
"Vand, thanks ya, lu mau bantuin gue kemarin, gue puas banget liat muka tu cowok, seolah olah apa yang gue terima dulu, dia rasakan saat itu..!"
Ia, tapi aku nyaris kepergok Sherlin gara gara cincin lupa aku pake Sell...
Hati Revand menyahut ucapan Gisella dalam hati. Ia tetap fokus menyetir. Mereka tidak sengaja pulang bersama, Revand menemukan Gisella ditepi jalan menunggu ojek online. Gisella tidak membawa mobil kekantor, karena mobilnya masuk bengkel. Sebagai teman dan atasan, Revand pun memberikan tumpangan pada wanita tersebut. Tentu saja itu disambut baik oleh Gisella.
"Vand. Kok ngelamun aja sih. Gue ngomong lho tadi..!"
Suara Gisella terdengar kembali. Revand tergagap.
"Sorry. Fikiran gue lagi banyak."
Katanya dengan suara datar. Gisella menghela nafas.
"Sekali kali ke club Vand. Buang stres, kalo lu stres terus mikirin kerjaan, yang ada lu kagak ganteng lagi ntar...!"
"Sherlin kagak suka gue ketempat begituan. Lagian, gue juga sekarang kagak mau ketempat gituan..!"
"Kenapa...? Takut kecantol cewek...? Berarti iman lu tipis dong. Kalo emang lu setia sama Sherlin, mau ditempel dengan cewek manapun, lu kagak akan tergoda kan..!"
"Tapi gue juga manusia Sell. Kadang juga bisa khilaf, makanya gue kagak mau coba coba..!"
"Terus, kenapa lu mau deket ama gue...? Nggak takut lu, kegoda ama gue...?"
Gisella mengerling nakal kearah Revand. Revand mencibir.
"Karena gue pengen beri lu kesempatan buat berubah. Dan, gue kagak mungkin tergoda ama lu, buktinya pikiran gue tetap dipenuhi Sherlin meski pun lu didekat gue...!"
Sahut Revand jujur.
Sial. Lu emang selalu mikirin Sherlin Vand, tapi gue mau liat, apakah Sherlin juga melakukan hal yang sama, kalo tau lu terus bareng ama gue...
Mobil berhenti didepan rumah Gisella. Diluar sana, ibu Gisella mengawasi mobil milik Revand yang berhenti didepan rumah mereka.
"Vand, lu keluar mobil dulu deh ya, nyokap gue kesini tuh,"
Gisella mengucapkan hal itu saat ia ingin keluar dari mobil. Revand berpaling. Gisella benar. Dari kaca mobil miliknya, Revand bisa melihat seorang wanita berumur setara ibunya, menghampiri mobilnya. Tidak sopan rasanya jika tidak menyapa terlebih dahulu. Hanya menyapa saja tidak membuat masalah kan...?
"Mi, ini Revand, yang Gisell ceritakan kemami tempo hari..!"
Gisella mengenalkan Revand pada ibunya. Wanita yang masih tampak cantik itu meneliti Revand dengan seksama. Jelas, dari pandangan nya, wanita itu kagum dengan pria dihadapannya. Revand menunduk hormat, sembari mengulurkan tangannya, yang segera disambut ibu Gisella, lalu menyebutkan nama.
"Tampan sekali. Mari masuk dulu nak Revand."
Ajak wanita tersebut ramah.
"Ah, maaf Tante. Saya buru buru, lain kali mungkin saya mampir, ada yang harus saya urus setelah ini."
Tolak Revand secara halus. Tapi penolakan Revand membuat raut wajah ibu Gisella kecewa.
"Baiklah. Sebenarnya, saya ingin tau banyak tentang kamu, karena sejujurnya, putri saya ini akan saya jodohkan dengan pria lain, hanya saja, Gisella menolak perjodohan itu karena kamu nak Revand. Sebagai ibu yang melahirkan Gisella, saya cuma ingin yang terbaik untuk anak saya, terus terang saja, jika memang kamu serius dengan anak saya, tolong temui ayah Gisella. Terbukalah dihadapan nya, agar dia bisa merestui kalian, tante yakin, papi Gisella mau merestui kalian. Tante merasakan kamu pria yang baik...!"
Ibu Gisella bicara seperti itu tanpa memperdulikan wajah Revand yang terlihat ingin menjelaskan sesuatu.
"Tapi Tante.."
"Kami hanya ingin cucu nak. Papi Gisella sakit sakitan, untuk itulah perjodohan itu dilakukan, beliau tidak sabar lagi untuk menimang cucu.."
"Ah, tapi sepertinya anda salah paham Tante saya .."
"Vand. Pulang gih, katanya buru buru."
Gisella memotong ucapan Revand, yang ingin menjelaskan semuanya. Ia tidak memberikan kesempatan Revand untuk bicara dihadapan ibunya. Wanita itu membimbing mesra Revand menuju mobil. Terpaksa Revand pamit pada ibu Gisella, dan menurut saat Gisella membimbing nya kembali kemobil.
Tanpa disadari oleh Revand dan Gisella, sebuah mobil melintas lambat tidak jauh dari mobil Revand yang terparkir ditepi jalan.
__ADS_1
"Eeeh, lu liat deh. Liat. Itu calon gue Zill. Calon gue ama pacarnya, gila. Mereka kayaknya serius beneran, itu nyokap calon gue Zill. Dia senyum senyum gitu, bahagia bener keliatannya. Berhenti disini Zill. Gue mau nyamperin mereka....!!"
Mobil yang melintas lambat didekat mobil Revand yang terparkir itu ternyata mobil milik Zill, dimana saat itu Zill dan Pram sedang didalam mobil mewah tersebut untuk kembali ke hotel. Zill memperjelas pandangan nya. Wajah nya semakin berubah. Ia menghentikan mobilnya, dengan jarak yang tidak jauh dari mobil milik Revand yang terparkir didepan rumah besar tersebut.
"Apa lu bilang...? Wanita itu calon lu...? Dan pria yang bersama wanita itu, pacar dia..? Tau darimana lu...!!"
Zill tidak bisa menyembunyikan kekagetan nya.
Gila. Itukan Gisella sama Revand. Kenapa Pram bilang mereka pacaran...? Apa apaan ini ..?
Zill berkata dalam hati sembari terus mengawasi Revand dan Gisella yang asyik bercakap didekat mobil Revand.
"Iya. Itu calon gue. Berhenti disini dulu ya Zill. Gue mau ngelabrak mereka. Gisella kagak bisa membuat gue jadi begini...!!"
Seru Pram dengan nada suara keras. Zill menuruti keinginan sahabat nya. Setelah pintu mobil terbuka, Pram berniat ingin keluar, namun gerakan nya terlambat, Revand sudah masuk kedalam mobil nya, dan meninggalkan rumah besar milik Gisella. Gisella dan ibunya pun segera menutup pintu pagar , ketika mobil Revand sudah melaju meninggalkan rumah mereka.
Wajah Pram merah padam. Cemburu membuat emosinya tersulut. Pram masuk kembali kedalam mobil. Ia memukul dashboard mobil Zill.
"Gue akan buat perhitungan sama cowok itu..!!"
Katanya dengan suara meninggi.
"Lu yakin mereka pacaran...?"
Zill bertanya, mencoba menyelidiki.
"Gisella yang mengenalkan pria itu sebagai pacar dihadapan gue, gue tau gue pernah bikin dia kecewa, tapi gue sekarang udah mau berubah. Gue mau Gisella, memberikan gue kesempatan..!"
"Calon lu itu Gisella...?"
"Iya Zill. Gisella Anastasia Lin...!!"
Astaga. Kenapa harus Gisella Pram. Sekian banyak wanita baik baik yang bisa lu nikahi, kenapa harus Gisella. Kesalahan apa yang pernah lu perbuat dimasalalu, hingga dimasa kini lu seperti dapat karma. Lu menyakiti Gisella...?
Revand. Br*ngsek kamu....
Rutuk Zill dalam hati. Ia segera mengendarai mobil nya kembali untuk membuat mereka bisa kembali ke hotel tempat mereka menginap. Pikiran Pram berkecamuk. Begitu juga Zill. Tapi mereka bukan memikirkan hal yang sama. Walau sama sama stres.
Sementara itu. Revand nyaris sampai kerumahnya ketika ponsel nya berdering. Segera ia menepikan mobilnya, hanya berjarak sedikit saja dengan rumah nya.
"Assalamualaikum Ma.."
Katanya ketika sudah menerima panggilan tersebut.
" Waalaikum salam, Kamu sudah dirumah sayang ...?"
Suara ibunya terdengar diseberang sana.
"Iya ma. Ini udah nyampe rumah kok. Mama tumben nelpon.."
"Ah, mama kangen aja dengan kalian, Sherlin gimana kabarnya...? Udah hamil belum...?"
"Oh, mama kalau kangen nginap aja lagi nggak papa kok. Papa dan mama sehat aja kan...?"
"Kamu mengalihkan pembicaraan sayang, mama dan papa baik baik saja. Hanya ingin cucu. Sherlin sudah hamil belum...?"
Revand menarik nafas ketika mendengar ucapan sang ibu.
"Belum ma. Nanti kalau hamil, kita pasti ngabarin kok...!"
"Apa...? Belum hamil. Gimana sih...?Kalian udah beberapa bulan lho habis nikah sudah mau setahun anak teman mama aja baru sebulan habis nikah udah langsung hamil. Kalian ini serius nggak sih mau ngasi cucu...? Mana Sherlin. Mama mau bicara...!!"
"Emm, Ma, sinyalnya lagi gangguan ma, suara mama nggak kedengaran jelas, maaf ma, ntar Revand telpon balik...!"
Revand segera memutuskan sambungan komunikasi ia dan ibunya, sebelum pembicaraan semakin memanas.
__ADS_1
Lalu pria itu segera mengendarai mobil nya perlahan. Memencet klakson mobil, hingga satpam yang berjaga didepan rumah mereka segera membukakan pintu gerbang.
Mobil sudah masuk kedalam garasi rumah nya. Ia segera turun dari mobil. Dan masuk kedalam rumah mencari istri nya. Namun diruang tengah, ia justru bertemu dengan mertua nya.
"Kamu nggak pulang bareng Sherlin...?"
Tanya sang mertua pada Revand.
"Jam kerja Sherlin bukannya lebih dulu berakhir dibandingkan aku ma. Emangnya dia belum pulang...? Sopir jemput dia kan..?"
Revand mengecek ponselnya. Ingin menghubungi sang istri. Tapi niatnya tertahan ketika melihat beberapa pesan masuk dari Sherlin. Rupanya saat ia sedang ngobrol dengan ibu Gisella tadi, Sherlin mengirimi nya pesan singkat, ketika panggilan sang istri tidak ia jawab karena ponsel nya didalam mobil.
Aku lembur. Maaf ya, Rei masih sakit...
Revand membaca salah satu pesan singkat istrinya. Ia menarik nafas.
Rei masih sakit. Berarti Sherlin nganterin pesanan pria itu lagi dihotel. Sial, kalau begini terus, mereka akan benar benar jadi semakin dekat.
Revand berkata dalam hati dengan penuh perasaan emosi. Ia tidak sadar, mertuanya sedari tadi menatapi nya.
"Ia maksud mama, Sherlin pasti mengabari kamu kan kalau dia belum pulang. Siapa tahu saja, dia ingin pulang bersama kamu...!"
Revand memperlihatkan isi pesan singkat Sherlin kehadapan mertua nya. Wanita itu membaca nya. Lalu menarik nafas.
"Mama khawatir dia kelelahan Vand,"
Ucap wanita itu dengan raut khawatir nya.
"Aku sepemikiran dengan mama, aku mengizinkan Sherlin kerja bukan berarti mengizinkan dia lembur terus begini. Kalau sampai mamaku tau jam kerja Sherlin seperti ini, beliau pasti mengira Sherlin belum hamil karena aku tidak melarang dia untuk lembur begini...!"
Mertua Revand menghela nafas mendengar ucapan menantunya..
"Mama juga ingin cucu nak. Tapi yang terpenting adalah ibunya dulu, jaga jangan sampai stres dan kelelahan. Kalau Sherlin belum hamil juga, bukan berarti dia tidak subur, banyak faktor yang bisa jadi penyebab nya, terutama pikiran. Jangan buat dia stres.."
"Stres...? Aku bikin Sherlin stres ..? Yang ada sekarang aku yang stres ma. Dikantor aku di deadline, dirumah aku harus melihat istriku lembur terus, mamaku tadi juga barusan telpon. Beliau udah mendesak kami agar segera punya anak. Apa coba yang harus aku katakan sama dia...?"
"Revand. Kamu yakin tidak membuat Stres istrimu belakangan ini...? Mama tahu kamu juga banyak masalah. Seharusnya kalian berdua bisa menghadapi semua nya bersama, tidak larut dalam perasaan stres kalian masing masing. Diluar daripada itu, mama sudah bilang, tidak ada yang bisa melawan kuasa Tuhan. Kalian dikaruniai anak, itu atas izin Tuhan. Kalau belum, berarti masih ada hal yang harus kalian perhatikan. Itu kode halus dari Allah untuk hambanya. Yang terpenting tetap berusaha dan berdoa. Kalian baru beberapa bulan menikah. Ada yang sudah bertahun tahun belum punya anak, padahal mereka sehat. Intinya jangan berburuk sangka pada ketentuan Allah nak..!"
"Baru beberapa bulan emang. Tapi buat mamaku itu udah telat ma. Aku anak tunggal, wajar kalau mama dan papa pengen cepat punya cucu..!"
"Kalau sekarang Sherlin sibuk, bukankah itu juga demi mamamu Revand. Beliau yang ingin Sherlin berkarir. Sekarang karir istri kamu melesak naik. Setiap sesuatu itu ada resiko nya. Jadi tidak harus menyalahkan kesibukan istri kamu sebagai point utama dia belum hamil..!"
"Jadi menurut mama, aku yang salah...? Aku yang salah udah buat Sherlin belum hamil, karena Sherlin stres...?"
"Bukan begitu nak. Maksud mama adalah..."
"Aaah, udahlah ma. Aku makin stres sekarang, aku naik dulu keatas...!"
Revand memotong ucapan mertuanya. Berlalu dari hadapan mertuanya. Naik kelantai atas menuju kamarnya. Berbagai perasaan bercampur aduk dibenaknya. Perasaan kalut mendominasi.
Sementara itu mertua nya hanya geleng geleng kepala melihat ekspresi menantunya. Wanita itu menarik nafas panjang.
Revand, introspeksi dirilah, apakah kamu benar benar merasa tidak membuat Sherlin stres belakangan ini...? Sherlin memang terlihat mampu berusaha kuat, tapi anak itu suka menyembunyikan airmata nya dibalik senyuman cerianya itu Revand. Jauhi Gisella Revand...
Ingin sekali wanita itu mengucapkan kalimat itu dihadapan Revand. Tapi itu tidak bisa ia lakukan. Ia khawatir. Dituduh terlalu ikut campur dalam masalah rumah tangga keduanya...
Note: Manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan penentu segalanya. Jika yang terjadi, tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, bukan berarti Tuhan benci dengan kita. Tapi ada hal indah yang disembunyikan oleh-NYA, jika kita ikhlas menerima ketentuan dari- NYA.
👉 Jangan lupa beri dukungan kalian di karya saya ini ya💝💝😘
👉 Buat yang ingin menyanyikan lagu sountrack " SANG PELAKOR" bersama saya, follow akun smule saya ya Mitha_GSB_UVSS😉👇 seluruh backsound novel novel saya yang saya tulis, saya nyanyikan disana, dan kalian bisa ikut bergabung untuk duet dengan saya😉
bersambung
__ADS_1