
Sejak acara kencan malam itu yang diadakan Willy. Kedekatan mereka semakin terlihat. Kala tengah sarapan seperti saat ini.
Tanpa El sadari tangannya mengulur sudah seperti seorang istri yang melayani suami. Ima semakin risih melihat pemandangan ini dihadapannya. Rasanya ia ingin membalikan meja makan agar makanan yang akan mereka santap berserakan.
"Ihh apaan sih kamu El, mama perhatikan semakin seperti seorang istri saja. Ingat mama bilang kamu hanya akan menikah dengan Galih. Sudah tuli kah kamu?" hardik Ima.
Alwi hanya mendengarkan ucapan sang nenek. Meskipun ia tidak bersuara namun ia juga sudah mengerti apa yang dikatakan oleh Ima. Ia sedih kala mendengar ucapan yang terlontar dari bibir Ima.
"Daddy," bisiknya dengan bergelayut ditangan Willy. Wajah Alwi murung dan penuh kesedihan.
"Kalo mommy ku menikah dengan paman Galih, aku mau ikut daddy. Aku enggak mau ikut mommy," lirih Alwi.
Bisikan Alwi terdengar begitu pilu. Hati El semakin hancur kala mendengar ucapan Alwi. Ia sedikit menaruh rasa sesal akan lontaran Ima yang ia ucapkan dihadapan Alwi.
"Kak, tolong bawa Alwi dulu kedepan. Nanti sarapannya dijalan saja," bisik El ditelinga Willy.
Dengan patuh Willy mengangguk mengiyakan. Alwi dan Willy beranjak dari duduknya dan berjalan keluar. Sedangkan Ima semakin marah.
"Enggak sopan kan dia, keluar begitu saja," ucap Ima.
Ananda hanya mendengarkan, ia juga masih melahap dengan nikmat sarapan paginya.
"Sudah cukup mah, El berdiam terus membisu. Kelakuan mama sudah keterlaluan. El tahu niat mama baik ingin membuat aku bahagia. Tapi apa mama tidak melihat kebahagiaan Alwi?"
"Dia cucu mama juga. Dia juga sama seperti El butuh kebahagiaan. Mama tau kenapa El bisa berbicara seperti ini?"
"Dia tidak mau ikut aku kalo sampai aku menikah dengan mas Galih. Apa mama bisa merasakan bagaimana hancurnya hatiku mendengar anakku tidak mau ikut bersamaku," ucap El.
Mata El sudah bercucuran air mata. Dia sudah tidak bisa lagi memendamnya. Begitu sakit rasanya kala mendengar lontaran anaknya. Ananda mendekat pada El. Ia peluk anaknya yang begitu terlihat seperti sangat tersakiti.
"Kamu dengar mah, sudah papa bilang hentikan keinginan mama,"
"Jika mama masih ingin kekeh menjodohkan aku, setidaknya mama jangan berbicara dihadapan Al."
"Pah, Al berbisik pada kakak. Kalo dia tidak mau bersamaku jika aku menikah dengan orang lain. Aku sakit mendengarnya pah," adu El pada Ananda.
__ADS_1
"Kamu dengar mah? Keras kepala sekali kamu!"
"Sudah lah El jangan cengeng. Apa susahnya meskipun kalian sudah menikah Alwi disini saja tidak ikut bersamamu," ucap Ima.
"MAMA!!!"
"Sudahlah pah, aku pusing memikirkan mama. Aku keluar dulu. Kasihan kakak dan Alwi sudah menunggu,"
El pun melepaskan pelukan Ananda. El berjalan dengan gontai dengan mengusap pipi basahnya karena menangis. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran sang mama yang masih tetap keras kepala untuk menjodohkan dirinya.
Padahal Ima tahu betul bahwa Alwi terlihat ceria ketika bersama Willy.
***
"Gimana enak tidak buburnya?" tanya El, ketika mereka kini tengah sarapan bubur didekat sekolah Alwi.
"Apapun itu semuanya terasa enak mom kalau dekat daddy," jawab Alwi.
Alwi melihat pergelangan tangannya yang tersemat arloji. Ia langsung buru-buru menghabiskan. Dan berpamitan pada Willy dan juga El.
Willy sedikit mengulur waktu, ia ingin lebih tahu dan mendalami perasaan El. Ia hanya ingin supaya ia tidak merasa berlebihan akan sikap perhatian yang Willy berikan pada El. Agar Willy tidak merasa malu.
"Ada El, sebenarnya perasaan kamu bagaimana padaku? Apakah perhatianku tidak membuatmu risih?" tanya Willy.
"Sama sekali enggak sih kak, aku malahan senang," ucap El.
"Eehhh." El memukul mulutnya sendiri karena keceplosan.
Willy hanya tersenyum. Ia juga berdiri dan berpamitan untuk segera pergi karena akan kekantor. El pun menganggukan kepala mengiyakan. Willy sudah cukup mendapat jawaban.
Dengan jawaban sama sekali enggak sih kak, aku malahan senang' itu cukup membuatnya semakin semangat. Rasa sakit disekujur tubuh karena kejahilan Ima tidak sia-sia. Sungguh usaha yang sangat membuatnya bahagia.
***
El dan Alwi tengah berada di taksi untuk menuju kantor Willy. Entahlah setelah Alwi mendengar dengan telinganya sendiri lontaran Ima. Ia tidak memaksa, merengek hanya untuk ingin sekedar bermain kekantor Willy.
__ADS_1
Seorang ibu tidak akan tega jika sang anak merasa bersedih, dengan berat hati meskipun akan dimarahi Ima, setelah pulang sekolah ia pergi ke kantor Willy. Semua demi Alwi anak tersayang dan tertampannya.
Tanpa mengetuk pintu Alwi menyelonong masuk kedalam ruangan Willy. Sedangkan didalam ada Putri dan juga Willy yang tengah bercanda. Willy terpenjat kala ia mendapat dua orang itu telah berada dihadapannya.
"Selamat siang nona," sapa Putri dengan ramah. El menjawab. Setelah itu pun Putri pamit untuk keluar.
"Tumbem kemari nak, ada apa jagoannya daddy." Willy menggendong Alwi dan duduk disofa yang tersedia didalam ruangan kantor Willy.
El sedikit menekuk wajahnya. Willy sampai terheran kanapa El seperti sedang kesal padanya. Apa sebenarnya yang telah Willy perbuat. Willy merasa sama sekali tidak pernah melakukan hal sekecil apapun untuk membuat hati wanitanya tersakiti.
"Mommy mu kenapa nak?" tanya Willy berbisik ditelinga Alwi.
Alwi menggeleng lalu melihat kearah El, ia juga berbisik pada Willy.
"Mungkin mommy enggak suka lihat daddy sama tante Putri." bisik Alwi ditelinga Willy.
Willy memandang El dengan bahagia. Rasanya begitu senang kala mendengar dugaan Alwi. willy pun mencoba memanggil lagi Putri untuk keruangannya. Ia ingin mengetes kembali El apakah benar ia cemburu.
Putri sudah berada didalam ruangan. Mereka bertiga saling melempar tawa kala pembicaraan mereka mengundang tawa. Willy pandangi wajah El yang sudah seperti risih akan kehadiran Putri.
Willy pun menitipkan Alwi sebentar dan membawa El kebawah dengan alasan akan membeli makanan. Alwi pun seperti mengerti apa yang ada dipikiran Willy, ia tidak ingin ikut apalagi merengek seperti biasanya.
Setelah berada dimobil, "Kenapa El?" tanya Willy.
El pun menoleh, "Kenapa apanya?"
"Enggak jadi El," jawab Willy. El semakin kesal. Willy mengetahui ia semakin yakin bahwa El tengah cemburu. Willy memarkirkan mobilnya. Ia mengunci pintu supaya El tidak keluar.
"Ini kenapa dikunci?" tanya El, ketika ia akan keluar namun pintu mobil sulit untuk dibuka.
Willy hanya menopang kedua tangannya disetir mobil, memiringkan wajahnya dan menoleh kearah El dengan senyuman. El gugup ditatap oleh Willy. Ia semakin salah tingkah dibuatnya.
'Kenapa melihatnya begitu sih,' batin El.
"Kamu cemburu?!" tanya Willy. El terkesiap ia langsung mengalihkan pandangannya kearah jendela mobil. Dengan penuh keberanian ia mengutarakan tentang isi didalam hatinya.
__ADS_1
"A-ku hanya tidak suka kamu dengan dia. Aku nggak mau lihat kamu sedekat itu lagi. Ia aku jujur, aku berterus terang kali ini aku cemburu. Kamu puas!!!"
***