
"Kenapa bengong, diterima dong Amel, mumpung ada aku disini nih..."
Sherlin membuyarkan lamunan Amel, yang masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rei.
"Ogah, gue pasti dikerjainkan ini...?"
Amel mencibir, meskipun jantungnya berpacu begitu cepat karena dihadapannya Rei, masih menatapinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Lu tinggal jawab iya atau kagak, simple kan...!"
Rei mencoba untuk tidak terpengaruh, dengan aksi cuek yang diberikan Amel padanya.
"Jawab dulu, kemana aja lu belakangan ini, ninggalin gue sendirian direstoran..?"
Amel masih kukuh untuk meminta penjelasan terkait raipnya Rei belakangan ini.
"Jawab dulu, iya atau kagak...!"
"Kenapa lu mau ama gue, kan lu suka cewek yang tipe Sherlin, feminin, kagak kasar, dan bijak kalo ngomong, gue cablak, jutek dan emosian..!"
"Karena dari semua sikap lu itu, lu itu wanita yang baik Amel, lu setia kawan, kawan aja lu setiain gimana dengan pasangan, gimana, mau kagak jadi pasangan gue dipelaminan..?"
"Lu serius...?"
"Serius lah,..!"
"Gue kagak perlu seperti Sherlin yang feminin dan kagak suka teriak teriak...!"
"Cukup jadi diri lu sendiri aja, gue udah suka...!"
"Lu kagak gerah dengerin omelan gue emang...?"
"Gue juga bisa ngomel kalo lu ngomel...!"
Rei menyahut tidak mau kalah. Sherlin gemas melihat kedua sahabatnya itu terus saja saling adu mulut. Wanita itu melangkah menghampiri keduanya. Meraih tangan Rei, dan juga Amel, lalu menyatukan kedua tangan itu menjadi satu.
"Mulai sekarang, Amel dan Rei harus terus bersama dalam suka dan duka..! Rei, cintai Amel dengan sepenuh hati, Amel, cintai Rei dengan sepenuh hati...!"
Usai mengucapkan kalimat tersebut, Sherlin melepaskan tangannya, lalu mundur dan membiarkan Rei dan Amel dengan posisi saling berpegangan tangan saling menatap satu sama lain.
Kata kata Sherlin tadi mampu membuat kedua sahabatnya itu jadi serius menyikapi situasi.
"Amel, gue mau lu jadi bini gue, lu mau kagak mendampingi gue seumur hidup lu, meskipun dengan omelan lu tiap hari...!"
Amel tersenyum kecut mendengar kata kata Rei, namun tidak bisa dipungkiri kalau, saat ini hatinya terasa hangat, perasaan hangat itu membuat sepasang matanya berkaca kaca, bagaimana tidak, ada seorang pria yang mau menerima apa adanya dia tanpa meminta dia harus menjadi siapa itu sangat membuat ia terenyuh. Rei, mau menerima dia apa adanya, tidak seperti mantan mantannya yang selalu mendesak ia berubah menjadi orang lain agar ia bisa dicintai.
"Makasih ya Rei, lu pria terbego yang mau ama gue disaat semua pria yang deket ama gue selalu pengen gue jadi orang lain, agar mereka demen ama gue, sementara lu, lu bahkan mau menerima gue apa adanya...!"
"Hei, lu punya airmata...!"
"Punya...!"
__ADS_1
Amel nyaris terisak, meskipun Rei mengajak nya bercanda, hatinya sudah terlanjur terenyuh, dan butiran bening itu turun membasahi pipi Amel.
"Sher, gimana dong ini, gue kagak bisa ngadepin cewek mewek...!"
Rei, berteriak kearah Sherlin karena panik melihat Amel yang seumur umur mengenal Amel, baru kali ini ia melihat gadis itu mengeluarkan airmata dihadapannya.
"Peluk dong, wanita menangis ada dua hal, tangis bahagia atau tangis sedang terluka, kamu bisa menebak sendiri airmata Amel, itu tangis bahagia atau tangis sedang terluka, aku turun ya, kalian harus bisa selesai kan semua dengan indah...!"
Habis berkata begitu, Sherlin beranjak dari tempatnya. Rasa mualnya semakin menjadi jadi, ia harus ketoilet untuk bisa meredam rasa mual itu segera.
"Amel, gue mau airmata lu itu airmata bahagia, jangan airmata terluka, masa belum jadian aja lu udah terluka kan kagak lucu...!"
Amel langsung mencubit pinggang Rei dengan sekuat tenaga, hingga membuat pria itu mengaduh keras, karena tidak siap menerima serangan itu dari Amel.
"Gue bahagia, tapi kalo lu ninggalin gue lagi sering sering gue kagak bakal bahagia...!"
Rajuk gadis itu sambil memajukan bibirnya.
"Lu mau tau, kenapa belakangan gue lenyap mulu..?"
Amel mengangguk.
"Gue lagi sibuk minta izin keluarga besar gue buat ngelamar elo...!"
"Eh, kok gitu...!"
"Iya dong...!"
"Kalo gue nolak lu gimana, kok pede bener gue bakal nerima lu...?"
Rei berkelit saat lagi lagi, Amel ingin mencubit pinggang nya. Pemuda itu turun kebawah tanpa mempedulikan aksi protes yang dilancarkan Amel. Sepeninggal Rei, Amel tersenyum senyum sendiri.
Dia dilamar...? Rasanya seperti mimpi, jika membayangkan, sebentar lagi, dia dan Rei jadi pasangan suami istri.
***
Zill sedikit kaget ketika ia masuk kedalam ruangan kerjanya, Gita sudah duduk di kursi yang ada diruangan itu.
melihat Zill, gadis itu tersenyum sambil mengucapkan salam padanya. Zill menjawab salam sembari duduk dihadapan Gita.
"Suka bener datang tiba tiba...?"
"Maaf, tadinya mau ngasi tau, tapi keliatannya kamu sibuk banget sama Revand. Jadi, aku langsung nunggu disini aja..!"
"Ada apa...?"
"Aku mau pamit sama kamu, ada tugas diluar negeri ngurusin fashion show mewakili butik mami kamu, aku nggak tau pergi berapa lama, tadinya, mau pamit lewat ponsel aja, tapi aku putuskan untuk ketemu langsung aja sekalian, karena aku nggak tau kapan balik lagi kesini, selama aku pergi, jangan lalai buat ngingetin mami kamu untuk istirahat ya, beliau kalau udah sibuk, bisa nggak mau makan kalau belum selesai tugasnya...!"
Zill, terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Gita.
__ADS_1
"Kenapa nggak bisa memastikan kapan baliknya..?"
Karena, aku ingin menguatkan hatiku ini dulu Zill, semakin melihatmu ternyata aku semakin mencintaimu, aku takut terobsesi seperti kak Gisella pada Revand, mungkin setelah hatiku kuat, aku akan kembali, sekalian mau ngeliat, apakah setelah aku kembali, kamu masih sendiri atau udah punya seseorang yang bisa membuatmu move on dari Sherlin..
Gita, mengucapkan kalimat tersebut didalam hati.
"Kenapa melamun, aku tadi nanya lho..!"
Suara Zill membuyarkan lamunan Gita, Gita tersenyum.
"Nggak papa, aku cuma mau cari suasana baru aja, sekalian kerja kan..!"
"Ya udah, hati hati, jaga diri baik baik, meskipun kenegeri orang harus tetap membawa adat timur kita, itu akan membuat kita dihargai oleh orang asing..!"
"Terimakasih. Jangan terlalu menghabiskan waktu kamu buat kerja Zill, mami kamu butuh kamu..!"
"Aku tahu, terima kasih...!"
"Kalau begitu, aku pamit dulu, semoga dilain waktu kita bisa ketemu lagi...!"
"Tergantung kamukan, kita akan ketemu lagi, kalau kamu mau kita ketemu. Yang pergi itu kamu, bukan aku...!"
Gita tersenyum. Gadis itu ingin bangkit, tapi ia teringat sesuatu.
"Menurut kamu, apakah kita perlu merubah diri kita agar orang mencintai kita...?"
Zill, seketika menatap wajah Gita, ketika gadis itu bicara demikian.
"Kurasa tidak perlu. Karena kalau orang emang suka dengan kita tulus dia akan menerima kita apa adanya, merubah diri itu perlu kalau yang dirubah itu sesuatu yang buruk dalam diri kita, kalau untuk jadi orang lain buat apa...? Jadi diri sendiri, biarkan orang mencintai kita apa adanya, agar orang juga bisa menghargai kita, tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa membuat kita dicintai ..!!"
Gita tersenyum puas mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Zill.
Terimakasih Zill, kata katamu, membuat kepercayaan diri ku tumbuh, tidak semua pria berfikiran picik seperti masalaluku. Yang selalu ingin merubah wanita yang bersamanya menjadi diri orang lain, agar bisa di cintai.
Gita mengucapkan kalimat tersebut didalam hati, sembari beranjak bangkit dari tempat duduknya, lalu pamit pada Zill untuk berlalu dari ruangan tersebut....
Note: Jadilah diri kita sendiri, dengan begitu, kita melatih orang untuk bisa menerima kita apa adanya, bukan ada apanya.
π pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya π
π Baca juga novel non-fiksi karya saya berjudul CINTA SANG PENULIS ya dilapak ini juga, dan ini visual Leo dinovel tersebut, bagi yang bertanya tanya Leo gimana rupanya
πbaca juga novel non-fiksi karya saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU diplatform kuning NOV*LME perjuangan seorang dokter melawan virus Corona.
πdan novel fiksi fantasi saya juga diplatform kuning NOV*LME berjudul MAHKOTA DEWA
__ADS_1
bagi kalian yang setia stay dinovel saya berjudul DOKTER ITU KAKAKKU & MAHKOTA DEWA berkesempatan mengikuti event nya next dimarkas besar GSB follow akun FB saya MITHAVIC HIMURA yang disponsori oleh $ International π
bersambung