Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 95. Prerjuangan Willy part2.


__ADS_3

Tidak terasa Willy telah satu bulan menginap di kediaman Ananda. Banyak sekali perjuangan yang Willy lakukan disetiap harinya. Kelakuan calon mama mertua kadang membuat tubuhnya semakin remuk seperti tidak bertulang.


"Jika aku tidak melihat dirimu, aku sudah mundur dari kemarin nak." Willy mengecup pipi Alwi dengan sayang.


Ya kini Willy tengah dikamar Alwi, seperti biasanya sang jagoan buah dari pemaksaan nya ingin ditemani sebelum tidur. Tentu saja Willy tidak akan menolak.


Alwi sudah tertidur pulas, dengan perlahan Willy keluar dari kamar Alwi. Didepan kamar Alwi, El tengah melihat kedekatan keduanya.


"Sudah bobo Al kak?" tanya El.


"Sudah El," jawab Willy.


Ima menghampiri kala mereka tengah berbicara. Ima semakin geram, mereka semakin dekat. Tentu saja membuat Ima kalang kabut takut keduanya sama-sama berjuang. Yang ada dia tidak akan bisa memisahkan mereka.


"Bukan mahram kalian, ngapain berbicara berduaan. Ingat ketiganya setan. Tapi ingat jangan bilang itu saya, saya hanya mengingatkan takut kejadian waktu itu dilakukan lagi," kelakar Ima.


"Maafkan saya nyonya. Percayalah itu tidak sengaja, dan semuanya dibawah kesadaran saya," jawab Willy membela diri.


"Omong kosong!! Anda kira saya bodoh?! Carilah alasan yang lebih realistis dan berbobot," sungut Ima.


"Sudah cukup mah, Alwi sudah tidur. Nanti dia bangun lagi karena kita ribut didepan kamarnya," sambung El.


"Sudahlah El, jangan kau selalu lindungi lelaki tidak bertanggung jawab seperti dia. Mana ada lelaki yang dibilang baik, disaat wanitanya tengah berbadan dua dia sama sekali tidak ada itikad ingin menikahi," cerca Ima.


'Yaampun mama, aku menutupi semuanya. Mama malah membongkarnya dihadapan kakak,' batin El.


"Tapi saya tidak tahu, bahwa waktu itu El tengah mengandung nyonya. Tolong untuk kali ini percaya pada saya. Saya sama sekali tidak berbohong," ucap Willy lagi.


"Ya saya akan percaya," lontar Ima.


Dengan bernapas lega Willy merasa bahagia. Akhirnya calon mama mertuanya bisa memaafkan dirinya. Dengan menatap El penuh haru dengan sejuta kerinduan yang terlihat dimata Willy.


"Jangan senang dulu, ada syaratnya. Kamu harus pergi dari rumah saya. Baru saya akan percaya."


"Sampai kapan pun saya tidak akan pergi nyonya. Saya akan tetap disini untuk anak saya. Tolong jangan pisahkan kami," mohon Willy.


"Apa katamu bilang," hardik Ima.

__ADS_1


"Jangan pisahkan. Kamu sudah tidak waras? Kamu yang meninggalkan anak saya dalam keadaan tengah mengandung. Dan berani-beraninya kamu berbicara seperti itu!!"


Plakkk


Tamparan meluncur dipipi Willy, ia hanya meringis memegangi pipinya yang terasa panas akan tamparan Ima. El sudah menasihati namun semua percuma. Ibunya keras kepala.


"Mah sudah mah, jangan seperti ini,' sahut El.


'Aduh papa kemana sih enggak ada,' batin El.


"Sekarang juga keluar kamu dari rumahku, aku tidak mau melihat wajahmu. Lelaki cemen dan tidak bertanggung jawab," cerca Ima.


"Maafkan saya nyonya, saya tidak akan pergi. Saya mencintai anak dan cucu nyonya," sahut Willy.


"Dasar muka tebal, kayak tembok. Enggak punya malu kamu." Ima mendorong-dorong bahu Willy sampai Willy terhuyung dan terjerembab jatuh.


Ima berlalu pergi, sedangkan El membantu Willy yang akan berdiri. Ia juga memapah Willy kedalam kamar Alwi. Ia juga mendudukan Willy ditepian ranjang.


"Saya tidak apa-apa kok, kamu bisa kembali ke kamar mu. Ini sudah malam, kalau mama mu tahu nanti kita dimarahi lagi," saran Willy.


Wajahnya yang terlihat khawatir itu, sedikit menandakan kalau Willy mungkin sedikit berarti untuk kehidupannya. Sampai sini Willy hanya dapat menduga-duga dengan perasaan El.


Semoga bumi dan alam semesta meridoi bahwa mereka pantas untuk bersatu. Biarlah untuk saat ini sakit. Mungkin suatu saat nanti akan menjadi kenyataan berbuah manis seperti pribahasa, berakit-rakit dahulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.


'Semoga hatimu semakin lama semakin mengkhawatirkan aku, supaya kamu bisa menempatkan hatimu untukku,' batin Willy.


***


Waktu adzan baru saja terdengar berkumandang. Namun sepagi ini dia sudah mendapat kemarahan Ima. Burung-burung saja belum berkicau untuk menyambut pagi ini. Namun Ima lebih dulu membuat kicauan untuk Willy.


Willy diseret paksa keluar dari kamar Alwi dengan kasar, "Siapa yang ngizinin kamu untuk tidur dikamar cucu saya?" hardik Ima.


Willy hanya mengerjapkan matanya, ia belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya. Beberapa detik akhirnya ia tersadar.


"Maaf nyonya, saya lancang," sahut Willy.


"Tamu gak diundang, tapi seenaknya saja kamu tidur sesuka hatimu. Memangnya ini rumahmu," sungut Ima.

__ADS_1


Papa Ananda pun keluar kamar karena kebisingan yang terjadi dilantai atas. Ia berlari tergopoh-gopoh untuk melihat. Setelah sampai ia hanya bisa mengelus dada. Ima masih belum bisa memaafkan Willy.


Ia berjalan mendekati Ima. Tanpa berbicara sepatah katapun. Ia hanya mengelus bahu Ima.


"Ini tuh kerjaan kamu yah pah, lihat tuh tamu kamu gak ada sopan santunnya. Seenak jidat tidur dikamar cucu kita,"


"Memang kenapa? Toh biasanya juga Willy selalu tidur dikamar Alwi. Terus salahnya dimana sih mah?" tanya Ananda.


"Itu dulu sekarang enggak. Awas kamu kalau tidur disini lagi. Saya akan paksa kamu untuk pergi dari rumah saya," sungut Ima.


El pun keluar kamar, untuk melihat pertengkaran yang terjadi, "Mah, sudah dong. Kenapa selalu mempermasalahkan hal sepele sih," sambung El.


"Iya El, mama mu ini selalu saja marah-marah. Enggak sadar kalo umurnya udah tua. Gimana coba kalau dia terkena serangan jantung El? Punya mama baru enggak apa El?" lontar Ananda.


"Kurang ajar kamu." Ima memukul dada Ananda.


"Memangnya kamu masih muda. Enggak ingat umur. Kamu juga udah tua,"


Ananda mengisyaratkan agar keduanya untuk turun kebawah. Willy dan El pun mengendap-endap turun. Setelah Ima berbalik ingin memarahi lagi Willy ia sudah tidak ada lagi bersamanya.


"Ini pasti kerjaan papa, aneh banget lelaki macam itu dibela terus. Kaya enggak, apanya yang perlu dibanggakan. Mama tetap akan menjodohkan El dan Galih."


"Papa enggak setuju, kamu sudah tahu kan mah kalo Galih sudah bertunangan," lontar Ananda.


Ima tidak menjawab lagi lontaran Ananda, ia turun kelantai satu untuk mencari Willy. Mulutnya belum puas untuk memarahi Willy. Ia kesana-kemari mencari sosok Willy. Ima juga bertanya pada pelayan dirumahnya.


Setelah mengetahui El dan Willy dimana ia langsung menghampiri keduanya.


"El kamu enggak pernah mendengarkan lagi mama. Kamu selalu melanggar apa yang mama tidak sukai. Kamu mau jadi anak durhaka?" sungut Ima. Kemarahannya belum mereda.


El hanya menunduk tidak mampu menjawab lontaran sang mama. Ia tahu ia salah, tapi bagaimana pun yang salah harus dibenarkan makanya ia melakukan hal ini. Willy mencekal jemari El untuk menguatkan. Willy juga menundukkan kepalanya.


Saat ini ia juga tidak menjawab lagi tudingan yang diberikan oleh Ima. Setelah Ima melihat keduanya berpegangan dengan kasar Ima menarik paksa tangan El agar pegangan mereka terlepas.


"Tidak tahu diri pegang-pegang anak saya dihadapan saya,"


***

__ADS_1


__ADS_2