
Kini semuanya telah berada dikota T. Mengunjungi Pama-Mama nya El dan juga Imam. Mereka terlihat sangat menyukai pemandangan dikota kecil itu. Mereka berangkat tengah malam dan tiba dini hari.
Bahagia, sedih bercampur menjadi satu untuk El. Perayaan tahun baru dan ingin menjadikan momen ini untuk bersama keluarga-nya sendiri, sirna ketika sikecil dengan antusiasnya ingin membawa Aurelia dan El-Nuri.
Bukan tanpa alasan El ingin menghabiskan waktu bersama Antonio dan juga Alwi. Dia ingin diakhir perpisahannya dengan Antonio terkesan sangat manis. Disisa-sisa gelar istri yang tertera disamping Antonio. Meskipun tidak untuk diruang hatinya.
Flashbackš¦
"Ada apa sayang?" tanya Antonio ketika dia sudah berada dikamar El.
"Daddy, kata Mommy aku punya Kakek-Nenek. Aku mau kesana Dadd," rengek Alwi kepada Antonio.
Antonio hanya memandang El dengan sejuta emosinya. Mengapa dia bisa-bisa nya seceroboh ini. Yang ditatap hanya bisa tersenyum kikuk dihadapan Antonio.
"Tidak masalah kan Mas?" tanya El supaya tatapan Antonio tak terlihat garang. Baginya tatapan itu sangat menakutkan.
"Memang tidak apa-apa!" jawab Antonio masih bersikap ramah dihadapan Alwi.
"Yeaahhhh." Alwi kegirangan. Ketika dia sedang duduk diranjang dia pun berdiri dan melompat-lompat disana.
Setelah lelah melompag-lompat. "Kakak Nuri diajak ya Momm?" tanya Alwi kepada Mommy-nya.
El hanya berfikir, menimbang-nimbang dia ingin perayaannya kali ini lebih indah. Perayaan terakhir bersama orang terkasih. Sebelum dia melayangkan gugatan cerai kepada Antonio.
Namun apalah daya kebahagian Pangeran kecil-nya lebih berarti. Dari pada keinginannya sendiri.
"Boleh sayang," jawabnya dengan mengecup pipi gembul itu.
Tidak sesuai yang kuharapkan tapi demi kebahagian sayangku akan kulakukan. Batin El lirih.
Flashbackš¦
El pun menggendong Alwi dan memasuki rumah sederhana itu dengan berlari.
"Pah-Mah," panggil El ketika dia sudah berada didalam.
Mama Ima pun keluar dari kamar. Dia sedikit terkejut melihat Putrinya dihadapannya dengan menggendong anak kecil. Dia mendekati El untuk memeluk keduanya.
"Nenek," celoteh Alwi ketika Ima memeluk keduanya. Dia pun melepaskan pelukan itu dan menatap El dengan sejuta pertanyaan.
__ADS_1
"Ini buah hati El Mama," ucapnya lirih dihadapan Mama Ima. Mama Ima nampak berkaca-kaca tak menyangka jika gadis kecilnya secepat itu menjadi seorang ibu.
"Oh, sayang sini digendong Nenek saja yah!" ujar Ima sambil menitikan air mata dan mengalihkan gendongannya dari El.
Dia terharu, dia bahagia, dia kini sudah menjadi seorang Nenek. Namun dia juga sangat sedih tidak bisa menemani gadis kecilnya ketika dimasa-masa mengandung dan melahirkan.
"Kenapa tidak mengabari Mama? Kamu pasti sangat sedih tidak ada Mama disampingmu," ucapnya dengan terisak.
"Kamu menyembunyikan kehamilanmu Nak. Mama merasa menjadi seorang ibu yang sangat tidak berguna untuk mu sayang,"
"Mama juga dulu sangat kesulitan ketika mengandungmu sayang kenapa kamu menyembunyikan ini semua." Ima mengelus pucuk kepala Alwi dia tak henti-hentinya mencium pipi gembul itu dengan deraian air mata. Dan El hanya menunduk didalam tangisnya.
"Nenek jangan marahi Mommy-ku terus. Kasian dia selalu menangis setiap hari." Alwi menyilangkan kedua tangannya dihadapan Ima.
"Menangis setiap hari?" tanya Ima kepada cucunya. Alwi hanya mengangguk. Alwi pun ingin diturunkan dari gendongan Ima dan mendongak untuk melihat Mommy-nya.
"Nenek, Mommy menangis. Ayo beli permen untuk Mommy." titahnya pada Ima. Dan menarik tangan Ima.
Seketika mata El terbuka dari terpejamnya. Ketika mendengar lontaran Alwi. "Tidak usah sayang," ucap El sembari menghapus sisa air matanya.
Alwi pun melambaikan tangannya pada El untuk mensejajarkan tingginya. Dan menghapus sisa air mata El.
Dan dengan bersamaan Imam pun keluar dari kamarnya. Menyaksikan pemandangan yang sangat membuat hatinya sedikit terkejut.
Imam dan Ananda sudah mengetahuinya. Ketika Galih dan Putri dengan sengaja mengunjungi tuan besarnya. Dan menceritakan semua kejadian yang terjadi pada putri sahabatnya. Keduanya hanya saling memandang. Ananda mengisyaratkan kepedihan.
Berbeda dengan Imam dia mengisyaratkan beribu maaf atas kelancangan putra semata wayangnya. Imam menangkupkan kedua tangannya pada Ananda, yang dibalas dengan tepukan hangat dipundak Imam. Dan menganggukan kepala. Terpangpang kelegaan diwajah Imam.
"Ehem," deheman Ananda mengalihkan ketiga orang itu. Ima pun dengan antusias berjalan mendekati Ananda.
"Pah... Itu cucu kita," ucapnya lirih sembari menunjuk kearah Alwi.
Ananda pun berjalan mendekati Alwi tanpa mendengarkan lagi ocehan-ocehan Ima.
"Nama-mu siapa boy?" tanya Ananda pada Alwi.
"Aku Alwi... Kakek---" jawabnya memandang Ananda dan beralih kepada El. El pun menganggukan kepalanya ketika dia tahu isyarat dari anak tampannya.
"Dia Kakek nya Alwi sayang, salim dulu gih sama Nenek juga belum..." El pun menjeda ucapnnya dengan menunjuk kearah Imam.
__ADS_1
"Salim juga sama Paman Imam, dia Ayah-nya Daddy Willy pangeran Mommy," ujarnya memberi tahukan panjang lebar. Alwi hanya menatap ketiganya satu-persatu dan menyalaminya.
Dia pun berlari menuju Imam dan ingin digendongnya. "Paman Papa-nya Daddy Willy? Aku tampankan seperti Daddy?" tanya nya dengan rengekan anak seusinya. Imam hanya tersenyum menanggapi.
Ketiganya hanya tersenyum ketika mendengar celotehan Alwi. Ananda dan Imam tidak menyangka bahwa kedekatannya justru dengan Willy bukan Antonio. Tapi mereka sudah mengetahuinya.
Dari ambang pintu Antonio dan Willy menyaksakinnya. Aurelia dan Nuri pun sama menyaksikan momen bahagia keluarga besar El dengan haru itu.
Entah harus bagaimna aku melanjutkan ini semua. Aku tidak bisa membahagiakan gadis kecilku. Batin Antonio lirih.
Tak kusangka Alwi akan seperti itu pada Papa-ku. Kedekatanku dengan nya memang tidak biasa. Apa sebenarnya Alwi adalah anakku? Bukan anak Paman Anton? Batin Willy bermonolog dengan dirinya sendiri.
Seharusnya dia bisa melihat sisi tuan Willy bahwa dia mencintai nona El. Bukannya malah egois menikahi tanpa membahagiakannya. Batin Aurelia.
Serentetan ungkapan pertanyaan yang berada dibenak mereka. Mama Ima pun menyadari kehadiran mereka yang tengah menyaksikan huru-hara yang sangat menyesakkan itu.
"Ayo masuk," ucap Ima mempersilahkan semua tamunya.
"Maaf ya rumahnya kecil. Apalagi diperkampungan. Semoga pada betah yah disini," ujar Ima.
Aurelia hanya tersenyum merekah. Tidak menyangka orang tua El begitu ramah. Walaupun mereka mempunyai harta melimpah.
"Tante, ini sangat masih asri. Aku menyukai ini. Udara yang sejuk belum terpapar sepenuhnya oleh polusi," Aurelia tak kalah memuji kampung halaman orang tua El.
"Loh, kok Mama baru eungeuh! Ini siapa Antonio?" tanya Ima masih tersenyum ramah.
"Ini sahabatnya El Mah," jawab Antonio singkat dan berlalu kekamarnya.
Kamar El tentunya. Lelaki matang itu tidak ingin keceplosan membongkar aib nya sendiri. Sehingga ia lebih memilih menghindar dari pertanyaan sang mertua.
"Gadis cantik ini anakmu?" tanya Mama Ima.
"Iya, tante," jawab Aurelia.
Mama Ima pun mempersilahkan tamunya untuk beristirahat dari perjalanan. Satelah mereka menolak untuk makan dahulu sebelum beristirahat.
Ima terlihat sangat senang. Dia mempunyai teman saat ini. Apalagi mengetahui bahwa El mempunyai teman yang dekat. Hingga berlibur bersama. Entah apa yang dia lakukan jika mengetahui anak kesayangannya tersakiti. Hati anaknya disakiti begitu saja.
***
__ADS_1