Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 27 Apakah Dia Anakku?


__ADS_3

Setiap orang mempunyai masa lalu kelam.


Kadang dia menutup diri, dan mencoba untuk menjalani hidup yang lebih baik.


Masa laluku memang sangat buruk, namun aku memperlakukanmu dengan baik.


Aku sudah kehilangan~~~


Dan aku tidak mau itu terulang kembali, meskipun kini dihatiku tidak sedikitpun namamu tertulis direlung hatiku.


(Antonio Nugraha)


***


Galih mengangkat pelipisnya dan memijit dahinya. Masalah-masalah baru akan muncul. Menguak sosok Presdir yang kini menjadi atasan Galih.


Tiiingg


Sebuah pesan masuk datang yang tertara dilayar ponsel bernama sayang.


💬 "Gadis itu masa lalu tuan Antonio dan sepertinya mereka merahasiakan sesuatu yang sangat besar,"


Itulah isi pesan dari orang tersebut, seseorang yang sangat berarti untuk Galih.


Galih pun keluar kamar dengan pikiran berkecamuk.


📞 "Kemarilah, aku membutuhkanmu?" perintah Galih pada gadis itu.


📞 "Aku segera datang, jangan kemana-mana," imbuhnya dan meminta izin pada pemilik rumah.


Tok... Tok... Tok


"Masuk saja," titah El dari dalam.


"Nona saya mau minta izin, untuk keluar rumah sebentar," pamitnya pada El.


El hanya mengangguk pada gadis itu, Gadis itu menuruni anak tangga dengan tertawa riang.


"Mau kemana?" suara bariton itu menghentikan langkah Putri. Putri pun menolehnya.


"Mau keluar dulu, ada beberapa perlengkapan yang belum aku beli," ucapnya dengan sedikit gugup.


Sepertnya dia terlihat gugup? Memangnya apa yang disembunyikannya? Batin Willy.


"Mau diantar?" tawar Willy.


"Tidak perlu, aku berangkat sendiri deh. Biasanya juga gak pernah perhatian," sindir Putri dengan ketus.


"Nah, ini aku mau perhatian, kamunya gak mau," seloroh Willy dengan nada menggoda.


"Ya, enggak usah sok perhatian juga. Apaan punya kekasih juga berasa jomblo," umpat Putri dengan mengejek.


"Kamu yah, apa karna aku tidak pernah mengajakmu berkencan?" tanya Willy dengan mata genitnya.

__ADS_1


"Apa sih makin ngawur," jawab Putri dengan berlalu pergi.


Putri merasa perbincangan mereka tidak ada artinya, ada hal yang lebih berarti dan penting untuk gadis itu. Prioritas utama yaitu pria tampan yang telah mengisi seisi hati dan ribuan cinta yang ada untuknya.


"Sepertiny aku harus mengikuti gadis itu," gumam Willy.


Willy berinisiatif, dan menaruh curiga pada Putri. Dia ingin menyelidiki namun rasanya malas untuk mendengar kebenaran yang sebenarnya. Namun belum juga Willy melangkahkan kaki untuk pergi.


"Will," panggil Antonio sebelum Willy akan pergi. Willy pun menghentikan langkahnya.


"Kenapa om?" tanya Willy yang mengernyit ketika melihat penampilan Antonio.


"Temani El dulu yah," titah Antonio pada Willy.


Willy mau mengomentari tentang penampilan Antonio, yang terkesan seperti ingin berkencan. Namun dia buang pikiran tak masuk akal itu.


Mana mungkin Antonio akan mengkhianati El sigadis pujaan hati Willy. Willy pun bergegas menaiki anak tangga menuju kamar El. Sedangkan Antonio tengah mencari tahu untuk penyelidikannya.


Antonio yang berhati malaikat dan penolong untuk Galih dan El, seketika sirna menjadi kebencian. Galih membenci fakta yang baru terkuak.


Kenapa tidak dahulu saja, sebelum nona-nya menikah dengan pria busuk itu. Mungkin akan begitu ucapan Galih mengenai perbincangan menjurus pada laki-laki itu.


Disaat Willy akan memasuki kamar El, Willy pun terdiam sejenak didepan pintu. Dengan El mengurus baby boy Alwi Ananda Nugraha. Willy terkagum, melihat El. El sudah dengan lihai mengurus anak pertamanya tanpa bantuan baby sister.


Sifatnya yang keibuan mampu membuat Willy semakin mengaguminya. Willy tau ini perasaan Salah?


Willy pun tau perasaannya tidak akan terbalas. Namun salahkah bila mencintai sepenuh hati? Tetapi orangnya tak pernah tau isi didalam hatinya?


El pun sadar bahwa pintu kamarmya terbuka.


"Masuk saja kak. Ini nanggung lagi gantiin popok," pinta El, disaat dirinya tengah sibuk untuk mengganti popok anaknya. Willy duduk disofa dengan tersenyum tipis melihat El.


***


Wanita itu pun telah sampai diapartement Galih, kini dia tengah duduk disofa. Keduanya masih tak bergeming, mungkin Galih bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


"Apa lagi yang kau ketahui?" tanya Galih memecah keheningan. Tanpa mengalihkan pandangan. Galih menyandarkan punggungnya kesofa, dan menelusupkan kedua tangannya kebelakang kepalanya. Dan menutup kedua matanya.


"Yah seperti tadi aku mengirimmu pesan singkat, dan apakah kamu mau tahu lagi sesuatu rahasia yang besar?"


Putri hanya menatap sosok pria yang menjadi pengisi hatinya. Mengapa begitu hati memberinya pekerjaan seperti ini.


"Apa?" jawab Galih.


Sebenarnya Galih saat ini tidak ingin menceritakan orang lain. Galih hanya mau Putri berada disampingnya, meski tanpa bersuarapun. Galih hanya ingin secepatnya permainan ini berakhir. Galih ingin terus bersama, berdua dengan cintanya.


"Jika suatu hari nanti semua harus terbongkar... sepertinya kita tidak perlu terlalu membenci tuan Antonio. Sebab kita sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dikehidupan kita. Percayalah pasti dia juga berat." saran Putri. Galih hanya mengangguk tanpa membuka mata.


"Kau tahu tuan Willy?"


Apalagi ketika Galih mendengar nama itu, gejolak cemburu mulai timbul direlung hatinya. Galih tidak ingin mendengar nama itu terucap dari bibir gadisnya.


"Hmmm,"

__ADS_1


"Dia sangat mencintai nona muda,"


"Aku sudah tahu,"


Meskipun Galih tahu Willy memang sangat mencintai nona mudanya. Tapi biarlah cerita ini berjalan sesuai takdir dari yang maha kuasa.


***


Antonio tengah bimbang didepan pintu kontrakan sederhana. Hatinya teriris, sosok itu ternyata tinggal ditempat yang tak seharusnya dia tinggali. Karna Antonio pasti akan memberikan apapun untuk cintanya.


Cinta masa lalu tepatnya. Antonio terlihat mondar mandir didepan pintu. Dengan beberapa kali mengangkat tangannya untuk mengetuk. Namun lagi-lagi dia urungkan kembali.


Ketika handle pintu akan terbuka Antonio dengan cepat bersembunyi disamping kontrakan sederhana itu. Munculah dari balik pintu, dua sosok wanita dewasa dengan satu anak yang sedang berpegangan tangan.


Apakah dia anakku? Batin Antonio.


Antonio memegangi dadanya terasa sesak, melihat buah hatinya dari jauh. Tanpa tahu namanya, tanpa mengetahui perkembangannya sewaktu balita.


Semua memang salahnya, semua memang telah terjadi namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Tidak akan menjadi beras kembali. Yang harus dilakukan saat ini hanya memakannya, menelannya, untuk masuk kekerongkongan.


Mungkin itulah yang tepat untuk Antonio. Dia harus mencoba untuk menerima keadaan yang sudah terjadi.


"Mom, daddy-nya tuan kecil Alwi---"


Dia langsung terdiam sejenak, kenapa gerangan gadis kecilnya membicarakan dia. Disaat dirinya sudah bisa menghapus rasa cinta dihatinya. Dia hanya ingin laki-laki itu bahagia bersama istrinya.


"Kenapa memang?" dengan sedikit berjongkok, dia mensejajarkan tinggi gadis kecilnya.


"Aku ingin juga memanggilnya daddy? diizinkan tidak ya?" tanyanya dengan memainkan gaun yang tengah dipakainnya.


Dia hanya mampu meneteskan air mata, dirinya tak bisa menjawab pertanyaan gadis kecil polosnya. Antonio pun meneteskan air matanya kembali, dengan keberanian tingginya dia berjalan mendekati kedua perempuan yang tengah berbincang.


Tangan Antonio mengangkat untuk menghapus air mata yang menetas itu, wanita itu hanya terlonjat dengan tangannya memegang tangan Antonio.


Mereka saling menatap satu sama lain. Tersirat kerinduan yang teramat mendalam dari keduanya. Sentuhan yang selalu diinginkannya.


Antonio pun melepaskan pegangan tangan itu, lalu mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.


"Boleh, boleh kau boleh memanggilku daddy." dengan mengecup kening gadis kecilnya.


"Mau kemana memangnya? ini sudah malam?" tanya Antonio dengan sok kenalnya.


"Mau membeli makanan untuk makan malam daddy," jawabnya dengan menghambur memeluknya.


Mereka pun berjalan beriringan dengan rengekan-rengekan anak kecil seusinya. Dan ternyata disebrang sana ada seseorang Yang tengah memperhatikan gerak gerik mereka.


"Mungkinkah itu anaknya?"


***


Like nya yah, maksa nih aku 🙏😂


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2