
Perjalanan yang begitu jauh, tanpa terasa begitu cepat dilalui. El menghembus napas berat. Ketika mobil sudah memasuki gerbang rumahnya. Lagi-lagi matanya berembun karena tidak kuasa menahan tangis
Aurelia lebih dulu turun, dan membayar argo taksi sesuai dengan yang tertera disana. Ia memutari mobil dan berdiri disamping kanan mobil yang diduduki El. Beberapa menit berlalu tetapi El tidak kunjung keluar. Akhirnya Aurelia mengetuk kaca pintu mobil.
El terlonjat karena sebuah ketukan dibalik pintu mobilnya. Ia buru-buru keluar dari taksi dan meminta maaf pada pak supir.
"Maaf ya pak saya melamun," ucap El.
"Tidak apa nona. Permisi, saya mau narik lagi," pamit pak supir.
Seperginya pak supir El pun memasuki rumah bersama Aurelia.
"Rely, aku... Aku...." El tidak bisa melanjutkan lontarannya, terlalu sakit untuk hanya membayangkannya saja.
'Andai aku diberi izin untuk memberi tahumu. Kamu pasti akan bahagia saat ini nona,' batin Rely.
Rely hanya tersenyum, ia mengusap lembut pipi kanan dan kiri El, menghapus jejak air matanya. Ia juga memapah El untuk kekamarnya.
Ima sedang bahagia ketika ia mendapati anaknya sudah pulang kerumah. Rasa penyesalan menggunduk di relung hatinya. Menyesal karena telah menentang keras keinginannya.
Willy pun belum mengetahui bahwa ia akan dinikahkan malam ini. Willy pun tak kalah lebih bingung, ia didandani lagi sepeti pengantin pria. Setelah didandani ia pun dibawa ketempat ijab qobul yang akan segera dilaksanakan. Willy tidak mengerti mengapa ia sampai didudukkan disini.
El pun kini masih didandani, setelah selesai ia pun dihapit oleh Rely dan pihak WO. Sedangkan El tetap menunduk karena ia tidak tahu bahwa ia akan dinikahkan dengan orang yang di cintainya. Setelah El di dudukkan disamping pengantin pria dada El berdegup kencang dan tidak menentu.
Ia ingat betul perasaan ini. Perasaan yang hanya berbeda kala ia sedang berdampingan dengan Willy. Dengan ragu-ragu ia ingin sekali mendongak menatap seseorang yang berada disampingnya. Namun ia takut untuk melihat kenyataan yang sebenarnya.
'Perasaan ini hanya aku rasakan ketika aku tengah disamping kak Willy. Tetapi aku kan akan menikah dengan mas Galih,' batin El.
"Bagaimana mempelai pria apa anda sudah siap?" tanya bapak penghulu.
Sebelum ijab qobul dilaksanakan ia tanpa sengaja mendongak dan melihat Galih sedang dihapit tangannya oleh seseorang dengan refleks El berdiri.
__ADS_1
"Hentikan," teriak El.
"Apa maksudnya ini, kalau mas Galih disana yang berada disampingku siapa?" tunjuk El kearah Galih.
"Kak Putri, tolong beri aku penjelasan," ucap
Yap seseorang yang sedang Galih gandeng untuk melihat ijab qobul El adalah Putri. Ia hanya tersenyum kearah El. Sedangkan Alwi tengah digendong oleh Galih. Anak kecil itu mengacungkan jempolnya karena merasa senang dengan apa yang dia lihat.
"Tengok saja sendiri," sahut Ima.
El pun menoleh kesamping orang yang tengah berdampingan dengan dirinya. El begitu tercengang sampai mulutnya menganga. Beberapa detik kemudian ia menutup mulutnya, rasa tidak percaya begitu ia melihat kenyataan yang terpangpang nyata dihadapannya.
"Sudah dulu ah kagetnya. Pak penghulu lanjutkan saja," pinta Ima.
Tamu yang diundang hanya hanya sekedar keluarga. Karena ini hanya ijab qobul. Setelah ijab qobul telah selesai, tepuk tangan dan mengucapkan kata sah. El dan Willy sudah sah berstatus suami istri.
Kini acarapun telah selesai. El tanpa merasa lelah dan tidak ingin berganti pakaian ataupun sekedar untuk istirahat tidak ia lakukan. El ingin secepatnya masalah ini segera dijelaskan oleh Ima, dan dari semua orang yang tengah El kumpulkan kini.
Mereka masih berdiri menatap El. Tidak ada yang ingin mendudukkan bokongnya dikursi, yang membuat El memanyunkan bibirnya karena tidak ada yang mendengarkan ucapannya.
"Sudah lah nona izinkan kami beristirahat, tidak mengertikah nona kalau kami ini pengantin baru," terang Putri.
"Apa!!! Pasangan pengantin baru?" tanya El kebingungan.
Ia semakin bingung memikirkan masalah rumit ini. Untuk pertama kisah masa lalu mantan suaminya dan kedua masalah percintaan kekasih Willy yang berakhir menikah dengan Galih yang tidak lain orang kepercayaan keluarganya.
"Mas Galih, kamu menyembunyikan hal yang besar padaku," ucap El.
"Yang terpenting diakhir cerita dirimu pun bahagia nona, kami pamit pergi dulu. Tuan, nyonya kami permisi." pamit Galih dan pergi dari perkumpulan itu.
"Sudah lah sayang besok saja kalau mau meminta penjelasan. Kami semua sudah lelah. Karena mempelai pengantin wanita kabur-kaburan," sindir Ima.
__ADS_1
"Semuanya kembali saja pada kamar yang sudah kami persiapkan. Dan kamu Al sayang, bobonya sama kakek nenek ok," ucap Ima.
Alwi pun mengangguk ia mengecup dulu pipi El dan Willy secara bergantian. Hati anak itu tengah bahagia, berbunga bagai taman bunga. Senyum merekah terpangpang begitu jelas dibibirnya. Ia bahagia akhirnya kedua orang tuanya bersatu.
***
Mereka berdua tengah menikmati kamar pengantin yang begitu wangi karena berserakan bunga Melati. Apalagi dekorasinya sungguh membuat setiap orang betah hanya sekedar untuk menatapnya.
Keduanya masih diam membisu tanpa suara, ataupun hanya sekedar untuk membuka percakapan. Hingga akhirnya hanya keheningan yang tercipta dikamar pengantin baru itu.
Willy mengingat kala ia pertama kali tanpa sadar telah merenggut mahkota El secara paksa. Ia sedih mengingatnya.
"El," panggil Willy.
"Hmm, apa kak?" tanya El.
"Maaf untuk tempo dulu, aku tidak bermaksud untuk membuatmu hancur. Kakak juga tidak tahu sebenarnya hubungan Putri dan Galih. Kalau tahu mungkin kamu pun tidak akan merasa tidak enak melihat keberadaannya,"
"Setelah pernikahan kemarin aku membawamu pulang, aku sudah didandani layaknya pengantin baru. Namun tidak menyangka jika istriku tidak menginginkan aku makanya dia kabur," sindir Willy secara Halus.
"Aku tidak tahu kalau orangtuaku menikahkan aku dengan dirimu. Yang kutahu hanya aku akan dijodohkan dengan mas Galih. Ya jelas aku tidak mau aku tidak mencintainya, bagaimana bisa aku harus menikah lagi namun tanpa cinta seperti dulu," terang El.
Willy menempelkan telunjuknya dibibirnya. Ia memberikan isyarat pada El agar tidak perlu lagi membahas masa lalunya kembali.
"Yang lalu biarlah berlalu El, sekarang ada aku yang akan membahagiakan kamu dan Al, buah hati kita. Terimakasih telah menjaganya walaupun dengan berat tanpa perhatian seorang suami," jelas Willy.
"Sudah jangan dibahas lagi." El pun akan beringsut turun dari ranjang, namun Willy menahannya dan meminta El agar berdiam dan tidak bergerak selama beberapa detik.
El pun menurut saja, tanpa aba-aba Willy mendekat kearah El dan kini wajah mereka begitu dekat, hanya berjarak mungkin tiga jari. Sampai akhirnya Willy diam-diam mengangkat tangannya untuk segera. Menepuk pipi El yang ia rasa itu sebuah nyamuk. Dengan polosnya Willy pun berseru.
"Yah bukan nyamuk El, kakak kira nyamuk. Ini hanya sisa make-up,"
__ADS_1
***