Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 49 Pov Antonio.


__ADS_3

Kudengar dia menyindirku. Aku memang tak melihatnya, aku tidur membelakangi Alwi dan juga El. Apakah benar dia sengaja berbicara seperti itu? Dan El mengeluarkan hadist tentang... Mmm... Jujur aku malu untuk menyebutkannya.


Aku memang jauh dari kata suami bertanggung jawab, apalagi suami menurut syariat agama. Aku akui, aku memang penuh dosa. Aku tidak pantas dipanggil suami.


Kenapa harus perempuan itu kembali, disaat aku tengah menjalani kehidupan bahtera rumah tangga. Tak bisa juga dipungkiri aku masih sangat berat untuk melepasnya.


Bukan tanpa alasan juga aku tidak menjamahnya. Ada hadist nya pun tentang... Maaf seorang perempuan jika dia sebelum menikah telah hamil. Aku harus membuatnya mengerti. Gadis kecilku rupanya sudah dewasa.


Sebelum aku menjelaskan semuanya, tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Apalagi ku dengar suara ponselku berbunyi. Sebelum kekamar mandi aku pun menyambar ponselku lebih dulu lalu aku bergegas pergi. Kuangkat setelah aku menyelesaikan hajatku.


"Tuan, saya belum bisa mendapatkan informasi apa-apa, saya belum bisa menangkapnya saat ini,"


"Jadi maksudmu... Kau belum bisa menangkapnya? Sudah kubilang kau harus lebih pintar lagi. Shittt,"


"Ya tuan, saya akan usahakan. Se-segera mungkin saya pasti akan berhasil menangkapnya,"


"Memang seharusnya menangkapnya, ku beri waktu sampai esok hari. Aku tidak mau kalau kau sampai gagal,"


"Baik tuan, saya akan usahakan untuk membawa nya segera mungkin,"


"Aku tidak mau kejadian kemarin sampai terulang lagi. Apalagi sekarang keluarga El disini. Aku khawatir kalau sampai dia belum tertangkap,"


"Ya tuan, saya tahu. Tuan besar dan nyonya kembali. Makanya saya akan mengusahakan mereka akan tertangkap besok tuan,"


"Semoga cepat tertangkap. Oke! Sudah semoga berhasil,"


"Terimakasih tuan, selamat beristirahat. Dan maaf telah mengganggumu malam-malam," telpon pun berakhir.


Aku menghembus nafas berat. Lagi-lagi keadaan sulit kembali terjadi. Diibaratkan dalam flm yang fenomenal Warkop yang berjudul 'maju kena mundur kena'. Aku pun keluar dari kamar mandi dan menyimpan ponselku diatas nakas.


Aku berbaring menghadap Alwi dan El. Balita ini memang tak pernah bisa jauh dari Mommy nya. Alwi selalu berada ditengah-tengah kami. Dalam artian aku, Alwi dan juga El. Ya ini posisi tidurku maksudnya. Ku akui itu wajar karna Alwi tak pernah aku perhatikan lebih layaknya seorang anak. Mungkin pula dia menganggap bahwa yang pantas menjadi Daddy nya adalah Willy.


Keponakanku itu selalu siaga dan selalu menjadi orang nomor satu jika untuk masalah sikecil ini. Apalagi sebentar lagi dia memasuki usia 5 tahun.


Perkembangan yang sangat luar biasa aktif. Anak seusinya kadang berbicara polos namun penuh akan makna. Setelah aku melamun aku pun mengurungkan niatku untuk memberitahunya. Ternyata dia sudah tertidur.


Apakah aku terlalu lama melamun. Berdialog dengan diriku sendiri?


***


Kudengar gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Akupun terbangun. Tentunya dengan berjalan perlahan supaya tidak membangunkan si tampan.

__ADS_1


Aku berjalan dan menyambar handuk didekat pintu kamar mandi. Dan aku dengar El sepertinya sedang berbincang? Kalo sedang menelpon kenapa harus showernya dinyalakan? Gadis kecilku sepertinya menyembunyikan sesuatu.


"Hmm, jadi begitu? Ya sudah bawalah dia supaya secepatnya diproses agar dia membusuk depenjara. Kenakan pasal berlapis atas tindakan pembunuhan berencana,"


Hmmm, itulah yang kudengar. Sebenarnya sedang berbicara dengan siapa gadis kecilku ini. Setelah aku terus menguping namun tak ada percakapan kembali, akhirnya aku pun bergegas pergi kelantai bawah untuk mandi dikamar tamu.


Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 07.00. Seperti biasanya aku dan beserta seluruh penghuni rumah menyantap sarapan dengan keheningan. Hanya denting sendok dan garpu yang kudengar.


"Apa kamu akan kekantor hari ini?" tanya Papa Ananda padaku. Aku hanya menganggukan kepalaku.


"Istirahat saja, biarlah Galih yang menghandle semuanya hari ini," ucapnya lagi.


Aku sejenak berfikir. Memang ada benar nya, supaya aku dapat beristirahat untuk hari ini saja. Tapi... Rasanya?! Aku melirik gadis pengisi relung hatiku dengan ekor mataku.


Aku pun menghembus nafas dengan berat. Aku tidak akan bisa berlama-lama tidak menyapanya. Aku tidak mau semua orang mengetahui masa laluku. Aku tidak akan tahan walau hanya melihat nya dari arah belakang.


Terlalu besar rasa cintaku. Apalagi setelah aku mengetahui bahwa dia memang benar orang yang kucari. Dia, hanya dia pengisi hatiku. Aku harus berbuat apa untuk membuat semua orang mengerti dengan keadaanku. Mengapa harus seperti ini?!


"Ehemmmm." El berdehem.


Aku yakin dia tahu dengan gerak-gerikku. Aku pun gugup. Untuk mengusir rasa kegugupanku aku pun menjawab lontaran Papa Ananda.


"Aku kekantor saja Pah, tidak apa. Hanya lecet sedikit," jawabku dengan menengguk air minumku.


"Hah?! Selecet hati?! Mom hati Daddy bisa lecet? Daddy ayo kedokter untuk mengobati lecetnya?" jawab Alwi si balita yang selalu aku abaikan. Tak ku sangka dia memperhatikanku. Aku sangat terharu. Aku hanya terhenyak mendengar perhatiannya.


"Hati Daddy mu tidak akan sembuh sayang...," jawab El kepada Alwi. Apa maksud dari pembicaraan gadis kecilku ini? Apa dia mengetahui semuanya?


"Terus... Kita harus kemana untuk mengobati Daddy Mom?" cicit Alwi pada El. Lagi-lagi perhatian balita itu membuat hatiku nyeri lagi.


"Sudah sayang, jangan dipikirkan nanti Mommy saja yang mengobati Daddy ok?! Kamu tidak perlu khawatir," ucap Mama Ima menengahi pertanyaan Alwi yang sedang dalam masa pertumbuhan keingin tahu-annya semakin dalam.


Mama Ima terlihat menggendong si tampan. Namun tatapan balita itu mengisyaratkan bahwa dia bersedih. Apa sebegitu nya kah dia menyayangiku? Maafkan aku, aku telah menyia-nyia kan kalian.


Papa Nanda dan Paman Iman pun pergi ketaman belakang. Dan sahabat El Aurelia dia tengah membereskan sisa makanan dan cucian piring dirumah ini. Tak lupa juga Putri sekretaris Willy yang lebih memilih untuk menjadi asisten mertuaku? Sungguh perempuan yang aneh.


"Will...,"


"Kenapa paman?" jawab Willy.


"Boleh hari ini aku meminta mu untuk mengantarkan Nuri? Dan biarkan aku mengantarkan El kekantormu?" tanya ku pada Willy.

__ADS_1


"Tidak apa Paman," jawab Willy. Willy pun bergegas pergi bersama Nuri.


Aku dan El pun berjalan menyusuri jalan dengan lalu lalang pengendara lain. Baru kali ini setelah sekian lama kami menikah dengan disituasikan berdua. Ya kami jarang berduaan. Meski kami pasangan suami istri.


"Menurut hadist ketika... Maafkan Mas ya El mas tidak bermaksud untuk menyinggung mu apalagi merendahkanmu? Mas harap kamu mengerti dengan penjelasan ini." ucapku pada gadis kecilku. Kulihat dia menoleh kearahku dan seraya menganggukan kepalanya. Dia sekarang mudah mengerti. Dia sudah dewasa rupanya. Tapi aku tidak pernah bisa menghilangkan panggilan kesayanganku. Yaitu gadis kecilku.


"Sedihnya, tak jarang pria yang menghamili lari dari tanggung jawab alias kabur. Akhirnya ada pria lain yang berbaik hati dan rela menikahi perempuan hamil karena berzina."


"Tapi tidak diartikan bahwa itu kamu El. Ini hanya seumpa nya," ucapku memberi pengertian. Dia hanya mengangguk tanpa menyanggah lontaranku.


"Lalu apakah boleh menikahi perempuan yang sedang hamil karena zina?"


"Salah satu guru agama di Pondok Pesantren Al-Masthuriyah, Ustadz Muhammad Sulaiman Nur mengatakan, menikahi perempuan yang sedang hamil hukumnya tidak sah di mata agama karena statusnya adalah hamil di luar nikah."


"Hukum menikahi wanita yang sedang hamil itu tidak sah. Sesuai dengan Firman Allah SWT QS. At-Thalaq ayat 4,"


Dalam Surat At-Talaq Ayat 4 Allah SWT berfirman:


وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلَاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ ۚ وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا


Wal-la'i ya'isna minal-mahiḍi min nisa'ikum inirtabtum fa 'iddatuhunna salasatu asy-huriw wal-la'i lam yahidn, wa ulatul-ahmali ajaluhunna ay yada'na hamlahunn, wa may yattaqillaha yaj'al lahu min amrihi yusra.


Artinya: Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.


"Dari ayat di atas, dijelaskan bahwa seorang perempuan boleh dinikahi jika dia sudah melahirkan. Walaupun belum tuntas masa nifasnya, perempuan itu sudah sah untuk dinikahi."


"Namun lain halnya, jika laki-laki atau perempuan itu memaksa menikah meskipun si perempuan masih dalam keadaan hamil. Maka pernikahannya harus diulangi kembali karena kembali lagi dengan peraturan di awal, perempuan bisa dinikahi apabila sudah tidak dalam keadaan mengandung."


"Kalau dia memaksa nikah saat sedang hamil maka dia harus mengulangi pernikahannya. Ditambah jika berhubungan badan dengan laki-lakinya, selama itu dikategorikan maksiat,"


"Sudah mengerti?" tanyaku padanya.


Kutengok sekilas El disampingnya. Kulihat bahu nya bergetar. Apa aku menyinggungnya? Maafkan aku gadis kecilku ... Kau terluka lagi olehku. El pun menoleh kearahku dengan linangan air mata.


"Ya... Aku mengerti Mas, kita sama-sama sudah mengetahui kekurangan masing-masing, apakah masih pantas kita bersama dalam ikatan pernikahan suci ini Mas? Lepaskan aku, ceraikan aku! Kita cari kebahagiaan masing-masing dihidup kita."


Ciitttt...


Aku tersentak dengan keputusannya, aku kaget bukan kepalang.


***

__ADS_1


End Pov Antonio.


__ADS_2