SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 74. HUKUMAN BERLANJUT.


__ADS_3

Gisella duduk dihadapan bosnya. Ditatapnya wajah pria setengah baya itu yang terlihat sangat gusar.


"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu Gisella...?"


"Saya tahu pak..!"


"Bagaimana cara kamu untuk menyelesaikan masalah ini...? Kamu sudah menjadi pengganti Revand, saya berharap di tangan kamu perusahaan ini akan bisa jauh lebih baik...!"


"Saya sudah mempunyai rencana baru diacara pelantikan Presdir baru di perusahaan milik Mahendradatta itu pak...!"


"Bagus, saya tidak mau gagal lagi, dan ingat terus cari informasi tentang Revand, tutup akses dia agar dia tidak mendapatkan pekerjaan apapun dikota ini, kalau perlu sogok perusahaan agar mereka tidak mempekerjakan pria itu, saya mau dia merangkak kembali ke perusahaan ini ketika dia benar benar terjepit dengan situasi nya...!"


"Seperti nya kondisi perekonomian dia sudah kurang baik pak. Beredar kabar, dia bahkan bekerja menjadi waiters, lalu ada yang ingin membooking dia seharga 50 juta..!"


"Saya juga membaca nya, saya yakin dia tidak akan sanggup bekerja lama ditempat seperti itu, direktur beralih profesi menjadi seorang pelayan restoran, tragis sekali...!"


Gue yang kagak akan ngebiarin Revand dibeli wanita lain, mereka mau beli 50 juga...? Gue bisa lebih dari itu.


Gisella berkata dalam hati dengan wajah penuh ambisi. Ia segera pamit dari ruangan bosnya, setelah dirasa mereka sudah cukup menemukan kesepakatan. Diluar, wanita itu segera mengeluarkan kan ponsel nya.


"Hallo Tante, kapan saya bisa ketemu Tante..?"


"Kapan saja bisa Gisella, Tante selalu bisa meluangkan waktu untuk kamu...!"


Orang yang dihubungi Gisella menyahut seperti itu.


"Oke, saya atur waktu nanti ya, nanti saya kabari lagi, Tante yakin mengizinkan saya melakukan apapun untuk mendapatkan putra Tante...?"


"Lakukan apa saja yang kamu mau Gisella, asal Revand bisa berpisah dengan Sherlin, Tante mau kamu jadi istri Revand bukan wanita tidak subur itu...!"


Gisella tersenyum penuh kemenangan mendengar izin yang diberikan oleh ibu Revand padanya.


Sherlin, ironis sekali lu ya, udah nggak bisa hamil, mertua lu juga benci lu, tunggu aja permainan gue Sherlin, Revand akan menjadi milik gue...


"Bisa kita bicara sebentar...!"


Lamunan Gisella buyar ketika sebuah suara terdengar, ia berpaling, Roy, sudah berdiri di hadapan nya dengan tatapan serius.


"Ikut saya..!"


Roy menurut. Sejujurnya, selama Revand bukan lagi direktur di perusahaan ini, Roy sudah merasa tidak betah, namun jika ia berhenti ia tidak tahu mau bekerja dimana, disaat lapangan pekerjaan sekarang sangat sulit untuk didapatkan. Hingga mau tidak mau, ia bertahan diperusahaan ini, meski tidak suka Gisella yang memerintah nya.


"Mau bicara apa lu...?"


Disayap bangunan kantor, Gisella menghentikan langkahnya, ia rasa tempat itu cukup aman untuk dipakai berbicara diluar pembicaraan masalah kantor. Dengan begitu, ia juga bisa bersikap santai pada sahabat Revand ini.


"Lu kirim guna guna ke Revand...?"


Gisella spontan berpaling mendengar ucapan Roy.


"Cerdas juga lu ya, gue fikir otak lu nggak bisa mendeteksi itu...!"


"Lu tau kagak, itu juga bakal membahayakan lu Gisella, lu kira Revand bisa semudah itu lu kirim guna guna...?"


"Kita akan melihat nanti hasilnya..!"


Seru Gisella dengan suara meninggi.


"Cinta lu membuat hati lu buta Gisella, kalo emang lu cinta sama Revand, lu biarkan Revand bahagia bersama istri nya..!"


"Diem lu...!! Hanya orang pengecut yang punya cinta seperti itu. Bagi gue, cinta itu harus diperjuangkan, gue bisa mendapatkan kedudukan Revand dikantor ini, kenapa kagak dengan dirinya...?"

__ADS_1


"Revand itu mencintai Sherlin, wanita yang dicintai Revand itu cuma Sherlin, lu kagak bisa merubah itu semua..!!"


"Bisa kalo gue usaha...? Sherlin itu nggak bisa membuat ibu Revand bahagia, lu lihat aja dia itu nggak hamil hamil sampe sekarang, kesempatan itu akan gue pergunakan sebaik mungkin, jadi lu nggak usah berisik. Lu mau gue pecat...!"


Habis bicara seperti itu, Gisella berlalu dari hadapan Roy, Roy hanya geleng-geleng kepala, melihat kegilaan dan obsesi wanita itu pada Revand.


Kalau lu tetap memakai guna guna itu, lu yang kagak akan pernah punya anak Gisella...


Pria itu mengucapkan kalimat itu dalam hati.


***


Revand dan juga Sherlin masuk kedalam butik milik ibu Zill. Semula, Sherlin meminta Revand untuk datang sendiri, namun Revand menolak. Selama ia selalu dihantui ilmu kiriman dari Gisella dan dukunnya itu, Revand jadi was was jika berjauhan dengan istri nya, Sherlin yang mampu membuat tenang setiap kali ilmu itu datang membuat Revand tidak mau jauh jauh dari istrinya tersebut, dijam jam tertentu. Dan Sherlin maklum dengan hal ini.


"Hallo Nak Revand, terima kasih sudah mau menerima tawaran saya, saya merasa antara kamu dan anak saya ada kecocokan, sikap dingin putra saya akan mencair jika berada ditengah tengah kalian, yang mempunyai sifat hangat, jadi pemotretan kali ini untuk produk pakaian formal dan juga santai, konsepnya persahabatan, sebelum nya saya ingin menanyakan sesuatu yang harus anda jawab dengan jujur...!"


Revand dan Sherlin menatap wanita yang masih tampak cantik itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apakah anda benar benar menganggap anak saya teman anda..?"


Pertanyaan itu diucapkan dengan suara serius oleh ibu Zill. Matanya menatap Revand seolah ingin menengok dasar hati pria dihadapannya.


"Sejujurnya, saya dulu tidak suka dengan putra anda, karena saya sebagai suami cemburu dengan persahabatan putra anda dengan istri saya, tapi sekarang saya sadar, putra anda adalah pria yang baik, yang bisa dianggap teman.."


"Dihadapan nyokap gue, ucapan lu manis amat buat gue, tapi didepan gue, lu sadis..!"


Revand, Sherlin, dan ibu Zill menoleh keasal suara yang merespon ucapan Revand tadi. Zill sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Kagak terbalik, sikap lu yang bikin setan hangus Zill..!"


Revand menyahut sembari mencibir. Sherlin dan Ibu Zill tertawa mendengar perdebatan kedua pria yang sama sama mencintai satu wanita tersebut.


"Baiklah, dilihat dari sikap kalian, saya sudah bisa mengambil kesimpulan, kalian memang tulus satu sama lain, konsep pemotretan kita kali ini adalah direktur muda yang berprestasi, lalu pria dengan pakaian santainya, serta satu pemotretan khusus yang harus melibatkan Sherlin,"


Sherlin kaget mendengar ucapan ibu Zill, karena yang ia tahu hanya Revand dan Zill saja terlibat pemotretan itu, kenapa jadi dia yang ikut terlibat...?


"Iya nak. Tidak apa apa kan...?"


Ibu Zill mengiyakan, sembari menatap Sherlin penuh harap, Sherlin berpaling menatap Revand, seolah meminta persetujuan. Revand menghela nafas panjang. Berat sebenarnya, tapi bukankah ini rezeki...? Ia yakin, wanita dihadapan nya ini tidak mungkin meminta Sherlin dan Zill melakukan hal yang aneh aneh, situasi perekonomian mereka sedang tidak baik, semua surat lamaran yang ia masukkan dibeberapa perusahaan belum membuat Revand mendapatkan pekerjaan baru yang ia harapkan, bukankah lebih baik menerima tawaran apapun itu selagi halal...?


Sherlin menarik nafas lega, saat akhir nya suaminya mengizinkan nya. Zill merasakan lagi sesuatu yang mendebarkan mendengar konsep yang diterangkan ibunya, lagi lagi ia harus berfoto bersama dengan Sherlin, ini benar benar berat untuk nya, tapi ia sadar ini salah satu bentuk hukuman sang ibu untuk nya, karena berani akting dengan Sherlin, mau tidak mau Zill hanya bisa pasrah.


"Aku kebelakang dulu ya, cek apa yang dibutuhkan.. !"


Zill buru buru pamit. Sang ibu mengiyakan. Ia meminta Sherlin dan Revand juga melakukan hal yang sama, mengecek peralatan yang akan mereka pakai untuk pemotretan kali ini.


Maafkan aku anak anak, ini hukuman buat kalian, karena sudah membuat ibu berharap banyak dengan akting kalian itu, Revand, ini ujian mental buat kamu, aku harus memastikan Sherlin memang punya suami yang baik agar aku bisa merestui kamu menjadi suami wanita sebaik Sherlin...


Ibu Zill mengucapkan kalimat tersebut sembari menatap Sherlin dan juga Revand yang melangkah menuju studio pemotretan.


"Gimana Bu, model udah siap...?"


Tiba tiba Gita, muncul sembari mengucapkan kalimat tersebut.


"Insya Allah, saya sudah menerangkan secara garis besar, konsep yang harus mereka lakukan, kamu tinggal awasi saja pengerjaan nya.."


Gita tersenyum lalu mengangguk.


Suami Sherlin ganteng juga, ini menarik, aku mau liat sekuat apa tali persahabatan mereka, apakah memang tulus atau habis pemotretan ini mereka terlibat perselisihan, dua orang pria mencintai satu wanita. Beruntung sekali kamu Sherlin...


Gita membathin, sembari terus mengayunkan langkah nya menuju studio pemotretan.

__ADS_1


Sementara itu, Sherlin yang asyik memilih kostum untuk dipakai suami nya kaget saat tahu tahu Revand menarik nya kedalam kamar ganti.


"Vand, kenapa, aku lagi milih kostum buat kamu pake nih.."


Revand menempel kan jari telunjuk nya dibibir sang istri saat Sherlin mengucapkan kalimat tersebut.


"Kamu bilang cuma aku yang pemotretan kenapa kamu juga ikut andil..? Aku nggak bisa lihat kamu dipeluk pria itu lagi..!"


Revand mengucapkan kalimat itu setengah berbisik dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat. Sherlin bisa merasakan nafas suaminya yang sedikit memburu menyapu wajah nya, Revand lagi cemburu. Padahal tadi suaminya itu sudah memberikan izin untuk hal itu, dihadapan Ibu Zill. Ternyata...


"Aku bisa minta batalin hal itu ke ibu Zill, aku juga nggak mau melakukan nya kalau kamu nggak izinin...!"


Revand mengepalkan kedua tangan nya, sesaat ia memejamkan mata, sekedar untuk menahan perasaan nya.


"Coba aja aku masih jadi direktur, aku nggak mungkin melakukan hal ini, aku nggak suka jadi model..! Dan aku juga nggak suka kamu jadi model..!"


"Vand, ibu Zill paham kok kita pasangan suami istri, jadi nggak mungkin menyuruh kita melakukan hal hal yang nggak masuk akal, sekarang kamu udah siap kan...? Kalau kamu mau, gosip 50 juta itu hilang, dan semua ini cepat berlalu, kamu harus bisa fokus melakukan ini, ya ..?"


Sherlin berusaha untuk membuat Revand tenang. Revand menatap wajah istrinya sesaat, lalu menarik nafas.


"Baiklah, tapi aku perlu suntikan penyemangat dulu dari kamu..!"


Belum lagi Sherlin bertanya apa yang dimaksud Revand dengan suntikan penyemangat itu, Revand sudah merunduk dan menc*um bibir sang istri dengan penuh perasaan. Seolah olah tidak ingin wanita yang sekarang dicium nya ini memikirkan pria lain selain dirinya.


Belum lama pasangan suami istri itu hanyut dalam ciuman mereka, tirai ruang ganti disibak. Zill yang tidak tahu Sherlin dan Revand berada di dalam bilik ruang ganti itu seketika terkejut saat melihat Revand masih menc*umi bibir Sherlin. Wajahnya memerah. Ada perasaan cemburu menyergap nya, ingin marah, ia tidak punya hak.


"Gue tunggu 20 menit ya, kalian boleh lanjutkan aktivitas intim kalian tapi ingat waktu. Ini kerja ..!"


Zill mengucapkan kalimat tersebut sembari melangkah meninggalkan ruang ganti.


Sialan, wajar sih Revand melakukan itu, diakan suami Sherlin, tapi kenapa gue kesal ya..


Gerutu nya sembari terus melangkah menjauhi bilik ruang ganti tersebut.


Sementara itu, Sherlin setengah mati membuat Revand menghentikan c*umannya. Nafasnya memburu, dicubitnya perut sang suami.


"Zill ngeliat tau. Kamu bikin malu aja..!"


"Biarin lah, siapa suruh bikin aku cemburu.."


Revand menyahut cuek, sembari kembali ingin menc*um sang istri. Namun Sherlin menahan gerakan sang suami dengan menekan dada Revand dengan kedua tangan nya.


"Kita kerja, Vand, nggak enak kalau yang lain tau..!"


"Lihat aja kalau konsep kamu dengan Zill intim, aku bakal cium kamu didepan dia, biar dia tau rasa..!"


Aku harus bersikap seperti apa, agar suami dan temanku tidak terluka...


Sherlin bicara seperti itu didalam hati, sembari memaksa Revand untuk ganti kostum sesuai konsep pemotretan.


Note: Hal tersulit adalah ketika harus mengendalikan perasaan saat tengah mencintai seseorang, yang tidak bisa dimiliki. Namun percayalah, cinta yang tulus akan bahagia jika melihat orang yang dicintai bahagia meski tidak bersama kita, karena ketulusan saat mencintai teruji disaat orang itu tidak bisa kita miliki...


πŸ‘‰ jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya πŸ’– buat yang selalu setia disini kalian terbaik πŸ˜‡


πŸ‘‰Dan jangan lupa baca juga novel nonfiksi terbaru saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya dilapak ini ya❀️



πŸ‘‰ Dan buat kalian yang ingin baca novel non-fiksi karya saya tentang perjuangan seorang dokter melawan virus Corona, silahkan baca karya saya di n*velmi berjudul DOKTER ITU KAKAKKU ya ⏬


__ADS_1


bersambung


__ADS_2