Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 60 Semoga Keluargamu Diberi Kebahagiaan Sepanjang Masa.


__ADS_3

Kini pagi telah menjelang, malam gelap telah terlewati begitu saja tanpa terasa. Kicauan burung nampak riang, dibeberapa pohon. Hawa dingin menyeruak hingga menembus pakaian yang mereka kenakan.


Ketika keduanya menghirhp udara sungguh masih sangat terasa dingin. Mereka pun mengedarkan pandangannya.


"Mom, masih sejuk. Rasanya aku ingin keluar melihat pekarangannya," ucap Nuri.


Mereka kini tidak diikat lagi setelah semalam perdebatan sengit diantara kedua penjahat dan juga orang dari dalang penculikan ini.


Semalam ia murka, lalu kedua penjaga itu memberi tahukan bahwa mereka membuka pengikat supaya mereka makan, bukan bermaksud membuat mereka kabur.


"Jangan nak, tunggu sampai tuan Alwi kemari yah. Takut orang semalam mengira kita akan kabur," jawab Aurelia sedikit cemas.


Beberapa jam berlalu mereka menunggu. Akhirnya kebisingan datang dari luar, membuat Aurelia dan Nuri berdiri dari duduknya dan melihat kearah luar.


Nuri terlihat bahagia seorang anak balita akan datang untuk mebawa mereka pergi dari tempat itu. Mereka keluar mobil dan berjalan beriringan memasuki gudang itu.


"Teh Nuri," panggil Alwi.


Lelaki kecil itu langsung menghambur untuk memeluk Nuri, akhirnya Ananda menyuruh mereka untuk mengantarkan Aurelia dan Nuri. Alwi nampak kegirangan, karna akhirnya dia bisa bersama-sama lagi dengan orang yang telah ia anggap sebagai kakaknya.


Alwi, Nuri, Ima, dan juga El akhirnya pergi dahulu, mereka mengantarkan Aurelia kekampung halamannya. Sedangkan papa Ananda tetap masih berada disana menunggu orang yang akan mereka kasih pelajaran. Pelajaran berharga yang mungkin akan membuat dia jera.


Ceklek... Terdengar pintu dibuka. Menampilkan sosok yang selama ini Ananda cari, bersama dengan kedua penjaganya. Lelaki itu terlihat emosi karna tawanannya pergi. Hingga dia pun tercengang karna dihadapannya ada Ananda.


Tapi dia merasa bangga karna Ananda seorang diri. Dan dia bersama beberapa orang untuk menjaganya. Terlihat senyum licik itu melengkung, dan ia berjalan mendekati Ananda.


"Tidak apa mereka pergi. Asalkan kamu disini, berarti melepaskan emas dan mendapatkan berlian," ucapnya dengan tertawa.


Ananda tidak menjawab lontarannya, lalu lelaki itu memerintahkan penjaganya untuk mengikat Ananda dan masukkan kedalam mobil, lalu mobilnya hempaskan kejurang.


Penjaga itu hanya berjalan mendekati Ananda dan kini mereka malah berdiri disamping kiri dan kanan Ananda.


"Hey, apa-apaan kalian," hardik lelaki itu pada kedua penjaganya.


"Kenapa? Mereka pengawal setiaku. Tidak mungkin mereka mau membantu rencana licikmu itu," jawab Ananda masih bersikap santai.


"Kurang ajar," omelnya dengan membawa pist*l dan mengarahkannya pada Ananda.

__ADS_1


"Sekarang kau harus keneraka, dan seluruh kekayaanmu menjadi milikku," ucapnya dengan tertawa.


Namun seketika itu ia sedikit aneh ketika pist*l itu akan ditembakkan ternyata sama sekali tidak ada peluru.


"Sialan," umpatnya dengan membuang pistol itu dan berjalan mendekat pada Ananda.


Ananda masih betah dengan posisi awalnya. Dia masih melihat gelagat mantan pagawainnya yang terlihat bodoh itu. Tangannya terangkat dan akan mencekik Ananda. Dari balik tembok keluar lah Galih dari tempat persembunyiannya.


"Tuan, hentikanlah akan sia-sia. Dan tenagamu juga akan terbuang sia-sia lagi. Nikmati hidupmu yang sekarang," ucap Galih.


Para pengawal langsung mencekal tangan lelaki itu dan mengikatnya, "Sialan kalian, lepaskan,"


"Kamu bodoh percaya pada pengawalku, tentu saja mereka tidak akan pernah tergiur dengan uang yang mungkin tidak setengahnya dariku," lontar Ananda.


"Ya, kamu kalah saat ini tuan Dian Kusuma. Jadi berhentilah untuk memberontak," ucap Galih sedikit mengejek.


"Sombong sekali, cih," ucap lelaki itu meludahi Ananda.


Ananda hanya tersenyum menanggapi. Tak menyangka jika mantan pegawainya begitu picik. Galih pun dengan sigap memberikan sapu tangan yang selalu ia bawa dikantung celananya. Pemberian dari pujaan hatinya.


"Ingat ya kamu tidak akan bisa kabur. Apalagi ketika kamu sudah berada ketempat awalmu, yaitu ditempat mantan menantuku,"


"Permisi tuan,"


Lelaki itu yang tak lain adalah orang yang bersekongkol dengan Dian. Tapi mereka memihak pada musuh Dian. Dian hanya terlonjat kaget, orang suruhannya lah ternyata dalang dibalik dia tertangkapnya. Dan akhirnya dia tahu siapa yang menyelamatkan Antonio kemarin.


"Kalian, kurang ajar sekali. Telah berbuat seperti ini pada saya, saya akan menghukum kalian. Dan ingat saya lebih kaya Raya dibanding tuan Ananda," ucapnya dengan tertawa.


"Kalian akan saya balas, dan kalian akan mati ditanganku," ucap Dian.


Lelaki itu terus saja meracau bagai orang gila. Seketika itu pula Ananda merasa iba. Tapi rasa iba itu harus ia tepis, demi ketentraman keluarganya. Ananda tidak ingin sampai orang itu mencelakai kembali keluarganya.


"Bawa dia ketempat kemarin, saya sudah pengang mendengar racauan nya yang tidak berarti itu,"


Ananda menaiki mobilnya untuk pergi dari tempat itu bersama Galih dan dua pengawal. Sedangkan kedua pengawal yang baru datang membawa Dian menuju tempat awal ia disekap. Sepanjang perjalanan ia hanya meracau dan menyebut dirinya kaya raya.


Kedua pengawal itu hanya tersenyum miris melihat keadaan orang yang sempat menjadi bosnya. Sampai seperti itu karna orang berambisi dengan kekayaan dan bahkan bukan haknya.

__ADS_1


(Tidak untuk ditiru, ambil hikmahnya bahwa sesuatu yang kamu gapai belum tentu milikmu)


***


Aurelia dan keluarga El telah sampai dikampung halaman Aurelia. Alwi dan Nuri sudah terlelap karna perjalanan yang cukup jauh membuat keduanya tertidur karna kelelahan.


Seorang wanita yang sudah lansia, berdiri didepan rumah. Dengan Antusiasnya wanita itu menunggu, apakah benar yang terparkir didepan rumahnya dan penghuni mobil adalah cucu kesayangannya.


Ketika Aurelia menginjakan kakinya, wanita itu langsung memeluk Aurelia. Ia nampak kaget dipeluk secara mendadak. Akhirnya Aurelia pun membalas pelukan sang wanita.


"Mana Nuri nak?" tanya wanita itu.


"Didalam mah, sebentar ya aku gendong dulu. Nuri-nya tidur," ucap Aurelia pada mama-nya.


"Oalah, tidur toh. Mungkin dia lelah karna perjalanan jauh ya nak? Maafkan mama karna merepotkanmu, jika bukan kalian yang berkunjung siapa lagi... Anakku sudah tidak akan berkunjung lagi," ucapnya lirih.


"Mama jangan seperti itu ya, maafkan aku karna sudah lama tidak mengunjungimu."


Mereka pun akhirnya berpelukan kembali, mengingat bahwa suami dari Aurelia telah meninggal dunia. El juga merasakan sedih, akhirnya El menyuruh supirnya untuk membopong kedua anaknya. Yaitu Alwi dan juga Nuri.


Sangat sakit hati wanita itu, ketika Aurelia tidak berkunjung, dan tidak pulang-pulang. Anak semata wayangnya telah pergi, meninggalkan dunia, tentu saja wanita itu sangat menyayangi Nuri. Meskipun dia bukan cucu kandungnya. Anaknya begitu Cinta pada anak itu, tentu saja dirinya juga akan menyayangi seperti putra-nya.


"Maaf aku mengganggu, anak-anak sudah berada didalam," ucap El dengan sopan.


Keduanya pun tersadar bahwa mereka tidak hanya berdua. Aurelia baru teringat bahwa dirinya tidak hanya berdua dengan anaknya, tetapi datang bersama keluarga El.


"Ma-maafkan saya nona, mari masuk. Mah, ini sahabatnya Rely yang sering aku ceritakan sama mama, dia juga yang telah membantuku dalam segala hal," Kata Aurelia menjelaskan.


"Kamu cantik nak, baik hati lagi. Semoga keluargamu diberi kebahagiaan sepanjang masa," jawab mama Aurelia.


"Aamiin bu,"


"Ini siapa nak? Ibu-mu? Pantas saja anaknya cantik, ibu-nya pun juga cantik," puji mama Aurelia.


"Berlebihan mba, nama mba siapa?" tanya mama Ima menimpali.


"Saya Lastri,"

__ADS_1


***


__ADS_2