Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 68. Pov Willy, Bahagia ketika mendapat lampu hijau


__ADS_3

Hari ini aku bergegas pergi dengan semangat. Kadang aku bersiulan didalam mobil, saking terlalu bahagianya diriku mendengar Alwi sepagi ini ingin bertemu denganku.


Aku juga ingin selalu bersama El. Anak tampan itu kadang mengetahui jika aku ingin selalu dekat dengan mommynya. Aku kadang merasa, rasanya seperti memang benar adanya, bahwa aku adalah Daddy Alwi.


Dilihat dari segi perilaku, bahkan pisik. Ia ada kemiripan denganku. Aku pun pernah berujar pada Papaku perihal ini. Tapi ia hanya menjawab, mungkin pas ngidam El membencimu. Makanya Alwi mirip denganmu.


Aku pun teringat, bahwa memang katanya bisa seperti itu. Tapi apakah benar bisa dikategorikan fakta. Entahlah, aku hanya ingin mereka berdua menjadi bagian dalam hidupku.


Aku tidak perduli status El, kini menjadi janda. Andai dapat kutukar, aku lebih baik kehilangan hartaku. Dan mendapatkan dua malaikat untuk hidupku.


Tapi percuma juga, kalau aku segala kekurangan. Mungkin aku tidak akan mendapat restu dari tuan Ananda. Secara perusahaannya paling terbesar dikota ini. Dia diberikan kemewahan oleh orang tuanya. Tetapi aku akan mengajaknya menderita. Stupid.


Akhirnya, aku sampai di kediaman orang yang paling berharga dalam hidupku. Kulihat didepan pintu utama. Anak tampan itu menungguku. Apa sampai sebegitunya anak itu ingin aku bersamanya.


Aku berjalan mendekat kearahnya, "Assalamu'alaikum, selamat pagi tampan,"


Matanya yang sedikit terpejam, langsung terbuka sempurna. Ia langsung memelukku. Tetapi badannya bergoyang-goyang. Aku panik, aku kira anak tampan ini akan pingsan. Nyatanya ia masih mengantuk.


Anak ini biasanya terbangun dijam El akan bekerja. Tetapi sekarang sepagi ini ia sudah terbangun. El pun memintaku, untuk menggendong Alwi kekamarnya.


Selesai menidurkan Alwi, aku meminta izin untuk mandi. El mengantarkan aku kekamar tamu. Setelah selesai dengan ritual mandiku, akupun bergegas keluar dari bathtub. Aku menggelengkan kepalaku untuk mengeringkan rambut dengan handuk.


Akupun masih mengenakan handuk, aku lilitkan dipinggangku handuk itu. Entah siapa yang mengetuk pintu, hingga pintu itu terbuka.


"Aaaaahhh," El berteriak melihat penampilanku.


Rambutku masih basah, badanku pun masih terlilit handuk. Basah karna tetesan dari rambutku. El meletakkan tangannya diwajah, untuk menutupi matanya. Ia refleks menutup kembali pintu kamar yang kutempati.


Setelah selesai berpakaian, lantas aku kekamar Alwi. Lelaki tampan itu terlihat mengucek-ucek matanya. Terlihat sekali, kalau wajahnya masih muka bantal.


"Bangun ayo," ucapku.


Aku langsung duduk disamping Alwi, ia memelukku dari samping. Seperti tidak ingin jauh dariku. Tidak biasanya sijagoan seperti ini. Aku pun membalas pelukannya. Badannya panas, b*doh mungkin sejak tadi aku menggendongnya kekamar. Aku kira karna aku dingin dari perjalananku. Tapi nyatanya benar ia tengah demam.


Aku lantas langsung menelpon El. Menyuruhnya untuk kekamar Alwi.


📞 "Kenapa kak?" tanya El.


📞 "Alwi demam El," ucapku.


El langsung mamatikan telpon dariku. Mungkin ia refleks karna khawatir. Setelah El sampai ia terlihat ngos-ngosan. El berjalan kearah aku dan Alwi.

__ADS_1


Lantas El menempelkan punggung tangannya didahi Alwi. Seketika itu pula El cemas. Ia langsung menghubungi dokter. Beberapa menit menunggu, akhirnya dokter datang.


Dokter itu lantas memeriksa Alwi, tuan Ananda dan juga nyonya Ima terlihat begitu cemas. Akupun tak kalah lebih cemas. Kudengar Alwi mengigau.


"Daddy Wil, jangan pergi," ucap Alwi.


Apakah karna perpisahannya paman dan El membuat semuanya begini. Apakah Alwi tidak bisa menerima semua ini. B*doh anak sekecil itu mana mungkin akan mengerti. Yaaloh, sembuhkan dia aku tidak ingin dia sakit.


Dokter pun hanya memberi obat untuk penurun panas. Ia juga bilang, bahwa Alwi tidak apa-apa. Syukurlah kami dapat bernapas lega. Ia juga menjelaskan ini karena faktor cuaca.


Aku kira psikisnya terganggu karna perpisahan kedua orangtuanya. Tapi ternyata hanya kelelahan saja.


"Nak Willy," panggil nyonya Ima padaku.


Aku menoleh, "Iya, nyonya!" jawabku.


"Bisakah kamu menginap beberapa malam? Kasihan cucucku, sepertinya ingin selalu dekat dengan kamu," pintanya padaku.


Akupun mengangguk pelan. Karna memang aku juga ingin merawat sijagoan. Aku berpamitan pada Alwi dan keluarga El. Meskipun aku masih ingin merawatnya, tetapi aku masih punya tanggung jawab untuk mengurus perusahaanku. Akupun pergi kekantor.


***


Sudah beberapa hari aku menginap dirumah keluarga besar Ananda. Kadang aku merasa canggung diantara mereka. Rasanya aku tidak pantas bersanding dengan wanita cantik itu.


"Daddy kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Alwi padaku.


Oh tidak, dia memperhatikan mimik wajahku. Aku malu bukan kepalang, dipergoki Alwi tengah melihat mommynya dengan tersenyum-senyum sendiri.


"Wajah Daddy memerah, itu." tunjuk Alwi pada wajahku.


El pun menoleh, "Kenapa dengan Daddy Wil sayang?" tanya Ima pada Alwi.


Aku menggerakan leherku kekiri dan kanan, untuk mengusir rasa maluku. Akupun mengelak. Setelah dijadikan candaan oleh Alwi dan El, akhirnya aku kalah.


Aku malah digeliti oleh keduanya. Tidak pernah terpikirkan olehku, aku bisa menjalani hari-hari ini dengan mereka berdua.


Seperti layaknya keluarga. Kukecup kening Alwi, aku terlalu menyayanginya. Aku ingin mereka berdua. Tapi, harus bagaimana aku berbicara pada El. Apa El bisa membuka hatinya untuk diriku.


Setelah kelelahan Alwi pun terlelap digendonganku, "Kakak, maaf yah. Selalu merepotkanmu," ucap El, meminta maaf.


Sebelum aku menjawab lontaran El, dari arah belakang nyonya Ima menyahuti pembicaraan kami.

__ADS_1


"Makanya, menikah saja! Nanti cinta hadir dengan sendirinya kok sayang. Mama sama Papa dulu dijodohkan. Susah loh, cari yang seperti nak Willy. Statusmu kan janda beranak satu. Belum tentu lelaki lain bisa mencintai dengan tulus cucuku," sahut nyonya Ima menasihati El.


"Mama, apa-apain sih. Orang kakak udah pacar juga. Masa diminta jadi papa Alwi sih aneh deh," jawab El.


Aku hanya mendengarkan perdebatan seorang ibu dan anaknya saja tanpa ingin ikut menyahuti.


"Sudah kak, jangan didengar Mamaku ya! Suka ngawur."


"Kalo kamu bersedia, aku siap kok menjadi Papa pengganti Alwi," jawabku pada El.


Nyonya Ima hanya tersenyum kearahku, ia sempat-sempatnya mengacungkan dua jempol dihadapanku. Aku sudah dapat lampu hijau dari keluarga El. Tinggal mengambil hati El saja.


"Sudah kak, ayo bawa Alwi kekamarnya. Biar dia istirahat." El berlalu meninggalkan kami.


Akupun berdiri dan menggendong Alwi, sebelum langkahku jauh. Nyonya Ima berseru.


"Perjuangkan, kalau kamu sayang anakku," ucap nyonya Ima menepuk bahuku. Akupun hanya mengangguk lagi tanpa menjawabnya.


"Iya, betul itu. Ayo semangat,"


Tuan Ananda-pun menyemangatiku. Aku semakin bersemangat. Aku berpamitan dari hadapan keduanya. Untuk kekamar Alwi.


Bagaimanapun caranya, aku pasti bisa mendapatkan kalian, gumamku dalam hati.


***


Ketika selalu bersama, rasa itu semakin nyata.


Kilauan berlian, kalah hanya dengan pesonamu.


Izinkan aku untuk mendapatkan hatimu.


Tidak perduli jika kamu menolak.


Kita harus bersama. Rasa itu akan hadir seiringnya kita bersama.


***


Jangan lupa tekan likenya ya 😍


Divote aku semakin bahagia.

__ADS_1


Salam sayang dariku pembaca setiaku.


__ADS_2