Salah Menikah

Salah Menikah
69. Candaan Imam membuat Antonio galau.


__ADS_3

Kini Willy telah pulang kerumahnya, Alwi sudah sehat. Dan tentunya untuk apa masih berada disana, hanya membuat malu. Willy memasuki rumah dengan sebelah tangannya memegang pelipisnya.


Papa Imam menghentikan Willy, kala mereka berpapasan.


"Sudah pulang? Cape yah jadi Daddy dadakan?" ejek Papa Imam. Berniat hanya menggoda sang anak.


"Apakah masih yakin ingin menikahi janda?" tanya Imam lagi.


Willy menoleh, "Rasanya kok nikmat banget ya Pah? Rasanya tubuh Willy ini terasa linu disetiap sendi," ujar Willy.


"Memangnya kamu, dikasih jatah," tanya Papa Imam antusias.


"Jatah apa sih paman? Willy main anu-anu kah kamu?" sambung Antonio ikut menimpali.


"Eh, kalian berdua ini bikin aku darah tinggi!"


"Eh, orang nanya itu dijawab. Bukan malah pergi." Antonio memegang tangan Willy.


Willy ditahan pergi, alhasil kini mereka tengah duduk bertiga diruang keluarga.


"Apa sih paman, papa. Jangan gila deh, tidak mungkin juga aku melakukan hal yang tidak terpuji," Bela Willy tidak terima.


Willy sedikit kesal dengan lontaran sang papa dan pamannya. Bisa-bisanya berpikiran negatif seperti itu. Willy memutar bola mata jengah pada keduanya.


Antonio dan Imam tertawa. Karna mereka berhasil membuat Willy marah. Willy akan pergi dari sana. Namun, lagi-lagi Antonio menahannya. Willy sudah pengang menjadi bahan candaan dari keduanya.


"Jangan cuma menertawakan, kisahmu lebih rumit dibanding diriku. Sudah dapat restu?"


"Ya mungkin, sangat mudah mendapatkan restu dari Mamanya. Tapi bukankah itu tidak menjamin, bahwa wanita itu mau kembali lagi padamu," ujar Willy.


Sontak saja membuat Antonio terdian dari tawanya. Sedangkan papa Imam, ia sedang memikirkan kata-kata untuk mengejek keponakannya.


"Eh tunggu! Jika dipikir... Kisah kalian sama yah? Sama-sama mengerjar cinta. Namun sang wanita tidak menerima."


"Tidak apa paman, setidaknya aku ada teman. Kita sama-sama sedang memperjuangkan," sahut Antonio.


Kini papa Imam mengejek keduanya. Imam terlihat tertawa termehek-mehek, membuat Willy dan Antonio berpikir keras untuk membuat dia terdiam dari tawanya.


"Ya masih mending. Dari pada jomblo abadi," ucap Willy.


Kini Willy dan Antonio yang terlihat tertawa. Lontaran Willy membuat lelaki paruh baya itu tidak bisa berbicara lagi untuk mngejek keduanya.


Tetapi raut murung yang terpancar, membuat Willy merasa bersalah. Pasalnya pasti sang papa telah teringat sang ibu yang telah pergi.


"Papa, maaf Willy tidak bermaksud,"


"Memangnya kenapa dengan Papa?" tanya Willy.


"Papa hanya memikirkan, nasib kalian yang cape-cape sedang berjuang. Tapi diakhir cerita, dia dipinang orang. Auto nangis darah, patah hati masal deh kalian," ucap Imam mengejek lagi.

__ADS_1


"Sesama jomblo kok meledek sih pah,"


"Papa juga mau nikah kok, dalam waktu dekat,"


"Sama siapa pah?"


"Sama siapa paman?"


Tanya keduanya bersamaan. Sontak saja membuat Imam semakin ingin jungkir balik tertawa. Ia sudah melihat raut wajah sang anak dan keponakan itu terlihat antusias menunggu jawabannya.


Keduanya memandang Imam, dengan tatapan berbinar-binar. Agar pertanyaannya segera dijawab. Alih-alih dijawab, Imam semakin mempermainkan keduanya.


Imam minum, terus makan. Dan kedua saudara itu masih menunggu jawaban. Dengan tangan dilipatkan diatas meja. Bak murid SD yang sedang dinilai gurunya duduk rapi, agar cepat pulang.


Imam pun memperhatikan keduanya, ia tatap keduanya bergantian. Menghembus nafas secara perlahan dan membuangnya.


"Sama bu Lastri," ucap Imam dan langsung pergi berlari terbirit-birit dari hadapan keduanya.


Supaya dia tidak mendapat amukan masal dari keduanya. Mereka belum sadar sepenuhnya. Hingga mereka berdua mengulang kata Imam.


"Bu Lastri?"


Keduanya masih mematung, mencerna lagi jawaban dari Imam. Setelah mereka sadar, mereka pun berteriak.


"PAMAN!!"


"PAPA!!"


Ia tetap saja bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Willy akan beranjak dari duduknya. Tapi lagi-lagi Antonio menahannya. Willy mendudukan kembali bokongnya dikursi.


Lantas Willy menoleh kearah Antonio, tatapan Willy mengisyaratkan untuk Antonio segera mengucapkan apa maksud dirinya menahan Willy pergi.


"Sudah lama, kita tidak berbincang Wil?" tanya Antonio.


"Lalu?" jawab Willy irit.


Ia masih enggan untuk berbicara pada Antonio. Malas, hanya itu yang Willy kini tengah rasakan. Rasa sakitnya dahulu bersarang dibenaknya.


Tidak mudah untuk melupakan, Antonio kini sedang memikirkan untuk percakapan mereka. Memulai lagi berbincang dengan Willy, supaya jalinan persaudaraan mereka tidak renggang seperti ini.


"Tidak inginkah kamu meminta bantuan paman, untuk mendapatkan hati El?" tanya Antonio.


"Tidak perlu paman, aku sudah mendapat banyak dukungan," jawab Willy.


"Mmm, kamu tahu sama bu Lastri?"


"Paman sudah amnesia? Kau lupa aku juga datang bersamamu, menemui mereka dikampung wanita itu,"


"Tentu saja aku tahu bu Lastri siapa!"

__ADS_1


'Eh, aku salah nanya. Saking inginnya aku dekat lagi dengan keponakanku.' Batin Antonio.


'Sebenarnya aku tidak membencimu, aku hanya masih kesal. Kau berbicara seolah aku tidak bertanggung jawab,' batin Willy.


"Paman, sepertinya aku keatas saja. Aku sedikit pusing, beberapa hari kemarin aku tidak tidur dengan benar. Karna merawat Alwi, apalagi akupun bekerja. Semakin pusing kepalaku rasanya ingin pecah," sahut Willy panjang lebar.


"Iya beristirahatlah, supaya cepat sembuh," jawab Antonio.


***


Setelah beberapa hari berlalu akhirnya Willy dan Antonio bisa lagi sedekat dulu. Antonio tidak henti-hentinya mendekatkan dirinya pada Willy. Ia juga merasa bersalah, atas prilakunya yang tidak bisa menjaga perasaan Willy.


Willy sempat sakit selama tiga hari. Kesempatan itulah yang diimanfaatkam Antonio. Kini keduanya telah akrab kembali. Tanpa adanya rasa kebencian.


Antonio kini tengah berada didalam kamar Willy, mereka duduk dan menyandarkan punggung mereka dipunggung ranjang.


"Wil, apakah benar paman akan menikahi bu Lastri?" tanya Antonio.


"Entah, kalo benar bagaimana? Paman tidak bisa menikahi Aurelia lah, masa iya mau nikahin anak dari bu Lastri, nanti dia jadi keponakanmu," jawab Willy.


Willy ingin sekali tertawa. Melihat galaunya Antonio ketika ia berbicara bahwa Aurelia akan jadi keponakannya.


"Tapikan tidak sedarah Wil, tentu saja masih bisa aku nikahi,"


"Apa kata orang paman, kalo kamu menikahinya,"


Dibalik pintu yang tidak terkunci, Imam tengah mendengarkan percakapan dua saudara itu.


Ia pun mendorong pintu itu agar terbuka, Antonio dan Willy langsung menoleh, kearah pintu yang terbuka. Imam berjalan menghampiri keduanya.


"Ciee, galau nih?"


Keduanya langsung melengos, melihat kearah lain. Mungkin mereka tengah kecewa dengan lontaran Imam kemarin.


"Ngambek nih," sahut Imam.


Ia mulai berdiri, dan akan pergi dari kamar Willy, "Paman bercanda," lontarnya dan Imam pun keluar dari kamar Willy.


Willy dan Antonio pun menoleh kearah Imam, tapi mereka tidak melihat sosoknya ditepian ranjang. Akhirnya, keduanya berlari keluar kamar untuk mengejar Imam.


Mereka menuruni tangga dengan tergesa-gesa agar sesegera mungkin untuk bertemu Imam. Alih-alih ingin secepatnya bertemu, mereka malah bingung mencari sosok Imam.


Imam pun dilantai atas dan sedang melihat keduanya, yang terlihat ngos-ngosan.


"Lagi cari siapa?" teriak Imam dari lantai atas.


"Papa,"


"Paman,"

__ADS_1


Dengan kekuatan super seperti Super Dede, mereka langsung berlari lagi keatas menghampiri Imam, keduanya memeluk Imam dengan penuh kasih sayang.


***


__ADS_2