
Disebuah rumah yang berada dikampung.
Tetesan air mata terus saja mengalir deras. Ia tidak henti-hentinya menyeka air matanya, yang terus menetes. Pilu... Itulah yang dirasakannya saat ini. Mengingat mendiang almarhum suaminya.
Dibukanya, lembar demi lembar sebuah buku dairy yang terlihat kotor diepenuhi debu. Ia tidak mengetahui jika sang suami selalu menulis buku catatan harian. Setelah kepergian sang suami yang bertahun-tahun lamanya, ia baru mengetahuinya. Setelah sang mama mertua memberikannya.
Aurelia langsung teringat kala ia mutuskan harus pergi. Karna sang paman tidak merestui, ia tidak tahu menahu alasannya apa.
Jika kamu membaca buku ini, pasti aku telah tiada. Maafkan aku telah banyak membohongi selama ini. Kuharap kamu akan mengerti, dan memaafkan aku. Lanjutkan kehidupanmu. Dan berbahagia lah dengan laki-laki yang kamu cintai.
Aku menyayangi kalian.
Isi lembar terakhir yang ada didalam buku dairy tersebut. Ia semakin sakit, tidak bisa lagi ia ekspresikan seperti apa, kala ia bersedih tidak ada bahu untuknya bersandar.
"Kenapa perpisahan ini harus terjadi mas? Dikala batu nisan yang menjadi jurang perpisahan kita. Rasanya akupun ingin menyusulmu,"
"Sangat sakit ketika terpisah karna maut memisahkan,"
Pintu terbuka, menampilkan sosok mama mertua yang sangat baik hati.
"Tidak boleh begitu, harus semangat demi putrimu! Kalau kamu tiada, siapa yang akan merawatnya?" tanya Lastri sembari menasihati.
Aurelia masih belum ingin menyahuti lontaran sang mama. Ia masih larut dalam kesedihan. Sampai tangisannya berhenti karna ia mendengar suara yang amat ia paling hindari.
"Mah, itu ...,"
"Iya, Daddy nya Nuri!"
Lantas wanita paruh baya itu keluar. Aurelia masih ingin didalam kamarnya. Ia nampak kalut untuk menutupi mata sembabnya.
Ia memoles wajahnya dengan make-up. Setelah lama berjibaku untuk menutipi wajahnya, akhirnya ia langsung keluar kamar.
"Mom, daddy datang,"
Dengan riangnya Nuri memberi tahukan Aurelia. Ia langsung menggandeng tangan sang mommy untuk duduk ditengah-tengah Antonio.
Nuri meletakkan tangan Antonio, Aurelia dan juga tangan dia di paling atas. Ia mencekalnya dengan erat supaya perpagutan tangan mereka tidak terlepas. Sesekali Nuri menatap keduanya secara bergantian.
"Daddy dan mommy lagi marahan?" tanya Nuri polos.
"Hah?!" ucap keduanya terkejut bersamaan.
__ADS_1
Lastri hanya tersenyum melihat dari seberang. Rasanya akan membuat mereka semakin canggung, jika ia berada ditengah-tengah mereka.
Ketika tatapan Nuri dan Lastri bertemu. Lastri melambaikan tangannya agar Nuri datang padanya. Lastri pun menempelkan jari telujuknya kearah bibir agar Antonio dan Aurelia tidak mengetahui.
Nuri mengerti isyarat yang diberikan sang nenek. Lantas ia meninggalkan mereka berdua. Setelah sampai didepat Lastri.
"Kenapa nek?" tanya Nuri penasaran.
"Biarkan mommy dan daddy berbicara berdua ya? Supaya mereka tidak marahan lagi. Cucu nenek yang cantik ini mau kan mommy dan daddynya baikan lagi?"
"Mau nek," jawab Nuri gembira.
Akhirnya Nuri pun mengikuti Lastri masuk kedalam kamar.
***
Perpagutan tangan keduanya masih belum terlepas. Kepergian Nuri pun belum mereka sadari. Sampai begitukah ketika rasa rindu menyelimuti keduanya. Tapi ego dan gengsi yang tinggi.
Padahal Nuri ditengah-tengah mereka. Ia sempat melepaskan dahulu cekalan tangan mereka. Agar ia bisa pergi. Setelah Nuri berdiri ia lantas mengarahkan tangan keduanya agar berpegangan kembali.
Lastri keluar kamar dan memperhatikan mereka, tetapi mereka tidak menyadari. Keduanya menatap kearah bawah dengan menunduk. Sibuk dengan dunianya masing-masing.
Ketika Aurelia menyadari bahwa Nuri tidak ada lagi ditengah-tengah mereka. Aurelia pun menoleh, dengan terkejut ia melepaskan cekalan Antonio. Karena cekalan Antonio sangat erat. Ia pun tidak bisa melepaskannya.
Antonio terkesiap, iapun melepaskan cekalan tangannya.
"Kamu... Memanggilku mas?" jawab Antonio berbinar-binar.
'Aduh... Kenapa harus keceplosan segala sih!' batin Aurelia.
"Maaf, aku ralat. Maksudku tuan Antonio," jawab Aurelia dengan dingin.
"Ada apa kemari?" tanya Rely.
Aurelia tidak menatap kearah Antonio ketika ia bertanya. Terlihat sekali ia begitu risih dengan kehadirannya. Antonio juga menyadari, bahwa keberadaannya tidak diharapkan.
Tapi ia sudah bertekad, bagaimanapun ia harus mendapatkan Aurelia. Sudah begitu lama ia mencari. Dan tidak semudah itu ia melepaskannya. Meskipun kedua status mereka janda dan duda.
"Jangan ketus begitu, aku dulu bagian dari kisah bahagiamu," lontar Antonio memecah keheningan.
"Itukan dulu, berbeda dengan sekarang. Jangan disamakan, tentu saja semuanya tidak akan sama."
__ADS_1
Tapi aku ingin, semuanya seperti dulu lagi," Pinta Antonio.
"Sudah kubilang, tidak akan sama! Mengerti tidak sih kamu. Hentikan omong kosong itu, aku tidak lagi mencintaimu. Aku membencimu." hardik Aurelia.
Terlihat dada Aurelia naik turun karena ngos-ngosan. Ia tersulut emosi. Antonio masih berdiam diri tempatnya. Ia saat ini tidak menjawab lontaran Aurelia. Setelah ia mendengar nafas Aurelia teratur, iapun memegang bahunya agar mereka bisa beradu pandang.
"Lepas tidak!!"
"Ia aku akan melepaskannya, tetapi kali ini saja lihat mataku," pinta Antonio.
"Untuk apa, tidak ada gunanya!"
Antonio pun mencekal kembali bahu Aurelia, semakin erat agar Aurelia bisa berhadapam dengannya. Ia meringis, akhirnya Aurelia pun memandang Antonio.
Beberapa menit mereka beradu pandang, hingga akhirnya Aurelia mengalihkan tatapannya kesamping. Antonio dapat membaca tatapan Aurelia.
Sorot matanya masih menyimpan rasa rindu, yang ia simpan. Antonio juga merasakan bahwa wanita itu masih mencintainya.
"Izinkan aku," ucap Antonio.
Ia memegang jemari tangan Aurelia dengan lembut.
"Apa sih, lepaskan. Bicara ya bicara tapi... Tidak usah pegang-pegang juga,"
"Iya, maafkan aku." Antonio pun melepaskan tangannya dari jemari Aurelia.
"Aku akan tetap memperjuangkan cinta kita. Aku tahu kamu masih mencintaiku, akupun sama masih mencintaimu. Bahkan rasa ini masih seperti dulu tidak pernah berubah."Antonio lantas berdiri.
Ia memanggil bu Lastri, setelah bu Lastri datang. Ia berpamitan. Antonio pun pergi untuk kepulang.
Aurelia berdiri setelah Antonio pergi bahkan ia tidak mengantarkan tamu itu kedepan pinti utama. Ia akan terus memberi pernyataan bahwa ia membenci. Meskipun nyatanya ia mencintai.
"Jangan jual mahal. Nanti nikah lagi sama orang, menyesal," sindir bu Lastri sebelum ia memasuki kamarnya.
Aurelia tidak menghiraukan sindiran dari sang mama mertua. Ia langsung kedalam kamarnya. Setelah berada didalam ia pun langsung menghempaskan badannya keranjang dengan kasar.
Ia mengingat-ngingat lagi sewaktu Antonio memegang tangannya. Ia usap tangannya menghirup tangannya, seolah ia sedang memeluk tangan Antonio.
"Aku memang masih mencintaimu, tapi apa tanggapan orang tua nona. Jika aku secepat ini menikah denganmu. Mereka pasti mengira bahwa aku menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kalian,"
"Kenapa harus selalu dihadapkan dengan keadaan yang sangat membingungkan."
__ADS_1
Aurelia pun memegang dadanya. Sakit kembali yang ia rasakan. Karena ia terlalu banyak berhutang budi pada keluarga El.
***