
Galih masih tidak mengerti dengan percakapan Antonio dan lelaki itu. Percakapan keduanya masih terdengar jelas diindra pendengarannya. Apakah seburuk itu lelaki itu dimasa lalunya?
'Apa tadi lelaki paruh baya itu bilang bahwa dia menghamili keponakannya? Lantas siapa wanita itu?' Batin Galih.
Antonio pun tidak menjelaskan pada Galih. Apa dia takut karna masa lalunya terlalu kelam. Galih semakin penasaran dengan kehidupan Antonio ternyata ada beberapa serpihan kisahnya yang tertinggal dan tidak diketahui Galih.
Galih langsung meminta pada dua orang yang sangat El kagumi. Kagum karna pekerjaannya selalu benar, akurat dan benar kenyataannya.
Galih meminta keduanya untuk keapartement Galih, lantas keduanya pun langsung bergegas pergi, kedua orang itu pun nampak terkejut. Biasanya Galih memanggil mereka karna El. Tetapi sekarang, dia disuruh karna kepentingan Galih sendiri.
Lama Galih menunggu, 10 menit berlalu dari penantian, waktu terus saja berputar dimenit ke 20 kedua orang itu telah mendarat didepan apartement Galih. Keduanya mengetuk dan Galih pun membuka pintunya.
Galih mempersilahkan keduanya untuk masuk. Dan mereka pun duduk diruang tamu. Keduanya beradu pandang dengan mengangkat bahu. Tidak tahu apa yang akan Galih tanyakan pada keduanya.
"Apa kalian tahu orang ini?" tanya Galih pada keduanya.
Keduanya mencermati siapa potret lelaki tampan gagah itu. Keduanya nampak terkejut, dan saling beradu pandang.
"Kenapa?" tanya Galih.
"Ini bukankah kekasih keponakannya tuan Dian? Lantas maksud tuan apa memanggil kami dan hanya menanyakan ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya, karna aku ingin tahu siapa keponakannya,"
Salah satu dari mereka pun memberikan potret dari ponselnya. Sesosok perempuan cantik yang terlihat bahagia dengan anak Dan suaminya. Lagi-lagi Galih dibuat penasaran.
Galih pun meminta penjelasan lebih rinci dari mereka, Dan kini galih telah mengetahui semua masa lalu Antonio. Galih nampak mengurut pelipisnya dengan memutar perlahan.
Sungguh cerita ini membuatnya lagi merasa kasihan. Karna lelaki paruh baya itu dengan sengaja memisahkan keduanya.
"Terimakasih sudah menjelaskannya. Kalian boleh pergi."
Keduanya pun beranjak dan berlalu pergi dari apartment Galih.
'Kasihan sekali kau tuan, pantas saja kau selalu mencari *keberadaan merek*a' batin Galih.
Saat ini kebencian Galih berubah menjadi rasa iba. Dia juga saat ini tidak akan terlalu memojokan Antonio. Karna dia telah tahu semuanya.
'Semoga takdir menyatukan mereka kembali'
Itulah do'a Galih untuk tuan Antonio. Lelaki Yang sempat dia benci karna melukai hati nona mudanya.
__ADS_1
***
Didalam kamar yang minimalis sepasang suami istri yang tengah saling mencurahkan isi hati. Keduanya sudah paruh baya, namun tetap saja keromantisan keduanya tidak pernah hilang dan masih sama seperti awal pernikahan. Pernikahan yang sungguh sakinah mawadah warohmah.
Keduanya sedang bercanda ria, seperti pengantin baru. Mereka menceritakan tentang indahnya masa dulu masa ta'aruf yang mereka jalani. Keduanya dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Tidak ada pacaran. Yang ada langsung lamaran saat dua kali pertemuan.
Sungguh indah masa pacaran setelah menikah menurut keduanya. Mereka tertawa dengan bahagia mengingat masa itu.
"Pah, mama kok jadi pengen muda lagi yah?! Apalagi pas malam pertama terjadi dan sudah beberapa bulan pernikahan dijalani," ucapnya dengan bergelayut ditangan Ananda.
Ananda sekilas melirik istrinya. Dia pun sama tertawa mengingat masa lalunya. Lalu dia melamun memikirkan anaknya haruskah anaknya menderita karna pernikahan itu terjadi? Mengapa pernikahannya tidak seindah yang dia rasakan?
"Papa kok melamun?"
"Papa, jujur ada yang disembunyikam dari mama?"
"Papa,"
Pertanyaan beruntun dari Ima membuat Ananda menghembus nafas perlahan. Haruskah dia membagi kisah pilu ini pada istrinya? Apa tanggapan sang istri jika tahu anaknya... Sungguh membuat Ananda dilema.
Ima pun dengan perlahan menurunkan gelayutan ditangan Ananda. Dan menatap mata sang suami yang selama ini tidak pernah menyembunyikan hal kecil apa pun padanya.
"Mama, ingin tahu?" tanya Ananda.
"Mah... El sepertinya harus berpisah dengan Antonio!" ucap Ananda.
Ima sejenak mematung dengan lontaran Ananda. Ia kaget bukan main, dia selalu melihat bahwa keluarga kecil anaknya begitu bahagia lantas mengapa perpisahan harus dilakukan?
Ima nampak berkaca-kaca, dia begitu syok mendengar kenyataan bahwa anaknya akan menjanda diusia yang terbilang masih muda. Ima tidak bisa lagi menahan rasa kagetnya ia pun menangis dengan sesenggukan.
Ananda pun langsung merengkuh tubuh itu untuk dipeluknya. Ia juga tahu reaksi apa yang akan terjadi, kala sang istri diberi tahukan.
'Anakku yang malang, harusnya kamu bisa terbuka pada *mama sayan*g' Batin Ima.
"Apa tidak ada jalan lain selain perpisahan pah, anak kita masih muda. Tetapi ...."
"Takdir mungkin sudah menggariskan anak kita seperti ini mah, pernikahan mereka tidak bisa lagi dipertahankan. Mengertilah ...."
"Jika pun mereka tetap masih bersama. Keduanya hanya bisa tersakiti dan menderita didalam bahtera rumah tangganya. Antonio melamar anak kita hanya karna ingin membalas budi untuk semua yang telah kita beri,"
"Dia tidak mencintai anak kita mah, kasihan El kalau harus tetap mempertahankannya. Namun suaminya tidak mencintainya."
__ADS_1
"Yaalloh papa,"
Ima tak dapat lagi menahan sakit hatinya. Begiti sakit, buah hati, permata hati jiwa raganya harus mengalami keadaan seperti ini?! Ima semakin mempererat pelukannya, kini dia tahu kejadian tadi sore mengapa sang anak tampak murung dan tidak bergairah.
Ini jawaban dari setiap tidak enak hatinya. Dan kegelisahan menyelimuti hari-harinya. Ini jawaban semua doa-doa yang dia panjatkan mengenai rasa gelisah yang tak kunjung usai setiap dia melakukam sholat tahajud.
"Mama tidur ya? Jangan dipikirkan. Kita harus kuat untuk anak dan cucu kita. Kasihan mereka kalau sampai kamu sakit karna memikirkan masalah ini. Tidak ada penguat untuk El," lontar Ananda memberi saran.
Ima pun mendengarkan saran suaminya. Ia langsung merebahkan tubuhnya untuk tertidur. Ananda pun nampak menyelimuti tubuh sang istri belahan jiwanya.
Ananda mengecup kening Ima, "Papa keluar dulu ya mah?" ucap Ananda meminta izin.
Ima pun mengizinkan dan Ananda pun berjalan keluar dari kamar dan menuju taman belakang. Dia menunggu seseorang yang tentunya akan membawa kabar yang mungkin tidak mengenakan kembali.
"Maaf tuan telah membuat anda menunggu," ucapnya dan mengbungkukan badannya.
"Ya, duduklah!"
"Ada kabar apa? Sampai tengah malam bertamu?" celutuknya tanpa menoleh kearah lelaki itu.
"Apa saya mengganggu tuan?" tanya-nya dengan merasa tak enak hati.
"Makanya cepat menikah, agar mengerti!"
Ananda nampak tertawa melihat reaksi tamu-nya. Ya begitilulah Ananda selalu membuat lelaki itu tidak mampu berkutik jika menyangkut pernikahan.
"Tuan, nona belum bahagia. Jadi aku belum ingin menikahinya!"
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Umurmu sudah matang. Kasihan kekasihmu. Apalagi kamu menyuruhnya untuk berpura-pura menjadi pacar dia apa kamu tidak cemburu melihatnya dengan orang lain?"
"Tuan---,"
"Hmm,"
"Tuan... Lelaki itu ternyata dulu mengham*li keponakannya tuan Dian. Karna rasa Cinta nya sampai akal sehatnya tertutupi. Dia akan mempertanggung jawabkan kecerobohannya, tetapi wanita itu menghilang,"
"Dan sebenarnya bukan menghilang tetapi tuan Dian menyuruhnya pergi dan menikah dengan lelaki yang mencintai wanita itu,"
"Bukan tanpa sebab dan alasan, tuan Dian menyuruhnya pergi. Semua karna dia tidak ingin keponakannya terlibat dalam permainan ini! Dia juga tidak ingin wanita itu menikah dengan tuan Antonio, alasannya akan sulit, jika itu terjadi. Tetapi saya sudah melibatkannya bahkan dia berada dipihak kita,"
"Tapi saya tidak mengerti mengapa tuan Dian sampai tidak mau keponakannya menikah dengan tuan Antonio,"
__ADS_1
"Jika dia menikah dengan keponakan Dian tentu saja akan mempersulitnya. Karna keponakannya pasti akan menasehatinya, tetapi jika dia menikah dengan anakku tentu saja dia akan lebih mudah untuk membuat keluarga ku menderita secara perlahan, dan itu memalui El." jawab Ananda.
***