
Sudah hampir dua minggu El selalu membantu Willy. Dia tidak keberatan dengan beberapa tugas yang diberikan Willy, meskipun sikecilnya sedikit merengek.
"Mommy... Temani aku dulu, aku ingin tidur!" rengekan Alwi ketika dia lelah bermain.
El pun menidurkan terlebih dulu Alwi, setelah tertidur dia pun melanjutkan pekerjaannya. Dia sudah menikah bukan? Apakah suaminya bertanya? Bertanya dan mengizinkan.
Kadang dia pun lembur bersama Willy. Jadi El tidak bisa lagi memantau suami dan sahabatnya? Tentu saja masih bisa.
💬 "Mas, aku ingin data lengkap berikut masa lalu kedua orang itu!" pesan pun terkirim pada Galih.
Meskipun dia sekretaris dari Antonio, namun dia tetap memihak kepada nonanya. Mengapa demikian? Tentu saja karna perusahaan yang dikelola Antonio adalah perusahaan milik nonanya.
Galih tentunya merasa sangat senang karna nonanya sudah lelah mencari tahu sendiri. Dan meminta bantuannya. Dengan cekatan dia pun mengirimkan semua yang dia ketahui.
El pun membaca semua yang dikirimkan asistennya. Yang tak lain adalah Galih. El sama sekali tidak terlalu kaget dengan apa yang dia ketahui sekarang. Kenyataan yang sangat membuatnya sakit.
Dari jauh-jauh hari dirinya sudah mencoba berdamai dengan hatinya dan mencoba tidak mau lagi untuk ambil pusing. Dia sudah lelah dengan pernikahan nya. Seorang suami yang masih sangat berat terhadap mantan kekasihnya.
"Apakah aku harus mengakhiri semua ini?" gumamnya dengan ketir.
Tanpa dia sadari air matanya terjatuh. El menyeka setiap buliran air mata yang membasahi pipinya. Tak berapa lama ada tangan yang mengulurkan tisu didepan wajahnya yang menunduk. El pun mendongak untuk melihat siapa orang yang repot-repot memberikannya.
"Kak!" seru El dengan membawa tisu dari uluran tangan Willy.
Willy tidak banyak berbicara dia hanya mendudukan bokongnya didepan meja El. Dia tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga pamannya. Sebesar apapun rasa untuk istri pamannya.
"Apa kamu akan tetap memendamnya sendirian?" tanya Willy tanpa menatap kearah El.
"Apa kamu tidak akan memberiku kesempatan?" serentetan pertanyaan Willy mampu membuat El menghentikan tangisnya.
Dia bingung sendiri dengan pertanyaan yang dilontarkan Willy. Dia masih sibuk dengan tisu membuang ingus yang ada karna dia tengah menangis.
Perasaan takut menghampiri diri El saat ini. Dia takut Willy sudah mengetahui Alwi siapa sebenarnya. Tapi siapa yang telah memberi tahunya? Jika memang Willy sudah mengetahui kebenarannya.
"Maksudmu apa kak?" tanya El dengam polos.
__ADS_1
Dia masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud kan Willy. "Berpisah dengan pamanku... Mungkin tidak masalah untuk psikis Alwi!" ujar Willy pada El.
"Masih ada aku! Dan kau mungkin tahu juga jika Alwi hanya dekat denganku selama ini? Kamu tidak perlu khawatir, jika kamu memikirkan si tampan kakak El. Kakak akan bertanggung jawab penuh atas dirimu dan sikecil. Meskipun perusahaan yang ku punya hanya remehan debu untuk dirimu," ucap Willy panjang lebar.
El hanya memandang Willy dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu. Dia senang dengan untaian kata Indah berbentuk tanggung jawab itu. El semakin terisak dalam tangisnya.
Ketika Willy tak mendapat jawaban. Dan mengerti dengan keadaan El yang tengah menderanya. Willy pun beranjak dari kursinya dan berjalan pergi. Sebelum Willy keluar El pun berseru.
"Beri aku waktu untuk menerimanya!" seloroh El mampu menghentikan langkah Willy.
"Maksudmu waktu? Waktu untuk apa El?" tanya Willy penasaran dan mendudukan kembali bokongnya dihadapan El.
"Menerima kenyataan pahit yang kujalani! Dan berbagi kisah menyedihkan ini." El dengan senyum yang tampak dipaksakan. Dia hanya mampu berfikir saat ini sungguh ironis kisah rumah tangganya.
Kisah rumah tangga yang hancur berantakan karna seorang mantan? Hmmm... Sungguh menyedihkan. Willy hanya mampu menatap El dengan iba. Dia tidak bisa mengobati El. Luka hati sangat sulit diobati. Kecuali dirinya sendiri yang mencoba mengobatinya.
***
Kebetulan malam ini El dan Antonio dihadapakan dengam situasi bersahabat. Kenapa? Kini keduanya sedang berada dalam kamar yang tak pernah ada kehangatan. Hanya serentatan perhatian seorang kakak, bukan seorang suami.
"Bagaimana pekerjaan yang kamu lakukan dengam Willy?" tanya Antonio ketika melihat El merangkak turun dari ranjang. Ketika El membelakangi Antonio dia hanya bisa tersenyum ketir.
"Semuanya berjalan dengan lancar!" jawab El dengan berjalan menuju kekamar mandi. Sebelum dia membuka pinta kamar mandi dia pun berseru.
"Jangan menghilang lagi untuk tengah malam ini." lontar El dengan memasuki kamar mandi.
Dia kembali menangis ketika berada didalam kamar mandi. Dia tidak bisa lagi untuk bertahan. Dia juga manusia yang ingin merasakan dicintai.
Deg!!!
Antonio hanya mempu mematung ditempatnya.
Duaaarrrr
Kesadarannya telah kembali, dia langsung tersadar dari lontaran yang diucapkan El. Dia tertegun. Jika sang istri mengetahui lantas kenapa tidak menegurnya?
__ADS_1
Apakah gadis kecilku sering melihatku menemui dia ditengah malam? Arrggghhh, kenapa aku ceroboh. Paman maafkan aku, aku yang tidak tau diri ini. Sudah diberi amanat besar untuk menjaganya namun aku malah menyakitinya. Tapi apalah daya hati ini tidak dapat membohongi. Perasaanku jauh lebih bahagia jika bersamanya. Batinnya berkata lirih.
Antonio pun merebahkan tubuhnya. Kedua tangannya ditelusupkan dibelakang kepala dengan menatap langit-langit kamar.
Samar-samar dia mendengar orang terisak. Hatinya mencelos. Dia juga merasakan sakit tapi harus bagaimana lagi? Langkah apa yang harus dibuatnya supaya gadis kecilnya tidak membencinya.
Lama Antonio menunggu El keluar. Hingga dirinya pun tertidur pulas disamping Alwi. Ketika itu pula El langsung keluar dan langsung merebahkan tubuhnya dan tidur menyamping memeluk buah hatinya.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Pergerakan seseorang yang akan turun dari ranjang membuat El terbangun.
"Mau kemana?" tanya El masih dengan mata terpejam.
Antonio belum sempat memakai sandal pun sudah terhenti dengan pertanyaan yang dilayangkan El.
Sensitif sekali. Batin Antonio.
"Mas mau kekamar mandi!" jawabnya dengan mulai beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
El kini tengah terduduk menyila diranjang menunggu sang suami yang tengah berada dikamar mandi. Sebab apa gadis kecil itu menjadi posesif? Serentetan ingatan yang El lihat beberapa malam suami dengan sahabatnya itu.
"Kenapa belum tidur lagi?" tanya Antonio ketika dia telah keluar dari kamar mandi.
"Aku ingin mas memberikan pilihan!" seru El tanpa menoleh.
"Pilihan itu terdiri dari dua pilihan! Ceraikan aku, aku juga ingin dicintai. Dan... Nikahi perempuan yang kau cintai!"
Lelaki itu belum sempat mendudukan bokongnya diranjang, seruan El mampu membuatnya diam seribu bahasa. Dia dihadapkan dengan pilihan berat dan sulit untuk memilih.
Disisi lain dia sangat menyayangi gadis kecilnya. Tapi dihatinya hanya tertera satu nama yaitu sahabat El. Dia bimbang, dia bingung saat ini.
"Pilihlah yang menurutmu sangat berarti dalam kehidupanmu!" El berseru kembali. Tanpa mendengar jawaban El pun merebahkan tubuhnya dan mulai tertidur dengan memeluk Alwi.
Antonio tetap berdiri diam seperti patung tanpa berpindah tempat, atau pun bergerak. Mungkin yang kini bisa terdengar hanya deruan nafasnya yang sangat cepat berpacu.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG