
Kini El tengah dilanda khawatir karna sahabatnya diculik entah oleh siapa. Sampai-sampai dia mendatangi kantornya untuk bertemu Galih.
Sebelum berbicara El meminta izinn pada Antonio, bahwa ia ada keperluan dengan Galih. Mereka berdua pun berjalan beriringan untuk kerestoran agar Antonio tidak merasa curiga.
Setelah sampai direstoran, mereka berdua pun duduk dan memesan makanan terlebih dulu.
"Mas bisa jelaskan, mengapa ini bisa terjadi?!" El berseru dengan tangan mengotak-ngatik ponselnya.
Galih hanya menautkan halisnya, "Maksudnya apa nona? Saya sungguh tidak mengerti," jawabnya jujur.
El pun memperlihatkan nomor yang sempat menelponnya dan mengabari bahwa Aurelia telah diculik olehanya.
"Nona khawatir padanya?"
"Bantu saja, mengapa malah bertanya sama saya," seru Galih membuat El naik pitam.
"Mas kamu ini yah!"
"Tenang saja nona, mereka tidak akan kenapa-kenapa! Aku sengaja melepasnya dan menjalankan semua rencananya. Toh yang dia lakukan dibawah kendali orang suruhan kita," tutur Galih.
"Benarkah mas? Jangan bercanda!"
El tidak percaya, ada anak sahabatnya yang ia sayangi. Dan itu membuatnya murka. Galih menceritakan semuanya agar El mengerti dan percaya padanya.
Flashback 💦
"Tuan, orang itu merasa dia tidak dijaga ketat, dia berinisiatif lari disini dan meminta bantuan kami, kami harus bagaimana?"
"Ikuti saja, permainannya agar dia merasa suatu saat nanti tidak akan pernah bisa lari dari genggaman keluarga Ananda,"
"Baik, tuan."
Kedua pengawal itu pun ketempat ruangan yang berada tawanan. Mereka sedang mendengarkan apa yang orang itu suruh. Setelah beberapa saat akhirnya tuan Dian dengan dua penjaga itu berhasil kabur. Dengan mengelabui para pengawal.
Tentu saja itu semuanya hanyalah skenario. Akhirnya diperjalanan mereka menghadang mobil yang ditumpangi Aurelia. Kedua penjahat itu juga tak luput selalu memberitahukan semua yang dilakukan tawanan itu.
"Akhirnya, kalian menjadi tameng untukku," ucap orang itu dengan tertawa.
Sedangkan Aurelia dan Nuri, tengah diikat dan belum sadarkan diri karna diberi obat bius. Aurelia sempat membela diri agar dirinya dan Nuri tidak diculik, namun karna sang anak jadi ia tidak dapat konsentrasi dan melumpuhkan para penjahat.
'Lakukan saja sesuka hati, supaya nanti langsung mati rasa. ketika telah mengetahui semuanya' batin pengawal Galih.
Flashback 💦
__ADS_1
El merasa lega, akhirnya dia pun menyantap makanannya dengan lahap. Tidak ada lagi gurat wajah kegelisahan yang terpancar. Yang ada sebuah lengkungan senyuman yang sangat manis.
Mereka berdua pun pulang, Galih kekantornya lagi, dan El pergi pulang kerumahnya.
Ketika El memasuki rumah dan Alwi belari menghampiri El.
"Mom, kok teh Nuri-nya pulang dari sini?" tanya Alwi yang mulai murung.
"Katanya, mau pulang dulu sayang, nanti juga kesini lagi kok!" ucap El.
El tahu jika Nuri pergi maka anaknya akan bersedih, Alwi sudah menganggap Nuri seperti kakak kandungnya. Tapi dia juga tidak bisa melarang mereka pergi.
Apalagi kepulangan mereka karna keluarganya. El pun menjawil kedua pipi anaknya.
"Jangan sedih dong, kan masih ada mommy sayang,"
"Mau ada daddy Wil pokoknya mom!" kelakar Alwi.
Alwi pun berlari kekamarnya. Dia mengurung diri dikamarnya bahkan dia melewatkan makan siang dan malamnya.
Kini Ima, Ananda, dan juga El tengah didepan pintu kamar Alwi, ketiganya membujuk Alwi agar keluar dan cepat makan.
Sedangkan ditempat rumah yang berbeda, ada seorang lelaki yang tengah gelisah. Entah kenapa perasaannya selalu tidak enak hati. Dan pikirannya selalu memikirkan Alwi.
Setelah Alwi tahu siapa yang menyebut namanya dari luar, ia langsung bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu kamar yang ia kunci sedari tadi sore.
"Daddy Wil,"
Alwi menubrukan badannya pada tubuh kekar itu dan memeluknya dengan erat, bagai seorang anak dan seorang ayah yang telah lama terpisahkan.
'Batin ayah dengan anak, sangat kuat. Aku jadi sedih selalu melihat pemandangan ini' batin El.
Mereka berjalan saling mengekor menuju ruang makan.
"Daddy kok baru pulang, katanya mau tinggal dirumahnya Alwi," celetuk Alwi.
Willy hanya menoleh kearah samping meminta bantuan untuk jawaban dari Alwi. El hanya mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu jawabannya.
Sedangkan dari belakang papa Ananda, dan mama Ima hanya tersenyum menanggapi tontonan dihadapannya. Papa Ananda semakin yakin untuk keputusannya, bahwa El dan Willy harus bersatu.
"Daddy Wil kan baru pulang kerja," jawab Willy.
"Tapi Daddy Wil sudah berganti pakaian hmm, berarti sebelum pulang kesini kerumah paman Imam terlebih dulu kan?" oceh Alwi.
__ADS_1
Sontak saja membuat El gemas dan langsung menjawil pipi Alwi, Willy pun dengan Refleks menjawil pipi Alwi namun malah memegang tangan El. Keduanya terkejut.
Hingga akhirnya keduanya saling memandang dengan tangan masih dipipi Alwi. Dari arah belakang pun akhirnya terhenti perjalanannya karena Alwi, El dan Willy berhenti.
Keduanya akhirnya berdehem untuk menyadarkan El dan Willy, "Ehmmm,"
Alwi dengan sigap memegang tangan keduanya agar tidak terlepas.
"Wah kayaknya Bagus kalo diphoto tapi tangannya doang, nek.... Nenek, tolong photoin atuh," ucap Alwi setengah berteriak meminta bantuan pada neneknya.
Ima pun mengambil potret ketiganya, "Sayang cuma tangannya? Tidak dengan seluruh badan kalian?" tanya ima.
"Tangan, dulu nek. Nanti sama badannya,"
Ima memotret ketiganya, setelah selesai memotret Ima nampak tengah melihat kearah keduanya. Yaitu Alwi dan Willy secara bergantian.
'Eh, kok mirip Willy yah,' batin Ima.
Setelah selesai sesi Ima menjadi Fotografer dadakan, akhirnya semuanya telah sampai dimeja makan. Mereka semuanya memantau Alwi yang tengah melahap makanannya.
***
"Aku dimana?" gumam Aurelia ketika dia terbangun.
"Mom,"
Nuri memanggil Aurelia dengan lirih, tangannya terikat, dan keadaan sungguh sunyi bagai dikuburan. Anak itu terisak karna ketakutan.
Aurelia sudah mencoba menenangkan anaknya, agar ia jangan membuatnya semakin gelisah. Karna mendengar anaknya menangis membuat otaknya tidak dapat berpikir.
Pintu terbuka menampilkan dua orang laki-laki yang mungkin penjaga mereka. Agar mereka berdua tidak bisa kabur. Mereka berdua dengan gampangnya membuka pengikat dan menyuruh keduanya untuk makan. Mereka sangat ramah.
"Hallo nona, selamat malam, ayo makan dulu," titahnya setelah membuka pengikat.
"Jangan takut nona, dan maafkan kami karna mengikat kalian. Kami harap kalian tidak usah merasa takut. Kami orang suruhan tuan Ananda, tapi jangan berprasangka buruk terhadapnya. Nanti juga kamu akan mengerti, jadi kami minta bekerja samalah dengan kami. Esok hari keluarga besar tuan Ananda akan kemari, maafkan kami tidak memberikan tempat yang layak untuk kalian," ucap menjelaskan panjang lebar.
Aurelia mengerti dan memakan makanan yang dibawakan kedua orang itu, "Sayang dengar kan? Besok tuan Alwi juga akan kemari untuk membantu kita. Jadi jangan takut lagi ok!"
"Iya mom, tuan Alwi selalu menjadi penyelamat untuk aku," ucap Nuri dan memakan makanannya.
"Hey!!! Apa-apaan kalian. Membuka pengikatnya?! Mau membuat mereka kabur!" hardik orang itu ketika memasuki ruang kumuh itu.
***
__ADS_1