-mentah pinangan Willy. Saat jam makan siang, ia termenung didalam ruangan kerjanya.


Otaknya sedang mengingat-ingat, yang selalu ada disaat dirinya terpuruk adalah Willy. Seulas senyum tersungging dibibirnya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk makan siang kekantin kantor. Setelah selesai jam makan siang, ia langsung kembali kekantor.


Setelah beberapa jam berjibaku dengan pekerjaan, hingga kini waktunya untuk pulang. El pun bergegas pergi.


"Aku antarkan kamu El," ucap Willy.


Ia berlari setelah mengetahui El sudah keluar kantor.


El mengangguk. Selalu saja lelaki itu, menawarkan diri untuk mengantarkan pulang. Dan ketika akan kekantor ia selalu menjemputnya. Padahal pada Putri ia selalu cuek, meskipun mereka terikat dengan kata kekasih.


Mereka msuk mobil secara bersamaan. Ketika diperjalanan.


"El," panggil Willy.


"Kenapa kak?" jawab El.


El menoleh, tetapi Willy masih focus dengan menyetirnya. Hingga El pun sedikit merasa kecewa karna lelaki itu terlihat dingin.


"Bagaimana rasanya menjadi orang tua tunggal?" tanya Willy.


"Aku kak?!" tanya El, menunjuk dirinya sendiri.


"Memangnya kakak ngobrol sama siapa kalo bukan sama kamu?" sahut Willy.


El hanya tertawa renyah menanggapi pertanyaan Willy.


"Kenapa bertanya begitu?" tanya El. Ada rasa lucu menyelimuti relung hatinya.


Pertanyaan itu sangat mengundang tawa bagi darinya. El berdehem, tapi lagi-lagi suaranya tercekat. Karna pertanyaan itu.


"Kenapa mau tertawa? Lepaskan saja jangan ditahan!" titah Willy.


"Disaat orang lain merana karena ditinggalkan, tapi kamu malah tertawa menanggapinya El? Hmm, apa kamu tidak merasa berat mendidiknya?" ujar Willy menghentikan tawa El.


"Mengapa harus diratapi? Harus dijalani kak. Semua sudah terjadi, mengapa aku harus larut dalam kesedihan," jawab El.


"Berarti, sudah siap menjalani lembaran baru. Bersama orang yang menyayangimu?" tanya Willy lagi.


"Mmm, maksud kakak begini... Ya apakah belum ingin mencari pengganti? Atau mencari papa baru untuk Alwi?"


'Papa baru untuk Alwi? Aku tidak perlu mencari, papanya Alwi itu kamu kak!' Batin El.

__ADS_1


"Belum terpikir. Kayaknya menjanda dulu, sampai menemukan yang cocok," jawab El.


"Apa sama kakak ... Belum cocok?"


Tanpa terasa perjalanan telah sampai ditempat tujuan. El tidak menghiraukan pertanyaan Willy. El pun turun dan berpamitan pada Willy. Ketika Willy akan melanjutkan perjalanannya, dari dalam Alwi berlari memanggil Willy.


Willy akhirnya bertamu dahulu kerumah El. Ikatan batin dan anak begitu kuat. Alwi mengetahui Willy datang. Seperti ada magnet, daya tarik untuk menarik Alwi supaya bertemu dengan Willy.


1 jam Willy ditahan oleh Alwi. Alasannya sangat sederhana. Ingin dibacakan dongeng saat akan tertidur. Tapi El mencoba menasihati Alwi supaya Alwi mengerti bahwa Willy mempunyai pekerjaan lagi.


Setelah diberi pengertian Alwi pun mengerti dan mengizinkan Willy untuk pulang.


"Daddy ... Sekali-kali menginap dirumahku ya!"


Willy mengangguk, ia mencium kening Alwi dan masuk kedalam mobil. Ia melambaikan tangannya dari jendela kaca mobil. Alwi pun balas melambaikan tangannya untuk melepas Willy pulang kerumahnya.


Disepanjang jalan Willy hanya tersenyum. Mengingat tadi ia dekat dengan El. Hatinya bermekaran bak bunga-bunga ditaman. Hembusan angin dari jendela mobilnya membuat ia meremang. Rasa dingin menjalari tubuhnya seakan hilang. Terganti dengan hatinya yang begitu bahagia.


Bahagia akhirnya bisa kembali dekat seperti dulu. Sampai didepan rumahnya senyuman Wilyy, penuh kebahagiaan itu masih terpancar. Antonio dan Imam yang menunggu Willy diruang utama hanya dibuat geleng-geleng oleh tingkah Willy.


Mereka berjalan saling mengekor menuju ruang makan. Sampai dimeja makan tiba, Willy tidak henti-hentinya tersenyum.


"Mmm, tumben senyum menawan nan tampan itu merekah," ucap Antonio.


"Papa tertawa sendiri?" tanya Willy.


Ia akhirnya membuka suara. Tetapi bukan menjawab, Imam malah semakin tertawa terbahak-bahak.


"Pah, berhenti dong tertawanya. Jadi gak nafsu makan," ujar Willy.


"Loh memangnya papa bicara yang jorok-jorok. Enggak kan? Kenapa kamu nafsu makannya sampai hilang?"


"Sudah-sudah paman, Wil. Makannya dilanjutin lagi. Mungkin Papamu terlalu heran melihatmu tersenyum sendirian terus. Lagi jatuh Cinta?" sambung Antonio.


"Kalian aneh," jawab Willy.


Willy langsung menghabiskan makannya. Setelah habis ia langsung kekamarnya. Ia malas untuk diejek kali ini. Hatinya sedang bahagia level tinggi. Tanpa mau diganggu.


***


Willy terbangun, disaat adzan shubuh berkumandang. Ia lantas bergegas untuk sholat berjama'ah bersama Imam, Antonio dan juga bersama 3 orang pelayan dirumahnya.


Setelah selesai sholat shubuh Willy bergegas masuk kembali kekamarnya. Gawainya bergetar. Menandakan pesan masuk. Secepat kilat ia menyambarnya. Membuka isi pesan, terlalu penasaran. Karna pagi-pagi begini sudah ada yang mengiriminya pesan.

__ADS_1


💬 "Kapan ngumpul lagi bos?"


Isi pesan dari gawai Willy. Malas sekali ia membalas pesan dari temannya itu. Hingga akhirnya gawainya berbunyi, panggilan masuk kini yang diterima.


Willy tidak melihat nomor siapa yang menelponnya. Ia langsung mengangkatnya.


📞 "Apaan sih tu? Urus saja bini kamu bisa? Sedang malas aku untuk bertemu kalian. Mengerti!" tegas Willy.


"Tu? Itu siapa kak?" ucap suara merdu bagai penyanyi papan atas terdengar syahdu di pendengaran Willy.


Willy menepuk jidatnya. Bodoh dia tidak melihat siapa yang menelponnya.


"Kakak kira, kamu temannya kakak El. Maaf ya?" sahut Willy terdengar menyesali.


"Tidak apa-apa kak, santai saja. Sudah siap-siap belum kak?"


"Kenapa El, ini masih pagi."


"Alwi biasa kak, nggak mau dimandiin. Katanya kalo kakak enggak datang sekarang,"


"Daddy Wil kemari," rengek Alwi, terdengar Alwi diseberang sana yang berbicara.


Tentu saja Willy langsung bersemangat. Dengan semangat 45, ia langsung akan melaju kerumah Alwi.


"Sini Mommy aja yang bilangin, biar Daddy Wil nya mengerti!"


Terdengar El menasehati Alwi,  "Iya kakak kesana. Tapi, kakak belum mandi ini. Apa tidak apa-apa, jika nanti numpang mandi?"


📞 "Iya boleh kak, ditunggu ya. Alwi sudah merajuk lagi kak,"


Willy langsung membawa pakaian yang akan ia pakai untuk kekantor. Ia turun kebawah dan berpapasan dengan Imam.


"Mau kemana? Masih pagi begini?" tanya Imam.


"Mau kerumah El Pah, Alwi katanya tidak mau mandi kalo aku tidak kesana," jawab Willy.


"Yasudah kesana. Tapi kenapa kalian tidak menikah saja?! Kan kalo udah nikah bisa sama-sama ngurus Alwi. Kamunya juga enggak cape Nak, bolak-balik begini." saran Papa Imam.


"Aku lagi perjuangin pah, do'akan ya," jawab Willy.


Ia menyalami lelaki yang menjadi sosok Papa sekaligus ibunya. Karna Willy telah lama ditinggalkan sang ibu. Sebenarnya Willy pun berpikiran demikian, ia juga ingin selalu bersama-sama dengan mereka.


Tetapi, bagai bulan dilangit. El susah sekali untuk digapai. Kadang ia berpikir, apakah karna ada Putri yang menjadi El enggan untuk menerima.

__ADS_1


***


__ADS_2