
El dan keluarganya sudah pulang kerumah, Aurelia dan Nuri tidak bisa ikut bersama mereka. Sang Mama mertua, masih rindu terhadap keduanya. Setelah sampai kerumahnya El langsung kekamarnya. Alwi tidak mau mengikuti El, dia masih merajuk.
El tengah gelisah didalam kamar seorang diri, bertanya-tanya dengan perasaan berkecamuk. Apakah secara tidak sengaja Alwi mendengar? Atau, apakah Papa-nya memberi tahu kan Alwi bahwa sesungguhnya...
Ia beberapakali menghembus nafas perlahan. Sebelum ia pulang ia mendengar lontaran Nuri dan Alwi. Perkataan Nuri, dan Alwi masih terngiang-ngiang hingga sekarang.
"Mom, kata tuan Alwi, aku ini anaknya Daddy Anton,"
"Kata Kakek, berarti Daddy-nya Alwi Daddy Wil,"
'Benarkah, semuanya harus mengetahui? Aku belum siap membuat Mama-ku menangis karna anaknya korban asusila' Batin El.
Dia terus saja melamun, memikirkan harus bagaimana agar anaknya tidak berpikiran seperti itu? Dia pun jadi teringat sang Papa. El baru menyadari, bahwa Alwi mengetahuinya dari Ananda.
Semakin gelisah dirinya. Apakah Papa-nya tahu? El langsung berjingkat dan berlari untuk mencari sosok Papa-nya. Sampai dia terpeleset karna tergesa-gesa.
"Awwww," teriak El dan memegangi bokongnya.
"Yaaloh, saking paniknya sampai tidak melihat yang akan kupijak. Sungguh... duniamu mengalihkan pikiran warasku," gerutu El.
El terus saja menggerutu. Karna perkataan Alwi yang mengatakan bahwa Daddy-nya adalah Willy. Sungguh itu membuat El mati rasa.
"Sakit ini yaampun,"
Mama Ima keluar kamar dan melihat El yang sedang sempoyongan dengan tangan di pinggang sebelahnya. Dan El terlihat berjalan berjingkat seperti menahan sakit. Ima pun menghampiri dan memapah El untuk duduk disofa.
"Habis jatuh ya? Sakit?" tanya Mama Ima dengan tertawa.
"Kamu pasti lari-lari. Ngejar apaan sih? Ngejar layangan, yang putus dan nyangkut dipohon?" ledek Mama Ima.
"Mama, aku cari Papa," rengeknya pada sang Mama karna Ima terus saja menertawakan tingkah El.
"Dikamar, sedang tidur. Cucu-ku sedang merajuk padamu, pasti tidak mau lepas dari kakeknya," ucap Mama Ima.
***
__ADS_1
"Tuan Alwi? Lalu kata tuan Alwi dia tahu dari siapa nak?" tanya Aurelia.
"Dari kakeknya mom, mom kan Daddy-ku sudah meninggal. Kok bisa jadi Daddy-ku tuan Antonio dan kata tuan Alwi Daddy-nya tuan Willy. Aku jadi bingung loh mom,"
Aurelia hanya melamun. Harus bagaimana dia menjawab semua pertanyaan dari Nuri. Dia tahu, lambat laun Nuri pun akan mengetahuinya. Harus bagaimana dia menceritakan, agar anak perempuannya mengerti.
Sekarang Nuri sudah kelas 5 SD, pasti anak itu akan memahami. Harus dari mana dia memulainya! Nuri melambaikan tangannya diwajah Aurelia. Dia sedikit kesal karna mommy-nya, malah melamun dan menghiraukan pertanyaannya. Aurelia pun tersadar.
"Eh, sayang maaf mommy malah melamun," ucap Aurelia dengan mengusap lembut bahu Nuri.
"Cucu nenek, sayang... Nenek mau bicara dengan ibu-mu. Nenek pinjam dulu yah?"
Nuri mengangguk. Lastri dan Aurelia pun bergegas pergi. Aurelia bingung, ada apakah sang mertua membawa dia kekamarnya?
Setelah sampai dikamar, Lastri mempersilahkan Aurelia untuk duduk.
"Kamu mau tahu, mengapa Mama membawamu kesini? Jarang sekali bukan Mama membawa-mu kekamar mama?!" tanya Lastri. Aurelia hanya mengangguk pelan.
"Mama tahu, siapa Ayah dari anakmu!"
Deg!!!
Aurelia langsung menundukan kepalanya. Ia tidak bermaksud menipu sang Mama mertua. Dia tidak tahu saja, bahwa lelaki yang telah menikahinya memberi tahukan semua yang terjadi pada Aurelia.
Hingga ibu dari sang lelaki, yang sangat baik itu, merestui. Awalnya dia tidak menerima jika anaknya hanya menjadi kambing hitam untuk menutupi kebusukan calon pasangan yang ia bawa.
Setelah anak semata wayangnya menceritakan segalanya, akhirnya dia mengerti.
"Minta maaf untuk?" tanya Lastri.
"Aku telah berbohong bahwa dia adalah anak dari mas Akhtar,"
Lastri mendekat dan mendudukan bokongnya disamping Rely, wanita itu hanya tersenyum menanggapi. Tentu saja dia tahu segalanya. Anaknya mempunyai kelainan yang divonis lemah syahwat.
Ketika dia mengetahui wanita yang akan dinikahinya tengah mengandung pun dia sempat tidak merestui. Meskipun anaknya tidak bisa membuat dia mempunyai cucu. Setelah anaknya menceritakan bahwa wanita yang akan ia nikahi adalah korban asusila.
__ADS_1
Lastri merestui, sampai saat ini pun ia menganggap Nuri cucu kandungnya. Dipegangmya wajah Aurelia. rely mendongak menatap mama mertuanya. Mama mertua yang masih menganggapnya meskipun sang suami telah tiada.
"Anak Mama, mempunyai penyakit impotensi sayang, bukankah selama ini dia tidak pernah menyentuhmu?" tanya lastri.
Rely membelalak, dan menganga. Mengapa sang suami tidak berterus terang. Sampai dia tengah malam memakai lingeria hanya untuk menggoda suaminya. Dia mencoba untuk menyerahkan seluruh hidupnya beserta hatinya untuk sang suami. Namun Akhtar sama sekali tidak tergoda. Akhirnya Rely mengerti mengapa Akhtar tidak pernah menggaulinya.
Kecelakaan yang mengakibatkan suami Rely harus meregang nyawa, karna tidak berkonsentrasi. Dia sudah melakukan berbagai cara untuk menyembuhkan penyakit yang ia derita karna tercipa dari sebuah defresi. Aurelia menggeleng belum percaya.
"Maafkan kami yang telah membohongimu ya nak, ia hanya tidak ingin kamu pergi. Sampai nafasnya berhenti," tutur Lastri lirih.
Ia berdiri dan membuka lemari, membawa sebuah buku. Buku itu seperti dairy, catatan kehidupan seseorang yang ditulis hanya untuk dirinya sendiri. Lastri memberikannya pada Rely.
"Ini punya siapa Mah?" tanya Rely bingung.
"Baca saja nanti, dan resapi setiap untaian kata yang dituliskan oleh anak Mama," tutur Lastri.
Lastri menunduk dan menjatuhkan buliran air mata, yang tidak bisa ia bendung menyangkut sang buah hati membuatnya teriris. Setelah kepergiannya yang lebih dulu meninggalkannya memberikan kesan yang sangat membuat hatinya tergores.
"Apakah kamu akan kembali kepada Ayah Nuri? Dan melupakan Ibu nak?" tanya Lastri dengan ketir.
Rely menoleh, "Mama merestui jika kalian bersatu kembali. Tapi mama mohon jangan sampai melupakan Mama dan pengorbanan Akhtar anakku," sahutnya lagi dengan lirih.
Dibalik pintu sosok anak kecil sedari tadi sedang mendengarkan. Netra pendengarannya tidak luput dari perbincangan keduanya. Dia bahagia karna ternyata sosok Ayah masih ada. Dia pun bingung sendiri.
Mengapa bisa begitu?! Ayah yang sejak kecil merawatnya telah berpulang ketempat Alloh, sebagaimana yang sudah digariskan. Bahwa makhluk hidup akan meninggal.
'Daddy Akhtar, aku tidak mengerti! Kamu sudah meninggalkan ku dan bahkan aku melihat Daddy dikubur dan tidak bernyawa. Mengapa Mommy dan Nenek bilang bahwa Daddy-ku tuan Antonio.' Gumam Nuri.
Nuri pun pergi kekamarnya, sebelum Aurelia tahu bahwa dia menguping pembicaraaan keduanya. Nuri teringat kenangan bersama pria yang tak lain adalah hanya Ayah angkat.
Mengingatnya membuat air matanya tidak bisa ia tahan, hingga akhirnya dia menangis, dan membawa sebuah bingkai potret lelaki, yang telah merawatnya dari bayi.
"Daddy aku rindu padamu," ucap nya lirih. Hingga akhirnya Nuri bergegas keluar kamar.
Setelah Aurelia selesai berbincang dengan Mama mertuanya, dia kekamar Nuri dan mencari keberadaannya. Dia mencari kesetiap ruangan. Anak itu tidak ia temukan didalam rumah.
__ADS_1
"Nuri sayang kamu dimana,"
***