Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 44 Merasa Bersalah


__ADS_3

Willy berjalan menyusuri lobby kantor Antonio dengan perasaan khawatir. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap El. Dia merutuki kebodohannya karna tidak bisa Menjaga El dengan baik.


Willy nampak mendudukan bokongnya dikursi untuk menunggu Antonio yang kini tengah mengadakan rapat. Dia juga tidak mungkin memaksa masuk. Sungguh itu perbuatan yang sangat tidak sopan.


Dia mengacak-ngacak rambut dengan frustasi. Karna Antonio masih didalam ruang rapat. Entah berapa kali dia berdiri lalu berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Bagai setrikaan.


Ceklek


Pintu ruangan terbuka. Terlihat beberapa karyawan keluar dari ruangan. Galih pun sudah memberi tahu kan pada Antonio bahwa Willy datang kekantormya. Setelah semua karyawan Antonio keluar dengan berlari Willy memasuki ruangan itu.


"Paman," sapa Willy dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.


"Kamu tidak perlu khawatir Will," ujar Antonio dengan menatap Willy.


"Maksudmu tidak perlu khawatir?" tanya Willy sudah mulai terpancing emosi.


"Iya, tidak usah mengkhawatirkan orang yang bukan tanggung jawabmu," lontar Antonio dengam santai.


Dengan refleks Willy berjalan mendekati Antonio dan memegang kerah bajunya dengan kasar. Antonio nampak biasa saja mendapatkan perlakuan tak sopan dari keponakannya.


"Dia pergi bersamaku. Dan pasti itu menjadi tanggung jawabku. Memangnya kau yang menikahi tapi tidak bertanggung jawab penuh atas dirinya jika bukan aku yang memperhatikannya siapa?" cerca Willy dan masih memegang kerah baju dari Antonio.


Antonio hanya diam mematung tanpa bisa menjawab atau pun menyanggah lontaran Willy. Karna memang kenyataannya seperti itu.


Memang benar kata nona dua saudara yang memang saling bertolak belakang kriteria. Aku menganggap dulu tuan Willy itu tidak bertanggung jawab. Tapi justru itu semua berbanding terbalik. Batin Galih.


Galih tidak bisa menengahi perdebatan mereka. Dia hanya menjadi penonton dan pendengar tanpa ikut berdebat.


"Sudah tuan Willy. Tuan Antonio benar anda tidak perlu khawatir lagi. Kenapa kami berbicara seperti ini? Karna nona sudah berada dirumah anda bisa pulang melihat keadaannya. Dan apakah anda tidak keberatan jika tuan Alwi ikut bersama anda?" ungkap Galih panjang lebar menjelaskan. Dan memaksa tangan Willy untuk melepaskan pegangan dikerah baju Antonio.


Willy melepaskannya. Bagai menemukan angin segar. Wajah nya berbinar-binar. Nampak wajah frustasi dan kegelisahannya terganti dengan senyuman melengkung dibibir nya yang manis.


"Dimana Alwi berada?" tanya Willy antusias.


Alwi berlari kedalam ruangan itu ketika dia tahu bahwa Willy berada disana.


"Daddy," seru Alwi dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Willy. Willy dengan senang hati membalas nya.


Antonio hanya dapat melongo melihat kedekatan nya dengan Alwi. Dia terlalu mementingkan pekerjaan tanpa memperdulikan dan memperhatikan Alwi beserta El.


Antonio pun semakin nyeri ketika melihat lagi dibalik pintu ada dua orang yang sangat berarti untuknya. Berada dihadapannya namun tidak bisa dia sentuh.


Kegembiraan memang selalu menyelimuti relung hatinya namun apalah daya semua tak mudah dia peluk seenaknya.


Aku terlalu salah memilih menikahinya. Sedangkan keponakanku mencintainya. Dan mereka orang yang selama ini kucari tak bisa aku sapa. Batin Antonio lirih.


***

__ADS_1


"El, El," panggil Willy ketika dia memasuki rumah dengan berlari tergopoh-gopoh menggendong Alwi.


Alwi hanya tertawa-tawa ketika Willy berlari. Ketika dia sudah membuka kamar El, dengan cepat Willy berjalan menuju kedalam mencari El kesana kemari.


Netra pendengarannya mendengar suara gitar yang dipetik dengan nyanyian lagu yang sangat indah dan didalami oleh orang yang menyanyikannya. Willy pun berjalan mengikuti alunan gitar yang dipetik.


"Tuan kecil jangan berisik yah?" titah Willy berbisik ditelinga Alwi. Alwi hanya mengacungkan jempolnya.


*** Ipank, kutimang-timang adikku sayang


Kelak kau telah dewasa


Benahi dirimu dengan sempurna


Karena logika Dunia


Lupa akan segalanya


Rayuan hampa menggoda terpesona


Saatnya untuk kita berpisah


Menjalin hubungan yang indah


Masa-masa kecilmu semu


Kedua lelaki tampan itu hanya diam mematung mendengarkan nyanyian itu dengan kekaguman. Petikan gitar yang berirama dengan nyanyian yang sangat indah terdengar begitu merdu. Setelah selesai bernyanyi. Alwi ingin diturunkan dari gendongan Willy.


"Daddy, berikan tepuk tangan untuk Mommy-ku," titah Alwi pada Willy. Keduanya bertepuk tangan setelah nyanyian itu selesai. El pun menoleh.


"Pangeran Mommy," jerit El dengan menyimpan gitar dan berjalan mendekati Alwi.


El pun menggendong Alwi. El nampak kebingungan melihat Willy. Yang terlihat linglung.


"Kenapa kak?" tanya El.


"Kamu tidak kenapa-kenapa?"


"Seperti yang kamu lihat! Aku tidak apa-apa,"


"Kenapa tidak mengabariku?" tanya Willy.


Aku harus menjawab apa pada Kakak! Tidak mungkin bukan aku menjawab aku tadi diculik dan aku berhasil membuat mereka takluk. Kesan lugu dan polosku tidak nampak lagi dong dimata Kakak. Tapi kenapa waktu itu aku kalah dengan kakak yang tengah mabuk hingga aku mendapatkan pangeranku. Batin El.


"Mmm---," El tidak dapat menjawab pertanyaan pada Willy. Tidak mungkin dia berbicara apa yang telah terjadi.


"Mommy-Daddy," panggil Alwi mengalihkan pembicaraan keduanya.

__ADS_1


Willy dan El pun menatap Alwi bersamaan. "Kenapa sayang?" tanya keduanya lagi serempak.


Alwi hanya tertawa. Menurutnya tingkah kedua orang tuanya sangat lucu. Meskipun yang Alwi tahu bahwa Willy bukan Ayah kandungnya.


***


"Galih," panggil Antonio ketika Galih memasuki ruang kerjanya.


Setelah Willy pergi dari kantor Antonio. Antonio memanggil Galih untuk keruangannya. Mungkin ada sesuatu hal yang mengganjal dihatinya.


"Ya, Tuan," jawabnya dengan mendudukan bokongnya dikursi.


"Ehmm," Antonio berdehem untuk menghilangakan kegelisahannya. Galih hanya mampu mengernyit heran. Tidak biasanya sang Presdir terlihat salah tingkah.


"Menurutmu---," lagi-lagi Antonio tak dapat melanjutkan ucapannya. Membuat Galih semakin yakin bahwa Presdir-nya tengah dilanda kegelisahan.


Beberapa menit Antonio terdiam, lalu tampak membuka katup mulutnya. Namun dia enggan untuk mengucapkan. Galih melihat gelagat Tuan-nya yang aneh hanya bisa menduga-duga.


"Ada sesuatu yang membuat Tuan gelisah? Atau ada sesuatu hal yang ingin anda ketahui?" tanya Galih ketika Tuan-nya tak melanjutkan ucapannya.


"Aku... Merasa bersalah," ujarnya terlihat lesu dihadapan Galih. Galih hanya bisa menghembus nafas kasar. Untuk dapat menasihati Tuan-nya. Dia mencoba merangkai kata demi kata untuk dapat membuat Tuan-nya mengerti. Tanpa menyinggung atau pun menyangkut pautkan pada masa lalunya.


"Merasa bersalah atas masalah apa?" tanya Galih mencoba mengorek. Memancing Tuan-nya untuk mencoba terbuka.


"Karna jalan yang ku pilih salah!!!"


"Mengapa anda bisa menyimpulkam demikian?"


"Mungkin kau juga sudah mengetahui. Masalah apa yang terjadi diantara kami bertiga!" lontarnya dengan menutup mata dan menjadikan kedua tangannya bantalan untuk menopang.


"Kisah percintaan yang sangat rumit. Aku menyayanginya dia gadis kecilku! Dan ternyata cinta Willy terhadap gadis kecilku lebih besar dibandingkan ku. Bukti nya dia bisa sedekat itu dengan Alwi aku baru mengetahui nya tadi. Kau tahu ...." Antonio menghela nafas kasar sejenak.


"Aku bahkan tidak pernah melihat bayi kecil itu menyapaku dengan gembira seperti itu. Aku tidak iri, memang sepatutnya seperti itu. Dia Ayah kandungnya."


Galih masih terdiam mendengarkan curhatan Tuan-nya. Dia masih enggan memberikan komentar terhadap keluh kesahnya. Dia masih menjadi pendengar setia saat ini.


"Aku ...." sebelum lontarannya terucap. Dering ponsel menggema membuat Antonio tidak lagi melanjutkan ucapannya.


Galih pun berdiri dan membungkukan badannya. Antonio hanya mengibaskan tangannya.


Tertera dilayar ponsel 'gadis kecil'. "Dadd," suara khas anak kecil memanggil Antonio.


"Iya tampan!"


"Cepat pulang," titah Alwi. Antonio pun dengan senang hati mengiyakan keinginan Alwi.


***

__ADS_1


Terimakasih selalu setia menunggu ceritaku 😘😘


__ADS_2