
Hallo pembaca "SANG PELAKOR" karena banyak yang ingin tahu siapa sih yang memerankan tokoh Revand dan Sherlin dalam benak Author, ya udah episode kali ini author kabulin permintaan. Ini imajinasi author ya, kalian bebas berimajinasi sendiri kalau ga sreg😂
Nah ini untuk tokoh Revand versi author ya 😊
Kalo yang ini tokoh Sherlin versi author, untuk tokoh yang lain next menyusul, sekarang kita lanjut episode berikutnya.
SELAMAT MEMBACA😊
- MENYATU DALAM CINTA
Â
Setelah sampai dihotel tempat mereka menginap, Revand yang sedari tadi berusaha untuk menahan godaan Gisella segera keluar dari mobil, dan tanpa menghiraukan Gisella, pria tersebut segera melesat masuk kedalam hotel. Hal ini membuat Gisella kesal. Berulang kali memanggilnya untuk berjalan bersama, tapi Revand mengabaikan nya. Sudah cukup. Revand benar benar dipuncak menahan kesabaran nya.
Â
Ketika telah sampai dan masuk kedalam kamar yang mereka sewa, Revand mendapati istrinya sedang terbaring diatas tempat tidur. Apakah wanita itu terlalu lama menunggu nya, hingga memilih untuk terlelap...? Revand mendekat. Dipandanginya wajah cantik istri nya yang sedang tertidur. Jemari nya terulur, menyentuh wajah itu dengan penuh sayang. Sentuhan Revand membuat Sherlin terjaga. Bibir Sherlin mengulas senyum ketika menyadari sang suami sudah kembali.
"Maaf ya. Aku tadinya cuma iseng aja baring. Kenapa jadi ketiduran. Tadi, aku mimpi kamu Vand, kamu, diganggu Gisella...."
Mendengar ucapan lirih istri nya, Revand merunduk. Sherlin dibuat terkejut ketika tau tau sang suami sudah mencium bibir nya begitu lembut. Bukannya merespon apa yang ia ucapkan tadi, justru melakukan hal itu. Sherlin sedikit curiga. Sebenarnya ada apa...? Tapi jika ia menolak ciuman suaminya berdosakah...?
Maaf kan aku Sherlin. Malaikat yang menjaga mu seperti nya tahu, apa yang sedang dilakukan Gisella tadi padaku. Hampir saja, wanita itu benar benar sudah membangkitkan gairah yang selama ini kutahan hanya padamu. Beruntung kami cepat sampai. Kalo tidak, aku nggak tahu apa yang terjadi padaku. Sekarang, aku ingin kamu yang jadi penawar rasa tak tertahankan ku ini Sherlin..
Tapi, maaf aku nggak bisa menceritakan kejadian terkutuk tadi...
Revand membatin sembari terus ******* dan memperdalam ciuman nya dengan penuh gairah. Sherlin tersengal. Ia benar benar tidak bisa mengimbangi ciuman panas suami nya tersebut. Ciuman ini berbeda, dari yang biasa ia terima. Yang ini begitu menuntut lebih. Seolah ingin membakar nya habis.
"Vand. Kamu nggak ganti baju kamu dulu..."
Setelah Revand beralih menciumi lehernya, Sherlin bicara demikian. Tentu saja dengan suara terbata bata, karena apa yang dilakukan suaminya membuat tubuhnya diserang berjuta perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan. Perasaan itu membuat dirinya melayang. Indah tapi mendebarkan. Revand tidak merespon kata kata istri nya. Ia justru semakin liar menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya dari balik piyama yang dikenakan sang istri. Mencium titik titik sensitif ditubuh Sherlin, hingga sang istri benar benar ikut terbakar gairah seperti nya. Revand perlu melakukan itu, agar sang istri tidak selalu memintanya menghentikan apa yang sedang ia perbuat sekarang.
Hingga Sherlin hanya bisa pasrah ketika, suaminya sudah melucuti satu demi satu pakaian yang ia kenakan. Bahkan ia juga tidak tahu. Sejak kapan suaminya juga sudah tidak memakai pakaian nya lagi. Ia terlalu larut dibuai sensasi yang diberikan Revand lewat ciuman dan sentuhan tangan pria tersebut dibagian bagian sensitif tubuhnya. Seluruh tubuh nya terasa tidak berhenti menjadi panas dingin. Terkadang Sherlin bahkan takut, Revand menyadari hal itu. Bukankah itu terlalu memalukan...? Terlihat sekali ia tidak pandai dalam urusan satu ini...
"Sherlin. Kamu ikhlaskan, memberikan apa yang kamu miliki itu untuk aku..."
Revand berbisik ditelinga sang istri dengan suara lembut.
"Aku ikhlas. Tapi, aku takut..."
Desah Sherlin dengan nafas memburu. Daritadi yang mendominasi permainan panas mereka hanya Revand. Sherlin tidak mengambil peran sama sekali. Ia terlalu bingung apa yang harus ia lakukan untuk mengimbangi apa yang dilakukan oleh sang suami. Sherlin takut, itu akan membuat Revand kecewa...
"Diam dan nikmati aja. Untuk sekarang kamu hanya perlu melakukan itu. Yang penting kamu ikhlas, karena aku nggak mau mengambil sesuatu yang nggak diikhlaskan oleh pemilik nya, karena aku mencintaimu Sherlin. Aku nggak mau memaksa mu untuk memberikan nya, karena itu sama aja memperkosa..!"
Mendengar kata kata yang diucapkan suaminya lagi lagi Sherlin terenyuh. Tidak semua pria bisa bersikap seperti Revand. Dalam keadaan tengah dimabuk gairah pun, pria ini masih sempat meminta izin segala pada nya. Sherlin merasa begitu sangat dihargai sebagai wanita.
"Kamu satu satunya pria yang paling aku izinkan untuk menyentuh ku Vand. Karena aku mencintaimu, dan kamu udah halal untuk melakukan itu, hanya aja. Maafkan aku, kalo aku terlalu pasif dalam hal ini, aku benar benar nggak tau harus gimana supaya bisa seimbang dengan apa yang kamu lakukan..."
Ucap Sherlin sembari membelai wajah suaminya. Senyum Revand merekah. Dibelainya juga wajah Sherlin yang memerah, antara rasa malu atau karena wanita itu terbakar gairah pula atas apa yang tadi ia lakukan.
"Aku udah bilang, cukup diam dan nikmati, suatu saat kamu juga bisa nakal padaku.."
Wajah Sherlin makin bersemu. Apalagi Revand kembali melanjutkan aktivitas nya seperti tadi, menyentuh bagian bagian sensitif nya, mencium nya, tidak lupa meninggal kan bekas kepemilikan disana. Begitu banyak. Hingga mau tidak mau Sherlin dibuat salah tingkah atas hal itu. Tapi Revand tidak peduli. Izin dari Sherlin sudah cukup membuat ia sudah bebas melakukan apa yang ia mau.
Hingga tiba saatnya, Revand melakukan bagian terpenting nya dalam ritme percintaan mereka malam ini. Sherlin semakin berdebar. Tegang membuat ia gelisah. Berbagai perasaan menyerbu nya, kesejukan AC dikamar mewah tersebut tidak mampu membuat Sherlin tidak mengeluarkan keringat. Sadar sang istri begitu tegang, Revand merunduk. ******* kembali bibir istrinya dengan penuh sayang, mencoba membuat Sherlin terbuai kembali. Agar ketegangan wanita itu sirna.
Apa yang dilakukan Revand berhasil. Sherlin terbuai kembali dengan perasaan indah mendebarkan yang hadir karena perlakuan lembut dan nakal Revand. Revand tidak melewatkan kesempatan itu. Milik nya sudah mengeras sejak tadi. Menuntut lebih. Mencari penyatuan.
"Vand, sakiiiit..."
Pekik Sherlin ketika ada yang keras menghujam bagian intimnya dibawah sana.
Jangan tegang Sherlin...
Suara Amel terngiang di telinga Sherlin. Wanita itu mencoba untuk rileks meskipun jujur, sekarang ia benar benar sangat tegang plus kesakitan.
Aku sering mendengar hal ini dari teman teman. Tapi aku nggak nyangka, rasanya bisa sesakit ini...
__ADS_1
Sherlin membatin. Tanpa ia sadari ia mencengkram kedua bahu Revand sedemikian kuat nya, untuk meredam rasa sakit yang masih ia rasakan dibawah sana.
Ya, Tuhan....kenapa belum sirna juga rasa sakitnya. ...
Sherlin memekik kembali dalam hati. Sadar sang istri terlihat begitu kesakitan, Revand merunduk. Dilumatnya lagi bibir sang istri sembari membuat gerakan lembut agar miliknya masuk sempurna dibawah sana. Tidak lupa jemari tangan Revand kembali bergerilya dibagian dada istrinya, ia ingin sang istri melupakan rasa sakit yang dirasakan nya, karena telah mengizinkannya untuk melakukan penyatuan tersebut. Dan cara Revand berhasil. Perlahan tapi pasti, ia merasa Sherlin tidak lagi terlihat sangat menderita menahan rasa sakit.
Wanita itu bahkan mendesis dengan sepasang mata setengah terpejam seolah terbuai dengan apa yang ia rasakan karna perbuatannya. Revand menarik nafas lega. Gairahnya memuncak lagi. Gerakan nya yang semula lembut kini semakin cepat. Seolah olah mengejar sesuatu yang ingin membuat dirinya puas.
Sherlin tidak bisa lagi mengungkapkan perasaan apa yang sekarang ia rasakan. Semua terlalu sulit untuk diungkapkan. Yang jelas ini memang pengalaman pertama nya melakukan hal semacam ini, yang mana selama ini, ia hanya mendengar dari cerita teman teman atau bahkan dari ibunya saja. Ternyata seperti ini rasanya. Indah, mendebarkan berbalut rasa sakit namun memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.
Tubuh keduanya terkulai tak bertenaga. Mereka mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Untuk sesaat, Sherlin tidak bisa bergerak sama sekali. Sekujur tubuhnya terasa ngilu. Terutama bagian kewanitaan nya. Ia bahkan melihat noda darah diseprai tempat tidur mereka. Ia sekarang benar benar sudah beralih dari seorang gadis menjadi seorang wanita.
Revand beringsut menghampiri tubuh istrinya. Diciumnya kening sang istri begitu lembut penuh sayang ..
"Makasih ya. Kamu menjaga dengan baik kehormatan kamu untuk ku. Aku benar benar beruntung mendapatkan kamu sayang..."
Ucap Revand dengan nada yang sangat tulus.
"Setidaknya ada hal yang kubanggakan dihadapan kamu Vand, hanya itu yang bisa aku berikan kekamu dibalik semua kekurangan ku..."
"Ssst....! Aku nggak suka kamu berkata begitu lagi. Buatku kamu wanita yang punya segudang daya tarik. Aku bangga punya istri seperti kamu..."
Sherlin menatap wajah tampan suami nya yang sedikit berkeringat.
"Maaf ya. Aku terlalu kaku. Buatku ini pengalaman pertama ku, jadi aku harap kamu nggak kecewa karena hal itu,"
"Ini juga pengalaman pertama ku sayang. Bukan cuma kamu, aku juga menjaga diriku untuk kamu. Untuk wanita yang jadi istri ku, jadi kita sama sama baru pertama kali melakukan nya. Menyatukan cinta kita yang sebenarnya, dalam ikatan yang sudah sah dan halal, itu jauh lebih nikmat, dibandingkan melakukan hal ini diluar nikah..."
Sherlin ingin merespon ucapan bijak suaminya. Akan tetapi bel didepan pintu kamar mereka berbunyi. Sherlin dan Revand saling pandang.
"Siapa yang datang malam malam begini....? Kamu pesan makanan...?"
Tanya Revand pada sang istri. Sherlin menggeleng. Ia ingin bangkit, untuk mengecek, tapi jujur saja untuk bergerak ia sedikit kesulitan. Tubuhnya masih terasa sangat nyeri dan ngilu.
"Biar aku yang cek. Kamu disini aja..!"
Revand menyambar celana nya dan memakai nya tergesa. Menutupi tubuh polos istrinya dengan selimut, lalu segera turun dari tempat tidur. Membawa langkah nya menuju pintu.
Revand tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya ketika ia membuka pintu, ternyata Gisella yang berdiri didepan pintu kamar mereka.
Orang yang mengetuk pintu yang memang Gisella itu meneliti penampilan semrawut Revand. Hanya memakai celana yang tadi dipakai nya saat rapat dengan klien bersama nya. Tanpa baju. Dan wanita itu bisa melihat ada goresan goresan merah menodai dada dan punggung pria tersebut menyerupai cakaran. Ulah Sherlin tadi ketika wanita itu menahan rasa sakit.
Celakanya, Revand lupa menyadari hal itu. Wajah Gisella spontan bete. Ia melihat kedalam, melihat istri Revand berada dalam selimut, yang seperti nya sedang tanpa pakaian.
Sial...! Aku ketinggalan. Pria perjakaku hilang. Harusnya aku datang cepat. Kupikir, pria ini basa basi dulu dengan sang istri saat kembali. Ternyata dia tipe hot juga. Langsung melakukan nya saat masuk kamar...! Brengsek...!
"Gisella, ada apa. ..!"
Revand mengulang pertanyaan nya. Heran dengan ekspresi wajah bete Gisella.
"Kamu abis ngapain...? Ternyata, direktur Revand tipe pria yang punya gairah besar juga ya, kamu berhutang denganku, karna, berkat aku,kamu jadi bergairah begitu, hingga kamu berhasrat menyentuh istrimu kan...!"
Rasa kesal membuat Gisella tidak bisa mengontrol ucapan nya. Paras Revand merah padam. Didorong nya Gisella dengan sangat memaksa. Ia tidak ingin Sherlin mendengar ucapan mesum wanita tersebut.
"Kembali ke kamarmu sekarang, jangan coba coba nggak sopan sama aku Gisella...!"
Bisik Revand tegas. Gisella tersenyum kecut.
"Direktur puas nggak...? Apa ini pengalaman pertama direktur yang berkesan...? Atau tadi itu, hanya direktur yang mendominasi semuanya...?"
Sialan. Ada apa dengan wanita ini...! Kenapa jadi berani sekali...!
Revand mengumpat dalam hati.
"Dengar Gisella, kalau kamu nggak berusaha bersikap sopan sama aku, jangan salah kan aku untuk meminta bos mengganti kamu untuk jadi partner di proyek ini...!!"
Cih....! Masih belum bisa digoda ternyata. Pria yang tangguh. Tapi menarik juga, semakin sulit ditaklukkan, semakin seru permainan. Lihat saja. Kamu akan kubuat bertekuk lutut padaku Revand...!
Gisella memaki dalam hati. Sementara Revand sibuk memintanya untuk pergi saja.
"Direktur, jangan lupa kalau direktur nggak merasa puas dengan servis istrimu, ada aku yang selalu siap melakukan nya...!"
__ADS_1
Revand melotot mendengar ucapan mesum Gisella untuk kesekian kalinya.
"Dengar Gisella. Aku sudah puas dengan istri ku. Jangan bermimpi bisa membuat kamu mengganti kan nya. Karena wanita yang masih virgin itu luar biasa...!"
Ucapan jutek Revand mau tidak mau membuat wajah Gisella merah padam. Wanita itu berbalik. Ia melangkah meninggalkan Revand dengan kekesalan yang memuncak.
Virgin...? Hanya karna istrimu masih virgin, kamu jadi mengabaikan ku...! Awas kamu Revand. Virgin dimalam pertama bukannya itu kuno ya ..
Gisella memaki tiada henti. Ingin rasanya ia menyerang Revand membabi buta karena merasa ia sudah diremehkan pria tersebut. Akan tetapi, jika itu ia lakukan, bisa bisa ia diadili oleh pemilik hotel, sudah membuat keributan dihotel mereka. Terpaksa Gisella berusaha untuk sabar..
"Siapa Vand...?"
Saat Revand kembali, Sherlin langsung menanyakan hal itu. Entah kenapa, ia bisa melihat raut wajah suaminya yang terlihat kesal.
"Ah, itu Gisella, dia kesini untuk membahas apa yang akan kita kerjakan besok, mengganggu aja...!"
"Terus kamu mengusir nya...?"
"Iyalah. Malam ini aku nggak mau diganggu oleh siapapun. Waktu ku hanya untuk kamu aja...!"
Revand naik keatas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya disamping tubuh sang istri.
"Kamu tadi lupa pake baju Vand,"
"Iya, buru buru. Emangnya kenapa...?"
"Dada dan punggung kamu..."
Revand bangkit duduk, lalu meneliti dada dan punggung nya..
"Ada serigala cantik mencakar aku kayaknya..."
"Maaf..."
Pinta Sherlin dengan nada menyesal. Tubuh putih bersih suaminya memiliki bekas kurang indah seperti itu. Astagaaa....
"Aku maafkan asal kamu cium aku..."
"Terus, aku harus memintamu melakukan apa, karena kamu juga tadi menyakiti ku, aku sampai berdarah loh, sekarang masih sakit..."
Rajuk Sherlin berpura pura kesal.
"Serius masih sakit...?"
"Ia Vand..."
"Padahal aku mau lagi nih..."
"Apa...?!!"
Revand tertawa mendengar betapa istri nya sangat terkejut dengan permintaan nya. Sherlin mencibir...
" Berarti kita impas ya sayang. Kamu cakar aku, aku juga melukai kamu dibawah sana, lainkali mungkin bukan cakaran lagi yang aku terima dari kamu, tapi gigitan...!"
Sherlin melemparkan guling kearah Revand yang spontan tertawa tawa. Sisi kekanakan Revand keluar. Tapi disituasi yang tepat, itu malah menjadi daya tarik plus bagi Sherlin.
"Vand. Gisella tadi liat tubuh kamu yang begitu...? Lain kali jangan sembarangan umbar dada gitu ah didepan wanita lain..."
Revand menghentikan tawanya. Ditatapnya wajah cantik istri nya yang terlihat sangat serius.
"Baiklah. Aku tau. Kamu juga harus melakukan hal yang sama ya, jangan sampai pria lain melihat tubuh indah kamu selain aku. Tapi tadi, karna cakaran kamu ini, Gisella jadi iri tuh sama kamu..."
Sherlin hanya mengangguk mendengar permintaan suaminya. Mana mungkin ia berpakaian sexy seperti Gisella...? Jadi tidak mungkin ia membuat pria lain melihat tubuh nya. Apalagi sekarang, begitu banyak tanda merah disekujur tubuh nya akibat ulah Revand, ia tidak akan sembarangan membuat orang lain melihat tubuhnya.
Gisella iri...
Benarkah...? Apakah itu berarti dia akan berhenti mengganggu Revand...? semoga saja. Bukankah aku dan Revand tadi sudah benar benar menyatu karna cinta. Tidak mungkin Revand menyatu kan diri dengan wanita lain yang tidak ia cintai...
Sherlin berbisik dalam hati...
( Harga diri seorang wanita terletak pada kehormatan nya. Jika ia bisa menjaga dengan baik apa yang ia miliki satu satunya sampai ia menikah. Maka meski ia seorang wanita yang tidak mempunyai kedudukan dan harta benda, ia sudah menjadi wanita yang bermartabat, dibandingkan wanita yang rela menyerahkan segalanya pada semua pria yang dekat dengan nya...)
__ADS_1
BERSAMBUNG..