Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 81. Dian sedang kritis.


__ADS_3

Galih mencoba beberapa kali menelpon Antonio. Ia kesal karena Antonio tidak kunjung mengangangkatnya. Sudah puluhan kali ia menelpon. Setelah lama akhirnya ia memutuskan untuk mengirimi pesan singkat pada Antonio.


💬 "Tuan Dian sedang kritis dirumah sakit, mungkin dia ingin nona Aurelia berkunjung untuk menjenguknya. Tuan mungkin bisa mempertemukam mereka,"


Pesan sudah terkirim pada Antonio dengan centang dua. Lama Galih menunggu balasan, namun belum juga centang biru. Galih hanya mondar-mandir gelisah. Sedangkan Antonio dia sedang berada diperjalan untuk menuju rumah Aurelia untuk menjemput Nuri.


Setelah sampai dihalaman Aurelia, Antonio pun membawa gawainya. Ia juga tahu jika Galih menghubungi sampai puluhan kali, urusan itu sangat penting. Sambil berjalan untuk masuk kedalam rumah ia pun membuka pesan dari Galih.


Antonio langsung masuk kedalam tanpa mengetuk, hingga penghuni rumah torlanjat kaget.


"Daddy ada apa?" tanya Nuri yang terlihat masih kaget.


"Ini kabar untuk mommy mu sayang," seru Antonio.


Aurelia menatap Antonio, "Ada apa?"


"Paman Dian dirumah sakit, ayok kita kesana untuk menjenguknya," ajak Antonio.


"Aku tidak perduli," jawab Aurelia.


Kali ini wanita yang dikenal baik hati itu tidak mau menemui pamannya. Apa sebenarnya yang terjadi, Antonio hanya menatap Aurelia dengan tatapan tidak percaya. Pasti ada sesuatu hal yang mungkin membuat Rely seperti membenci Dian.


Akhirnya Antonio pun ingat, bahwa tuan Dian lah penyebab hubungan keduanya renggang bahkan berpisah dan harus sempat menjalani pernikahan dengan kegagalan. Tetapi tidak dengan Aurelia, pernikahannya tidak gagal melainkan terpisah karena sang suami menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya dibeberapa tahun kebelakang.


"Jangan begitu nak, bagaimana pun dia paman yang sudah merawat kamu," ucap Lastri menasihati.


"Tapi mah," jawab Aurelia, ia terlihat tidak ingin dan tidak berminat masalah pamannya.


"Dia sudah membuat hidupku hancur mah, biarkan saja. Aku tidak perduli," seloroh Aurelia.


Aurelia tetap bersikeras tidak mau untuk menjenguk Dian. Namun Lastri dan Antonio menasihati Aurelia. Dengan perdebatan dan adu mulut sangat panjang akhirnya Aurelia mau untuk ikut Antonio.


"Sayang ayok bawa barang yang sudah kamu kemas. Kita harus kesana." titah Rely.


Nuri langsung berlari kekamarnya untuk membawa barang-barang yang akan ia bawa.


Aurelia juga berkemas dibantu oleh bu Lastri. Beberapa menit berlalu akhirnya Aurelia dan bu Lastri keluar. Nuri lebih dulu selesai. Gadis kecil itu kini tengah berbincang dengam Antonio.


Antonio pun berpamitan pada Bu Lastri, ia juga berjanji untuk menjaga keduanya dengam baik, setelah berpamitan merekapun memasuki mobil. Antonio langsung melajukan mobilnya.


Sesaat Antonio berfikir dimana rumah sakit yang harus dia singgahi. Antonio pun menghubungi Galih, setelah Galih menerima telpon Galih pun memberi tahukan dimana rumah sakitnya berada.

__ADS_1


Secara bersamaan Antonio dan Aurelia menoleh kebelakang.


"Nuri sudah terlelap," ucap keduanya bersaamaan.


"Barengan, banyak ketidak sengajaan yang mungkin memang kita ditakdirkan untuk bersama," seru Antonio.


"Menyetir saja yang focus tuan," lontar Aurelia.


Aurelia pun memejamkan matanya supaya ia tertidur, untuk menghindari untaian kata gombal yang akan terlontar dari bibir Antonio. Ia tidak mau jika sampai pertahanannya goyah.


"Ya sudah tidur saja, kalo mau tidur. Tetapi aku yakin kamu masih bisa mendengarku,"


"Kamu tahu tidak Anandita? Cinta kita itu seperti sungai yang mengalir. Tidak akan ada habisnya. Tapi, tunggu jijik ya kalo disungai. Kalo ada yang boker gimana,"


Bibir Aurelia seketika mengguncang hebat, mendengar lontaran Antonio. Ia langsung terbangun dan membuka mata.


"Kenapa bangun-bangun malah ketawa?" tanya Antonio.


"Ehhh, aku mimpi barusan," celetuk Aurelia. Ia lantas tertidur kembali, dengan posisinya semula.


'Gede gengsinya kalo cewe, makhluk yang sangat aneh. Tapi aku menyayangi makhluk yang satu ini," batin Antonio.


***


"Iya sebentar ini sedang pake baju pah,"


Ananda pun keluar dari kamar disaat ia menunggui istrinya namun tak kunjung keluar. Ia bergegas menuju pintu kamar El. Diketuknya, lalu Ananda pun masuk kedalam.


"Sayang, ikut tidak untuk menjenguk Dian," tanya Ananda.


"Alwinya masih tidur pah, nanti El nyusul saja."


Ananda pun mengangguk, "Nanti Willy yang jagain kamu ya El."


"Tap---, "


"Enggak ada tapi-tapian El," seru Ananda.


'Papa ini kenapa sih, padahal waktu masih ada 2 minggu lagi. Tapi kenapa sih harus dari sekarang dekatnya. Kesal deh,' batin El.


El pun mendapat pesan singkat dari Willy bahwa ia telah diruang tamu.

__ADS_1


"Cepet banget nyampe nya." El pun segera keluar untuk meminta Willy naik keatas.


El pun memilih untuk menyuruh Willy naik saja keatas, dari pada ia yang harus kebawah. Dengan rasa yang begitu bahagia, Willy pun langsung keatas.


Lama El dan Willy menunggu Alwi, akhirnya sijagoan pun terbangun. Alwi masih belum menyadari keberadaan Willy, ia mengucek-ngucek matanya, yang terlhat masih muka bantal.


"Selamat sore menjelang malam tampan," sambut Willy.


"Daddy Wil,"


Alwi langsung turun, dan meloncat untuk digendong Willy. Untung saja Willy dapat menerima Alwi dengan sigap, kalo tidak Alwi akan terjatuh.


***


"Mas Tino sama Rely," gumam El.


Willy pun mengikuti arah penglihatan El.


"Kamu masih belum ikhlas El? Jika iya dan belum siap, kamu masih bisa membatalkan perjodohan konyol ini. Meskipun bukan kehendak dari kita berdua," lontar Willy.


El malah berhenti dari perjalanannya, "Mommy ada apa?" tanya Alwi.


"Sayang ke nenek dulu yah, ada sesuatu yang harus dibicirakan dengan daddy,"


Alwi menuruti lontaran El, ia pun dengan langkah cepat langsung berlari agar segera sampai ditempat neneknya. Setelah mengantarkan Alwi dan ia juga sudah berpamitan kepada orang yang berada disana, El pun memegang tangan Willy.


Mereka menyusuri jalan, dan akhirnya mereka sampai ditaman kecil yang berada dirumah sakit. El pun melepaskan perpagutan tangannya lalu duduk dikursi yang disediakan disana.


"Ada apa El?" tanya Willy keheranan.


Tidak biasanya El memegang tangannya, apalagi dihadapan banyak orang.


"Jangan bicara lagi tentang perjodohan ini harus dibatalkan, aku akan tetap menjalaninya. Aku mau Alwi bahagia. Aku mau dia ceria, karena hanya bersama kakak lah Alwi akan merasakan kasih sayang yang tulus dari seorang ayah," lontar El.


"Hmmm, baiklah. Ada sesuatu yang ingin aku katakan, benarkah dia bukan hanya sekedar keponakan untukku? Melainkan anak dari benih yang kutanam dulu,"


El mencoba untuk tidak terpancing dari lontaran Willy, ia sudah tahu itu semua hanya kata-kata untuk menjebaknya agar ia keceplosan. Tapi nyatanya El masih bisa mengatasinya.


'Hampir saja mulutku berkata iya,' batin El.


Tanpa mereka sadari ada yang mengamati gerak-gerik mereka, bahkan menguping semua pembicaraan mereka. Semakin besar rasa kecurigaannya setelah mendengar kata Willy.

__ADS_1


***


__ADS_2