
"Hallo ini siapa?" Tanya El ketika ponselnya berdering menandakan panggilan masuk.
El terlihat syok. Dia hanya menganga dan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Mulutnya terasa terkunci. Bahkan El tak mampu menjawab walaupun hanya menjawab 'iya'. Dia kaget bukan main. Willy pun meminta Mama Ima untuk menggendong Alwi sejenak.
Mama Ima dengan senang hati menggantikan menggendong Alwi. Balita itu terlihat bergeliat di gendongan sang Nenek. Mungkin dia terlalu nyaman di dekapan sang Nenek.
Willy pun beranjak dari duduknya dan menghampiri El. Meminta dengan lembut ponsel El untuk mengalihkan ketelinganya.
๐ "Hallo, nona anda masih disana?" Tanya sang penelpon.
๐ "Maaf Pak keponakan saya terlalu kaget. Memangnya ada apa Pak?" Tanya Willy.
๐ "Begini toh Mas, ini suami nona kecelakaan dan sedang berada dirumah sakit!" Tutur sang penelpon.
๐ "Di Rumah sakit mana Pak, paman saya dirawat? Terimakasih atas pemberitahuan-nya ya Pak," ucap Willy.
๐ "Di Rumah sakit xxx, sama-sama Mas." Telpon pun di matikan.
Ketiga paruh baya itu nampak penasaran dengan kabar apa yang diterima Willy dan El, hingga keduanya terkesan sangat terkejut. Apalagi El, raut wajah El yang menyiratkan kesedihan.
Willy mencoba untuk memberi tahu, meski pun dia beberapa kali enggan untuk memberikan kabar buruk itu. Mereka panik luar biasa, setelah Willy memberi tahu apa yang terjadi.
"Ayo, semuanya berkemas. Kita akan ke ibu kota. Kita tidak bisa terus bersembunyi seperti ini. Kita harus mencoba tegas. Bahwa ambisinya terlalu salah. Apalagi ini namanya percobaan pembunuhan!" Lontar Ananda dengan lantang.
"Kamu serius Nda?" Tanya Imam terkejut. Ananda hanya menganggukan kepalanya.
Ima mengangguk menyetujui. Dia bahagia dengan keputusan sang suami. Inilah yang diinginkannya, tetap berkumpul dengan El dan juga Alwi.
Dengan langkah cepat Ima langsung kekamarnya untuk berkemas, begitu pun Imam dia berlalu dari perkumpulan dan mengemasi barangnya.
***
Ketika mereka telah sampai dipelataran Rumah sakit. Mereka pun berjalan ke dalam dengan beriringan. Terlihat lalu lalang suster dan juga pasien.
Hati El tak menyangka jika dia bisa merasakn kesedihan seperti ini. Rasa sedih menginjakan kaki di rumah sakit, dengan keadaan sang suami yang mengalami luka-luka karna kecelakaan.
Padahal dia telah mewanti-wanti kepada orang suruhannya untuk menggagalkan semua rencana busuk orang itu. Tapi apalah daya. Status siaga yang telah dilakukan nyatanya tidak sesuai yang di harap kan.
Takdir berkata lain, kehendak Alloh Swt di haruskan Antonio mengalami kecelakaan. Sebagai makhluk yang bisa berencana hanya bisa pasrah. Meskipun begitu sangat nyeri terasa.
__ADS_1
Willy tak kalah khawatir dengan kondisi sang paman. Meskipun ada sedikit rasa benci yang tersirat. Namun tak bisa dipungkiri rasa cemas menyelimuti nya. Sosok paman yang dulu selalu mengalah untuk Willy. Papah Imam pun menghampiri Willy yang nampak terpukul dengan kejadian sang paman.
"Sudah jangan dipikirkan. Pamanmu kuat, sekuat dahulu waktu orang terkasih meninggalkannya." tutur Papa Imam.
Willy mendongak mendengar penuturan sang Papa. Tak menyangka jika sang Papa tahu mengenai masa lalu pamannya. Willy pun berdiri dan memapah Papa nya untuk duduk disampingnya.
Willy masih bergeming. Dia masih merasa cemas. Meskipun kata dokter luka Antonio tak begitu parah. Dia hanya pingsan. Dan menunggu untuk siuman.
"Papa tahu? Perempuan ... Itu? Lalu apakah Papa tahu wajah perempuan itu?" tanya Willy.
"Menurutmu? Apa yang tidak bisa ku ketahui? Selama itu mengenai anak ku dan pamanmu? Tentu saja aku tahu semuanya," jelas Papa Imam.
Willy hanya diam mematung mendengar lontaran Imam. Dia hanya berpikir... Apakah Papa nya tahu tentang kebodohannya? Kecerobohannya? Willy bergeming kembali. Dia tak mampu menjawab lontaran Imam. Wajahnya memerah menyiratkan kegugupan. Papa Imam hanya tersenyum dengan menepuk bahu Willy.
"Kenapa terlihat gugup? Apakah pemuda Papa menyembunyikan sesuatu?" tanya Imam.
Willy kembali dibuat deg-deg-an dengan pertanyaan sang Papa. Tatapan kesedihan yang tersirat dari pancaran mata sang anak tentu saja membuat Imam mengerti dengan kegundahan yang di alami Willy.
Willy menundukan kepalanya. Tanpa meluapkan kesedihan yang dia simpan. Dia masih takut untuk berterus terang. Dia masih belum bisa membicarakan.
"Ya sudah, Papa ke dalam dulu. Jangan salingย membenci! Kalian bersaudara."
***
El sekarang sudah tidak terlalu ambil pusing untuk Antonio yang masih mencintai mantannya. Yang dia inginkan saat ini bagaimana untuk menyatukan mereka berdua.
Setelah El menengok ternyata Antonip tidak mengigau dia mungkin rindu kepada wanita itu. El semakin teguh dengan keinginannya. Entah apa yang merasuki perempuan ini. Dia istri-nya, dia berhak mengingatkan suaminya.
"Menurut yang ku baca..." El sedikit meninggikan suaranya agar Antonio dapat mendengarnya.
"Ciri-ciri suami durhaka terhadap istri yang pertama terdapat dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Muslim, Ahmad, dan Ath- Thabrani, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda yang artinya:
โSeseorang cukup dipandang berdosa bila ia menelantarkan belanja orang yang menjadi tanggung jawabnya.โ
"Hadist tersebut menggambarkan betapa berdosanya seorang suami yang melalaikan kewajibannya terhadap istri dan anaknya. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan seorang suami tega menelantarkan istrinya, seperti :
Suami yang sedang menjalin hubungan dengan wanita lain (selingkuh)
Suami yang tidak tahan akan sifat istrinya yang suka menghambur-hamburkan uang yang diberikan suami
Suami yang menganggap tidak perlu menafkahi istrinya, karena sang istri memiliki penghasilan sendiri.
__ADS_1
Suami yang lebih mementingkan kepentingan saudaranya yang lain.
Antonio hanya mengerjapkan matanya. Tersentak kembali ketika dia mengingat selalu membohongi sang istri. Antonio pun berucap.
"Ampuni aku El, ternyata dosaku sangat banyak padamu." El hanya berpura-pura tidur dan berpura-pura tidak mendengar apa yang dilontarkan Antonio.
"Sudah tidur? Lalu tadi berbicara... Mengigau? Tapi kenapa bisa sepasih itu kamu berbicara El."
Ya, tentu saja pasih. Aku hanya ingin menyindirmu. Batin El.
"El kau tahu?" tanya Antonio seolah El mendengarkan. Karna memang kenyataannya memang El mendengar setiap lontaran Antonio.
Antonio tidak bodoh, dia yakin El hanya berpura-pura tertidur. Dia pun ingin menjelaskan tentang alasan yang memang kenapa dia tidak ingin menjamah El.
"Dengarkan baik-baik gadis kecilku, ini juga sangat bermakna untukmu."
Antonio belum bisa menjelaskan apa yang dia ingin sampaikan. Dia pun beranjak ke kamar mandi karna ingin membuang air kecil. Terlebih lagi telponnya berdering. Dia pun menyambar ponselnya lalu membawanya kekamar mandi.
Beberapa menit berlalu Antonio tak kunjung keluar dari kamar mandi. El semakin yakin ada sesuatu hal penting yang Antonio bicarakan. El semakin dibuat penasaran. Akhirnya dia beranjak dari ranjang dan merangkak turun, menuju kamar mandi.
Bukannya dia mengetuk pintu untuk Antonio keluar. Tetapi El malah menguping pembicaraan Antonio meskipun tak semuanya dia dengar. Karna El takut Antonio mengetahuinya.
"Jadi bagaimana? Maksudmu... Kau belum bisa menangkapnya? Sudah kubilang kau harus lebih pintar lagi. Shittt,"
"Harus menangkapnya esok hari. Aku tidak mau kalau kau sampai gagal,"
"Aku tidak mau kejadian kemarin sampai terulang lagi. Apalagi sekarang keluarga El disini. Aku khawatir kalau sampai dia belum tertangkap,"
"Semoga cepat tertangkap. Oke! Sudah semoga berhasil,"
Apa yang mereka bicarakam ya? Serius banget. Eh tadi telpon nya sudah berakhir. Harus buru-buru nih. Batin El.
Dengan cepat El berbaring keranjang agar Antonio tidak mengetahui bahwa El menguping pembicaraannya.
Antonio pun keluar, dia meletakkan kembali ponsel itu diatas nakas. Hati El merasa lega. Untungnya dia langsung berbaring ketempatnya. Kalau dia terlambat beberapa detik saja untuk pergi, entah alasan apa yang harus dia ucapkan.
Alhamdullah, selamat. Batin El.
"El, dengarkan Mas ya, menurut surat...,"
***
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like dan komentarnya.. dan juga vote tanda kalian menyayangi karyaku. ๐๐
Terimakasih telah Setia dengan cerita ku untuk sejauh ini.