
Tok.. Tok...
Ketukan dari kaca mobil mengalihkan pandangan El. Yang tadinya hanya terfocus menatap Willy. Kini tatapannya menatap kepada dua orang asing yang berada dibibir pintu mobil dan sudah berhasil membuka pintu. Sebelum El menguncinya.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya El.
"Nona kami minta kerja samanya untuk anda mengikuti kami?" pinta penjahat 1.
"Siapa kalian? Berani-beraninya memerintahku!" hardik El.
"Nona ayolah jangan membuat pekerjaan kami sulit," ucap penjahat 2.
Kedua diantara mereka salah satunya menarik paksa El untuk keluar dari mobil. El nampak memberontak sebelum dia menghajar para penjahat, penjahat itu lebih dulu sigap membekap El dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. El pun perlahan berhenti memberontak dan jatuh pingsan.
***
El mulai mengerjap-ngerjapkan matanya. El merasa aneh ketika badannya tak bisa digerakan. Ternyata dirinya tengah diikat.
"Ini apa-apaan sih," geram El penuh emosi.
Terdengar suara langkah sepatu dari luar menuju gudang itu. Terbukalah pintu gudang itu menampilkan dua sosok orang laki-laki tegap yang pastinya sudah El perkirakan mereka penjahat itu.
"Haloo, nona cantik. Kami harap kali ini anda tidak usah bersusah payah lagi untuk memberontak. Itu percuma, lihatlah dirimu," ucap penjahat itu dengan mengejek El.
El semakin geram dengan tingkah penjahat dihadapannya. Seperti biasanya dan tak pernah lupa dengan pisau lipatnya. El pun perlahan membuka pengikat ditangannya.
Aarrrgggh kaki ku ikut-ikutan diikat lagi haihh. Batin El.
Setelah beberapa menit keduamya meracau yang membuat El semakin muak. Keduanya masih berada dihadapannya. El hanya mampu memutar mata bola jengah. Semakin lama berada disini membuatnya semakin memanas. Setelah itu kedua penjahat keluar dari gudang.
El tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. El harus kabur dari sini. Dia harus melawan orang itu.
Akhirnya dia pun berhasil kembali membuka pengikat dikaki nya. Tampak raut wajahnya sedang berfikir langkah apa yang harus di lakukannya.
Dengan berfikir tenang dia dapat menyusun rencana dengan cantiknya. Senyum licik dibibir cantiknya tampak menakutkan. Apakah gadis kecil nan cantik ini akan berubah seketika menjadi psicopath? Apakah dia merencanakan sesuatu yang akan merugikan dirinya sendiri?
__ADS_1
El masih nampak berpura-pura terikat agar penjahat itu tidak curiga. Dia harus menjadi gadis polos yang sedang tersakiti.
Penjahat itu nampak kembali kedalam gudang. Dengan gaya yang begitu arogannya. Dia mengira El lemah karna memang keadaannya terikat. Pemikiran mereka tentu saja salah. Mereka dalam masalah.
"Makanlah nona," titah penjahat itu dengan menyodorkan makanan untuk El.
"Maksudmu... Aku harus makan memakai apa?" protes El ketika keadaannya terikat.
Penjahat itu nampak berpikir. Memang benar bagaimana gadis itu bisa makan? Sedangkan tangannya dengan sengaja mereka ikat.
"Mau disuapi nona?" tanya penjahat itu.
"Tidak. Lepaskan ikatan ini." penjahat itu memutuskan untuk membuka ikatannya. Dengan cekatan El membawa senjata *pi yang berada disaku celananya. Dan langsung mengarahkan kekeningnya.
Lelaki bertubuh tegap itu tampak syok dengan yang dialaminya saat ini. Dia tidak menyangka gadis ini pintar melakukan serangan secara mendadak.
El mengarahkan pistol itu tepat didahi lelaki itu. Lelaki itu meringis. Dia takut gadis dihadapannya melepaskan peluru yang mungkin akan menembus otaknya.
"No-nona tolong turunkan senjata itu, kasihani anak saya. Jika anda tidak kasihan terhadap saya." Lelaki itu menghiba dengan penuh kegetiran.
Setelah dia sudah berada diambang pintu lelaki itu terhenyak dengan adegan yang dilihatnya. Temannya tengah bahaya saat ini harus berbuat apa dirinya untuk membantu. El semakin tersenyum licik memandang keduanya bergantian.
"Kau tidak sayang anakmu?" tanya El penuh tekanan.
"Sa-saya sangat menyayangi nya makanya saya melakukan hal i-ini!" jawab penjahat itu dengan gugup yang berada dihadapan El.
"Dibayar berapa kamu?" tanya El.
"Sekitar 50 juta jika misi ini berhasil." El hanya tertawa membuat kedua lelaki itu ketakutan.
"Kau tahu saya siapa?"
"An-anda pewaris tunggal dari Putri tuan besar Ananda Pratama, orang tersukses diko-kota i-ini,"
"Lalu kenapa berani-beraninya kau mengusik keluarga saya? Mau saya jebloskan kejeruji dan anda akan membusuk disana," ancam El dengan tertawa lantang.
__ADS_1
"Kalian bisa bernegosiasi dengan saya, jika kalian ingin selamat," lelaki itu nampak masih tak menjawab dia semakin gemetar.
"A-apakah ada pilihan nona?" tanya penjahat 2 yang masih berada diambang pintu.
"Tidak ada pilihan, kalian harus mengikuti sesuai intruksi ku. Dan untuk bayaran kalian tidak usah khawatir, kalian akan dibayar dua kali lipat dari orang itu. Disini kalian diuntungkan oleh kedua belah pihak. Kalian juga akan terbebas dari tuntutan. Kalian harus setuju! saya tidak ingin dibantah. Jika kalian membantah... Anak mu tidak akan mendapatkan perawatan terbaik. Dan kamu," El menunjuk dengan tangan kiri nya.
"Istrimu tengah hamil dan kandungan istrimu lemah. Bagaimana jika saya beri tahu pekerjaan suaminya? Pasti dia akan stres dan calon anakmu akan keluar dari rahim ibu nya!" ancaman demi ancaman El lontarkan untuk keduanya.
Sebenarnya dia sama sekali tidak mungkin melakukan hal keji itu. Apalagi menyangkut anak. Dirinya juga seorang ibu. Tentu saja tidak akan sampai hati melakukannya. Ini hanya sebuah peringatan. Jika mereka tak menyetujui tentu saja El akan bertindak menculik keluarganya. Dan akan dia biayai.
"Ka-kau tahu semuanya?" tanya penjahat 2, yang dibuat tercengang. El hanya tertawa menanggapi.
"Apa yang kalian pilih. Cepat jawab. Sebelum peluru ini kutemb*kan!"
"Ka-kami akan mengikuti sesuai yang nona perintahkan!" jawab serempak keduanya.
"Bagus," El tersenyum kemenangan kali ini.
"Apa yang kalian ketahui?" tanya El lagi ketika kini hening. Dan tidak ada pergerakan dikedua lelaki itu. Apakah mereka takut kepada El. Sungguh hebat sigadis kecil itu. Sikap nya berubah 180° C. Ketika dirinya merasa terancam.
"Kata bos kami. Seluruh aset miliknya. Keluarga an-anda nona hanya pengelola yang membawa kabur aset milik bos kami!" ucap keduanya gemetar.
"Kalian percaya? Hmm!"
"Kurang ajar sekali dia, mengakui jerih payah keluargaku?"
"Perusahaan itu dirintis oleh keluargaku, dibangun dengan jerih payah nenek, kakek, dan kedua orang tuaku. Kurang ajat sekali dia! Memangnya dia siapa berani-berani nya berbicara demikian," umpatan-umpatan kekesalan nampak terucap dari bibir El.
Kedua lelaki itu hanya diam tanpa menjawab. Mencerna semua umpatan yang El lontarkan.
"Ta-tapi sungguh kami tidak tahu ba-bahwa itu se-semua tidak be-benar nona. Tolong bebaskan ka-kami," pinta penjahat 2 dengan memelas.
"Lalu siapa bilang kalau kalian tahu semuanya? Aku memberitahu kan kepada kalian supaya kalian tidak lagi membela orang salah. Meskipun jalan yang kalian tempuh pun memang salah! Menafkahi dari uang haram." ucap El memberi nasihat. Keduanya pun hanya terdiam dan merenung.
***
__ADS_1