
Akhirnya mereka memutuskan untuk menjodohkan keduanya. Tidak ada pilihan lain. Mereka harus bersatu, apapun alasannya. Setelah kesepakatan itu terjadi lantas Imam bergegas keluar dari ruang kerja Ananda.
Hatinya bahagia, akhirnya anaknya akan bahagia dengan dambatan hatinya. Meskipun pernikahan ini akan terkesan dipaksa.
Ananda pun keluar dengan perasaan lega. Tidak penting dengan kabar miring, yang terpenting anaknya bahagia mempunyai Imam yang mungkin akan bertanggung jawab penuh atas putrinya. Ananda juga yakin bahwa ini adalah keputusan yang benar.
"Kayaknya bahagia banget ya pah?" tanya Ima.
Ima bergelayut manja dilengan suaminya. Meskipun rasanya ia ingin mengintrogasi sang suami. Perihal kata Alwi, tetapi semua tidak semudah itu. Tidak akan berjalan mulus, yang ada hanya perdebatan yang akan terjadi.
"Iya, kita harus menjodohkan Willy dan El mah. Mama setuju bukan dengan keputusan papa?" tanya Ananda.
Ima nampak berfikir, keingin tahuan tentang siapa ayah kandungnya Alwi membuat Ima ragu-ragu mengucapkan kata iya. Ia melihat kearah suaminya lalu memalingkan lagi tatapannya. Ananda hanya mengernyit melihat kelakuan Ima.
"Tapi jangan bulan sekarang pah, tunggu dua bulan lagi bagaimana?" pinta Ima. Ia juga mengangkat tangannya hingga jari jemarinya membentuk huruf 'V'.
"Kenapa?" tanya Ananda keheranan.
"Enggak kenapa-kenapa." Ananda mengangguk. Ia sengaja mengiyakan ucapan istrinya. Jika tidak istrinya akan mengomel tanpa henti.
Ananda juga sempat berfikir sang istri terasa berbeda. Atau mungkin hanya perasaannya. Ia hanya dapat menduga-duga.
***
Sebulan berlalu namun hasilnya tetap tidak memuaskan. Hingga detik-detik hari perjodohan akan datang. Ima sampai kalang kabut dibuatnya. Ia beberapa kali meminta sang detektif untuk mendapatkan informasi lebih dalam lagi.
Tetapi waktu yang diminta sang detektif berjarak satu bulan lagi. Apalagi perjodohan itu pun akan terjadi satu bulan lagi. Ima hanya berdo'a semoga disaat semuanya belum terjadi, ia telah mengetahui segalanya.
Kini Ima dan Ananda tengah berkumpul seperti biasa. Untuk kali ini minus Willy. Ia terlalu sibuk, sampai hampir satu bulan tidak mengunjungi Alwi. Dan akhirnya El yang harus menemani Alwi kekantor Willy.
"Al, sayang...," sapa Ananda. Ia kecupi kening Alwi, dan menjilatinya.
"KAKEK!" teriak Alwi. Alwi langsung mengusap air liur yang menempel di keningnya dengan punggung tangannya. Alwi juga menghirup aroma-aroma yang tidak sedap dipunggung tangannya.
"Nenek, ini bau, oeek." Alwi seketika akan muntah, ia langsung membasuh tangannya dengan sabun dan ditemani El.
__ADS_1
"Pah, kamu kebiasaan. Isengin cucu sendiri. Kasihan sampai mau muntah Alwi,"
"Iya nih papa," sahut El.
"Kakek, jorok ih." Alwi sampai bergidik, "Baunya kayak air comberan," keluh Alwi.
El kembali duduk, namun Alwi masih berdiri enggan untuk duduk kembali. Ananda hanya tertawa mendengar keluhan anak, istri dan cucunya. Kapan lagi dia bisa menggoda cucunya. Dulu El tidak bisa ia rawat. Dan sekarang Alwi hadir ditengah-tengah mereka. Tentu saja Ananda akan melimpahkan segalanya pada sang cucu.
"Sudah jangan ngambek, kakek beri hadiah deh kalo Alwi maafin kakek." Ananda berdiri dan berjalan menuju Alwi. Ia langsung berbinar-binar. Disaat tadi dirayu tidak ada pergerakan ditubuhnya. Ia hanya bersedekap dan membelakangi Ananda.
"Apa dulu kek?" tanyanya masih terlihat mesem, dan mengeluarkan tatapan tajamnya. Ananda pun menempelkan kembali bibirnya ditelinga Alwi.
Alwi langsung menjauh dari tubuh Ananda, ia takut kalau Ananda akan menciuminya lagi. Ananda pun melambaikan tangannya dan berjanji tidak akan melakukan hal tadi lagi. Alwi pun mendekat lagi kearah Ananda.
"Kalo Willy jadi daddy beneran Alwi mau enggak?" bisik Ananda ditelinga sang cucu.
Alwi langsung tersenyum merekah. Tangannya yang bersedekap kini ia bertepuk tangan. Dan melompat-lompat.
Ima membelai rambut El yang bergerai. Ia juga menatap Alwi dengan rasa bahagia. Mempunyai anak semata wayang yang cantik, dan cucu yang begitu tampan. Sungguh membuat hidupnya sangat bahagia. Apalagi di keadaan yang serba kecukupan.
"Mom, kok teh Nuri enggak disini lagi? Enggak tinggal dirumah kita lagi?" tanya Alwi. Ia pun menghampiri kedua wanita yang sangat cantik yaitu, aibu dan neneknya.
"Kan sudah dijelaskan," jawab El.
"Neneknya teh Nuri dikampung enggak ada yang rawat. Jadi teh Nurinya enggak bisa lagi tinggal disini. Kalo Alwi kangen, kita bisa kesana sayang," seru El.
"Tapi nanti kalo ngasih undangan, biar gak bulak-balik," sambung Ima.
"Iya mah," jawab El.
Dia masih belum menyadari, arti dari perbincangan barusan. Ia masih sibuk dengan camilan yang berada ditengah-tengah mereka. Seketika El menyadari.
Ia pun minum dahulu, lalu menyudahi memakan camilannya. El juga meminta Ananda dan juga Ima menjelaskan undangan apa yang dimaksudkan mereka. Keduanya hanya tersenyum, Alwi juga tersenyum. El semakin bingung dibuatnya.
"Pernikahan kamu nak," seloroh papa Ananda.
__ADS_1
El langsung berdiri dari duduknya dan menggebrak meja. El refleks melakukannya. Mereka bertiga hanya mengelus dada karna kaget.
"Maaf aku terkejut," ucapnya dan menghempaskan kembali bokongnya untuk terduduk.
El memandangi papa mamanya, sorot matanya penuh pertanyaan, "Kalian dijodohkan," seru papa Ananda.
El kembali berdiri namun tanpa menggebrak meja. Ia berjalan menuju kulkas untuk membawa air dingin, supaya perasaannya dingin. Dan emosinya meredam.
El pun mendekat lagi kearah perkumpulan keluarganya. Dengan menengguk dahulu air minum yang ia bawa, dan menghempaskan kembali bokongnya untuk duduk.
"Dijodohkan? Maksudnya apa pah, mah. Sama siapa? Perasaan aku enggak dekat sama laki-laki manapun?" tanya El bingung.
"Mommy kok bilang gitu, kan mommu selalu dekat dengan daddy Alwi," jawab Alwi.
Kini tatapan El menatap Alwi. El menautkan halisnya.
"Daddy Wil maksud kamu Al?" tanya El.
"Yes, benar mom." Alwi mengacungkan jempolnya.
"Pah jelasin dong," gertak El. Ia sudah tidak mengerti pokok pembicaraan ini.
"Ya kalian dijodohkan. Jadi, tidak ada penolakan karna ini perintah. Tidak boleh ada penolakan," tegas Ananda.
"Enggak bisa begitu pah, El masih ingin sendiri. Aku juga masih bisa mendidik Alwi. Biarkan aku menikmati masa jandaku. Aku tidak mau gagal lagi sepertiĀ pernikahan sebelumnya,"
"Apalagi kak Willy udah punya pacar, gimana perasaannya kak Putri, kala dia tahu ini semua. Bicarakan lagi baik buruknya mah, pah. Lihatlah dari kedua belah pihak. Jangan hanya memandang sepihak. Kalo papa lihatnya aku pasti bahagia. Apapun itu aku pasti akan bahagia yang terpenting kebahagiaan Alwi,"
"Tetapi jika pernikahan ini terjadi, akan ada orang yang tersakiti. Aku tidak mau berbahagia diatas penderitaan orang---"
"Saya tidak akan keberatan," potong Putri.
Putri memang serumah dengan mereka. Tapi dia tidak ingin diam dirumah utama. Dia meminta tinggal dirumah belakang. Dia berbaur bersama pelayan disana. Akan lebih baik disana.
Jika Putri disana ia tidak perlu meminta izin jika keluar. Dan kali ini ia masuk kerumah utama. Pembahasan mereka tentang perjodohan, ia sudah tahu pasti nona mudanya akan menolak. Meskipun anak tercintanya sudah dekat dengan Willy.
__ADS_1
"Tapi kak ...,"
***