
Setelah waktu kesalah pahaman terjadi diacara pertuangan Antonio, El dan Willy kini menjadi semakin merenggang. Bukan tanpa alasan Willy sedikit menjaga jarak, ia takut ancaman Ima dilakukan.
Tetapi jauh didasar lubuk hatinya ia sangat ingin memperjuangkan cintanya. Rasa Willy terhadap El begitu dalam, rasanya ia ingin menjadikan El Ratu didalam hidupnya. Penguasa seluruh hidupnya adalah El. Meskipun Willy tahu bahwa El tidak mencintainya. Namun Alwi adalah alasan untuk ia tidak menolak perjodohan itu.
'Apa yang harus aku lakukan untuk saat ini. Maju apa mundur?' batin Willy.
Seperti biasanya Willy tidak lagi pulang kerumah, ia lebih memilih untuk menginap dikantornya. Hari-harinya diisi dengan pikiran berkecamuk antara berjuang dan mundur, terus saja Willy mempertimbangkan.
Malam ini pun Imam penasaran dengan Willy. Sedikit khawatir, karena sang anak selalu mencari alasan jika pekerjaan banyak dan tidak bisa ditinggalkan. Perusahaan sebesar Ananda saja tidak mengharuskan Antonio untuk lembur bekerja.
Antonio dan Imam hanya bisa menatap prihatin melihat kegelisahan yang terlihat pada Willy. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyemangati dan memberi saran agar Willy bisa lebih bergerak cepat untuk mengambil hati Ima, yang kini menjadi boomerang.
Mereka berdua saling mengangguk dan akhirnya masuk kedalam, "Ada apa paman, papa? Tumben kemari?" tanya Willy.
"Memangnya kita tidak boleh berkunjung?" tanya Imam.
"Bukan begitu juga!" jawab Willy.
Ia pun berjalan menuju sofa. Ia sedikit melengkungkan senyuman agar mereka tidak curiga bahwa ia sedang menyimpan sejuta keresahan. Biarlah dia yang hanya mengetahuinya. Jangan sampai keluarganya tahu.
"Berhentilah untuk berpura-pura semua baik-baik saja. Tidak akan ada kesedihan jika masalah tidak menimpa hidupmu. Tidak akan ada kebahagian jika kamu tidak ingin berjuang," ucap seseorang yang berada di ambang pintu.
Mereka bertiga pun mengalihkan penglihatan menuju pintu. Rasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Satu-satunya orang yang mendukung penuh untuk Willy bisa bersama El. Menentang dan tidak terima dengan keputusan sang istri.
Ia bersama asistennya berjalan beriringan menuju kedalam, "Berjuanglah tuan, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Seperti tuan Antonio yang telah berhasil mendapatkan Cinta masa lalunya," ucap asisten itu.
Willy hanya tersenyum, namun tanpa jawaban. Bukan tidak ingin memperjuangkan, tetapi situasinya sungguh tidak memungkinkan untuk ia bersama.
"Jangan memikirkan istriku, tenang saja pesan singkat itu tidak akan terjadi!" sahut Ananda.
__ADS_1
Ya lelaki itu adalah Ananda, ia telah mengetahui segala sesuatu yang istrinya lakukan termasuk pesan singkat yang ia kirimkan untuk Willy. Willy hanya terdiam seribu bahasa.
Ia salah tingkah, karena terlalu cemen untuk tidak berjuang. Lalu jika masalahnya menyangkut keluarga apa masih harus tetap berjuang. Jawaban sudah Ananda lontarkan.
"Sampai kapan kamu hanya akan merenungi? Hanya berdiam diri disini tanpa usaha. El tidak akan menjadi milikmu. Apa mau Galih yang menggantikan daddy Alwi?" tanya Ananda.
"Mungkin dia akan berjuang jika pernikahan mereka sampai terjadi. Dia mau jadi perebut bini orang mungkin tuan," sahut Antonio memberi sindirin.
"Ya kalau cuma melamun, berkhayal mereka disampingmu kapan semuanya akan menjadi kenyataan," sambung Imam.
Sindiran terus saja terucap dari mereka. Mereka ingin Willy sudah memulai perjuangan itu. Hanya meratapi saja tentu badai tidak akan cepat berlalu. Yang ada hanya masalah baru akan bermunculan.
"Tapi tuan, apa saya pantas bersanding dengan putri anda?" tanya Willy.
"Ayolah Wil, jangan membuang waktumu yang akan semakin mengulur waktu. Tentu saja tuan Ananda merestui kalian, makanya ia ingin kalian bersatu," sahut Antonio.
"Aku akan memperjuangkan El," jawab Willy.
"Tenang saja, istriku saat ini tidak akan bisa mengancammu kembali. Semua fasilitasnya sudah saya bekukan. Tentu saja dia tidak akan bisa lagi membayar orang untuk mencari tahu apa yang kamu lakukan," lontar Ananda.
"Terimakasih tuan, untuk dukungan ini. Saya sungguh tidak bisa berkata-kata apa lagi untuk mengungkapkan rasa bahagia saya," sahut Willy.
"Panggilah papa. Kamu akan menjadi calon mantuku," lontar Ananda.
Ia merentangkan kedua tangannya, Willy hanya menatap sang papa. Tentu saja Imam menganggukan kepala karena ia pun sama mendukung semua yang akan anaknya lakukan. Meskipun kini ia tersakiti, tapi dihari kemudian pasti akan kebahagian yang anaknya dapatkan.
Willy berjalan mendekat kearah Ananda. Ia pun memeluk Ananda dengan haru. Matanya hanya berembun, namun tidak sampai menjatuhkan air matanya. Willy tidak mau terlihat lemah dihadapan sang calon mertua.
"Kesana saja, dan tinggalah dirumah belakang. Bukan aku merendahkanmu, aku hanya ingin kamu bisa lebih dekat dengan cucu dan anakku,"
__ADS_1
"Meskipun nanti istriku berbuat ketus dan tidak mau kamu ada di tengah-kami," jelas Ananda.
"Sudah meluknya?! Ayok cepat kita kerumah saya supaya kamu lebih cepat berjuang, kalo terus disini kapan berjungnya." Willy pun melepaskan pelukannya.
"Terimakasih tuan," ucap Willy.
Willy lantas menghampiri papanya, "Pah, minta restu. Do'akan Willy supaya usaha Willy tidak sia-sia," cicit Willy dengan lirih.
Imam hanya memeluk Willy dengan erat. Lelaki paruh baya itu hanya bisa mengiyakan dengan keputusan Willy. Ia juga mendukung atas segala apa yang akan anaknya lakukan.
Merekapun beriringan untuk keluar dari kantor. Imam sudah memberi tahukan bahwa pakaian Willy akan dikirimkan. Imam dan Antonio lebih dulu pergi berpamitan. Sedangkan Willy menunggu mobil yang Imam tumpangi tidak terlihat orang penglihatannya.
Ananda menepuk bahu Willy, "Siapkan mental, dan buatlah urat malu mu putus dan menjadi muka tembok. Ini demi cucuku," ucap Ananda lagi. Lelaki itu tidak henti-hentinya menyemangati Willy.
"Iya tuan, tolong jangan menyerah. Saya sudah bertunangan bagaimana nasib saya jika harus menikahi nona yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri," sambung Galih.
Willy mengangguk, ia sedikit terkejut dengan apa yang Galih bicarakan.
"Saya akan memperjuangkannya tu-papa, dan kamu Galih tenang saja semua tidak akan terjadi. Alwi adalah anakku," setelah Willy mengucapkan kata itu.
Ia langsung bersujud dikaki Ananda. Meminta maaf untuk perlakuannya yang kurang baik pada dan menghancurkan masa depan El. Ananda sudah memberikan maaf pada Willy. Bagaimanapun mereka sudah berjasa mengurus anaknya.
"Anggap sebagai bonus, dapat anakku yang cantik," ucap Ananda.
Mereka bertiga pun memasuki mobil. Dan melajukan kuda besinya untuk sesegera mungkin agar dapat sampai lebih cepat dirumah Ananda.
Disepanjang perjalanan Willy hanya memikirkan kemarahan dan mungkin keterkejutan Ima. Ia pun memikirkan bagaimana murkanya calon mama mertuanya. Seperti kemarin karena Willy tidak meminta izin membawa Alwi pergi.
Setelah sampai didepan rumah Ananda mereka bertiga pun keluar dari mobilnya. Willy mengendari seorang diri, sedangkan Ananda bersama Galih.
__ADS_1
"Semangat berjuang tuan, ganbate,"
***