
Setelah acara El datang kepernikahan itu, selalu saja Ima tidak tenang. Ia merasa ada lagi sesuatu yang disembunyikan anak dan suaminya. Ia lantas diam-diam menemui Aurelia.
Ia pun datang kekampung Aurelia hanya ditemani supir, dan 1 pengawalnya. Setelah sampai ia langsung mengetuk pintu. Selang beberapa detik pintu terbuka.
Aurelia terlihat gugup, ia mempersilahkan Ima masuk. Setelah Ima tahu bahwa ada yang bertamu sebelum dirinya, ia hanya tersenyum.
'Secepat ini lelaki ini mendapat pengganti anakku,' batin Ima.
'Ya Alloh, gimana tanggapan nyonya padaku,' batin Aurelia.
Ima bertanya basa-basi, hingga ia berbicara alasannya kemari. Ima hanya ingin menemui bu Lastri. Untungnya bu Lastri pergi jadi, ada rencana yang akan dia susun. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Ia ingin tahu seluk beluk Willy dahulu ketika menjaga El.
Entahlah, perasaan apa. Ia selalu yakin bahwa Alwi adalah anaknya Willy. Bukan anak Antonio. Tentu saja membuatnya bingung, bagaimana bisa begitu. Sedangkan anaknya menikah dengan pamannya bukan Willy keponakan dari Antonio.
Sebelum ia pamit pulang, ia mencoba membohongi Antonio dan berbicara bahwa di rambut ada sesuatu yang mengharuskan Ima untuk bisa mencabut beberapa helai rambut Antonio. Meskipun Antonio menahan rasa sakit karna rambutnya dipaksa untuk terlepas dari kepalanya.
Ima berpamitan pulang setelah, apa yang ia inginkan telah didapatkan. Sekarang Ima sedang memikirkan cara agar ia bisa mendapatkan helaian rambut Willy.
***
"Mama dari mana?" Tanya El, ketika Ima keluar dari dalam mobil.
"Cari angin sayang, sumpek dirumah terus. Papamu terus saja mengurung mama," gerutu Ima dengan memonyongkan bibirnya.
"Eh papa enggak pernah ngurung mama, jangan suka ngadu yang bener dong mah," sahut Ananda menimpali.
"Tuhkan sayang, papamu ini." Ima menjewer telinga Ananda.
Dari lantai atas Alwi turun, lantas menuruni anak tangga. Dengan ngilu Alwi memegangi telinga. Ia melihat sang nenek menjewer kakeknya dengan memutar.
"Ihhh," Alwi bergidik ngilu merasakan sensasi saat dijewer telinga.
"Makanya jangan bandel ya?! Kalo mommy bilang jangan dituruti, kayak kakek mau digituin sama mommy," tegur El.
"Jangan jahat dong mom, Alwi mengadu sama siapa. Alwi kan nggak punya daddy," lirih Alwi.
Seketika El pun mati rasa, ia bahkan tidak ingat jika dirinya sedang menggendong Alwi. El melepaskan tangannya, Alwi pun terjatuh.
"Mommy," teriak Alwi.
Teriakan Alwi membuat Ima dan Ananda menoleh kearah belakang, Alwi terbentur kepalanya dibibir tangga. Hingga mengakibatkan Alwi menangis meraung-raung.
Setelah El tersadar, ia pun teringat, "Sayang," teriaknya dengan histerias.
__ADS_1
Ananda langsung membawa Alwi dan menggendong Alwi, Ananda langsung membawa Es batu untuk mengompres kepala Alwi.
"Mama, anakku," ucap El, menangis terus menerus sampai kantung matanya sedikit hitam. Hingga penglihatannya kabur, ia pun jatuh pingsan.
πΌπΌπΌ
"Mah, Alwi," ucap El.
"Kamu ini bagaimana sih jadi ibu kok ceroboh banget sampai Alwi harus terjatuh, dan kamu tahu ia dilarikan kerumah sakit," hardik Ima.Β
EL hanya menangis, sesenggukan tak kuasa menahan rasa sedihnya.
Ima juga memegang ponsel El, Ima akan menelpon Antonio. Satu panggilan tidak, dijawab. Hingga akhirnya dipanggilan keempat telpon pun diangkat.
π "Iya hallo, Assalamualaikum. Ada apa El?" Tanya Antonio.
"Waalaikumsalam, Nak Antonio. Ini mama El, tolong untuk segera mungkin datang kerumah sakit. Alwi sakit. Ia juga kehilangan banyak darahnya,"
"Dirumah sakit, kok bisa?"
"Cepat saja datang kemari, supaya kamu bisa mendonorkan darah kamu," tegas Ima.
"Tapi saya bukan ayah kandungnya nyonya, ayahnya Alwi Willy,"
Ima mematikan telponnya, "Apa maksudmu El? Jelaskan sama mama! Mengapa bisa terjadi, kamu menikah dengan ANTONIO TAPI ANAK KAMU ANAKNYA WILLY,"
πΌπΌπΌ
Setelah El tersadar, "Bagaimana kamu bisa menjatuhkan Alwi El, kamu mau membunuh dia," hardik mama Ima.
'Ya Alloh hanya mimpi syukurlah,' batin El.
El pun menjawab lontaran Ima.
"Mah nggak mungkin El berbuat begitu. Aku ibunya, tidak mungkin seorang ibu mau anaknya meninggal mah,"
Ima terus saja meminta penjelasan pada El. Hingga El pun terpaksa menceritakan dikala ia mendengar Alwi berbicara.
'Jangan jahat dong mom, Alwi mengadu sama siapa. Alwi kan nggak punya daddy,'
Ima naik pitam, hingga ia terus saja mengumpat atas kejadiaan yang membuat Alwi cedera. Meskipun cederanya tidak terlalu parah. Ia tidak henti-hentinya mengucapkan 'Astagfiruloh' karna kelalaian El.
"Kalo Antonio tahu, dia bisa ambil hak asuk anak kamu El. Dan mama tidak mau itu terjadi,"
__ADS_1
Perdebatan mereka terhenti kala Ananda berteriak memanggil Ima.
"Mah, mama...," panggi Ananda.
"Iya pah," jawab Ima, ia langsung berlari.
Ima dan El pun menuju tempat berada Ananda dan juga Alwi. Mereka bernapas lega, karna Alwi tidak mengalami apa-apa.
"Untung saja Alwi tidak apa-apa. Tidak ada muntah-muntah, keluarnya cairan atau darah dari hidung atau telinga. Tidak sadarkan diri. Kejang, kehilangan ingatan."
"Kalo itu terjadi, entah bagaimana nasib cucuku," ucap Ananda lirih.
"Maafkan El pahh," ucap El.
Anandapun menasihati Alwi agar jangan mau lagi untuk digendong El. Ananda hanya antisipasi, ia tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi.
***
"Pah, papah," teriak Willy berjalan keluar dari kamar Antonio.
"Kenapa?" tanya Imam. Ia pun keluar dan menghampiri Willy yang terlihat begitu cemas.
"Mau kerumah El pah, aku gelisah dari tadi. Ingat terus sama Alwi,"
Imam pun mengijinkan Alwi pergi, ada rasa kasihan melihat sang anak. Ia sudah mengetahui segalanya. Kadang ia juga ingin anaknya bersatu dengan El supaya anaknya tidak bolak-balik kesana.
Disepanjang perjalanan Willy tidak henti-hentinya mengucap istighfar. Entah perasaan cemas apa yang membuat Willy ingin datang kerumah El. Kecemasannya selalu mengarah pada Alwi.
'Ada apa sama kamu Al,' batin Willy.
Setelah Willy sampai dihalaman rumah El, ia ragu-ragu untuk masuk. Ia membuka pintu mobilnya, lalu menjuntaikan kakinya sebelah lalu memasukkannya kembali kedalam mobilnya. Willy melakukannya berulang kali.
"Argghhh," frustrasi Willy.
Ia bingung alasan apa jika ia akan bertamu kesana. Tetapi disisi lain ia cemas akan keadaan Alwi.
"Kapan El, kamu akan menyadari bahwa kakak menyayangimu. Kapan!!!" Willy memukul setir kemudi dengan kasar.
Ia menelengkupkan tangan diwajahnya. Setelah beberapa saat merasa dirinya lelah untuk memperjuangkan. Tetapi hatinya selalu berkata ingin terus menerus bersama Alwi.
Tangan kecil mungil mengusap lembut tangan Willy. Menenangkan suasana hatinya. Ia melepaskan tangan dari wajahnya dan menoleh. Orang yang ia khawatirkan ada tepat berada disampingnya. Dengan mata berkaca-kaca Willy langsung memeluk Alwi.
Alwi pun membalas pelukan Willy dengan senang hati. Alwi juga mengusap punggung Willy dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Nak Willy,"
***