
Tidak terasa waktu cepat berlalu. Mereka sudah menghabiskan waktu selama 2 hari diarea perkampungan yang jauh dari kebisingan.
Dan kini dihalaman belakang, Nanda, Ima, Imam, Willy, Antonio, Nuri dan juga Alwi tengah bercanda riang layaknya keluarga bahagia.
Alwi dan juga Nuri tampak menikmati suasana perkampungan asri nan sejuk yang jauh dari paparan polusi. Suasana yang damai, menyejukkan hati.
Dua anak yang bagaikankan layaknya sodara itu sangat saling membutuhkan satu sama lain. Raut wajah dua anak manusia yang tengah bermain nampak terlihat bahagia.
Entah apa yang mereka perebutkan. Antonio memandang Alwi dan juga Nuri secara bergantian, dengan perasaan haru yang menyeruak relung hatinya.
Rasa haru karna tidak menyangka keduanya terlihat akrab. Willy pun sama bahagianya. Apalagi ketiga paruh baya itu sama bahagianya. Mereka sesekali tertawa dengan pembicaraan Alwi dan Nuri.
"Hati-hati sayang, jangan kencang-kencang larinya nanti jatuh," seru Ima memberi intruksi kepada sang cucu.
"Aku kuat Nek," sambung Alwi. Dengan berhenti berlari dan memegang jemari Nuri agar mengikutinya. Alwi pun melepaskan perpagutan tangannya dengan Nuri. Dan duduk dipangkuan Ima.
"Nek, kata Daddy Willy cowok gak boleh cengeng," cicit Alwi.
"Tapi waktu kemarin tuan Alwi menangis karna kepentok meja, meskipun nangisnya enggak kencang karna takut ketahuan," ungkap Nuri pada semuanya.
"Loh, Teh Nuri kenapa dibilangin? Kemarin janji gak bilang siapa-siapa!" Alwi merajuk pada Nuri balita itu kesal karna Nuri membuka aibnya.
"Nenek, apa hukumnya orang yang suka bohong? Itu kan dosa yah Nek? Teteh Nuri berdosa Nek. Hukum Teteh Nek!" rengek Alwi kepada sang Nenek.
Antonio dan Willy nampak begitu gelagapan dengan lontaran Alwi. Hmm, sepertinya dua saudara itu nampak menyembunyikan kebohongan.
Ananda dan Imam saling memandang melihat keduanya dengan saling menautkan halisnya masing-masing. Karna kedua paruh baya itu telah mengetahui rahasia Antonio dan juga Willy.
"Iya Nenek nasihatin yah Teteh Nuri-nya?" Ungkap Ima pada Alwi dan Alwi pun mengangguk.
"Teteh jangan begitu lagi yah nak, gak baik loh kan udah janji kata Alwi," ucap Ima pada Nuri. Sembari mengedip-ngedipkan matanya.
[Ima kek nya cacingan yah kekereceman gays]
"Teteh lupa tuan, maaf ya?" pinta Nuri merasa bersalah.
"Iya teh tak apa, jangan diulang lagi okey?" tanya Alwi dengan mengangkat kelingkingnya. Nuri pun menyatukan kelingkingnya.
Semua yang berada disana hanya tersenyum dengan celotehan keduanya. El dan Aurelia tidak mengikuti perkumpulan yang bagaikan keluarga itu. Mereka tengah mempersiapkan untuk kepulangannya hari ini.
***
__ADS_1
El masih diam mematung menyaksikan lipatan-lipatan pakaian dilemarinya. Dia bahkan beberapa kali menghembuskan nafas kasar. Dia masih enggan membawa pakaiannya untuk berpindah tempat.
Dan pada akhirnya dengan berat hati dan mau tidak mau, dia harus segera pulang ke ibu kota.
"Mommy, kita pulang sekarang?" cicit Alwi dengan sendu. Ketika dia memasuki kamar El. Dia mendapati El yang tengah membereskan pakaiannya. El hanya melirik kearah Alwi dan tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Aku ... Tidak mau pulang Momm?" rengek balita itu.
Mungkin dia masih rindu dengan sosok Kekek-Neneknya. Balita itu bergelayut ditangan El. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama Kakek dan Nenek-nya.
"Sayang, nanti kita kesini lagi kok. Mommy kan harus bekerja sama Daddy Willy. Kasian dia kalau Mommy tidak pulang Nak," ujar El memberi pengertian pada putra kecilnya.
El juga sama masih ingin berkumpul dengan kedua orang tuanya. Anak mana yang mau berpisah dengan orang tuanya karna harta?
"Iya tampan, nanti kita liburan kesini lagi. Atau nanti Kakek dan Nenek yang tinggal bersama Alwi," sambung Antonio menimpali. Ketika dia memasuki kamar.
"Yeaayy..." Alwi bersorak bertepuk tangan. Mungkin balita itu merasa bahagia. Meskipun entah kapan mereka akan berkumpul kembali.
Setelah beres membereskan semua pakaiannya. Meraka pun keluar kamar dan menyeret koper yang berisikan pakaian. El pun memanggil Aurelia beserta Willy.
Supaya sesegara mungkin untuk berkemas. Setelah selesai berkemas dan sudah berkumpul. Mereka pun berjalan menuju ketiga paruh baya itu seraya untuk berpamitan.
"Eh, jangan salah meskipun kami tua, tapi kami semua ini masih sehat untuk mengurus cucu ku." Perwakilan Papa Ananda yang menjawab dan menjawil dagu Alwi. Terdengar gelak tawa dari semuanya.
Setelah selesai berpamitan. Seperti biasanya drama air mata selalu bercucuran.
[Kek sinetron indosiar ya?]
Kumenangis membayang,
Betapa kejamnya dirimu atas diriku.[authornya nyanyi sebentar gak apa-apa ya?]đŸ˜‚
"Sudah jangan sedih mulu Momm," seru Alwi.
El Dan Ima pun menoleh dan menatap Alwi, "Iya sayang, Nenek juga tidak akan bersedih lagi," jawab Ima dengan menghapus sisa air matanya.
"Dadd, aku mau sama Daddy Willy?" seru Alwi. Antonio hanya diam terpaku dengan lontaran Alwi.
El pun menyentuh pundak Antonio Dan tersenyum. Antonio pun menurunkan Alwi dari gendongannya. Didalam hati Antonio dia sangat senang karna bisa bersama mereka.
Namun dia juga sakit mengingat pasti akan ada kecanggungan yang tersirat didalam mobil nanti. Dia juga berpikir, pasti ibu dari anaknya itu tidak akan banyak berbicara seperti dulu. Kini mereka memang bertemu kembali. Namun bagai orang asing yang tak saling mengenal. Meskipun keduanya terikat karna seorang anak.
__ADS_1
"Tidak apa kami bersama Kak Willy saja Mas. Mas sama Nuri dan...," ungkap El tak melanjutkan lontarannya namun matanya menatap Aurelia dengan senyuman hangat. Senyuman yang dipaksakan. Tetapi hanya El yang tahu.
Antonio, Nuri dan juga Aurelia terlebih dulu pergi. Karna mobil Willy dipinjami Putri. Entah kemana sekretaris dari Willy itu, yang kini merangkak menjadi asisten untuk orang tua El.
20 menit berlalu mereka sudah resah menunggu kepulangan Putri. El beberapa kali menghentakkan kakinya kelantai karna kesal.
"Ulah kitu Nak, te sae," ucap Ima menasihati.
"Tapi Mah, itu orang kemana sih? Apa dia nyasar? Dia kan baru Mah kekampung Mama?" Rengek El.
Alwi pun sudah tertidur pulas digendongan Willy. Dan El tentunya sangat bahagia karna sekretaris Kakaknya memang selalu jadi penolongnya. Dia bahkan memanfaatkan waktunya dengan bermanja di Mama Ima.
"Maaf nona, tuan, nyonya, saya terlambat pulang!" Seru Putri ketika dia sudah sampai dirumah orang tua El. Putri terlihat gugup didepan orang tua El. El pun berdiri.
"Mah, Pah, Paman, Kak... Mmmm ... Anu aku mau bicara dulu sama kak Putri." El meminta izin. Dan memegang tangan Putri untuk mengikutinya.
"Kahade neng ulah dicarekan," teriakan Mama Mia mengingatkan.
"Enggak bakal Mah," jawab El berteriak.
"Kakak, dari mana?" Tanya El, ketika mereka sudah berada jauh dari orang rumah.
"Belanja nona," jawab Putri, dia berusaha membuang jauh rasa kegugupannya.
El pun hanya dibuat kebingungan! Orang didepannya terlihat menyembunyikan sesuatu. "Belanjaannya mana? Masih dimobilkah?" Tanya El lagi.
Aduh, kenapa harus disituasikan dikeadaan terjepit terus sih. Batin Putri.
"Ya, ampun nona mengingatkan saya, belanjaan saya tertinggal gara-gara tadi dijalan, saya nonton dulu berita yang pesawat jatuh dari kota J ke Pontianak itu nona." Ungkap Putri mengelak.
Yang kenyataan sebenarnya tidak begitu. "Kenapa memang kak?" Tanya El penasaran.
"Ya, katanya karna kesalahan teknis nona. Makanya aku tidak mau kalau tahun baru begini liburan... Aku takut!"
El pun mengernyit. "Takut? Takut kenapa kak?"
"Iya, takut Rupiahnya gak cukup hehe,"
El memutar bola mata jengah mendengar celotehan Putri yang dirasa sangat absurd. "Isshhh, aku kira takut karna musibah,"
***
__ADS_1