Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 06 POV El-Suci / Aku Bebas


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, membangunkan ku dari tidur nyenyak. Sudah kewajiban seorang muslim yang memeluk agama Islam menjalani sholat. Akupun berjalan menuju tempat beribadah, untuk menjalankan sholat subuh. Setelah selesai beribadah aku pun kembali tertidur.


Ketika aku bergeliat dan berguling-guling diranjang tempatku. Pelayan datang memberitahuku sudah waktunya makan siang. Saking terlalu malasnya bangun aku melewatkan sarapan pagiku sampai aku lupa juga kalau sehabis subuh tidak boleh tertidur kembali.


Tapi apalah daya diriku sangat senang dengan kebebasan ini. Rasanya seperti bisa terbang melayang tinggi keudara.


Hari ini aku tidak memiliki aktivitas hanya berdiam diri saja dirumah, bangun pagi berangkat kesekolah sudah tak ku lakukan karna memang sudah lulus.


Aku masih malas untuk melanjutkan kuliahku, jadi ku pikir aku ingin beristirahat dulu untuk berfikir. Mencoba untuk selalu mendengarkan kedua keluarga angkatku ya dia adalah dua pria tampan yang selalu over protektif terhadapku.


Sebenarnya aku melanjutkan kuliahku, tanpa sepengetahuan ketiga pria tampan itu.


Sebenarnya itu alasan saja kepada ketiga pria tampan itu, aku bosan selalu diikuti, sebenarnya aku melanjutkan kuliahku dengan sejuta cara, aku menyembunyikan ini semua. Ini adalah jalan terbaik dan yang pasti aku memiliki alasan kenapa aku melakukan ini.


Ya, tapi tak masalah bagiku, jadi aku bisa simpulkan mereka menyayangiku meskipun aku bukan keturunan keluarga ini.


Akupun membersihkan diri bersiap turun untuk makan siang, tak kusangka kedua pria itu memilih makan siang dirumah ketika mereka mengetahui keinginanku untuk beristirahat dulu dari dunia pendidikan.


Kini aku sudah tiba dimeja makan. "Eh kok makan nya disini mas, kak?" Tanya ku pada kedua pria ini.


"Memangnya tidak boleh?" jawabnya bersamaan.


Aku hanya menggeleng dan mulai menyantap makanan siang ini.


"Tidak bosan dirumah terus? Ayo ikut mas Anton kekantor?" tanya mas Anton padaku.


"Aku ikut sama kak illy saja, disana ada sekretarisnya. Aku bisa belajar padanya. Boleh kan kak?" aku bukan menjawab mas Anton, aku malah bertanya pada kak illy, dengan nada memohon dan memegang tangannya.


"Yasudah jika itu maumu mas duluan kekantor." Lontarnya dengan menghentakkan kakinya.


Aku menoleh kearah mas Tino. *A*pa dia cemburu? Tapi kenapa? Padahal aku sukanya sama dia. Gumamku dalam hati.


Kak illy hanya menatapku dengan tatapan tak bisa diartikan. Aku bisa menyimpulkan tatapannya seperti tatapan kepada seorang kekasih. Tetapi masa iya dia mencintaiku. Yang ku tahu kedekatannya dengan sekretaris cantiknya bukan hanya gosip belaka. Bukan juga hanya sekedar sekretaris dan atasan.


Bisa dibilang mereka mempunyai hubungan istimewa.


Mereka sering kencan bersama. Menghabiskan waktu weekend bersama tak jarang aku juga jadi sering menghabiskan waktu ku bersama mas Tino.


Aku sangat suka dengan sikap nya yang bertanggung jawab jujur dan taat. Ya bertanggung jawab mengurus perusahaan keluargaku. Jujur dalam hal kecil pun dan taat dalam menjalankan perintah agama sungguh dia calon Imam idaman.


Setelah aku berkutat dalam pemikiranku aku pun mencubit tangan itu agar dia tersadar dari lamunan dia terlalu dalam menatapku dia pun berkata.


"Iya ayo boleh ikut saja, asal jangan bikin repot."

__ADS_1


"Ok, baik." jawabku dengan langsung aku berlari pergi menuju keatas untuk berganti pakaian.


Setelah siap dengan berganti pakaian, kak illy yang sedang menungguku hanya menatap dengan kekagumannya mungkin. Aku cantik sepertinya dimatanya.


Aku terkekeh geli ketika kak illy tak berkedip, aku pun berjalan menghampirinya, menepuk pundaknya agar tersadar.


"Aku tahu aku cantik kak illy tapi tidak usah menatapku seperti itu," celotehku dengan cekikikan.


Dia tersentak, dan malah mengacak-ngacak rambutku. Memegang tanganku tanpa berkata apapun lalu memasuki mobil memasangkan sabuk pengaman untukku, padahal aku juga bisa melakukannya sendiri.


"Isshhh apaan sih kak, kaya sepasang kekasih saja, geli aku," timpalku tertawa melihat tingkahnya memperlakukanku seperti kekasihnya.


"Memang tidak boleh seorang kakak melakukannya kepada Adek nya sendiri?" tanya kak illy padaku.


Aku tak mampu menjawab pertanyaannya, aku menelan salivaku dengan susah payah masuk ke kerongkonganku. Sungguh aku tak dapat menjawab pertanyaannya yang bisa kulakukan hanya menggaruk kepala ku yang tidak gatal dan tersenyum kecut. Sungguh aku sangat malu.


Sebenarnya aku ingin sekali kekantor mas Tino, tapi sungguh aku takut, takut tak bisa menahan diriku. Aku baru menyadari ini entah kapan perasaanku bertumbuh menjadi rasa sayang.


Bukan sayang kepada saudara, tapi lebih tepatnya sayang sebagai seseorang yang ingin memilikinya. Apa ini yang dinamakan jatuh Cinta? Rasa ingin memiliki. Tapi aku takut mengutarakan rasa ini.


Aku malu jika dia tidak membalas perasaanku, aku takut patah hatiđź’”. Aku pun tersadar dari lamunan ketika kak illy membukakan pintu mobil. Ah ternyata aku melamunkan dia sehingga aku tidak menyadari sudah sampai tempat tujuan.


"Ikut kakak keruangan, tapi kakak tinggal kakak ada rapat sebentar lagi." Perintahnya dengan berjalan menuju ruang kerjanya.


Akhirnya kami pun sampai dilantai yang kami tuju. Sekretaris kak illy sedang sibuk rupanya, jadi aku urungkan untuk meminta pendapatnya.


"Tuan," Panggil sekretaris kak illy .


"Iya." Jawabnya tanpa menoleh namun berhenti berjalan.


"Rapat akan segera dimulai, ini dokumen yang harus anda pelajari terlebih dulu." Dengan menyodarkan map yang mungkin dokumennya.


"Eh.. Hai... Nona El... Selamat pagi, saya pikir siapa yang mengikuti tuan Willy!" Aku hanya tersenyum mendengar sapaaannya.


"Nanti selesai rapat keruangan kak illy ya kak aku mau minta solusi." Perintahku pada kak Putri dengan sedikit berbisik.


Sekretaris kak illy hanya membentuk tangannya seperti hurup O dan ketiga jarinya bersejajar. Itu tandanya dia akan mengabulkan permintaanku, senangnya hatiku.


Setelah beberapa jam aku menunggu rapat itu, aku mulai bosan. Ternyata menunggu sangat menyebalkan aku pun berdecak. Setelah beberapa menit mengumpat pintu pun terbuka lebar tampak lah dua orang yang kutunggu.


Ya siapa lagi kak illy dengan sekretarisnya, aku pun meminta ijin kepada kak illy untuk mengajak pergi sekretarisnya dari kantor dengan alasan aku bosan.


Dia mengijinkan kami pergi, aku terlalu antusias dan nampak aku melompat-lompat kecil tanda aku sangat senang. Kedua orang yang melihatku seperti anak kecil hanya menatap dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Baiklah pergi sekarang sesudah makan siang kau pulang, kau merepotkan sekretarisku," ucapnya selalu saja mengataiku merepotkannya.


"Saya permisi tuan!" Pamitnya kepada atasannya.


Kami pun memutuskan kemana kami akan pergi, aku memilih pergi kecaffe, setelah itu kami pun memesan makanan untuk mengganjal perut kami.


Alasanku suka pergi kecaffe, aku suka sekali bernyanyi dan memetik gitar. Bisa dibilang ini hobby ku ya. Ketika aku mendengar pembawa acara apakah ada yang ingin menyumbangkan lagu.


Tanganku refleks mengangkat, al-hasil aku pun dipanggil nya dan berjalan naik keatas panggung.


"Kak aku kesana dulu ya kesempatan nih buat ku," Kataku padanya berpamitan.


"Boleh pergilah nona." jawabnya dengan tersenyum manisnya.


"Hallo selamat siang," Sapaku kepada pengunjung.


"Aku ingin membawakan sebuah lagu yang berjudul Aku Jatuh Cinta dari ****Roulette**** , ini lagu mewakili siapa saja diantara pengunjung semua yang tengah merasakan jatuh cinta kepada seseorang," ucapku sebelum bernyanyi dan tepuk tangan pun mulai menggema.


Aku pun mulai memetik gitar dan bernyanyi


Langsung ke reff


Aku jatuh Cinta kepada dirinya


sungguh-sungguh Cinta oh apa adanya


Tak pernah kuragu namun tetap selalu menunggu


sungguh aku jatuh Cinta kepadanya...


Akupun selesai bernyanyi tampak pembawa acara memberikan ku ucapan terima kasih, atas lagu yang kubawakan. Para pengunjung pun tampak menyukai penampilanku.


"Gimana kak? Aku keren kan?" Aku bertanya dengan membanggakan diriku sendiri.


Setelah aku menggeser kursiku untuk duduk, tampak dari arah belakang, ada seseorang yang memanggil kak Putri, aku mengenali suara laki-laki itu.


"Putri," panggil lelaki itu.


Aku pun berbalik dan menatap kearah sumber suara dia tersentak nampak raut wajahnya berubah menjadi kaget dengan kehadiranku, apa dia tidak mengenaliku jika melihat aku dari belakang?


"Nona El," ucapnya dengan menyembunyikan rasa kagetnya ketika dia melihatku.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2