
Amel sudah ikut bergabung dengan Rei didepan sana. Ikut menikmati sate kambing yang juga dinikmati oleh Rei. Siapapun yang melihatnya, akan beranggapan, mereka itu sepasang kekasih. Tapi memang kenyataannya, mereka berdua hanya berteman, entah untuk kedepannya, karena jujur Sherlin berharap, Amel dan Rei justru menjadi sepasang kekasih.
" Gimana. Suaraku bagus nggak...?"
Sherlin tergagap ketika tiba tiba Revand sudah kembali didekatnya. Ada keringat memercik di dahi pemuda itu. Rupanya naik panggung membawakan dua lagu cukup membuat energi Revand terkuras. Terbukti suara riuh tepuk tangan tamu undangan terlihat puas dengan penampilan suaminya tadi. Sherlin sebenarnya juga sangat menikmati. Akan tetapi kegelisahan nya tentang malam pertama justru lebih mampu membuat perhatian nya teralihkan. Ah. Rasanya Sherlin jadi wanita yang mesum setiap kali berfikiran kearah sana.
" Tadi aku lihat, teman teman kamu pada ngajak ngobrol kamu, mereka gak ngebujuk kamu buat kembali kerja kan,?"
Sherlin meraih tisu yang ada disamping singgasana pengantin. Mengelap keringat yang memercik didahi suaminya penuh perhatian. Sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Revand.
" Makasih ya, udah nyanyi sebagus itu dimomen spesial kita. Tentang teman teman ku, emangnya kenapa kalau aku balik kerja,?"
"Sayang, kan ini udah kita bahas sebelumnya, aku keberatan kalau kamu balik kerja, bukan nggak boleh berkarir, kamu bebas untuk berkarir, tapi jam kerja kamu disana itu yang bikin aku keberatan, kapan kamu ngurus aku kalau kamu masih kerja disana,?"
Sherlin tahu itu. Hal ini memang sudah mereka bahas sebelumnya. Sudah mendapatkan satu keputusan. Hanya saja sekarang ini, ia hanya menggoda Revand. Yah, itung itung gantian. Karena tadi suaminya itu terlalu usil padanya.
"Ia, aku tahu kok. Aku berangkat pagi pulang malam, tentu aja aku pulang udah kecapekan, lagian selain kerja dengan jam kerja begitu, aku bisa kerja apa...? Aku nggak punya modal untuk berkarir, pendidikan ku ini nggak bisa dibawa kekantor manapun,!"
Revand menatap serius wajah istri nya.
"Kamu serius mau kerja juga...? Aku bisa rekomendasi kan kamu dikantor sih, kan bisa belajar dikit dikit juga, asal kamu jangan merasa kamu nggak layak dipekerjakan, banyak juga orang berpendidikan, tapi nggak bisa berkarir karna malas, menurutku, kamu itu punya bakat, hanya situasi aja nggak mendukung, tapi jujur sih kalau aku bisa memilih, aku mau kamu total jadi istri aja. Biar aku yang kerja, belajar bertanggung jawab atas kehidupan kamu,!"
Sherlin tersenyum mendengar ucapan suaminya.
" Aku tahu. Lagian kerja atas bantuan koneksi itu kok kayak nyogok ya hehe, aku nggak suka jalan yang begitu, aku mau kerja asal memang karena aku bisa kerja, bukan karena alasan lain, tapi karna kamu pengen aku nggak kerja, aku bakal nurut, istrikan harus patuh pada suami, dan aku ingin menjadi istri yang patuh untuk kamu,!"
Mata Revand berbinar mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya. Seandainya saja sekarang mereka sedang berada didalam kamar, sudah dilumatnya bibir yang mengucapkan kalimat indah tersebut. Revand merasa sangat beruntung bisa mempunyai istri seperti Sherlin, yang tidak banyak menuntut apa apa, serta enak untuk dibina.
"Jadi pengen cepat kelar ini pesta,"
Bisik Revand nakal ditelinga Sherlin. Sherlin ingin mencubit lagi lengan suaminya mendengar bisikan nakal itu, bisikan yang membuat sekujur tubuhnya panas dingin lagi. Tapi beberapa tamu undangan naik ke panggung singgasana pengantin mereka, ingin bersalaman. Terpaksa Sherlin menahan keinginan nya, untuk memberi suaminya pelajaran...
__ADS_1
***
Sherlin sudah berhasil membuka gaun pengantin yang dikenakannya. Sehari ini ia berganti pakaian 2 kali. Satu kali memakai pakaian adat, karena ia dan Revand sama sama berdarah Banjar, mereka pun memutuskan untuk memakai pakaian adat orang Banjar.Sedang gaun lainnya,gaun umum seperti layaknya pengantin pada umumnya. Dua duanya sama sama merubah Sherlin bak putri yang cantik. Sherlin saja tidak menyangka, wajahnya bisa secantik itu jika dipoles. Ia seperti melihat orang lain dicermin. Seperti bukan dirinya. Menjadi pengantin memang idaman setiap wanita. Bisa memakai gaun yang indah. Diperlakukan bak ratu dan raja sehari, ditambah lagi bersanding dengan pria yang dicintai. Itu benar benar impian setiap orang. Sherlin bersyukur, bisa merasakan impian, yang pernah dikiranya itu hanya mimpi. Revand sudah mewujudkan semua mimpi indahnya. Sherlin bahagia.
Sedang larut dalam lamunan, sepasang tangan melingkar memeluk nya dari belakang. Aroma sabun tercium dihidung Sherlin. Revand sudah selesai mandi rupanya. Masih memakai handuk, sudah melakukan itu padanya. Tubuh Sherlin panas dingin lagi. Diakan belum mandi...?
" Udah siap terima hukuman dari aku, bikin aku nahan diri terus dari tadi...?"
Revand berbisik, ditelinga istrinya sembari mencium tengkuk istrinya dengan lembut.
"A, aku belum mandi. Aku mandi dulu aja ya, nggak adil dong, kamu udah mandi sedang aku belum mandi,!"
Sial. Sherlin benar benar seperti orang bodoh sekarang. Jantung nya berdegup kencang. Darahnya seolah olah mengalir lebih kuat, hingga membuat sekujur tubuh nya memanas. Revand menahan gerakan Sherlin yang ingin melerai pelukan nya, dibaliknya tubuh Sherlin, hingga kini mereka berdiri saling berhadapan.
"Mau udah mandi atau belum, kamu tetap bikin aku nafsu. Lagian aku udah nggak bisa nunggu lagi, wajar dong aku pengen lebih dari ciuman seperti biasanya..? Kita udah halalkan...?"
Wajah Sherlin bersemu lagi mendengar ucapan nakal suaminya. Bagaimana bisa ia lari dalam situasi seperti sekarang...? Apakah ia berdosa jika ngotot ingin mandi sementara suaminya sudah tidak ingin menunggu...? Tapi jujur, sekarang ini ia merasa tubuhnya benar benar tidak segar. Ia malu. Malu jika Revand mencium bau keringat yang masih menempel ditubuhnya setelah seharian mereka penat menghadapi tamu undangan.
" Aku janji, mandinya sebentar aja, cuma ngilangin keringat ini nih,!"
"Keringat apaan coba aku cek, ada bau nya nggak,!"
Jangan tegang....
Sialan. Bagaimana bisa ia tidak tegang jika situasi nya seperti ini ...? Atau memang hanya dia yang merasa bodoh dimalam pertama...? Apakah tidak semua wanita bersikap pasif dan gugup seperti dirinya...? Atau karna ia masih virgin hingga ia bisa sekaku ini...? Banyak berfikir membuat Sherlin jadi tidak bisa melakukan perlawanan. Lagipula, apakah wajar melakukan perlawanan pada suami sendiri...? Rasanya ia jadi takut, akan menjadi istri durhaka jika ia tidak melayani nafkah batin suaminya. Tapi jujur, Sherlin tidak percaya diri jika berinteraksi intim dengan Revand sementara ia belum mandi seperti ini.
Sementara Revand semakin tidak ingin menunda lagi. Nafsunya sudah menggelora. Diangkat nya tubuh Sherlin keatas tempat tidur. Meski ia tetap mendengar ucapan istri nya yang memintanya untuk menunggu agar wanita itu bisa membersihkan diri dulu, tetap saja ia tidak perduli. Ini malam pertama yang ditunggu nya. Setahun menjalin hubungan dengan Sherlin bukan berarti ia tidak pernah berfikir ingin mengajak Sherlin melakukan aktivitas lebih dari sekedar ciuman. Namun karena ia sangat menghargai prinsip Sherlin yang tidak ingin melakukan **** diluar nikah, Revand bersedia bersabar. Itu bukan perihal yang mudah. Karena jika sudah berada didekat wanita ini. Entah kenapa, Revand jadi seperti ingin gila. Hilang kendali. Karena pesona Sherlin begitu menjerat seluruh hati nya.
"Sherlin. Malam ini, bolehkan aku jadi pria egois untuk kamu...? Hanya malam ini, aku nggak bisa menuruti kemauan kamu meski hanya menunggu mu mandi,!"
Revand berbisik lagi. Diiringi sebuah ciuman yang mendarat di pipi nya. Sherlin pasrah. Tidak ada gunanya untuk membantah. Ia hanya berdoa, semoga setelah ini Revand tidak kapok menyentuh nya. Jika nanti saat mereka melakukan nya, ada bau keringat yang tercium berasal dari tubuh nya.
" Tapi kamu mau janjikan...? Setelah ini kamu nggak jera melakukan nya, aku cuma khawatir, aku bikin kamu jadi ilfil,"
Ucapan Sherlin membuat Revand jadi gemas. Dilumat nya bibir sang istri penuh nafsu. Ia ingin membakar Sherlin lewat ciuman tersebut. Sherlin tersengal. Revand memberikan jeda buat istri nya untuk bernafas dengan cara melepas kan ciumannya.Namun bibirnya tetap menciumi kulit permukaan tubuh istrinya itu. Kini turun ke leher. Tubuh Sherlin menggeliat menahan geli. Geliatan itu membuat Revand semakin tertantang memberikan hal baru untuk dirasakan Sherlin. Jemarinya menyelusup masuk kedalam pakaian yang dikenakan istri nya. Hal yang tidak pernah ia lakukan selama mereka pacaran, tapi selalu bermimpi ia lakukan setiap kali bersama Sherlin. Sherlin tidak bisa menahan lenguhan nya saat jemari itu menyentuh bagian sensitif nya didada. Meskipun dadanya masih tertutup BH yang dikenakan nya dibalik pakaian santai nya, tetap saja jemari tangan Revand mampu menyentuh sisi sisi kulit payudara nya yang tidak tertutup sempurna karena posisi nya yang sekarang.
__ADS_1
Cukup lama memberikan jeda untuk Sherlin. Bernafas, Revand kembali mencium bibir istrinya dengan penuh gairah. Jemari nya yang sudah hinggap di salah satu gundukan indah milik istri nya itu semakin nakal. Tidak hanya menyentuh, tapi juga meremas nya perlahan. Sherlin kembali menggeliat. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya menyerbunya. Membuatnya terengah-engah. Ada keinginan menuntut lebih dirasakan nya. Ia heran karena hal itu. Padahal selama ini jika Revand mulai mencium nya, ia selalu waspada jangan sampai ia larut dan terbuai hingga ingin meminta lebih atau bahkan lengah dari pertahanan. Tapi sekarang, sangat berbeda. Ia jadi tidak was was lagi. Ingin diperlakukan lebih dari itu. Tapi bingung harus merespon perlakuan liar Revand seperti apa...? Sungguh ini membuat nya sangat stres. Apakah wajar, jika ia hanya diam menikmati saja...? Apakah pria akan puas bercinta dengan wanita sepasif dirinya...? Astagaaa, Sherlin merasa semakin menjadi mesum sekarang...!
Saat Sherlin bergulat dengan berbagai macam pikiran diotak nya meski pun ia menikmati juga apa yang dilakukan Revand padanya, Revand bangkit. Pemuda itu berniat ingin melepas seluruh pakaian yang melekat ditubuh istri nya agar mempermudah nya untuk memberikan sesuatu yang baru lewat sentuhan mautnya ditubuh Sherlin. Namun ia tertekun ketika melihat bercak darah di seprai tempat tidur mereka. Ia tahu, Sherlin pasti masih perawan. Tapikan dia belum melakukan apa apa...? Kenapa ada bercak darah disana...
"Sayang. Kamu sakit,?"
Tanya Revand dengan nada khawatir. Sherlin seketika membuka kedua matanya. Ia bingung kenapa Revand bisa bertanya seperti itu, dengan ekspresi yang terlihat mengkhawatirkan nya. Buru buru ia bangkit. Membenahi pakaiannya yang semrawut karna ulah jemari nakal Revand tadi. Meneliti bagian seprai yang ditatap Revand dengan tatapan mata bingung. Wajahnya pias.
"Astaga, jangan jangan...?"
"Kamu haid,?"
Sherlin berdiri turun dari tempat tidur. Dan Revand bisa melihat darimana asal warna merah itu keluar. Karena celana bagian belakang Sherlin juga ternodai oleh darah. Menyadari darah kotornya ditatap oleh Revand, semakin paniklah Sherlin. Ia menyambar apa saja untuk menutupi bagian bawah tubuh nya agar darah itu tidak terlihat lagi oleh mata Revand.Apa apaan dia ini...? Sudah bau keringat, menghadiahkan Revand darah haidnya pula. Gila...!
Bergegas Sherlin ingin lari menuju kamar mandi. Rasa malu menyerbunya. Namun Revand segera mencekal pergelangan tangan nya lalu menarik tubuh nya kedalam pelukannya.
"Sherlin, jangan sepanik itu. Aku suami kamu. Jangan merasa malu begitu, bagaimana pun kondisi kamu, aku tetap menyukai kamu,"
Suara Revand berusaha membuat kepanikan Sherlin reda. Dicium nya kening wanita itu penuh sayang, agar Sherlin tahu ia tidak usah mencemaskan hal itu dihadapan nya.
"Maafkan aku Vand. Aku ini bodoh banget. Jadwal haid aja aku nggak tau. Maaf ya. Aku bikin kamu kecewa,!"
Revand tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya.
"Aku nggak akan kecewa hanya karna melihat darah itu, udahlah, nggak usah dijadikan hal yang serius. Aku ngerti kok,"
"Maksud aku. Aku akan membuat kamu kecewa malam ini, karena maaf, aku nggak bisa berhubungan intim saat sedang haid, itu dilarang oleh agama, aku mohon maafkan aku,!"
Sherlin bicara seperti itu sembari menundukkan wajahnya. Khawatir Revand murka dengan apa yang ia ucapkan tadi mengingat betapa bernafsu nya sang suami nya tadi saat menyentuh nya. Revand menghela nafas panjang. Diangkat nya dagu mungil istri nya.Hingga kini mereka berdua saling bertatapan.
"Aku mengerti. Aku juga muslim. Meskipun aku belum terlalu mendalami ilmu agama, tapi aku tahu itu nggak boleh dilakukan. Lagian secara medis pun itu dilarang untuk dilakukan. Jadi jangan khawatir. Kita tunda dulu malam pertama kita, sampai haid kamu selesai. Ingat sayang. Aku menikahi mu bukan karena hanya ingin menikmati tubuh kamu. Tapi juga ingin melindungi dan menjaga kamu lahir dan batin, sekarang kamu mandi gih, biar aku yang beresin tempat tidur hehe,!"
Habis berkata begitu, Revand mengacak rambut istri nya penuh sayang. Lalu melepaskan pelukannya dan berbalik menuju tempat tidur. Ingin mengganti seprai dengan seprai yang baru karena yang sekarang ada noda darah haid Sherlin sedikit menodai seprai tersebut. Hati Sherlin terenyuh. Rasa haru menyeruak dihatinya melihat betapa sabarnya Revand menjadi seorang suami. Padahal ibunya dulu pernah berkata, ayahnya dulu bisa mengamuk jika ibunya tidak melayani ayahnya jika sang ayah sedang dipuncak nafsu seperti itu. Meski dengan dalih haid pun. Tapi sekarang, Sherlin diberi suami yang luar biasa sangat mengerti seorang wanita. Tidak egois memaksa kan kehendak meskipun itu pasti tidak mudah untuk Revand, menahan hawa nafsu yang sempat memuncak. Bukti cinta pria itu kembali didapat kan Sherlin. Dan Sherlin semakin. menyayangi pria yang sekarang sudah sah menjadi suami nya tersebut....
Aku mencintaimu Revand...
__ADS_1
Sherlin berbisik sembari melangkah menuju kamar mandi.
(Note : Pasangan yang baik tidak akan memaksamu untuk melakukan hal yang membuat mu terpaksa melakukan nya, tapi berusaha memahami mu, hingga kemudian kamu melakukan apa yang ia mau tanpa dibarengi rasa terpaksa)