SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 43. CURIGA (2)


__ADS_3

Zill terkejut ketika tiba tiba saja pundaknya ditepuk seseorang dari belakang.


"Waow, lu nginap ama pacar lu disini, buseeet, kagak bilang bilang lu, yang tadi itu pacar lu..? Cantik lho, imut. Kenalin dong ..!"


Pram, bicara seperti itu usai menepuk pundak Zill. Yah, Pram dan Zill berteman. Mereka teman satu kampus. Sejak Zill memutuskan tinggal di Jepang, pertemanan mereka sempat sedikit vakum. Pram sibuk dengan pekerjaan nya usai menyelesaikan kuliah, begitu juga Zill. Meski berteman, Zill tidak pernah tahu, kalau Pram dan Gisella juga saling kenal. Karena mereka tidak satu SMU.


"Pacar...? Ngomong apa lu..!"


Sahut Zill sembari memutar tubuh nya dan masuk kedalam hotel. Diikuti Pram.


"Yang tadi, cewek cantik yang lu antar keluar hotel tadi..!"


"Kagak usah banyak ikut campur, kagak seperti yang lu liat. Lu ngapain ke Samarinda, kantor lu kagak sibuk apa..!"


Zill masuk kedalam lift, diikuti Pram. Lift membawa mereka menuju lantai atas. Pram menghela nafas. Wajahnya mendadak suram.


"Gue kesini mau ketemu calon bini gue, tapi gue dikenalin ama pacar calon gue, sial kan..? Nyesel juga gue dulu sempat meremehkan dia, dulu gue terlalu angkuh banyak menuntut, sampe gue kagak ngeliat tulusnya dia ama gue..!"


"Makanya, sebelum kehilangan, lu jangan pernah menyia-nyiakan sesuatu. Terkadang, kita emang merasa kehilangan, kalo udah benar benar kehilangan, padahal kalo mau menjaga sebelum kehilangan kan itu lebih baik..!"


"Wah, makin bijak aja lu sekarang. Karena pacar lu tadi ya, salut gue. Tapi Zill, lu sadar kagak, ucapan lu tadi itu juga pantas untuk elo lho, lu masih malas pulang kerumah, lu sadar kagak, lu juga tengah menyia nyiakan hal yang berharga dalam hidup lu. Keluarga. Kenapa lu kagak berdamai aja sama orang tua lu...? Selagi mereka berdua masih hidup..!"


"Diem lu. Kalo lu kesini cuma mau bahas itu, silahkan balik aja lu kekamar lu. Gue paling malas ada orang yang ikut berkomentar tentang itu dihadapan gue..!"


Aura Zill berubah dingin ketika mengucapkan kalimat tersebut. Pram buru buru menepuk pundak sahabatnya.


"Sorry, sorry. Ya udah, gue kagak bahas itu lagi dah, gue cuma ngasi lu masukan sebagai teman aja sob...!"


Ucapnya tergesa. Zill mendengus. Pintu lift terbuka, ia segera keluar, diikuti oleh Pram yang masih saja berulang kali mengucapkan kata maaf padanya.


***


Sherlin baru saja keluar dari kamar mandi didalam kamar nya, ketika ia melihat baju kerja suaminya berserak diatas tempat tidur.



Tumben. Biasanya, Revand menggantung rapi semua pakaian nya, atau memasukkan nya ketempat pakaian kotor langsung jika setiap kali pulang kerja. Kenapa kali ini tidak...? Sherlin memijit leher belakang nya, sembari menggelung keatas rambut panjang nya. Hari ini ia sangat luar biasa lelah. Tidak ada Rei direstoran, benar benar membuat tenaganya sangat terkuras.


Wanita itu meraih pakaian suaminya, berniat memasukkan pakaian itu ketempat pakaian kotor. Namun, sebuah benda menggelinding jatuh dari saku celana sang suami. Refleks Sherlin memungutnya.


"Inikan cincin pernikahan kami...? Revand selama kerja nggak pake cincin kawin...? Tumben..!"


Sherlin bicara seorang diri. Wanita itu heran. Karena tidak seperti biasanya suaminya tidak memakai cincin pernikahan mereka, ketika diluar rumah. Perasaan tidak enak mendadak menyelimuti Sherlin. Namun, Sherlin mencoba untuk tidak buru buru mengambil kesimpulan dulu.

__ADS_1


Mungkin Revand punya alasan melakukan ini. ..


Pikirnya, lalu memasukan semua pakaian kerja suaminya kedalam tempat pakaian kotor.


Ketika ia kembali ketempat tidur. Ia melihat Revand sudah ada disana sembari menatap nya dengan tatapan penuh selidik.


"Jadi setiap hari kamu dan Zill ketemu dihotel terus, dalam balutan teman kerja..?"


Suara Revand terdengar dingin saat mengucapkan kalimat tersebut. Sherlin mengerut kan alisnya.


"Maksud kamu apa..? Setiap hari...? Aku baru hari ini kok ketemu sama dia, itu juga nganter pesanan dia..!"


"Jadi bener kan ..? Hari ini kamu ketemu dia dihotel..?"


Revand bangkit dari duduknya, dan bergerak menghampiri sang istri. Tatapannya benar benar mengandung hawa kecemburuan yang luar biasa.


"Kan, aku udah bilang, aku nganter pesanan dia. Kami ketemu cuma sebatas itu, nggak lebih. Biasanya juga Rei kok yang melakukan tugas itu, aku cuma mengganti kan tugas Rei, karena dia sakit..!"


Revand menarik tubuh Sherlin secara paksa hingga wanita itu berada dalam cengkraman nya 100 persen.


"Ohya. Kenapa dihotel...? Emang direktur sombong itu tidak punya rumah...? Aku curiga, pria itu mau kerja sama dengan kalian itu untuk alasan ini, untuk bisa dekat dengan kamu seperti itu. Itu yang kamu bilang profesional...?"


Sherlin menepis tangan suami nya yang bergerak masuk kedalam pakaian nya. Tidak. Sekarang ini, mereka sedang harus membicarakan masalah mereka dengan baik, Sherlin tidak ingin pembicaraan itu dilakukan disertai sentuhan sentuhan yang lain, karena itu akan membuat Revand menyentuh nya dengan rasa emosi. Bukan rasa penuh cinta.


Sherlin berusaha untuk lepas dari cengkraman suami nya dengan cara melerai kedua tangan Revand yang memeluk tubuh nya.


Usahanya berhasil. Ia segera duduk ditepi tempat tidur. Dan meletakkan cincin yang sedari tadi digenggam nya diatas tempat tidur.


Melihat apa yang diletakkan Sherlin diatas tempat tidur, wajah Revand seketika berubah.


Sial. Kenapa aku lupa memakai cincin itu kembali tadi...


Revand memaki dalam hati. Cincin itu sengaja tidak ia pakai saat tadi pagi menemani Gisella, menemui pria bernama Pram itu. Ia terpaksa melepaskan nya, karena jika tidak, Pram akan curiga ...


"Kamu mau tanya kenapa cincin itu nggak aku pake..?"


Suara Revand menurun, tidak setinggi saat ia mengucapkan kalimat pertama.


"Mungkin ini nggak harus kita persoalkan, karena bisa aja kamu lupa, atau karena hal lain yang mungkin menurut kamu itu biasa, tapi jujur, aku pengen tau kenapa. Tumben kamu melepaskan nya..!"


"Aku tadi mandi, wajar dong aku lepas cincin itu. Kenapa kamu mikir aku nggak mau make ..? Kamu fikir, aku sengaja nggak make karena ingin disebut masih lajang...?"


Wajah Sherlin menengadah. Menatap wajah Revand yang masih berdiri dihadapannya. Ingin melihat, apakah sekarang ini sang suami sedang jujur, atau sebaliknya. Namun, ia melihat pria yang dicintainya ini tidak berani menentang tatapan matanya. Ini bukan hal yang biasa dilakukan Revand. Setahunya, jika sedang bicara jujur, suaminya itu tidak mengalihkan pandangan nya kearah lain saat ia menatap nya. Sekarang kenapa berbeda...?

__ADS_1


"Kamu mau aku jujur tentang apa yang kulakukan hari ini..? Aku udah jujur sama kamu Vand, aku bertemu dengan Zill cuma karena aku nganterin pesanan dia, soal kenapa dia dihotel, itu bukan urusan ku. Aku nggak serendah yang ada difikiran kamu, dan dia nggak pantas kamu tuduh dengan tuduhan kotor kamu itu, dia bahkan menanyakan kabar kamu tadi, jadi sekarang, aku juga mau kamu jujur tentang hal ini ...!"


"Kamu selalu membela pria itu. Kenapa...? Aku suami kamu. Wajar dong aku cemburu, aku cemburu melihat istriku bersama pria lain disebuah hotel berbintang. Kalau memang itu semua alasan pekerjaan, aku benar benar tidak mau mengizinkan kamu lagi untuk tetap bekerja..!"


Sherlin bangkit dari duduknya. Berdiri dihadapan Revand, sembari menatap wajah suaminya dengan tatapan sangat tidak suka.


"Kamu berfikiran macam macam tentang apa yang kamu lihat tadi. Lalu, kenapa kamu nggak berfikir, kalau aku juga berhak curiga dengan apa yang aku lihat sekarang...? Kamu melepas cincin pernikahan kita Vand. Tidakkah kamu berfikir, bisa aja aku curiga, itu kamu lakukan karena hal tertentu...?"


"Kenapa sekarang kamu sangat pintar bicara Sherlin...? Aku seperti tidak kenal dengan kamu. Kemana sisi polos kamu yang aku suka sejak dulu..? Kamu berubah...!"


"Aku berubah...? Memang. Kuakui, aku sedikit berubah. Aku hanya ingin berusaha berani mengucapkan apa yang ada dalam hatiku. Berusaha untuk membuat orang lebih menghargai aku, bukan untuk mendebat. Aku akan diam kalau aku memang bersalah. Sekarang, dimana letak kesalahan aku..? Menemui Zill di hotel...? Apa bedanya kamu dengan alasan kamu yang melepas cincin pernikahan kita, disaat kamu sedang diluar rumah...? Kalau kamu mempermasalahkan hal itu, apakah aku nggak berhak mempermasalahkan itu...?!"


"Yang kamu permasalahkan itu tidak sebanding dengan apa yang aku permasalahkan. Aku hanya melepas cincin itu saat mau mandi. Bukan saat dikantor..!"


"Kenapa kamu letakan di saku celana kamu..? Kenapa bukan diatas meja rias disana seperti biasa kamu melakukan nya saat mau mandi...? Kamu pikir, aku tidak hapal dengan semua kebiasaan kamu...?"


Astaga Sherlin, kenapa sekarang dia semakin peka menilai semua nya. Gawat, kalau aku bersikeras mempersoalkan hal ini, bisa bisa kebohongan ku terbongkar. Tidak. Aku tidak mau itu terjadi. Meski pun aku tidak berniat untuk membohongi nya, tapi dia pasti tidak akan setuju kalau aku akting membantu Gisella...


Revand bicara dalam hati. Ia mengusap wajah nya. Berusaha untuk menurunkan emosi nya. Sungguh, ia ingin sekali mempersoalkan apa yang ia lihat tadi pagi didepan hotel. Tapi jika itu ia terus kan, ia takut kebohongan nya juga akan terbongkar. Sang istri seperti nya curiga dengan cincin yang ia lepas kan itu.


Persoalan yang biasa sebenarnya. Tapi menjadi tidak biasa, ketika salah menempatkan nya.


Perlahan, Revand meraih kedua tangan istrinya. Menggenggam nya erat.


"Anggap kita sekarang sedang sama sama salah paham. Aku mohon, kita tidak mempermasalahkan hal ini lagi, kamu harus percaya, aku selalu mencintaimu Sherlin. Dan kuharap, kamu juga seperti itu kepada ku..!"


Sherlin menarik nafas panjang. Hatinya sebenarnya tidak puas. Entah kenapa, ia yakin ada yang ditutupi oleh suaminya sekarang ini.


Bukan masalah cincin itu kamu lepaskan Revand, itu hanya cincin. Bukan hatimu. Yang jadi masalah, niat kamu saat melepas kan benda kecil itu, itu yang ingin aku tahu, aku berusaha untuk jujur sama kamu. Seperti dulu. Tapi sekarang aku merasa, kamu sedang tidak jujur padaku....


Hati Sherlin bicara. Ia tidak bereaksi ketika Revand merunduk, mencium bibir nya. Hatinya terasa tawar. Hingga perlakuan lembut sang suami tidak bisa membuat suasana hati nya menjadi lebih baik, apalagi merona dan berdebar seperti biasanya...


Note: Satu kebohongan yang kita lakukan, akan menciptakan seribu kebohongan lainnya. Untuk itulah, hindari berbohong, jika memang tidak mau tenggelam dalam seribu kebohongan yang tercipta karena satu kebohongan yang telah dilakukan...


πŸ‘‰ Jangan lupa like, komen, klik favo,rate bintang 5, vote jika suka yaπŸ’– buat yang sudah memberi dukungan nya dikarya saya ini, artinya kalian selalu ingin "SANG PELAKOR" tetap terus update dilapak ini πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ˜˜


πŸ‘‰seluruh komen kalian akan saya usahakan balas, jadi sabar ya😘 kalau ada yang belum saya balas artinya belum sempat saya balas, tapi saya selalu berusaha untuk merespon komen komen kalian, karena saya menghargai kalian yang terus mengikuti karya saya iniπŸ’–πŸ˜˜


πŸ‘‰ Yang merasa sudah menjoin salah satu backsound SANG PELAKOR lagu milik Tata Janetta with penipu hati, yang saya nyanyi kan diakun smule saya Mitha_GSB_UVSS terima kasih ya, keren suaranya πŸ‘



bersambung

__ADS_1


__ADS_2