
Ananda menghembus napas berat. Ia juga menatap El dahulu. Setelah itu ia minum dulu untuk mengusir rasa gugupnya. Ananda bingung, harus dari mana ia akan menjelaskannya pada El.
Ananda malah melamaun dihadapan El, "Malah melamun sih pah, bukannya dijelaskan," ujar El.
El lantas berjalan dan duduk bersebelahan dengan sang papa. Ia juga sudah membujuk habis-habisan agar papanya dapat mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Papa bingung harus menjelaskan dari mana nak," jawab Ananda dengan lesu.
"Memang kenapa?" tanya El.
"Mama-mu sudah tahu bahwa Alwi adalah anak Willy. Mama juga sudah tahu kamu korban ...," jawab Ananda tidak mampu melanjutkan ucapannya.
El sejenak mencelos, ada rasa malu menjalari. Kedua orang tuanya mengetahui perihal itu. Ia semakin cemas bahwa mama Ima akan membatalkam perjodohan ini. Bagaimana dengan Alwi.
El hanya memikirkan perasaan Alwi. Tiada hal yang penting selain anak tampannya.
"Papa, mama sudah tahu semuanya," ucap El.
El tertunduk dihadap Ananda. Ia juga bersujud dikaki Ananda memohon ampun dan meminta maaf atas kebodohan dan kecerobohannya. Ia malu karena jauh dari keluarganya ia malah tidak bisa menjaga harga dirinya.
Ananda hanya mendengarkan semua curahan hati El yang selama ini ia simpan seorang diri.
"Maafin El papa, El lalai menjaga diri sendiri. Maaf El pah sudah membuat papa terjerumus dalam dosa." El menangis tersedu-sedu.
Ananda sampai tidak mampu menjawab lontaran El. Ia hanya mengelus pucuk kepala El.
"Semua sudah terjadi nak, asalkan kamu jangan mengulang lagi kesalahan yang sama," jawab Ananda.
Ananda pun membangunkan El, agar anaknya tidak bersimpuh terus. Meskipun ia tidak terima tetapi apalah daya. Semua sudah terjadi. Ima yang melihat dari kejauhan semakin tersakiti. Status sang anak yang korban, sungguh membuatnya tidak ingin melihat laki-laki itu.
Ima juga sudah mantap bahwa ia akan menjauhkan Alwi dari Willy. Ima lantas kembali kekamarnya. Ia membawa gawai dan menghubungi seseorang.
📞 "Ada apa nyonya?" tanya seseorang diseberang sana.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya.
"Eh, Assalamu'alaikum nyonya," sapanya lagi.
"Ada apa nyonya?" tanya Galih.
__ADS_1
"Bisa bertemu, nanti alamatnya saya kirim," ucap Ima.
"Iya nyonya, Assalamu'alaikum,"
📞 "Wa'alaikumsalam,"
Setelah panggilan selesai, Ima mengirimkan pesan singkat pada Galih. Ima mengendap-ngendap agar El dan Ananda tidak mengetahui ia keluar rumah. Dengan langkah cepat Ima pun keluar gerbang, ia meminta security rumahnya untuk memberhentikan taksi.
Meskipun security rumahnya menyarankan agar sang nyonya memakai mobil pribadinya, tetapi lagi-lagi Ima menolak. Hingga akhirnya security pun menuruti keingianan sang nyonya.
Ima kini sudah menaiki taksi, untuk menuju tempat bertemunya ia dengam Galih. Ia sudah tidak sabar ingin menjodohkan orang lain untuk El. Ia tidak mau sampai Willy menjadi menantunya. Sungguh lelaki tidak bertanggung jawab.
Ima pun keluar taksi, ia melihat Galih melambaikan tangannya. Ima lantas berjalan menghampiri Galih. Ima menyeret kursinya lalu ia mendudukan bokongnya.
"Ada apa nyonya?" tanya Galih.
Ia lebih memilih bertanya duluan. Dari pada ia harus menunggu Ima untuk berucap. Galih terlalu kepo akan maksud sang nyonya mengajaknya ketemuan apalagi kini sudah malam hari. Meskipun waktu masih menunjukan pukul delapan malam.
"Mungkin kamu punya beberapa kenalan laki-laki yang baik, dan bertanggung jawab," jawab Ima.
"Untuk siapa nyonya?" tanya Galih, ia semakin penasaran. Tidak biasanya lagi-lagi keinginan nyonyanya diluar nalar.
"Un-untuk nona muda?" jelas Galih lagi dengan gugup. Galih tidak mengerti mengapa sang nyonya secepat itu berubah pikiran. Setelah kemarin ia yang paling antusias dalam perjodohan ini.
"Iya, saya tidak mau lelaki itu menikahi anak saya. Dia lelaki tidak bertanggung jawab. Kamu tidak mengetahui kelakuan buruknya? Dia membuat anak saya berbadan dua tapi tidak mau menikahi anak saya," jelas Ima.
'Nyonya tahu semuanya, yaampun tahu dari mana dia,' batin Galih.
"Saya minta data-datanya untuk dua hari kedepan. Jika tidak ada yang cocok dengan data yang kamu berikan... Saya mau kamu yang menjadi menantu saya. Dan putuskan saja pertunanganmu dengan kekasihmu," ungkap Ima lagi. Ia langsung pergi dari hadapan Galih.
Sebelum Galih memprotes akan lontaran sang nyonya ia sudah kehilangan nyonyanya. Ia sudah pergi dari hadapan Galih. Setelah membawa dua bungkus coffee Galih pun pergi dari cafe.
Galih terus saja memukul stir kemudi berkali-kali. Pikirannya melayang, bagaimana jika sang nyonya tidak cocok dengan semua yang Galih berikan. Ia tidak mungkin bisa menikahi nonanya. Ia sudah menganggap El seperti adiknya sendiri. Bagaimana bisa ia menikahinya.
"Argghhh."
***
Dengan langkah gontai Willy memasuki rumah dengan lemas. Ia terasa tidak bersemangat untuk hidup. Setelah mendapat prilaku Ima yang tidak biasanya.
__ADS_1
"Nak," panggil Imam.
Willy menoleh, keadaannya sudah berantakan. Terlihat dari wajahnya yang kusam. Tidak ada rona berseri-seri seperti dulu. Disaat Alwi sudah menemani hari-harinya. Apalagi kemarin mereka sempat liburan bersama-sama.
"Iya pah," jawab Willy.
Imam memapah Willy untuk berjalan kekamarnya. Setelah dikamarnya Imam mendudukan Willy ditepian ranjang.
"Kenapa nak?" tanya Imam.
"Pah, nyonya Ima berbeda dari biasanya. Bahkan security bilang bahwa aku tidak boleh lagi menemui Alwi."
"Sebenarnya, nyonya Ima sudah mengetahui segalanya nak. Bersabarlah, jika kamu benar-benar mencintainya buktikan pada nyonya." Imam pun keluar kamar Willy.
"Argggghhhh." Willy melempar bantal kedinding.
Willy berjalan dan ia memukul beberapa kali dinding kamarnya sampai tangannya berdarah.
"Kenapa harus semua orang mengetahuinya, lalu siapakah Alwi. Jika tidak ada hubungannya denganku nyonya Ima tidak akan melakukan hal seperti ini," gumam Willy.
Willy pun mencari gawai untuk menelpon seseorang. Ia sudah mencari kesana kemari namun tidak menemukannya. Ia pun turun kebawah untuk mencari gawainya. Ia menuju mobil untuk membawanya.
"Wil," sapa Antonio.
Willy pun menoleh, "Kemari, biar kubersihkan lukamu." Antonio membawa Willy duduk dianakan tangga.
"Paman, bagaimana dengan wanitamu?" tanya Willy.
"Mereka dihotel, karena Nuri ingin bertemu dengan Alwi."
Antonio menceritakan semuanya pada Willy. Karena sudah libur sekolah jadi Nuri ingin menghabiskan masa liburannya dengan Alwi. Antonio juga menjelaskan bahwa mereka sementara tidur dihotel yang sudah dipesankan Antonio.
"Paman, sebenarnya Alwi siapa? Apakah ada kaitannya denganku sampai nyonya Ima mencari tahu semua yang aku lakukan. Sampai kejadian malam itu ...,"
Antonio masih bersikap santai atas semua yang dicurahkan Willy. Ia masih membersihkan luka Willy karena takut infeksi. Setelah diteteskan dengan betadine dan juga diperban Antonio pun beranjak dari duduknya dan menyimpan kotak P3K itu.
Willy terus saja membuntuti Antonio. Ia ingin penjelasan yang rinci dari sang paman. Karena ia yakin pamannya tahu segalanya. Willy pun juga yakin bahwa pamannya telah mengetahui kejadian malam itu.
"Mungkin sekarang sudah saatnya kamu tahu Wil,"
__ADS_1
***