SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 99. INGIN MENEBUS DOSA.


__ADS_3

"Kenapa lu nggak cerita kalau suami lu meninggal Din, lu melewati itu sendirian, gue kagak bisa bayangin itu...!"


"Karna gue denger kabar lu tragis Sell, gue jadi nggak mau nambahin beban fikiran lu, gue mau komplen sama Ki Robius, gue ngeliat kondisi dia aja udah nggak bisa ngomong apa apa...!"


"Lu ketemu Ki Robius...?"


Gisella bahkan belum bertemu dengan dukun yang disewanya tersebut, karena sibuk meratapi diri dan nasipnya yang menyedihkan.


"Iya, awalnya gue mau komplen mau minta 10 persen duit gue balik gitu, tapi gue nggak tega, kondisi dia mengenaskan gue rasa, tubuh nya yang atletis itu mengurus, dia lumpuh, dengan ginjal yang mengalami kerusakan pula, gue nggak tega buat komplen...!"


"Terus apa rencana lu sekarang...?"


"Ya, mencoba untuk menata hidup baru, gue mau berusaha untuk menjalani hidup dengan baik Sell, karna sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, almarhum suami gue bilang, gue harus bisa melanjutkan hidup dengan baik, tanpa melakukan hal hal yang sia sia untuk membuat hidup jadi rusak..!"


Gisella tercenung mendengar apa yang diucapkan oleh Dina. Wanita itu terlihat hancur, tapi ia salut, Dina bisa berusaha tegar demi menepati janjinya dengan almarhum suaminya. Cinta yang indah menurut Gisella, sementara dia...? Secuil pun, tidak pernah mendapatkan respon apa apa dari Revand.


"Kamu harus pulang Sell..!"


Sebuah suara membuyarkan lamunan Gisella sesaat ketika Dina pamit pulang setelah mengatakan, kalau wanita itu ingin berangkat bekerja. Sepertinya, sepeninggal suaminya, Dina kembali untuk menjadi wanita karir untuk melanjutkan hidupnya.


Gisella mengangkat wajahnya. Pram, membuka pintu kamarnya lalu melangkah masuk dan menghampiri nya.


"Siapa yang ngizinin lu buat masuk kamar ini...?"


Gisella berucap tanpa merespon kata kata pria itu tadi.


"Ibu kamu ngizinin aku masuk kesini kok, karena kalau nunggu kamu keluar kamar juga percuma kan, kamu nggak bakal mau menemui aku...!"


"Udah tau gitu, ngapain lu datang kesini..?"


"Karena aku mau ngajakin kamu kembali ke Jakarta ..!"


"Gue nggak mau...!!"


"Aku akan nunggu sampai kamu mau...!"


"Percuma Pram lu jangan sia siakan waktu lu buat gue, gue nggak bisa cinta sama lu, lagian, lu nggak liat apa, kondisi gue sekarang, sehat aja lu nginjak nginjak harga diri gue, apalagi gue cacat gini, gue lumpuh, rahim gue diangkat, gue nggak bisa punya anak, puas lu...!!"


Gisella histeris lagi. Pram buru buru menghampiri Gisella, duduk didepan kursi roda gadis tersebut dan menggenggam tangan wanita itu.


"Sell, sekali lagi aku minta maaf, kamu seperti ini karena rasa sakit hatimu sama aku dimasa lalu, membuat kamu memilih jalan hidup seperti ini, izinkan aku untuk menebus kesalahanku, biarkan aku menjaga kamu, asal kamu mau berubah, itu udah cukup buat aku, aku sadar dulu aku jahat sama kamu, apa bedanya aku sama kamu yang sekarang...? Kita sama sama nggak bisa mengontrol hati kita untuk egois, aku yakin kok, kalau kamu belajar ikhlas, kamu akan bisa menemukan kebahagiaan itu...!"


Gisella menarik telapak tangannya yang digenggam oleh Pram. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangan tersebut, dan terisak tertahan.


Seluruh keangkuhan yang ia miliki selama ini musnah sudah, berganti dengan perasaan tidak percaya diri.

__ADS_1


"Kenapa lu kagak cari cewek lain aja sih buat pendamping lu, lu mau balas dendam ama gue...?"


"Astagfirullah, jangan suka berprasangka buruk Sell, dosa lho. Kalau aku bisa cari wanita lain, aku pasti akan melakukannya, nggak mau aku susah payah bolak balik Jakarta- Samarinda cuma mau nemuin kamu, sama seperti kamu saat kamu jatuh cinta sama Revand, perasaan itu sulit untuk dialihkan, aku mau ngajakin kamu pulang bareng, kita kemakam ayah kamu, kamu akui semua salah yang kamu perbuat dimakam beliau, insya Allah, kamu akan merasa tenang, jangan terus terusan seperti ini, hidup akan terus berjalan meskipun kamu malas untuk melangkah...!"


Kenapa lu melakukan ini Pram, kenapa lu justru mencintai gue saat gue mencintai orang lain, apa ini yang disebut karma buat lu, hati gue yang lu sakiti ngebuat lu berbalik mencintai gue ...


Gisella mengucapkan kalimat tersebut didalam hati.


***


Sherlin meminta Amel untuk menggantikan ia meneruskan masakan yang ia masak untuk pelanggan mereka. Meskipun Revand dan mertua nya ingin ia dirumah saja, namun karena belum hamil besar Sherlin berinisiatif untuk tetap bekerja. Meskipun awalnya mertua dan suaminya merasa berat untuk mengizinkan hal itu, namun, karna Sherlin bersikeras, akhir nya keduanya mengizinkan untuk membiarkan Sherlin untuk tetap bekerja, dengan satu syarat, ia tidak boleh kelelahan.


"Mual lagi...?"


Revand yang kebetulan satu sif dengan sang istri memburu istrinya ketoilet, lalu memijit tengkuk istrinya mencoba untuk meringankan rasa mual yang diderita sang istri.


"Iya, kalau cium bau tertentu, aku jadi mual banget, nggak enak sama tamu kalo mereka denger aku muntah muntah...!"


"Itu tandanya calon anak kita mau ibunya rehat aja dirumah...!"


"Ibunya mau tetep kerja biar sekalian gerak juga kan...!"


"Sayang, aku serius, kalau nggak bisa kamu mengundurkan diri aja dari sini, biar aku aja yang kerja, kalo nggak aku belajar masak juga deh buat gantiin posisi kamu didapur, biar Rei dan Amel nggak ribet kalo kamu nggak kerja...!"


Revand mengucapkan kalimat tersebut, sembari mengusap keringat yang memercik didahi sang istri.


Sherlin meledek. Revand mencibir.


"Siapa suruh itu ikan kalo digoreng meledak melulu kan serem...!"


Sherlin tertawa kecil mendengar ucapan suaminya. Ia mengeluarkan tissue dan mengelap bibirnya, setelah membersihkan wastafel didepannya dengan membuka keran air diwastafel tersebut.


"Aku masih bisa kerja kok, mungkin ntar mualnya juga akan hilang, lagian biar bisa nabung kan buat biaya lahiran...! Jangan lupa, tabungan kita udah menipis banget lho..!"


Revand menghela nafas saat mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya.


"Maafkan aku ya, sampai sekarang semua lamaran kerjaku nggak ada satu pun yang mau nerima aku jadi karyawannya, heran aku, kalau sampai kondisi perekonomian kita belum mengalami perubahan, terpaksa kita jual rumah kita yang sekarang terus beli rumah yang kecil aja biar beban bayar listrik dan yang lainnya bisa lebih ringan...!"


Sherlin meraih jemari suaminya dan digenggamnya jemari itu dengan erat.


"Vand, apapun keputusan kamu asal itu baik, aku terima, mau dirumah kecil atau besar, aku nggak masalah asalkan kita selalu sama sama, aku yakin kok, nanti juga kehidupan kita juga membaik lagi, asalkan kamu nggak putus asa, mungkin Tuhan lagi menguji kita untuk hidup susah dulu seperti dulu...!"


Revand tersenyum mendengar ucapan istrinya, dibalasnya genggaman tangan sang istri, dan ditatapnya sang istri dengan tatapan penuh cinta.


"Makasih ya, kamu mau tetap bersamaku meskipun sekarang aku bukan Revand yang direktur lagi, makasih juga kamu tetap memilih ku meskipun Zill mencintai kamu, jujur aku takut kamu meninggalkan aku dan pergi bersama nya karena dia lebih dari segalanya daripada aku. Dia mapan, baik, dewasa dan nggak pernah menyakiti perasaan kamu, nggak seperti aku yang...!"

__ADS_1


"Aku udah melupakan semuanya, asalkan kamu nggak meragukan aku lagi kayak dulu, aku cuma mencintai kamu Vand, jadi jangan lakukan hal konyol itu lagi hanya untuk ngetes perasaan aku kekamu...!"


Revand terenyuh mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya. Wajah nya merunduk, ketika bibir nya sejengkal lagi menyentuh bibir istrinya, terdengar suara Amel dari arah belakang mereka...


"Ya ampun, jadi mual tadi itu cabang bayi pengen si papi ngekiss, atau papinya aja ni nafsuan sampe nggak liat tempat, sialan kalian, bikin gue iri ih, bisa kagak sih kagak mesra mesraan didepan gue, Revand Sherlin ada Zill tuh didepan nyari kalian sekarang ya, nggak pake lama, mesranya ntar aja diterusin dirumah...!"


Revand mencibir merasa terganggu dengan kehadiran Amel, ketika Amel sudah berlalu, pria itu kembali ingin melakukan apa yang tadi sempat tertunda, namun istrinya menahan...


"Kita temuin Zill dulu, nggak enak kalo kelamaan ditunggu...!"


Sherlin mengucapkan kalimat tersebut, sembari menarik lengan suaminya untuk beranjak. Namun, Revand tidak bergeming.


"Kata sandi nya dulu, kalo mau ketemu fans kamu itu...!"


Pria itu merajuk, Sherlin geleng-geleng kepala.


"Kata sandi apaan..?"


Revand menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya , dan itu membuat wajah Sherlin bersemu.


"Kalau enggak pake kata sandi...?"


Sherlin mencoba menawar.


"Aku yang buka kata sandinya..!"


Habis berkata seperti itu, Revand langsung merunduk dan mengecup bibir istrinya itu sekilas. Lalu berbalik dan meraih lengan istrinya itu untuk beranjak meninggalkan toilet.


Kirain, udah nggak cemburu lagi ama Zill, ternyata masih cemburu juga...


Sherlin membathin sambil mempererat genggaman jemari tangan suaminya dijemarinya tangannya. Wajahnya memerah, mereka bukan pasangan pengantin baru, tapi setiap kali Revand melakukan hal hal romantis, Sherlin selalu tidak bisa untuk tidak merona...


Note: Jika sudah diberikan kesempatan untuk berubah, pergunakan kesempatan itu sebaik baiknya, karena untuk membuat orang percaya itu tidak mudah.


👉 Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘


👉 Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya.


👉 Dan novel karya saya yang lain diplatform kuning NOV*ELME :


- FACE ( roman fiksi )


- DOKTER ITU KAKAKKU ( roman non fiksi )


- MAHKOTA DEWA ( fiksi fantasi)

__ADS_1


berikan dukungan kalian untuk karya saya tersebut ya, agar saya terus berkarya 💗


bersambung


__ADS_2