
Ketika Revand sampai dihotel, ia tidak melihat istrinya ada dikamar hotel mereka. Sherlin begitu cepat berlari meninggalkan nya, tubuh mungilnya begitu mudah menyelinap dibalik kerumunan orang yang lalu lalang melakukan aktivitas mereka masing masing. Jepang memang dikenal dengan masyarakat nya yang lebih suka berjalan kaki jika jarak yang ditempuh tidak begitu jauh, mobil hanya digunakan saat bepergian yang jauh jauh saja atau disaat saat tertentu, yang jelas masyarakat di Jepang memang lebih banyak membiasakan diri mereka untuk berjalan kaki kemanapun asal masih bisa mampu mencapai tempat yang dituju dengan kaki mereka.
Dan seperti nya, Sherlin bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat Jepang tersebut. Buktinya Revand tidak berhasil memburunya.
Kemana dia. Apa dia fikir ini Indonesia, gimana kalau dia tersesat dan tidak bisa pulang...
Kekhawatiran terbayang jelas di wajah Revand. Pria itu kembali keluar kamar, berniat mencari sang istri, namun tiba tiba, Gisella sudah muncul dihadapan nya, seolah olah wanita itu tahu, pria ini akan kembali keluar ketika sudah masuk kedalam kamar....
"Sell. Bantu gue cari istri gue, dia nggak ada dikamar, gue khawatir dia tersesat..."
Pinta Revand kepada Gisella. Gisella dalam hati bersorak. Bahagia sekali ia melihat pasangan pengantin baru itu seperti nya bertengkar...
"Ah, tadi gue liat istri lu dibawah kok, lagi menikmati pemandangan kota, kayaknya lu nggak usah nyamperin dulu deh, cewek kalau lagi ngambek susah diajak ngomong, mending diemin aja dulu. Ntar kalo udah emosi nya reda, baru diajak bicara..."
"Serius lu liat istri gue...?"
Revand bertanya dengan mimik penuh harap.
Cih...! Seperti kehilangan uang sekarung aja...!
Gisella memaki...
"Serius lah, tadi gue mau balik kekamar, terus liat lu begini, karena kita ketemu lagi gimana kalo kita lanjut bahas ide gue tadi, sekalian gue tunjukkan bukti bukti tentang pria pesaing perusahaan kita itu, tapi lu harus ikut gue karena semua berkasnya ada dikamar gue, kalo kita bicarakan disini, gue khawatir ada yang denger. Orang itu punya banyak kaki tangan disini, lu setuju nggak...?"
"Tapi Sherlin..."
"Percaya ama gue, dia ada dibawah. Lu jangan samperin dia dulu, ntar yang ada kalian makin berantem..."
Kata Gisella meyakinkan. Padahal mana ia tahu Sherlin dimana. Itu hanya akal akalannya saja agar Revand terpengaruh dengan apa yang ia ucapkan.
"Baiklah. Tapi setelah gue liat berkas berkas yang lu maksud, lu harus anterin gue dimana istri gue berada..."
"Oke..."
Gisella segera membawa Revand menuju kamarnya. Tentu saja. Semua sudah diatur Gisella. Kamar wanita itu berada tidak jauh dari kamar yang disewa Revand dan Sherlin. Fikiran Revand terlalu memikirkan Sherlin yang seperti nya masih marah padanya, tapi jujur, ia juga tidak terima kalau sang istri justru membela pria bernama Zill tersebut. Hal itu yang membuat emosi Revand tadi memuncak. Dan karena inilah ia tidak menanyakan, kenapa bisa Gisella berada dalam satu hotel yang sama dengan dia dan Sherlin..
Sesampainya dikamar, dengan penuh keyakinan Gisella mengeluarkan laptop miliknya. Berusaha terlihat sibuk mencari cari file didalam sana, hingga...
"Vand, gue mau ketoilet dulu ya, ntar gue lanjutin gue kebelet nih..."
Pamit wanita itu pada Revand. Revand hanya mengiyakan. Pria itu ganti mengutak atik laptop milik Gisella. Mencari file yang dimaksud. Akan tetapi. Yang ia temukan hanya file file tentang pekerjaan Gisella, tidak ada file tentang pria pemilik kucing itu...
"Vand. Berumah tangga itu sekali kali harus bikin sedikit pertengkaran kecil, biar cinta kalian teruji, lu liat sikap Sherlin, karena kalian nggak pernah berantem, hal sepele aja bisa bikin dia ngambek ginikan, masa iya dia ninggalin suami saat kalian berbulan madu begini...."
__ADS_1
Revand dibuat kaget ketika tiba tiba saja Gisella memeluknya dari belakang. Spontan pria itu berusaha melepas kan pelukan Gisella yang erat memeluknya. Ada sesuatu yang lain menyergap nya. Dan dibarengi perasaan berdosa juga ketika sadar ia dipeluk wanita yang bukan istrinya.
"Gisella, apa apaan ini, lu sengaja ngajak gue kekamar buat ngerayu gue ..?"
Jari telunjuk Gisella disilangkan dibibir Revand ketika wanita itu berhasil memutar tubuh Revand hingga mereka jadi saling berhadapan. Gisella mendorong pria itu hingga Revand tersudut ditembok kamar nya.
"Gue ngerayu...? Bukannya lu tau, lu nggak bakal mempan gue rayu. Gue cuma mau ngasi tau satu hal, yang mungkin lu nggak tau, karena hubungan yang lurus lurus aja itu nggak bikin cinta teruji.."
Untuk sesaat Revand terdiam. Apa benar seperti itu...? Tadi saat ia diliputi rasa cemburu, memang ia merasa ada perasaan lain yang mendorong nya untuk mencium paksa istrinya. Rasanya seperti tertantang. Ada yang tidak biasa dirasakan Revand saat itu. Apa itu yang dimaksud Gisella...?
"Vand, gue nggak peduli lu suami orang, saat gue bertemu dengan lu, gue udah yakin gue jatuh cinta sama lu, tapi gue rela kok lu tetap bareng Sherlin, asal lu ngebolehin gue disamping lu juga, karena lu, gue bisa mempunyai fikiran untuk bisa berubah jadi lebih baik lagi..."
"Apa ..?"
Revand terkesiap dengan ucapan yang diucapkan oleh Gisella. To the point dan sangat blak blakan sekali.
" Iya Vand, gue tau lu pria setia, karna itulah gue nggak bakal bisa buat merebut lu dari Sherlin, tapi tolong izinkan gue tetap menyayangi lu, setidaknya lu bisa pake gue untuk mengetes hubungan kalian, apakah cinta lu dan Sherlin itu benar benar kuat...!"
Gisella berkata seperti itu sembari membelai dada Revand dengan jari jemari nya. Revand merasakan jantungnya berdebar begitu kencang. Bukan karna kasmaran seperti yang ia rasakan pada Sherlin istrinya, tapi karena nafsunya terpancing oleh perbuatan Gisella yang seenaknya menjelajahi tubuh nya meski mereka masih menggunakan pakaian lengkap.
"Lu gila Sell...!!"
Revand berusaha meredam naluri lelaki nya yang terbangun kan akibat ulah nakal Gisella.
Revand menepis tangan Gisella yang naik membelai rahangnya.
"Menurut gue, nggak pernah bertengkar itu sebuah kualitas hubungan yang baik, kenapa gue harus membuat masalah dengan Sherlin agar bisa mengetes hubungan kami...!"
Katanya dengan suara meninggi.
"Karena hubungan yang lurus lurus aja akan mudah hancur jika dihadapkan masalah yang sepele sekali pun, selagi Sherlin belum hamil, apa salahnya lu mencoba melakukan hal untuk mengetes seberapa kuat cinta kalian...? Kalau emang Sherlin cinta ama lu, apapun akan ia lakukan untuk tetap bareng ama lu Vand,"
"Stop Gisella, jangan buat gue benci ama lu. Gue tulus menganggap lu teman gue, tolong hargai gue sebagai bos lu dikantor...!"
Habis berkata begitu Revand segera mendorong tubuh Gisella hingga wanita itu terjajar kebelakang. Nyaris terjerambab dilantai kamar. Tapi Revand tidak perduli. Pria itu segera melangkah menuju pintu kamar, meski pun langkah nya untuk sesaat terhenti, ketika suara Gisella terdengar...
"Gue bener bener cinta ama lu Vand. Dan gue benar benar peduli dengan hubungan lu ama Sherlin. Lu mau, pria pesaing perusahaan kita mengambil simpati istri lu itu...!!"
Revand mengepal kan kedua tangan nya. Emosi menguasai hatinya. Wajah pria pemilik kucing itu terbayang. Berikut paras istrinya yang begitu ceria saat bicara dengan pria itu. Revand benar benar tidak suka.
Dibukanya pintu kamar Gisella, ia ingin segera keluar dari kamar itu untuk melanjutkan mencari Sherlin, namun Gisella menangkap lengannya dengan erat hingga langkah nya terhenti...
"Tunggu gue, gue antar lu ketempat istri lu...!"
__ADS_1
"Nggak perlu. Gue bisa cari Sherlin sendiri..."
Gisella ingin mendebat apa yang diucapkan oleh Revand namun tiba tiba..
"Kalian berdua ngapain disini bersama....?"
Revand dan Gisella seketika berpaling kearah asal suara...
"Sherlin.....?"
Revand tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya ketika sadar yang tadi berkata demikian adalah istrinya. Sherlin menatapi lengan Gisella yang masih memegang erat lengan suaminya. Ada yang perih ia rasakan seketika.
"Sher, tadi gue sama Revand bicara soal kerjaan dikamar gue, lu nggak usah salah paham,"
Gisella buru buru menjelaskan. Tapi ia sangat puas melihat ekspresi tersakiti Sherlin sekarang ini..
****** lu Sherlin, kebetulan banget lu nongol di timing yang tepat...
Gisella membathin penuh rasa bahagia.
"Sayang, Gisella benar, tadi itu aku dan dia cuma bicara soal kerjaan kok dikamar, terus aku pengen cari kamu, kamu kemana aja, aku tadi cari kamu kekamar tapi kamu nggak ada...!"
Revand segera ikut menjelaskan. Ia menepis tangan Gisella yang masih memegangi lengannya. Lalu ingin meraih lengan Sherlin, namun dengan halus Sherlin menepisnya...
Aku nggak ada dikamar, kenapa kamu nggak segera cari aku Vand, kenapa kamu justru kekamar wanita lain. Disaat istri kamu nggak suka kamu terlalu intens dengan wanita itu...
Sherlin bicara dalam hati sarat luka. Tapi bibirnya berusaha mengulas senyum.
"Maaf kalau aku mengganggu pembicaraan penting kalian..."
Ucap nya lalu segera membalikkan tubuhnya, dan tergesa melangkah pergi. Sherlin tidak ingin Revand atau Gisella tau, saat ini rasa perih yang ia rasakan dihati nya membuat sepasang mata nya mulai digenangi air mata.
Ia tahu, Revand dan Gisella satu rekan bisnis. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan untuk berinteraksi terlalu intim seperti itu...?
Membicarakan tentang bisnis sebagai alasan untuk membenarkan hal yang nampak salah dipandang apakah itu wajar...? Kenapa harus berduaan didalam kamar segala....?
Note: Saat masalah tidak bisa diatasi dengan baik, saat itupula lah virus perusak akan mampu menghancurkan hubungan sekuat apapun..
👉 Terima kasih terus setia di novel saya ini 💖 jangan lupa like, vote, klik favo & komennya jika suka ya💖
BERSAMBUNG
__ADS_1