
Tinggalkan like nya beserta rate dong sayang😁😂
Maksa yah, supaya membangun semangat aku tentunya.
Berikan juga kritikan-kritikan menurut kalian😂😂
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hal Yang paling sulit dilakukan adalah, ketika kita berusaha melupakan.
Namun enggan untuk menghapus sisa kenangan indah Yang pernah kita lewati.
Ketika rasa cinta samakin mendalam direlung hati Yang paling dalam.
Aku mau mencintai dalam diamku.
Namun aku ingin rasaku kau balas dengan hangat.
***
Putri pun memungut beberapa map Yang sempat dia jatuhkan. Dengan langkah cepat agar dapat menyimpan berkas-berkas kemeja Willy.
Sebelum Putri bergegas keluar Restu pun bersuara.
"Nona, kau terlihat kaget melihat kami berpelukan?" tanya Restu menghentikan langkah Putri. Putri pun berbalik untuk melihat kearah tiga pria itu.
Putri tidak menjawab peryanyaan Restu. Restu pun hanya tersenyum kearah Putri.
"Ini hanya pelukan luar biasa, kau tau teletabis kita seperti mereka." candaan Restu membuat Sastra mengumpat.
"Eh, muke gilee. Loe aja yang kaya teletabis gue ogah banget." kelakar Sastra dengan menjitak Restu.
"Yasudah kalo gitu nona, kami bertiga berciuman,"
"Eh, sialan loe ... ****** gue normal," umpat Sastra menjambak rambut Restu.
"Loe kayak ibu tiri deh Tra main jambak-jambak, kalo rambut gue botak bagemana."
Didalam ruangan tampak kehangatan tercipta dengan guyonan Restu, Putri hanya sesekali tertawa cekikikan dengan tingkah sahabat Willy.
Putri pun bergegas keluar dari ruangan, karna jam kantor akan habis, dan sudah waktunya pulang. Namun niatnya untuk pergi sekarang terhenti karna seorang gadis memasuki ruang kerja Willy.
Jangan ditanya sedang apa Willy sekarang, dia menyandarkan punggungnya kesofa yang tengah didudukinya. Dengan tangan bersedekap didada, dan mata terpejam.
"Will," panggil Restu dan Sastra pada Willy.
"Hmmm,"
"Gadis itu cantik ya Will?" tanya Restu dengan mengagumi sosok yang memasuki ruang kerja Willy.
Kedua gadis itu menatap ketiga pria dihadapannya dengan tersenyum.
"Will, buka matamu, jangan merem terus itu bidadari dari langit yak? cakep bener. Gue ikhlas kalo menjadi suaminya." celetuk Sastra menatapnya dengan kagum.
"Mimpi lu," Willy menjawab serentetan ucapan kekaguman pada sosok gadis itu. Namun Willy enggan untuk membuka mata. Willy hanya menganggap mereka memuji Putri. Namun nyatanya bukan Putri yang mereka puji.
Willy tetap dengan posisi nyamannya dengan mata terpejam. Sastra dan Restu pun menggoyangkan tubuh tegap itu untuk mengubah posisinya. Memaksa Willy untuk mencoba membuka mata.
__ADS_1
"Will, cepet bangun kasian mereka liatin terus loe, kasian tuh." gerutu Restu pada Willy. Willy pun membuka matanya yang terpejam.
Willy terkesiap dengan sosok gadis yang berada didepan matanya, sosok gadis yang selalu menjadi pengisi hatinya yang kosong.
Sosok gadis yang selalu ingin dia sentuh hatinya untuk menjadi teman hidupnya.
"Will, kenalin aku sama dia," celetuk Restu memegang pangkal bahu Willy. Willy tak bergeming dengan ocehan dari Restu.
"El," panggilnya dengan syahdu.
Sastra dengan Restu saling beradu pandang, dia tau, sebab kenapa Willy tak bergeming ketika mata Willy terbuka. Kini mereka tau sosok gadis yang selalu dia agung-agungkan dan dijaga bagai bak berlian, meskipun kini statusnya sebagai istri sah dari pamannya.
Mungkin karna hormon kehamilan El, dia selalu ingin melihat Willy, El melupakan semua tingkah bejad dari sang kakak angkatnya.
"Kak---, "
Willy pun beranjak dari duduknya untuk menghampiri El. Putri hanya bisa mengumpat dalam hati dengan tingkah Willy.
Dengan nona El saja langsung buka mata, pas aku masuk pura-pura tidur, dasar kurang ajar. Tapi bodo deh cuma pacar boongan doang. Batin Putri.
"Kenapa kemari?" tanya Willy pada El.
"Mau jemput Putri?" tanya Willy lagi.
"Iya, sekalian mau bertemu kakak," jawab El dengan langsung duduk disofa.
"Anda nona El-Suci Nanda Maharani?" celetuk Restu sipria kepo level tinggi. El hanya memicingkan halisnya sebelah.
Dia merasa heran baru sekarang bertemu dengannya, namun sudah mengetahui namanya secara rinci.
"Belum berkenalan kak, sudah tau namaku?" tanya El kebingungan.
"Awas jangan sampai keceplosan, ada Putri kekasih sibos." Bisik Sastra pada Restu, Restu hanya mengangguk-nganggukan kepalanya.
Jika tidak dibisik-bisikan Restu pasti akan membongkar semua tentang perasaan Willy pada El.
"Nona mau pulang sekarang? tunggu saja disini aku akan membereskan segera pekerjaanku," pinta Putri pada El. El hanya mengangguk saja.
Willy pun mendudukan kembali bokongnya disofa. Dengan Putri bergegas keluar dari ruangan Willy.
"Nona boleh berkenalan?" tanya Restu dengan genitnya. Dan mengulurkan tangannya.
"Eh, tidak usah bersalaman," tungkas Willy.
"Nanti tangan El alergi, disentuh-sentuh orang macem kau," gerutu Willy dengan menghempas uluran tangan Restu.
"Sekali-kali boleh kali Will gue salaman sama bidadari," rengek Restu yang ingin bersalaman.
"Boleh kok kak," sambung El menimpali pembicaraan Willy Dan Restu.
"Kamu tuh kak, seperti bukan sama sahabat sendiri saja," protes El pada Willy.
Andai kamu tau El gara-gara mereka, aku menjadi orang Yang paling sangat menyesal. Batin Willy.
El pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Restu Kusuma,"
__ADS_1
"Sastra Saputra,"
"Nona tidak perlu menyebutkan nama anda pada kami, kami sudah tau," selak Restu yang melihat El akan bersuara. El hanya tertawa sekilas dengan selakan Restu.
"Hihihi, baiklah... Kenapa kalian bisa tau namaku?" tanya El.
"Kami hanya mengira-ngira saja nona, soalnya kami tau bahwa tuan bos Willy mempunyai adik gadis bernama El, dan tadi Willy memanggil anda," serobot Sastra yang membuat Restu tak lagi bersuara.
"Oh begitu ya, salam kenal ya kak,"
Sastra Dan Restu hanya menganggukan kepala.
"Mau pulang sekarang El?" tanya Willy.
"Nunggu sekertaris kakak dulu," jawab El.
Tanpa rasa malu El mengarahkan tangan Willy kepada perutnya, tanpa peduli dengan dua orang yang berada dihadapannya.
"Kenapa El?" tanya Willy kebingungan.
"Gak tau kak pengenmya dielus sama kakak ini perut aku," pinta El pada Willy.
"Waduh beneran deh udah kaya pasutri bahagia nona, tuan, seperti, anu ... apa yah?" Restu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oh, seperti seorang istri yang tengah mengidam."
Peletakk
Sastra menyentil kepala Restu. "Muke gilee, woyy ... nona El sudah punya suami, tuan bos Willy cuma kakaknya," kelakar sastra menyelak ucapan Restu.
"Ah, lu beruang Marsha." Restu mengelus-ngelus jidatnya yang terasa memanas.
El, langsung bersemu merah, karna wajahnya yang putih mulus tentu saja akan terlihat. Willy pun mencerna setiap ucapan yang dilontarkan Restu.
Hmm, apa benar El mengandung anakku? jika benar aku bahagia. Terimasih gadisku kau mau mempertahankannya, meski kau tak memberitahuku. Batin Willy.
Tanpa Willy sadari dia langsung beringsut, Dan bejongkok dihadapan El. Saking bahagianya dengan apa yang berada dipikirannya, Willy menenggelamkan wajahnya keperut El. Willy pun menciumi perut El bertubi-tubi.
Baby sayang yang mungkin masih segumpal darah, bertahanlah. aku menunggu kehadiranmu. Batin Willy lirih.
"Waduh, serasa dunia milik berdua yah, orang lain ngontrak, sadar bos dia istri orang. Dosa," celetuk Restu.
Sastra hanya mampu menempelkan tangannya kejidat, dengan ceplas-ceplos Restu, meskipun sudah kepala tiga entah mengapa kebodohan Restu tak pernah pergi dari diri laki-laki itu.
"Hahaha," Willy hanya tertawa menanggapi untaian kata yang terucap dari mulut tanpa dosa Restu.
Putri pun sudah membereskan pekerjaannya, Dan membawa El untuk pulang. Seisi penghuni ruangan Willy pun bergegas keluar untuk kembali kerumah masing-masing.
Itu seperti mas Tino dengan Aurelia apa benar?
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG