Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 110. Boncap.


__ADS_3

Hallo teman-teman semua yang masih setia dengan cerita ini. Terimakasih sebanyak-banyaknya dari aku. Aku sebenarnya ingin buat season2 perjalanan rumah tangga El dan Willy. Karena aku juga masih rindu kisah mereka.


***


Suatu hubungan akan berjalan sangat baik jika kedua insan saling mencintai, melengkapi satu sama lain. Seperti halnya saat ini Willy dan El.


Pernikahan Antonio dan juga Aurelia digelar disaat El dan Willy sudah terlihat bahagia. Antonio lebih mengesampingkan kebahagiaannya. Baginya tiada hal yang lebih penting kecuali kebahagiaan keponakannya.


Saat ini acara resepsi tengah digelar, kedua sejoli yang sempat terpisah karena sebuah alasan yang tidak dimasuk akal.


Namun cinta tahu kepada siapa mereka akan kembali. Seperti halnya mereka. Setelah Aurelia menikah namun sang suami meninggal karena kecelakaan. Sedangkan Antonio lebih baik berkata jujur dari pada ia harus menyakiti hati orang yang teramat ia sayangi.


Kini acara resepsi sudah digelar dengan selesai, semua berjalan lancar tanpa adanya hambatan.


"Hmm, nona El," sapa Aurelia.


"Iya kak," jawab El.


"Aku kira kita seumuran, jadi sekarang aku memanggil mu kakak atau apa ya?" seloroh El.


Sedangkan Aurelia hanya tersenyum. Ia memapah El untuk terduduk, meskipun ia masih mengenakan pakaian pengantin tetapi tidak membuatnya kesulitan meskipun hanya untuk membawa El berbincang.


"Terserah nona. Yang penting nona nyaman," jawab Aurelia.


"Ok, baiklah. Ada apa kak? Sepertinya mempelai pria sudah tidak sabar." ucap El sembari matanya menatap seseorang yang ada dibelakang Aurelia.


Aurelia pun menoleh kebelakang. Dan terlihatlah sosok suami yang dipuja-puja dalam do'anya.


"Nona El, sepertinya perbincangan harus ditunda dulu. Aku bawa mempelai wanitanya untuk kekamar pengantin ya," izin Antonio, ia lantas memapah Aurelia meskipun ia masih ingin berbincang dangan El.


***


Setelah beberapa bulan berlalu pernikahan yang terjadi karena perjodohan, Willy semakin bucin pada El. Bahkan hal sekecil apapun tidak terlepas dari pengawasan Willy. Mungkin karena ia terlalu cinta yang akhirnya membuat dia merasa takut akan kehilangan El. Mengingat perjuangannya dulu untuk mendapatkan El tidak lah mudah.


Tidak akan ada ikatan rumah tangga yang jauh dari kata pertengkaran, apalagi jika kedua insan tiada menyimpan rasa percaya sepenuhnya pada pasangan. Kisah ini terjadi pada Willy yang begitu tidak mempercayai El.


"Aku bukan tidak percaya, hanya saja aku takut hatimu berbelok kelain hati," ucap Willy.

__ADS_1


Willy tidak mengekang setiap apa yang dilakukan El. Ia hanya selalu posesif tentang apa yang dilakukan istri cantiknya itu.


Mau tidak mau El mengalah saja demi ketentraman rumah tangga ini. Ia memeluk Willy dengan erat.


"Mom---" Alwi tidak sempat melanjutkan kata-katanya, ia berlari keluar kamar dengan menutup mata.


"Al enggak lihat kok mom, daddy," ucapnya lagi sambil menutup pintu.


Willy pun melepaskan pelukan El, ia tatap El dengan penuh cinta.


"Kamu genit El, peluk-peluk," lontar Willy.


Willy berjalan keluar untuk mengejar Alwi. El pun menggelengkan kepala seraya merasa gemas akan tingkah suaminya yang terkesan kekanak-kanakan.


"Kalo enggak dipeluk ya nanti merajuk lah. Dibilang genit lagi, masih mending sama suami sendiri kalo sama laki-laki lain mau bagaimana coba?! Suka heran deh sama itu orang bisa-bisanya masalah begitu saja digedein," cerocos El ketika Willy keluar kamar.


El pun mendudukan bokongnya dan membelakangi pintu kamar. Ia tidak mendengar bahwa seseorang telah berada dibelakangnya dan mendengarkan semua umpatan yang tengah El lontarkan pada dirinya.


"Ganteng sih tapi alay, kamu tuh harus nurut sama suami. Kan sudah aku bilang kalau mau kemana-mana itu harus beri tahu. Katanya mau jadi istri shalehah," lagi-lagi El mengumpatnya dengan tangan digerakkan sedemikian rupa memperagakan Willy seperti biasa.


"Sudah aku bilang, kamu itu jangan seperti ini seperti itu." El berdiri menggerakkan badannya lalu berputar badan menghadap pintu kamar.


Betapa terkejutnya dan syok nya El ketika orang yang tengah El umpati ada diruangan yang sama. El berjalan mundur perlahan sedangkan Willy berjalan mendekati El.


Sampai El Mentok berjalan mundur dan menempelkam tubuhnya didinding, sedangkan Willy kini tengah menghimpitnya disisi kiri dan kanan El supaya El tidak bisa bergerak.


"Seperti itukah jika aku tidak berada dihadapanmu? Hmmm," tanya Willy.


"Ma-maksudnya seperti itu apa?" jawab El pura-pura tidak tahu, padahal dia sudah gugup bukan main.


"Mengejekku, dibelakang! Ayo sekarang coba peragakkan lagi yang kamu sedang mengumpatku?" ucap Willy sedikit mengguncang bahu El.


Dengan penuh percaya diri El lebih berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dilontarkan Willy.


"Aku tuh enggak ngerti, maksud kamu mas," jawabnya sedikit bersuara manja, dan membuat Willy merinding karena hembusan napas El yang sengaja ia dekatkan dileher suaminya.


Willy tertawa sesaat, tidak menyangka dengan gelagat sang istri yang sudah mulai berani dan terbuka menggoda dirinya.

__ADS_1


"Hmm, benarkah, apa-apaan tidak boleh begini begitu katanya mau jadi istri shalehah," ucap Willy dengan menirukan apa yang El lakukan.


El pun mendorong tubuh Willy agar menjauhkan dari dirinya. Wajahnya sudah cemberut dan pastinya dia akan merajuk.


"Enggak lucu sih, malah niru-niru apa-apaan coba." El melipatkan kedua tangannya.


"Iya akhirnya jujur juga." Willy pun berjalan keranjang dan merebahkan tubuhnya.


"Kayaknya panggilan kamu harus berubah deh El, jadi mas. Hm..." tutur Willy.


"Enggak, aku udah nyaman manggil kakak. Tadi cuma keceplosan saja,"


"Sini El." Willy melambaikan tangannya agar El mendekat.


Dengan ragu-ragu El mendekat. Meskipun Willy menyuruh El agar mendekat tetap saja El masih berdiri ditepian ranjang. Tangan gemetar badan sudah panas dingin.


Ketukan pintu kamar mengalihkan kegugupan El.


"Aku buka pintu dulu kak." El berbalik dan akan berjalan untuk membuka pintu.


"Biar mas saja." Willy beranjak dari pembaringan.


'Apaan dia bilang mas. Hufft, sudah aku bilang aku cuma keceplosan saja masih aja sindir-sindir dengan embel-embel mas,' gerutu El dalam hati.


Willy berjalan kembali kehadapan El, ia juga mencekal tangan El dan menuruni tangga untuk mereka makan malam.


"Sudah peluk-pelukannya Mom, Dad," lontar Alwi dengan polosnya.


"Loh kok begitu sih nak, kamu ngintip kamar Daddy ya?" tanya Ima pada Alwi.


Alwi hanya cekikikan mendengar lontaran neneknya, Ima pun mendekat kearah El dan berbisik.


"Kalau mau ehem-ehem, harus kunci pintu kamar dulu sayang, biar enggak diganggu Alwi." Bisik Ima ditelinga anaknya.


El sudah merah padam dan menggenggam tangan Willy dengan erat. El malu bukan kepalang.


***

__ADS_1


__ADS_2