Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 08 POV El-Suci / Aku Curiga Pada Mereka


__ADS_3

Aku hanya menatap terheran dengan lelaki itu! Aku merasa ada sesuatu diantara mereka, tetapi apa? Apa hubungan mereka sebenarnya? Mereka bukankah baru bertemu satu kali? Tapi kenapa seperti orang yang sudah dekat.


Aku tersadar disaat keduanya memanggilku. "Nona El," panggil keduanya padaku.


"Ah iya kenapa?" Tanya ku pada kedua orang itu.


"Mas Galih sedang apa disini? Lalu ... Mmmm ... Kalian berdua kok seperti orang yang sudah ... " Ucapku dengan menggantung perkataanku.


Keduanya pun nampak kebingungan, aku berfikir mungkin mereka berdua sedang memikirkan alasan apa yang tepat untuk pertanyaan ini.


"Hanya kebetulan saja Nona," jawabnya bersamaan, aku tergelak dengan jawaban keduanya.


"Kalian satu hati ya," ucapku kepada kedua orang disampingku aku pun tergelak kembali.


"Seperti sepasang kekasih, atau memang kalian berdua pasangan kekasih kak Putri?" tanyaku penuh selidik kepada kak Putri.


"Mana mungkin itu terjadi nona, kami baru bertemu satu kali, tidak mudah untuk jatuh cinta dalam satu kali pertemuan," Jawab kak Putri.


"Loh kok mana mungkin sih kak? Itu namanya Cinta pandangan pertama!" Namun sepertinya mas Galih tidak terpancing dengan ucapanku. Dia malah berpamitan pergi dengan alasan masih banyak pekerjaan.


"Nona El saya permisi masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan," Pamitnya padaku.


"Oh, baiklah. Semoga berjalan lancar hari-harimu mas, hati-hati ... Ehh mas tunggu!"


"Titip mas Tino ya mas," ungkapku dengan malu-malu.


"Maksud nona El tuan Antonio?" Dia malah berbalik bertanya padaku aku merasa malah aku yang terpojokan. Bodoh kenapa juga sih ini mulut pake ngomong begitu, malu sendiri kan aku.


Aku melirik sekilas dengan ekor mataku kepada kak Putri, tampak dia pun tersenyum padaku. Sepertinya kedua orang ini meledekku. Ah benci aku suasana seperti ini.


"Mmm, lah iya siapa lagi sih mas Galih," Jawabku dengan berdecak.


"Harusnya nona memanggilnya tuan Toni kalau pun ingin ... " Belum dia menyelesaikan pembicaraannya aku pun memotong ucapannya.


"Terserahku mau memanggilnya dengan kata sayang pun tidak akan jadi masalah, untuk mas Galih." aku menjawabnya ketus dengan menghentakkan kakiku.


Dia hanya menatap ku dengan datar. Entah apa yang ada didalam otak dan pikirannya. Aku sama sekali tidak perduli.


"Sudah pergi sana." Aku pun mengusirnya ketika dirinya tidak hendak pergi dan masih tetap berdiri disamping mejaku.


"Iya, nona saya permisi. Apa nona tidak ingin mengucapkan salam sayang kepada tuanku?" Tanya nya lagi, sungguh aku merasa dia semakin mengejekku.


"Kurang ajar kau mas, mau aku siram?" Dengan menggenggam segelas minuman untuk kusiram kewajahnya.


Tampak dia mulai mundur beberapa langkah dari samping meja yang kududuki, dengan menggigit bibir bawahnya, aku yakin dia ingin tertawa saat itu.


Kak Putri pun menenangkan aku dengan membawa gelas yang sedang kupegang, dengan mengusap punggungku seraya menenangkan aku yang mulai emosi karna tingkah mas Galih sekretaris dari mas Tino.

__ADS_1


Dia selalu saja tidak bosan-bosannya menggodaku, apalagi aku yang selalu saja tak bisa berbicara mengarah kepada mas Tino. Sungguh hatiku sangat ingin memilikinya. Aku pun teringat dengan alasanku mengajak kak Putri keluar.


"Kak," Panggilku seraya memanggil orang disampingku.


"Iya nona," Jawabnya dengan raut wajah menunjukan kalau dia bersedia menjadi pendengarku saat ini.


"Mmm ... Ini anu loh kak, apa aku salah mencintai seorang pria?" tanya ku dengan kegugupanku.


"Loh kok ada kata salah segala nona, mencintai bukan keinginan kita bukan? Kita tidak tahu kepada siapa hati kita akan berlabuh," jawabannya sungguh membuatku bersemangat untuk mengutarakan isi hatiku.


"Apa nona mencintai tuan?" Dia tidak menyebut namanya dia juga pasti tahu siapa laki-laki itu, aku hanya mengangguk tersipu malu.


Sungguh aku seperti seekor kucing saat ini. Aku merasa malu dengan mimik muka ku yang merona ini. Dia hanya tersenyum dan berkata kembali.


"Berjuanglah, jika pantas diperjuangkan. Namun akhiri saja perjuangannya jika dirasa dia tidak merespon nona, saling mencintai itu indah. apalagi sama-sama berjuang," ucapnya dengan menatapku.


"Baik kak, lalu aku harus mulai dari mana?" tanyaku lagi.


"Apa tidak akan malu perempuan yang mengejar?"


Dia memegang tanganku tanda dia menguatkan aku. "Tidak apa-apa perempuan berjuang, dari pada dipendam lebih sakit nona." Aku menatapnya sekilas mencerna semua ucapannya namun sungguh ucapannya sungguh benar adanya.


"Baiklah kak aku akan mencobanya!" Aku dengan antusiasnya mengiyakan saran dari kak Putri.


"Semangat nona," dia memberi semangat untuk mengejar cinta pertamaku, suami idamanku.


"Iya, tidak apa-apa kak, pergilah." Dia pun melenggang pergi meninggalkan caffe menuju kantor memang masih jam kerja juga.


Setelah selesai membayar aku pun pergi menuju mesjid terdekat. Ya karna sudah waktunya umat muslim untuk beridah.


Setelah sekitar dua puluh menit aku beribadah aku pun pergi menaiki taxi, aku lebih suka naik taxi ketimbang diantar supir, menurutku terlalu canggung kemana-mana diikuti.


Meskipun ku tahu tanpa sepengetahuanku pasti ada orang-orang yang mengikutiku. Setelah aku keluar dari taxi aku merasa ada orang yang selalu mengikutiku.


Sungguh aku merasa tidak enak hati kali ini. Harusnya aku tidak memaksakan untuk datang kemari, aku mulai berhenti dari perjalanan kakiku, melihat sekeliling.


Tapi tidak ada siapa-siapa. Tetapi felling ku ada orang yang mengawasi gerak-gerik ku. Ah mungkin perasaanku, kutepis pikiran burukku.


Tak lama kemudian ada seseorang yang memegang tanganku, dengan refleks aku memukul orang itu, karna memang aku sedikit bisa bela diri, akupun bisa melindungi diriku.


Untung saja cuma tiga orang kalo lebih aku tidak bisa membayangkan bagaimna aku mengalahkan mereka. Aku pun langsung berlari menuju perguruan tempat aku belajar bela diri.


Setelah beberapa jam aku pun selesai dengan latihan ku, aku juga sudah membersihkan diri tak lupa pula aku beridah sholat ashar.


Aku takut mereka mengintaiku diluar, aku takut jika jumlah mereka lebih banyak. Apa aku telfon mas Tino saja ya? Lagian dia juga pasti tau dengan kegiatanku sehari-hari, eh tapi semoga saja pembicaraanku tadi dia tidak mengetahui itu.


Aku membuka tasku dan merogah ponsel didalamnya. Aku memanggil video call supaya dapat kulihat mimik muka tampannya.

__ADS_1


"Halo, Asaalamualaikum, ada apa El? Kamu dimana?" Suara bariton itu melengking ketika panggilanku diangkat, kujauhkan sejenak dari pandanganku.


Aku prediksi dirinya tahu apa yang tadi kualami. Aku menghembus nafas untuk sejenak mengusir rasa kegugupan ku. Baru saja aku akan membuka mulutku untuk berbicara tetapi dia sudah membuka suara kembali.


"Aku sudah peringatkan kau El supaya berbicara kepadaku jika kau ingin pergi kemana? Apa kau tidak tahu musuh sudah mengintaimu. Aku akan menjadi orang pertama yang gila jika terjadi sesuatu kepada dirimu," dia mengkhawtirkan aku ternyata. Ah aku sungguh senang bukan kepalang.


"Orang-orangku kehilangan jejakmu, kau merepotkanku El. Cepat katakan kau dimana? Aku akan menjemputmu!" Dia sepertinya memarahi aku.


"Wa'alaikumsalam Mas Tino," jawabku dengan suara bergetar, mataku mulai berkaca-kaca, baru kali ini aku dibentaknya dan diberi umpatan beruntun.


"Yasudah maaf mas membentakmu mas terlalu khawatir, share lok lokasimu berada ya? jangan menangis malu. katanya sudah besar udah mau nikah? Nanti nikah nya sama mas Tino saja ya?" Tanya nya padaku, kudengar dia tertawa cekikikan dia berhasil menggoda ku aku pun tersenyum kembali.


"Mas memang mau menjadi imamku?" aku refleks bertanya kembali sungguh aku ingin sekali dia mengatakan mau melamarku. Sungguh mimpi disiang bolong untukku.


"Nanti dibahas lagi ya cantik, sekarang ayo share lok dulu nanti mas jemput." Aku langsung menunduk menyembunyikan rona wajahku aku tersipu malu.


Aku hanya mengangguk, lalu berpamitan untuk menutup telfon dan menshare lok kan tempat ku berada.


Setelah sekitar empat puluh lima menit aku menunggu dia pun sampai ditempatku. Aku melihat perubahan raut wajahnya, kupastikan dia akan menasehatiku panjang kali lebar persegi panjang sungguh membosankan bagiku selalu mendengarkan ocehan-ocehan nya.


Aku pun membuka mobil dan sesegera mungkin untuk memasuki mobil yang sudah menjemputku.


"Kamu."


"Apa sih mas?" tanyaku dengan terheran.


"Kamu kenapa bisa orang-orangku kehilangan jejakmu?" dia sudah mulai mengoceh padahal aku baru saja masuk.


Aku hanya mengangkat bahuku tanda aku tidak mengetahuinya. Dia pun mulai membahas pembicaraanku ditelfon.


"Belajarlah dulu ilmu menjadi istri yang solehah," ucapnya dengan masih memegang setir dan menatap kearah depan.


Datar banget sangat datar, kenapa tidak bilang lebih romantis sih?


"Nanti kita belajar. Minta penjelasan kepada ustad apa saja untuk menjadi istri yang soleha dan ibu yang baik!" Aku menatapnya dengan binar mataku berkaca-kaca.


Ketika ada pergerakan dibagian kepalanya untuk menatapku aku pun dengan cepat menyeka air mataku yang sudah menetes dipipiku. Sungguh aku merasa ini lampu hijau untukku. Ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Ah sangat berbunga-bunga hatiku.


"Atau mau langsung ke KUA saja sekarang?" tanyanya lagi masih dengan muka datar so cool nya lagi yang membuat wajahnya semakin tampan dimataku. Dia berhasil menggoda ku lagi.


"Aaaaahhhhh mas Tino." Aku memukul lengan kekar itu dia menepikan sejenak mobilnya, mamatikan deru mesin mobil itu dan memegang kedua pipiku.


"Ternyata gadisku sudah jatuh cinta kepada ku yah." Dia menyeringai tanda dia sudah mengetahui perasaanku terhadapnya.


"Mas ... Mass .. Su-sudah,"


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2