
Revand dan Sherlin pamit pada ibu Sherlin untuk melayat kerumah Zill. Tiba tiba saja, Revand teringat suatu hal yang belum ia ceritakan kepada Sherlin. Tentang aktingnya dengan Gisella. Bagaimana pun, ia tetap menepati janji nya pada Gisella untuk membantu gadis itu lepas dari jeratan perjodohan nya dengan Pram. Hanya saja, setiap kali ingin menceritakan hal ini pada Sherlin, selalu saja Revand tidak punya waktu yang tepat.
Berat sebenarnya untuk berterus terang. Namun, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk jujur kepada Sherlin, agar menghindari kesalahpahaman. Sesaat, dilirik nya sang istri yang duduk disebelah nya. Beruntung sekarang, ia tidak sedang menyetir, karena terlalu lelah, Revand minta diantar oleh sopir yang biasanya sering menjemput istrinya pulang kerja.
"Sayang. Aku minta maaf ya, untuk sesuatu yang mungkin nggak kamu suka."
Sherlin berpaling ketika mendengar ucapan suaminya.
"Tentang apa...?"
Revand terdiam sesaat. Mengumpulkan keberanian, karena memang, bukan sebuah hal yang mudah untuk bisa berbicara jujur. Tapi itu harus dilakukan.
Revand mulai menceritakan tentang situasi nya yang sedang membantu Gisella. Disertai harapan, semoga sang istri tidak murka dengan apa yang sudah ia lakukan.
Mendengar pengakuan jujur sang suami. Sherlin terdiam. Jujur, ia kaget dan merasa tidak terima dengan apa yang sudah diputuskan oleh Revand. Mungkin jika wanita itu bukan Gisella, ia tidak seberat ini. Tapi ini Gisella. Ah, rasanya Sherlin ingin menyuarakan ketidak setujuan nya, akan tetapi ia juga harus menghargai kejujuran suaminya. Paling tidak, Revand sudah jujur. Meskipun ada rasa khawatir yang ia rasakan karena hal itu. Khawatir, Revand akhirnya terjerumus dalam akting nya sendiri.
"Sher...?"
Revand memanggil nama istri nya, ketika usai mendengarkan pengakuan nya, sang istri tidak bicara satu patah katapun untuk menimpali pengakuan nya. Revand jadi was was.
"Sayang, kamu marah..!"
Revand bersuara lagi. Sherlin menarik nafas.
"Aku marah. Tapi aku menghargai kejujuran kamu. Cuma, apa aku boleh menggunakan hak ku sebagai istri...?"
"Boleh banget..! Apa itu. Aku pasti akan mematuhinya..!"
Sahut Revand cepat.
"Aku mau ada akhir secepatnya untuk akting kalian, jangan berlama lama, lakukan proses yang cepat untuk membuat pria itu meninggal kan Gisella, aku juga nggak mau ada kontak fisik selama kalian akting, emang sih dalam dunia film itu lumrah, tapi ingat kamu bukan sedang bermain film. Dan satu lagi, kalau sampai karena hal ini, kamu jadi berubah, aku nggak akan segan segan untuk memberi perhitungan sama kalian..!"
Nada suara Sherlin terdengar dingin saat mengucapkan kalimat tersebut. Revand tahu, saat ini istrinya sedang marah, hanya saja, sang istri berusaha untuk bersikap dewasa. Diam diam, Revand salut dengan cara berfikir sang istri. Ini membuat ia jadi lebih mantap untuk tidak akan melepaskan Sherlin sampai kapan pun, apapun yang terjadi.
Jadi mereka akting pacaran. Apa itu yang membuat Revand kadang menuntut macam macam sama aku ..? Apa mereka melakukan sesuatu yang intim hingga Revand membandingkan aku dengan Gisella..? Apa itu alasan Revand melepas cincin pernikahan kami waktu itu...? Rasanya, aku keberatan dengan hal ini, tapi mau bagaimana...? Aku harus menghargai kejujuran suamiku. Mungkin penyelidikan ku dengan Amel tetap harus dilakukan, kalau sudah tahu secara terbuka begini, akan lebih mudah untuk ku mengamati mereka berdua. Revand, aku tau kamu setia. Tapi, hati seseorang bisa berubah dalam sekejap tergantung dengan siapa dia bergaul. Aku takut, kamu nggak punya cukup pertahanan untuk tetap menjaga kesucian rumah tangga kita...
Sherlin hanya bisa menyuarakan itu didalam hati. Ia diam seribu bahasa. Meski pun, jemari tangan nya digenggam erat oleh sang suami, tetap saja ia tidak bereaksi. Namun ini mungkin lebih baik. Lebih baik menerima kejujuran dari suaminya meski menyakitkan, dibanding sebuah kebohongan walaupun itu membahagiakan.
__ADS_1
Tapi ia wanita biasa. Jujur. Ada rasa sakit yang ia rasakan sekarang. Meskipun tidak sesakit jika menerima kenyataan, suaminya berselingkuh dengan Gisella, tapi tetap saja ini sama saja dengan bermain api.
"Aku janji, segera menuntaskan akting ini sayang, aku akan buat pria itu nggak lagi mengganggu Gisella..!"
"Gisella harus secepatnya punya pacar Vand. Bukan selalu meminta bantuan kamu untuk berakting. Titik..!!"
Revand membenarkan ucapan istri nya.
Aku akan membicarakan ini dengan Gisella, Sher, kamu tenang aja. Aku akan menuruti semua kemauan kamu ..!
Revand bicara didalam hati. Tidak mau membahas hal itu lagi, karena ia takut mood Sherlin jadi semakin buruk.
Mereka telah sampai dirumah duka. Banyak sekali orang yang datang untuk melayat dan mengirim karangan bunga untuk almarhum ayah Zill. Pertanda pria itu cukup dihormati dan disayangi oleh berbagai macam kalangan.
Benar kata Sherlin, beberapa wartawan terlihat ada dirumah besar itu. Meski tidak diizinkan untuk masuk, namun setiap orang yang datang, tidak luput dari lontaran pertanyaan para pencari berita tersebut.
Sherlin yang sekarang jadi double berfikir karena baru saja ia mendapat kenyataan, ia diterpa gosip dengan Zill, kini justru ditambah harus berjiwa besar menghargai pengakuan jujur suami nya, terlihat sedikit tidak ekspresif saat diburu pertanyaan. Justru Revand yang banyak menjawab pertanyaan wartawan. Sherlin diam seribu bahasa. Wanita itu seperti bingung harus bersikap seperti apa sekarang ini.
Asisten ayah Zill, yang sudah kenal dengan Sherlin segera membawa mereka berdua masuk kedalam rumah dengan mudah. Hingga wartawan kehilangan kesempatan untuk mencecar Revand dan Sherlin dengan berbagai macam pertanyaan mereka.
Hingga kemudian, seseorang muncul menghampiri Zill, mengucapkan belasungkawa kepada Zill dan ibunya, lalu beralih menatap Revand dan Sherlin. Diluar dugaan, Sherlin, Revand dan orang itu sama sama terkejut ketika mereka saling bertatap muka.
"Lu kan pacar Gisella...! Ngapain lu kesini...? Lu kagak mungkin kenal dengan sobat gue Zill kan...?"
Orang yang baru datang itu adalah Pram. Sebagai sahabat Zill, wajar Pram ada disituasi berkabung sahabatnya. Sherlin terdiam ingin membantah, tapi takut akting suaminya terbongkar, sedangkan Revand benar benar tidak menyangka Zill dan calon suami Gisella itu ternyata saling kenal.
Sial. Kenapa jadi kacau begini sih...? Kalau aku membantah ucapan pria ini, aku takut semua jadi sia sia.
Revand menggerutu dalam hati. Ia melirik kearah istrinya. Sherlin paham dengan lirikan itu. Dengan halus, Sherlin menggeser posisi nya sedikit menjauh dari Revand, agar pria bernama Pram itu tidak curiga mereka suami istri. Dilain sisi, Zill yang tidak paham dengan situasi yang ada jadi bingung sendiri, ia menatap kearah Revand dengan tatapan ingin membunuh. Revand bukan tidak paham arti tatapan itu, tapi masalahnya sekarang, situasi nya sedang tidak memungkinkan ia untuk jujur.
"Eh, ini calon Zill kan, udah gue duga lu ini calon nya Zill tempo hari lu malah bilang udah punya suami, jangan bilang pria ini suami lu, dia pacar calon istri gue,"
Pram bicara demikian frontal nya dihadapan semua nya. Zill sebenarnya ingin menghakimi semuanya satu persatu, terlebih pada Revand, namun melihat raut wajah Sherlin yang seketika suram, pria itu jadi paham situasi.
"Pram, jaga sikap lu. Mereka tamu disini, lu mau buat keributan disituasi berkabung keluarga gue..?"
Suara Zill datar saat mengucapkan kalimat tersebut.
__ADS_1
"Jadi nak Sherlin ini benar benar calon anakku kan Pram..? Ah, leganya. Tadinya ibu berfikir, pria disebelah nya ini suami nak Sherlin. Ternyata calon suami tunangan kamu, aduh ruwet sekali kisah kalian, ibu harap kalian tidak membuat keributan disini, tolong hargai kami yang sedang berkabung.."
Pinta ibu Zill sembari menatap Sherlin, dan menggamit lengan wanita itu untuk mengikuti langkah nya. Hal ini membuat Revand jadi geram. Ia tidak rela istrinya diklaim calon istri pria lain. Mereka kesini untuk mengklarifikasi berita itu, bukan justru memperkuat berita tersebut.
Sial...
Pram menghampiri Revand, tatapan nya tajam seolah olah ingin membuat tubuh Revand ***** dengan tatapan nya tersebut.
"Dengar ya. Sekarang anda bisa bebas dari perhitungan saya, karena saya menghargai suasana duka sahabat saya, tapi dilain waktu, anda tidak akan saya lepaskan begitu saja...!"
Pram berbisik seperti itu ditelinga Revand, setelah itu pergi dari hadapan Revand. Zill masih menatap Revand dengan tatapan ingin membunuh. Hal itu membuat Revand jadi kesal. Ditariknya lengan Zill kesudut ruangan.
"Jangan menuduh saya macam macam. Itu tidak seperti yang kamu fikirkan. Saya hanya membantu Gisella untuk lepas dari perjodohan dia dan sahabat anda itu. Sahabat anda itu pernah mencampakkan ketulusan Gisella, itu yang perlu anda ketahui. Jadi, tolong jaga rahasia ini, dan saya juga ingin anda mengklarifikasi berita yang sudah menyebar luas itu. Saya keberatan dengan pemberitaan itu. Saya tidak mau istri saya di klaim calon pria lain...!!"
Zill tersenyum dingin mendengar pengakuan jujur Revand.
"Anda egois ya...? Anda tidak melihat istri anda terluka dengan akting anda dan Gisella...? Oke. Mungkin saya harus salut dengan kebaikan hati anda, apapun itu, saya tidak berhak untuk menghakimi perbuatan anda itu salah atau tidak. Tapi saya tegaskan sekali lagi tentang pemberitaan itu, bukan pihak kami yang melakukan nya, jika anda tidak percaya, anda bisa menuntut media yang menulis berita itu, saya tidak akan melakukan klarifikasi apa apa setelah mengetahui apa yang anda lakukan. Awalnya saya ingin melakukan klarifikasi, bagaimana pun, saya tidak mau membuat rumah tangga kalian tidak nyaman dengan pemberitaan itu, namun sekarang saya lebih mengutamakan perasaan istri anda, bagaimana kalau saya jahat sedikit, tidak akan mengklarifikasi berita itu demi membuat ibu saya bahagia walau hanya sesaat...? Anda lihat sendiri, ibu saya begitu menyukai istri anda, jika saya mengklarifikasi berita itu sekarang, sedang anda sendiri akting dengan sekretaris anda saya rasa itu tidak adil. Mari kita saling mengambil keuntungan untuk situasi yang sekarang tercipta, anda membantu Gisella, saya membantu ibu saya untuk bangkit setelah kepergian ayah saya, saya butuh istri anda untuk membuat ibu saya kuat menghadapi situasi ini, tentunya kesepakatan kita akan berakhir jika anda selesai dengan akting anda bersama Gisella..!!"
Raut wajah Revand mengelam mendengar ucapan dingin yang keluar beruntun dari bibir pria dihadapannya. Ingin rasanya Revand menghajar Zill, tapi ia sadar sedang berada dimana.
"Tapi saya keberatan atas hal ini direktur...!! Saya tidak suka istri saya di akui oleh pria lain..!!"
"Begitu juga dengan istri anda, dia juga keberatan dengan apa yang anda lakukan bukan...? Meskipun anda mungkin jujur dengan istri anda tentang hal ini, tetap saja anda harus ingat jauh didasar hati istri anda pasti terluka dengan permainan anda ini. Ingat direktur. Anda berani mengambil keputusan, anda harus berani pula untuk menghadapi resiko nya..!"
Habis berkata begitu, Zill berbalik dan melangkah meninggalkan Revand yang nyaris tidak bisa menguasai amarah nya. Wajah pria itu mengelam. Kedua tangan nya mengepal.
Brengs*k kamu Zill, kamu pergunakan kesempatan ini untuk dekat dengan istriku. Akan aku selesaikan segera aktingku dengan Gisella, aku tidak akan membiarkan kamu menikmati situasi ini...!!
Revand tiada henti hentinya memaki, ditengah situasi berkabung rumah besar yang penuh dengan pelayat tersebut.
Note: Setiap keputusan pasti ada resikonya, seseorang yang berani mengambil keputusan, harus berani pula menerima resikonya, dan mempertanggungjawabkan keputusan itu sampai akhir...
👉 jangan lupa like,komen, rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐, klik favo, vote, jika suka ya💝 buat yang selalu stay dan selalu memberikan dukungan nya di karya saya ini kalian TERBAIK💝
👉 JIKA KALIAN MENEMUKAN ORANG LAIN MEMPLAGIAT SELURUH ISI CERITA INI MOHON LAPORKAN DAN INFORMASI KE SAYA YA, KARENA SELURUH ISI CERITA INI ORISINIL PEMIKIRAN AUTHOR SENDIRI, YANG DI LENGKAPI KEJADIAN YANG REAL TERJADI. KARENA SUDAH ADA BEBERAPA PENULIS RECEH YANG SUKA PLAGIAT KARYA ORANG LAIN, LALU MEMPOSTING KARYA TERSEBUT DIPLATFORM LAIN, LALU MENGKLAIM CERITA ITU MILIK DIA. PLAGIAT ITU PENCURI IDE ORANG LAIN BUKAN PENULIS..!!!
BERSAMBUNG
__ADS_1