SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 75. DIBALIK EKSPRESI CERIA SHERLIN.


__ADS_3

"Susah ya, kalau kita mencintai tapi orang yang kita cintai, tidak mencintai kita.."


Zill memalingkan wajahnya ketika mendengar suara seorang wanita, mengucapkan kalimat tersebut. Gita. Rekan bisnis ibunya. Meski Zill tidak bereaksi dengan apa yang sudah ia ucapkan tadi, Gita menghampiri pria itu dan ikut berdiri disamping pemuda itu.


"Ngapain anda kesini..?"


Kata Zill, merasa diganggu. Gita tersenyum mendengar nada dingin putra tunggal Bu Stella ini.


"Aku pernah diposisi kamu, bahkan lebih parah. Orang yang aku cintai, ternyata nggak pernah mencintai aku, dan aku pura pura bodoh untuk itu semua, ku korban kan waktuku untuk dia, hingga akhirnya aku sadar, aku jadi manusia bodoh terlalu lama.."


Zill melirik mendengar cerita gadis disampingnya.


"Saya tidak merasa menjadi manusia bodoh seperti anda, ketika saya mencintai, karena saya mencintai orang yang memang patut dicintai..!"


Sahut Zill tanpa menoleh.


"Iya, aku tahu. Dia memang wanita yang tulus, aku bisa melihat sikapnya itu alami, tidak dibuat buat, meskipun aku baru mengenal nya, wajar kamu mencintai nya, tapi akan jadi tidak wajar, kalau kamu terus terpaku memelihara perasaan kamu itu terus, kelak perasaan itu akan membuat kamu jadi berubah."


"Jadi pebinor maksud anda...?"


"Maaf. Tapi memang seperti itu adanya.."


"Saya tidak sepicik seperti orang yang ada dalam fikiran anda, disaat banyak orang yang gila karena cinta, anda harus ingat satu hal, masih ada beberapa orang yang menghargai cinta dan sucinya sebuah ikatan pernikahan, saya yakin saya termasuk yang beberapa itu, saya akan membiarkan dia dengan ikhlas asal dia bahagia, tapi jika tidak, saya akan siap merebut nya untuk membuat dia bahagia, itu saja ..!"


"Lantas apakah dalam masa itu, kamu akan menutup pintu hati kamu untuk cinta yang lain...?"


"Tergantung...! Jika ada yang bisa membuat saya berpaling dari wanita itu, saya akan mempertimbangkannya. Selama tidak ada, tidak ada satu orang pun yang bisa melarang saya untuk tetap mencintai dia dalam hati..!"


Habis mengucapkan kalimat tersebut, Zill beranjak dari hadapan Gita. Gita manggut manggut mendengar ucapan yang diucapkan pria berekspresi dingin tersebut.


Pria luar biasa, bu Stella melahirkan pria yang sangat luar biasa..


Gadis itu membathin sembari menatapi punggung Zill, yang perlahan lenyap dari balik pintu studio.


Pemotretan pun segera dimulai. Revand dan Zill berpose bersama di pemotretan awal, dengan konsep formal. Memakai pakaian yang sedang dipakai nya, membuat angan Revand melayang saat ia masih menjadi seorang direktur. Hal itu membuat hatinya masih terasa sakit. Sakit karena, ia butuh waktu panjang untuk bisa mencapai kursi tersebut, sebelum akhirnya dihempas Gisella dengan mudahnya.


Fotografer memberikan aba aba kepada dua pria berkarakter berbeda tersebut. Meski bukan model, mendengar arahan sang fotografer, Revand dan Zill cukup mudah untuk di bina.


"Jepret...!!"


Fotografer berhasil mengambil gambar keduanya dengan ekspresi mereka masing masing.



"Wow luar biasa. Karakter kalian memang sangat kuat. Yang satu friendly yang satu cool. Oke, sekarang mari ganti kostum santai. Bagaimana jika direktur sedang mengenakan busana santai favorit masing masing, saya beri waktu 10 menit untuk bersiap, break..!!"


Sang fotografer berteriak seperti itu, hingga semua yang ada di lokasi pemotretan sibuk mempersiapkan persiapan konsep pemotretan selanjutnya. Sherlin segera membantu Revand untuk berganti pakaian. Beberapa menit kemudian, Revand dan Zill telah bersiap dengan konsep pemotretan mereka selanjutnya. Pakaian santai.


Sang fotografer, kembali memberikan aba aba, meminta dua modelnya itu untuk berpose sesuai dengan arahan yang ia berikan.


"Revand, berikan tatapan kalem kamu kedepan kamera ya, jangan tersenyum, kostum ini memang santai, tapi saya mau kalian bisa menarik perhatian orang yang melihat nya dengan ekspresi kalian tersebut, hingga saat nanti kostum santai ini dilempar ke pasaran, peminatnya akan membludak..!"


Revand mengangkat tangan, membentuk kata "ok" saat mendengar arahan sang fotografer. Lalu, mereka mulai berpose dan...


"Jepret..!"


Sang fotografer menemukan timing yang pas untuk mengabadikan gambar dua modelnya tersebut.


__ADS_1


Tepuk tangan bergemuruh saat Revand dan Zill berhasil membuat sang fotografer tidak mengulang sesi pemotretan.


"Dua orang yang berbakat Bu ya..?"


Bisik Gita ditelinga ibu Zill, dan ibu Zill mengangguk membenarkan.


"Revand meskipun pakai baju santai ternyata tetap keren ya Bu, putra ibu juga, apa gaya di dirumah sehari hari seperti itu..?"


Gita kembali berkomentar.


"Iya, dia memang seperti itu dirumah, termasuk wajahnya itu, tanpa ekspresi..!"


Sahut ibu Zill sembari terus bertepuk tangan karena puas dengan hasil pemotretan. Gita manggut manggut mendengar ucapan wanita disebelah nya.


"Sekarang ganti model wanita ya, masih konsep santai, tolong bersiap di tempat yang sudah disediakan. Ikuti instruksi saya, disini wajah kalian harus ceria tanpa beban, kalian harus bisa membuat orang yang melihat kalian itu gembira..!!"


Kembali sang fotografer memberikan arahan, kepada Sherlin dan juga Zill.


"Zill aku harus gimana ini..!"


Sherlin merasa mati kutu untuk berekspresi, canggung sekali ia melakukan pemotretan sementara ada banyak pasang mata yang melihat kearah mereka, termasuk suaminya disudut sana.


"Santai, pikirin hal hal yang membuat kamu ceria, kamu punya pribadi yang hangat Sherlin, siapapun yang ada didekat kamu, pasti akan ikut ceria, kamu pasti bisa..!"


Zill mencoba membuat Sherlin bisa enjoy melakukan pemotretan. Sherlin mencoba mengikuti arahan Zill. Hingga..


"Jepret ...!"


Fotografer puas dengan pose yang diberikan oleh Zill dan juga Sherlin dalam konsep yang ia inginkan.



Apa yang di katakan Zill, hingga mampu membuat Sherlin bisa seketika ceria seperti itu..


Revand berkata dalam hati. Ia tidak sadar Gita sejak tadi mengawasi nya. Dan gadis itu tersenyum penuh arti.


"Saya mau foto tambahan, ini akan saya masukkan dalam konsep formal, tapi saya mau modelnya Sherlin dan juga Zill, apa ada yang keberatan..?"


Revand, Sherlin dan juga Zill terperangah mendengar permintaan Gita. Mereka tidak setuju, karena setahu mereka pekerjaan sudah selesai, namun ternyata ibu Zill meluluskan permintaan wanita tersebut. Dan meminta Sherlin serta Zill berganti kostum.


Revand menatap gusar kearah Gita, Gita pura pura tidak melihat. Gadis itu sangat puas melihat ekspresi Revand yang terlihat sangat tidak rela sang istri kembali dipasangkan dengan pria lain.


"Maaf, apakah anda keberatan istri anda saya minta untuk melakukan satu kali pemotretan lagi..?"


Gita mengucapkan kalimat tersebut dihadapan Revand.


"Sejujurnya, iya.."


Sahut Revand to the point.


"Jika cinta anda kuat untuk istri anda, saya yakin hal ini tidak membuat rumah tangga kalian hancur bukan..?"


Sialan. Wanita ini. Apa sebenarnya maksud nya, mau menguji...?


Revand menggerutu dalam hati. Namun ia benarkan juga ucapan wanita bernama Gita itu pada akhirnya. Gita tersenyum. Lalu segera meminta fotografer segera memotret Sherlin dan juga Zill. Meskipun ia tahu disana, Zill juga menatapnya penuh dengan rasa kesal.


Wanita aneh. Apa yang kamu mau sebenarnya..!


Seru Zill dalam hati. Tapi mengikuti juga instruksi yang di berikan oleh fotografer pada mereka.

__ADS_1


"Ingat, kamu harus rileks, oke.."


Bisik Zill ditelinga Sherlin. Sherlin hanya mengangguk meski setengah hati.


Revand pasti ngasi aku hukuman lagi habis ini..


Keluh wanita itu dalam hati, sembari berusaha untuk mengikuti arahan sang fotografer.


"Kurang dekat wajah nya ya, tolong diperdekat. Berikan ekspresi tajam kepada orang yang melihat foto kalian, tajam tapi elegan, ya, begitu tahan ya ..."


"Jepret...!!"


Foto berhasil diabadikan oleh sang fotografer.



Semua yang ada disitu bertepuk tangan melihat hasil yang diberikan oleh Sherlin maupun Zill. Revand tidak tahan melihat hal itu. Meski pun ia tahu, Zill bukan tipe orang yang suka memanfaatkan kesempatan, tetap saja ia tidak suka melihat istrinya berfoto seperti itu dengan pria lain, yang ia tahu menyukai istrinya.


"Jauhin muka Lo dari muka istri gue..!"


Kata Revand lalu menarik tangan istrinya, dan mendaratkan ciuman nya di bibir sang istri, tepat dihadapan Zill. Wajah Zill merah melihat nya, namun pria itu segera berusaha menguasai diri.


"Gila lu ya, kagak tau tempat amat, gue kagak akan merebut istri lu, asal lu bisa menjaga istri lu dengan baik, paham itu..!"


Habis berkata begitu, Zill membalikkan tubuhnya dan segera melangkah, meski kesal dengan apa yang diperbuat Revand tadi dihadapan nya, namun apa yang diperbuat oleh Revand cukup membuat ia sadar satu hal, ia tidak boleh menikmati perasaan indah saat berpose dengan Sherlin seperti tadi. Revand melakukan itu, membuat ia sangat terbantu.Terbantu menyadarkan ia dari imajinasi nakalnya pada Sherlin. Imajinasi seorang pencinta.


Sementara itu semua yang ada disitu memberikan applaus pada Revand, mereka menilai, apa yang diperbuat Revand tadi, sangat romantis dan mengekspresikan perasaan seorang suami yang tidak mau istri nya disentuh pria lain.


"Aku jadi iri sama kamu Sherlin, kamu punya suami yang paham cara memperlakukan istri dengan baik ditengah orang banyak..!"


Gita menepuk pundak Sherlin yang masih membatu usai bibirnya di cium dihadapan orang banyak seperti itu.


"Jaga istri kamu dengan baik nak Revand..."


Ibu Zill ikut mengucapkan kalimat tersebut, sembari meminta Gita untuk mengikuti nya, karena mereka akan rapat memilah hasil pemotretan hari ini.


"Vand, kamu tu apa apaan sih. Aku malu tau..!"


"Akukan udah bilang, kalau sampai konsep pemotretan kalian terlalu intim, aku akan menegaskan pada semua orang kalau kamu itu istriku bukan Zill...!"


Sherlin meraih tangan suaminya. Lalu mengajak suaminya duduk dikursi yang ada diruang studio itu.


"Maafkan aku ya. Tapi terima kasih, kamu mengakui aku didepan banyak orang, kalau aku ini istri kamu.."


"Jangankan didepan segelintir orang disini, dihadapan orang di seluruh dunia ini juga aku bisa melakukan itu..! Aku mau semua orang tau, kamu itu milikku..!"


Kamu tetap bangga menjadi suamiku padahal dimata ibu kamu, aku ini nggak layak dibanggakan Revand....


Sherlin mengucapkan itu didalam hati, sembari melirik ponsel nya yang sedari tadi berdering. Nama ibu mertua memanggil dilayar ponsel. Sherlin bukan ingin sengaja tidak mau mengangkat panggilan tersebut. Saat Revand dan Zill melakukan sesi pemotretan tadi, ia sudah mengangkat panggilan ibu mertuanya itu, tapi yang ada, sang ibu mertua hanya ingin mendesaknya untuk meninggalkan Revand melalui panggilan via ponsel tersebut. Hati Sherlin sesak. Ia harus menjaga moodnya untuk bisa tetap melakukan pemotretan.


Senyum ceria saat ia berpose dengan Zill tadi sebenarnya senyum Sherlin dibalik luka yang ia rasakan sekarang ini...


Note: Orang yang selalu ceria bukan berarti tidak pernah merasakan keterpurukan, hanya saja ia berfikir, tidak ada gunanya menampakkan rasa terpuruk pada semua orang karena itu akan membuat ia semakin rapuh dalam luka yang menghimpit nya. Terkadang, luka dan beban hidup seseorang yang terlihat selalu ceria,lebih berat dibandingkan mereka yang saat mempunyai masalah sedikit langsung berfikir paling merana didunia ini. Ingatlah sahabat, setiap manusia punya masalah hidup nya masing masing, jadi jangan merasa diri sendiri yang paling merana dalam kerasnya kehidupan ini.


👉Masih setia stay disini...? Kalian luar biasa❤️❤️❤️❤️ terus dukung SANG PELAKOR agar tetap bisa update ya.


👉Jangan lupa baca juga novel nonfiksi karya saya yang baru terbit berjudul CINTA SANG PENULIS klik profil saya untuk cek karya saya❤️


bersambung

__ADS_1


__ADS_2