
Sherlin buru buru masuk kedalam cafe, tempat dimana lokasi yang disebut kan Zill sebagai tempat pertemuan mereka. Karena ia mengira, ini ada sangkut pautnya dengan masalah pekerjaan, Sherlin meminta izin pada Revand juga mengatas namakan pekerjaan. Awalnya, Sherlin mengira, sang suami keberatan. Karena seperti yang diketahui sebelumnya, Revand, paling anti semua hal yang berhubungan dengan Zill. Tapi kali ini tidak. Meski heran, namun Sherlin bersyukur juga karena mereka tidak perlu bertengkar lagi untuk masalah yang sama.
Awalnya Sherlin mengira Zill belum datang karena ia sengaja datang lebih awal, pengalaman nya bekerja sama dengan Zill membuat ia berhati hati, jika sudah berhubungan dengan waktu. Zill, pria yang sangat menggilai kedisiplinan. Mood nya akan seketika buruk, jika saat berjanji, ada salah satu pihak yang telat, atau mengingkari. Karena itulah, Sherlin sengaja datang lebih awal, tapi tetap saja ia yang ditunggu, bukan menunggu. Seperti nya, untuk menyaingi kedisiplinan pria itu, sangat sulit.
Zill tidak sendirian seperti Sherlin yang datang sendiri. Berhubung Rei tidak bisa meninggalkan restoran, Sherlin menemui Zill seorang diri, karena Sherlin pemegang kuasa kedua, setelah Rei, jika sewaktu-waktu, pihak yang bekerja sama dengan restoran mereka membuat sebuah keputusan.
Ketika Sherlin datang. Teman Zill menyingkir. Pria yang awalnya duduk disamping Zill itu memberi senyum kearah Sherlin. Sebelum berlalu. Bukan pria yang tempo hari makan di restoran mereka. Yang seenaknya menyebut Sherlin pacar Zill.
Melihat Sherlin. Zill memperbaiki posisi nya yang tadinya seperti posisi orang yang tengah melamun, ia mempersilakan Sherlin untuk duduk.
"Aku sengaja bawa teman, supaya Revand tidak curiga macam macam, kamu nggak keberatan kan...?"
Zill bicara seperti itu ketika Sherlin sudah duduk.
"Nggak. Tapi aku juga udah izin kok sama Revand, dan Alhamdulillah dia nggak keberatan kok ..!"
Istri yang baik. Selalu minta izin.
Tanpa sadar Zill memuji didalam hati. Namun ketika dia sadar, ia jadi salah tingkah sendiri.
Apa apaan aku ini...
Makinya.
Tapi tumben, Revand mengizinkan. Apakah dia berfikir ini bisnis hingga ia nggak keberatan aku bertemu dengan istrinya, biasanya juga ngamuk...
Lagi, Zill membathin, hingga suara Sherlin menyadarkan nya. Zill tergagap. Sial. Kenapa sekarang ia jadi sering melamun.
"Maaf. Aku lagi banyak fikiran, jadi kurang fokus. Soal kenapa kita sekarang ketemu, aku cuma ingin mendengar satu penjelasan dari kamu langsung, tentang wanita yang pernah kamu tolong beberapa hari yang lalu, apa kamu udah sempat lihat berita...?"
Zill buru buru membuka topik yang akan dibahas, ia tidak ingin lagi lagi bengong seperti orang bodoh dihadapan Sherlin.
"Oh, itu. Ia aku emang ketemu wanita seumuran ibuku dijalan waktu mau pulang, sebenarnya, aku juga salah, aku nggak sengaja menabrak nya, tapi serius, wanita itu yang tidak melihat kanan kiri saat menyeberang. Ternyata itu karena ia sedang terburu buru karena suaminya sedang koma dirumah sakit, aku mengantarkan nya, dan udah itu aja, aku pulang..! Kamu tau darimana ya soal itu...? Tentang berita. Maaf, aku kecapekan setiap kali pulang kerja, aku nggak sempat melihat berita berita apapun, baik itu di televisi, atau majalah, kamu dari kemarin membahas ini, emangnya kenapa ya...?"
Sherlin menatap serius wajah Zill, ketika usai menceritakan tentang kejadian tempo hari yang dialami nya. Zill menarik nafas.
"Dia ibuku..!"
Wajah Sherlin berubah mendengar pengakuan pria dihadapannya. Seorang waiters meletakan 2 cangkir kopi diatas meja, dihadapan mereka. Zill dan Sherlin sama sama mengucapkan terima kasih pada waiters tersebut.
"Jadi kamu putra yang durhaka itu..?"
Spontan Zill mengangkat wajahnya, tidak menyangka Sherlin bisa bicara seperti itu.
Apa saja yang dibicarakan mami, sampai Sherlin menyebutku durhaka..
Zill membathin. Sherlin tahu, pria dihadapannya ini sedang terkejut dengan apa yang diucapkan oleh nya tadi. Tapi, wanita itu tidak peduli. Entah kenapa, ia sangat antipati jika melihat ada seorang anak, bersikap buruk pada orang tuanya. Apapun alasannya.
__ADS_1
"Orang tua kamu kangen kamu Zill. Aku nggak tau apa masalahnya hingga kamu nggak mau pulang kerumah, tapi nggak baik bersikap seperti itu pada orang tua kita..!"
Biasanya, Zill akan marah jika ada orang yang menyinggung soal itu dihadapan nya. Tapi sekarang, entah kenapa, ia justru terdiam.
"Kalo emang kamu masih belum bisa memaafkan mereka, setidaknya tengok mereka. Karena terkadang, penyesalan selalu datang nya belakangan. Beliau sakit keras aja kamu nggak mau menengok nya, ibu kamu juga kondisi nya sedang nggak baik, mengalah lah. Kadang sikap mengalah itu nggak selama nya dikategorikan sikap yang lemah, justru malah membuat kesalah pahaman akan jadi selesai dengan baik dan jelas, maaf ya, kalau aku mungkin lancang bicara begini, aku mengatakan ini karena kamu teman ku. Aku cuma nggak mau, nanti kamu nyesel dikemudian hari,"
Zill semakin dalam terpekur ditempatnya. Tidak bisa merespon kata kata wanita dihadapan nya. Hingga..
"Soal berita itu, tolong cerita kan padaku, ada apa, apa ini berimbas dengan kerja sama kita..?"
Sherlin kembali bicara, kali ini dengan sangat hati hati. Zill menghela nafas, ketika ia ingin bicara tiba tiba saja ponselnya berbunyi.
Zill izin untuk menerima panggilan tersebut, ketika nama asisten ayahnya terpampang di layar ponsel nya. Sherlin hanya mengangguk kan kepala menanggapi izin dari Zill.
"Assalamualaikum, hallo, ada apa...?"
Zill bicara dengan sang asisten, lewat ponsel tersebut.
"Waalaikum salam tuan muda, harap sekarang kerumah sakit, Presdir kembali kritis tuan, beliau ingin bertemu dengan tuan muda...!"
Wajah Zill seketika berubah. Dengan cepat ia menyimpan ponsel nya, lalu menatap kearah Sherlin.
"Ayahku kritis lagi, apa yang harus aku lakukan sekarang...?"
Katanya seperti sedang kebingungan. Paras Sherlin ikut berubah mendengar kata kata Zill.
Tegas Sherlin tanpa berfikir panjang. Zill menatap Sherlin seolah masih merasa bimbang. Sherlin jadi sebal dengan sikap Zill yang seperti ragu ragu tersebut.
"Mikir apalagi, ayo kerumah sakit..!"
Lanjut Sherlin dengan nada suara meninggi.
"Tapi bukannya operasi beliau sudah sukses, harusnya beliau baik baik saja kan..!"
"Aduh Zill. Masih mikir begitu, pergi sekarang atau kamu akan menyesal nantinya..!"
"Tapi gimana dengan pembicaraan kita...?"
"Ntar dilanjut abis kamu kerumah sakit...!"
"Kalau gitu tolong ikut aku sekarang...!"
"Apa...?"
"Iya. Kita lanjut kan pembicaraan kita setelah menengok ayahku..!"
Sherlin terdiam sejenak. Berfikir. Bagaimana pun menikah dengan belum menikah itu berbeda. Jika sebelum menikah, ia bisa bebas pergi tanpa izin kecuali dengan ibunya, sekarang tentu berbeda. Ada suami yang harus ia libatkan dalam keputusan apapun. Sherlin mungkin belum menjadi istri yang Solehah, namun ia berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Revand.
"Aku minta izin Revand dulu ya.."
__ADS_1
Baik banget kamu jadi istri Sher, beruntung Revand mendapatkan kamu, bodoh sekali dia kalau bermain api dengan Gisella. Istri kamu itu udah sempurna Vand...
Zill lagi lagi membathin. Ia membiarkan Sherlin untuk menghubungi suaminya. Hingga kemudian...
"Dia mau ngomong sama kamu Zill...!"
Kata Sherlin sambil memberikan ponsel nya pada Zill. Zill menerima. Dan menempel kan benda itu kesalah satu telinga nya.
"Ngelunjak anda ya, dikasih hati minta jantung, ya udah silahkan saya mengizinkan kalian pergi kerumah sakit, tapi dengan satu syarat, jangan sentuh istri saya seujung jari pun...! Berikan ponselnya pada istri saya...
Zill cukup tercekat mendengar suara Revand diseberang sana. Meski terdengar emosi tapi pria itu ternyata mengizinkan ia membawa Sherlin kerumah sakit. Itu membuat ia lega. Meski disertai ancaman, tapi bagi Zill itu wajar, karena siapa yang suka istrinya pergi dengan pria lain...? Ia mengucapkan terima kasih pada Revand, plus kalimat janji pada ancaman pria tersebut, lalu menyerahkan ponsel itu kepada Sherlin kembali. Sherlin menerima. Sepertinya wanita itu juga mendapat sejumlah peringatan dari sang suami.
Ini membuat Zill merasa ada perasaan iri tiba tiba merayap menyelimuti hatinya. Hubungan hangat sebuah keluarga. Yang bertahun tahun ini sudah nyaris tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tua nya. Ditambah lagi, Zill juga tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan wanita manapun, karena terlalu fokus dengan pekerjaan nya.
Detik berikutnya, mereka sudah berada diatas mobil yang melaju menuju rumah sakit, tempat dimana ayah Zill dirawat. Mereka bertiga menuju kerumah sakit. Bersama teman Zill yang hanya sesekali ikut nimbrung berbicara diantara mereka.
Setibanya dirumah sakit. Tergesa mereka menuju ruang rawat inap ayah Zill. Namun setiba disana, asisten ayahnya tiba tiba memeluknya, sembari mengucapkan kalimat yang benar benar tidak pernah Zill bayangkan sebelumnya.
"Tuan muda. Mohon anda harus tabah. Presdir sudah menghembus kan nafas terakhir nya tuan, beberapa menit yang lalu . ..!"
Zill terkejut mendengar ucapan itu. Tidak percaya, hingga melerai pelukan sang asisten setia ayahnya, bergegas menghampiri ruang rawat inap sang ayah, melihat dari balik kaca pintu kamar opname tersebut, matanya nanar melihat ibunya serta beberapa asisten pribadi ayahnya yang lain ada ditepi pembaringan. Diatas pembaringan itu terbujur sosok yang sudah tertutup kain putih keseluruhan. Mayat ayahnya kah itu...?
Seketika sekujur tubuh Zill lemas. Jika Sherlin tidak sergap untuk menangkap tubuh tinggi itu, tentu sekarang Zill jatuh begitu saja dilantai koridor rumah sakit.
"Zill. Tenang dulu. Kuatkan hatimu. Masuklah. Beri dukungan untuk ibu kamu..!"
"Ini nggak benar kan. Kenapa pria itu cepat sekali pergi. Kenapa lemah sekali melawan penyakit itu. Ini nggak benar Sherlin. Itu pasti bukan mayat ayahku...!!"
Selama mengenal Zill, baru kali inilah Sherlin melihat pemuda ini begitu sangat terpukul dan rapuh. Sosok yang dikenal sangat tenang, dingin dan tanpa ekspresi itu sekarang memperlihatkan ekspresi nya. Ekspresi perasaan bersalah disertai rasa terpukul yang dalam. Hingga tanpa sadar, Zill bersandar kebahu kecil Sherlin, dengan sepasang mata memerah.
Sebenarnya, Sherlin sungkan dengan posisi mereka yang sekarang. Akan tetapi, jika ia melerai tubuh Zill yang bersandar dipundak nya, meski pundaknya tidak sempurna untuk menopang tubuh setinggi Zill, Sherlin khawatir, Zill semakin tidak bisa mengendalikan diri nya.
"Tuan.Mohon kuatkan hati tuan. Masuklah kedalam tuan, sapa nyonya besar, ada keinginan terakhir tuan besar untuk tuan muda. Masuklah..."
Asisten ayah Zill memberi isyarat pada Sherlin untuk menuntun Zill masuk kedalam. Sherlin menurut. Dibawanya Zill masuk kedalam ruang penuh aura suram dan berkabung itu. Ketika ia masuk sembari membimbing Zill, semua mata tertuju kepadanya. Kecuali ibu Zill yang masih sesenggukan ditepi jasad yang tertutup kain putih tersebut...
Aura apa ini...? Kenapa rasanya tatapan mereka seperti sedang menyambut pasangan kekasih...
Sherlin bicara didalam hati sembari terus, mengikuti instruksi asisten ayah Zill dibelakang nya, yang memintanya untuk terus menghampiri tepi pembaringan ..
Note: Jangan tunda ungkapan perasaan sayang anda, sebelum ungkapan tersebut tidak pernah tersampaikan kepada orang yang anda sayangi, karena orang tersebut sudah tiada...
👉 Jangan lupa like, vote klik favo rate 5 bagi yang suka ya💝 bagi kalian yang terus stay kalian TERBAIK 😎
👉Bagi para member ⭐ UVSS ⭐ event birthday saya sudah dibuka kemarin ya, sama serentak seperti di markas besar GSB dan juga $ International. Bedanya di ⭐ UVSS ⭐ hanya member ⭐ UVSS ⭐ yang bisa berpartisipasi di event tersebut, jika berminat menjadi salah satu member ⭐ UVSS ⭐ open member masih dibuka, join lagu diakun smule saya MITHA_GSB_UVSS, tinggal kan id line dikolom komentar 😎, dan bagi member ⭐ UVSS ⭐ yang berkompetisi di event birthday saya grind prize juara 1 akan mendapatkan novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA YANG SALAH, jika sempurna membawakan lagu backsound novel saya ini, jika bukan member ⭐ UVSS ⭐ & $ International, kalian bisa ikut berpartisipasi dievent birthday saya di-markas besar GSB diakun FB saya MITHAVIC HIMURA, babak sesi 1 juga sudah dibuka dan di markas besar GSB event yang digelar event umum, asal pembaca setia novel karya saya 💝
bersambung
__ADS_1