Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 104. El kabur.


__ADS_3

Sudah dua hari El tidak pulang, kini acara pernikahan tengah dilangsungkan di kediaman El. Konsep yang dipilih pun bertema alam. Yang tentunya ditaman belakang rumah El sangat cocok untuk saat ini.


Willy sudah cemas karena takut disangka ia menculik El.


'Aku tidak mau dicap lebih jelek karena menyembunyikanmu El. Aku dimata mama mu saja sudah sangat buruk apalagi sekarang,' batin El.


Setelah El membersihkan dirinya dan juga Alwi ia pun dengan senang menyambut kedatangan Willy. Alwi kali ini tidak bermanja seperti biasanya. Ia sudah mengerti dengan pembicaraan El dan Willy, ia juga tahu kedua orang tuanya tengah dilanda masalah.


"Mommy aku lapar," ucap Alwi, ia tidak mau mendengarkan mereka berdebat.


El pun menyajikan beberapa makanan yang telah Willy beli. Ia pun duduk kembali disamping Willy.


"Tidak kerja kak?" tanya El.


"Aku tidak akan bisa bekerja. Sedangkan aku tengah menyembunyikan pengantin wanita orang lain," terang Willy.


"Jadi ma-maksud kakak, kamu tidak mau memperjuangkan aku?" tanya El. Ia sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya karena bersedih akan keputusan Willy.


"Bukan aku tidak mau memperjuangkan mu El, aku begitu buruk dimata mamamu. Tolong jangan semakin membuat citra namaku semakin buruk lagi, biarlah kamu menikah dengan orang lain,"


"Aku akan tetap mengunjungi Alwi seperti biasa. Aku daddynya. Dan selamanya akan tetap seperti ini," ucap Willy memberi pengertian.


El menunduk, dan semakin terisak. Willy semakin tidak tega, hatinya pun begitu berat untuk mengucapkan secara tidak langsung ia menolak secara halus keinginan El. Tapi apa boleh buat, segala sesuatu tanpa restu orang tua tidak akan bertahan lama.


Setelah hampir setengah jam El terisak karena tidak percaya dengan jawaban Willy akhirnya ia pun mendongak menatap Willy.


"Ya sudah aku akan pulang," ucapnya lirih.


Willy pun mengantarkan Al dan juga El. Raut bahagia seperti biasa tidak nampak saat ini. Apalagi El, statusnya akan berganti menjadi seorang istri karena ia akan menikah. Namun, yang ia tahu pernikahannya terjadi bukan bersama orang yang ia cintai.


Setelah didepan rumah El, dengan berat kakinya dijuntaikan keluar untuk memasuki rumah. Tidak terasa kembali air mata itu terus bercucuran tiada henti. Alwi hanya menatap El dengan sedih. Ima langsung menggendong Alwi kala ia tahu bahwa Willy mengantarkannya dengan masih utuh. Meskipun El terlihat kacau karena selalu menangis.


Ima pun belum mengutarakan kebenarannya. Biarlah mereka tahu pas Akan akad berlangsung. Ima berfikir mungkin El tidak akan berbuat hal aneh.


"Nyonya, maafkan saya baru mengantarkan anak nyonya. Saya sudah membujuknya dengan susah payah," lirih Willy.


Ima mengangguk, "Nak Willy kamu jangan pergi." Ima pun memanggilkan WO untuk mendandani Willy.

__ADS_1


"Ayok pak, acara akan segera dimulai. Kita secepatnya harus berdandan," ucap WO.


'Apa aku harus menjadi saksi untuk pernikahan suci mereka. Aku akan menjadi pagar bagusnya?! Sakit rasanya,' batin Willy.


Sedangkan Ima langsung keatas menidurkan Alwi. Ia pandangi Alwi dengan seksama. Begitu dominan sangat mirip dengan Willy. Ia juga baru tersadar kalau nama mereka mirip.


"Oalah, namanya juga mirip. Sayangnya nenek." Ima mengecup Alwi yang terlelap. Ia menepuk-nepuk pipi cucunya dengan lembut agar terbangun.


Alwi pun terbangun, ia mengucek matanya.


"Nenek," rengek Alwi.


Alwi menangis sesenggukan dibahu Ima, "Nenek, mommy nikahnya bukan sama daddy ya. Alwi sedih nek," ungkap Alwi.


"Kata siapa? Mommy dan daddy akan tetap bersatu tidak akan berpisah. Sekarang Al mandi kita bersiap untuk membawa mommy menjadi pengantinnya daddy," lontar Ima. Alwi pun mengangguk.


***


El tengah kebingungan untuk berusaha kabur agar ia tidak jadi menikah dengan Willy. Namun seharusnya El tidak usah pergi. Ini adalah kejutan luar biasa yang akan membuatnya bahagia.


"Hey, mau kemana kau, Yulis... Mmm, tapi aku kok agak asing sama kamu," ucap teman Yulis yang tidak lain adalah jajaran WO yang sedang bertugas untuk acara pernikahan Willy dan El.


"Aku ada urusan, Melati untuk pengantinnya tertinggal nanti pengantinnya enggak jadi dong," ucap El yang menyamar jadi Yulis karena memakai pakaiannya.


Orang itu pun menepis semua pikiran yang tidak masuk akalnya. Pasalnya El dan Yulis sama-sama bisa diajak bercanda. Dengan langkah cepat El langsung keluar gerbang. Setelah didalam taksi ia pun melepaskan masker yang ia kenakan tadi.


'Maafkan mommy nak, ini adalah bentuk protes mommy terhadap kakek dan nenekmu. Kalau kamu sudah dengan mereka mommy tenang sayang. Tapi aku harus kemana,' batin El.


"Mau kemana bu?" tanya supir taksi.


"Mmm, ke kampung xxx," jawab El.


Dengan mengangguk supir itu pun mengerti. Ia ternyata pergi kerumah Aurelia. Hanya dialah yang kini bisa ia mintai pertolongan.


Setelah telah sampai ditempat tujuan dengan ragu bercampur malu El mengetuk pintu rumah Aurelia. Aurelia membuka pintu kala mendengar suara ketukan itu. Ia sama sekali tidak kaget saat melihat El.


Ia juga tahu perihal perjodohan yang dilakukan kedua orang tua El, Aurelia pun mempersilahkan El masuk.

__ADS_1


"Maaf aku kemari. Aku tidak tahu harus kemana? Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai," lirih El.


Aurelia mengusap lembut tangan El, "Iya tida apa nona, aku mengerti, sebaiknya kamu istirahat. Kamu pasti kelelahan nona," titah Rely.


El menurut, ia langsung memasuki kamar dan membersihkan diri. Ia langsung tertidur karena kelelahan. Aurelia menengok kekamar El, ia tersenyum melihat El yang terlelap karena kelelahan.


***


Waktu sudah sore hari. El berjalan menyusuri pesawahan untuk menuju pabrik Aurelia. Setelah sampai semua para pegawai telah membersihkan sisa pekerjaan mereka.


"Bu Lastri," panggil El.


Lastri pun menoleh, "Nona disini, dari kapan? Tuan muda Alwi mana?" tanya Lastri.


"Mmm, anu bu." ucap El menundukkan kepala. Ia bingung harus berkata apa.


"Ya sudah ayok kedepan dulu. Biar leluasa berbicaranya," titah Lastri.


Mereka berdua pun kedepan. El dengan ragu-ragu menceritakan semuanya pada Lastri. Bukan ingin diberi bantuan, ia hanya ingin Lastri mengizinkannya untuk bekerja disana.


Ia tidak mau kalau sampai membawa uang dari Atm nya. Yang ada ia akan diketahui oleh keluarganya.


"Apa nona El tidak salah? Mengapa bisa nyonya menjodohkan nona dengan tuan Galih?" tanya Lastri begitu penasaran.


"Ceritanya panjang bu, enggak bisa aku jelaskan secara rinci. Aku mohon terima aku untuk bekerja disini bu. Untuk menyambung hidup, aku hanya bawa uang lima ratus ribu saja. Enggak akan cukup untuk beberapa hari kedepan." El pun mengeluarkan uang yang berada disaku celananya.


"Tolong ambil bu, aku mau tinggal dirumah ibu selama beberapa hari. Maaf karena datang hanya untuk merepotkan,"


"Ini simpan saja, untuk pegangan nona. Kalau makan enggak usah dipikirkan. Tapi ya kalau dikampung makannya seadanya enggak enak-enak seperti dikota," lontar Ima.


"Enggak apa bu, makasih banyak sudah memberikan izin padaku bu."


Pandangan mereka pun teralihkan ketika mereka mendengar seseorang yang tengah berteriak memanggil El.


"Nona El,"


***

__ADS_1


__ADS_2