
"Jangan lupa lu selidiki jadwal suami lu ya, ntar infokan kegue, biar gue rancang apa yang akan kita lakukan.."
Sherlin menghentikan langkahnya, ketika ia baru saja berniat ingin pulang.
"Apa perlu sampai melakukan itu Mel...?
"Tentu sayaaaaang, lu kan mau menyelidiki suami lu kenapa, jadi lu harus tau jadwal suami lu diluar, nah tanpa dia ketahui, kita mulai penyelidikan itu, ya semoga aja feeling kita salah. Nggak mungkin kan Sher, gue yang nanya nanya jadwal suami lu, ntar yang ada dikira gue mepet Revand lagi hahaha...!"
Sherlin mau tidak mau ikut tertawa mendengar ucapan Amel, meski tawanya tawa hambar, hingga akhirnya ia benar benar pamit pulang, karena hari sudah terlalu sore. Beruntung, Rei menginformasikan malam hari bisa kerestoran, jadi Sherlin tidak perlu lembur lagi seperti kemarin.
Didalam perjalanan pulang, mobil mereka nyaris menabrak seorang wanita setengah baya, yang jika dilihat lihat setara dengan usia ibunya. Beruntung sopir Sherlin bisa menghindari insiden tersebut, hingga kecelakaan itu bisa dihindari. Namun, akibat kejadian itu, wanita itu seketika jatuh di atas jalan beraspal.
Khawatir terjadi apa apa, Sherlin dan sang sopir segera keluar dari mobil, dan memburu tubuh wanita itu segera.
"Bu, maaf, anda tidak apa apa...? Maaf ya, tadi ibu tidak melihat kiri kanan ketika sedang menyeberang...!"
Kata Sherlin sembari membantu wanita itu bangkit. Sopirnya ikut melakukan hal yang sama, hingga wanita itu sekarang bisa berdiri meski wajah nya masih membayang rasa shock yang teramat sangat.
"Iya. Maaf, saya yang salah, tiba tiba saja kepala saya begitu sakit. Saya tadi mau pulang, sopir saya sedang dijalan ingin menjemput saya, tapi mendadak menelpon mobil harus segera masuk bengkel karena ban nya bocor, saya tadi buru buru untuk pulang, asisten suami saya bilang, suami saya masuk rumah sakit, jadi tidak memperhatikan jalan lagi..!"
"Apa ibu perlu bantuan...?"
"Saya harus segera kerumah sakit nak, dokter sedang menunggu saya selaku istrinya, mereka akan melakukan prosedur medis, dan itu perlu sepersetujuan saya..!"
"Biar saya antar Bu, rumah sakit mana...?"
Sherlin bicara tanpa berfikir panjang lagi.
"Ah, jangan, saya takut merepotkan, tolong pesankan taxi online saja nak. Bisa...?"
"Bu, kalau ibu pesan taxi sekarang, butuh waktu beberapa menit untuk menunggu, lagipula ibu juga sedang tidak sehat, terlalu bahaya, sebaiknya saya antar saja, saya sedang tidak buru buru kok, ibu beritahu kan saya alamat rumah sakit dimana suami ibu dirawat..."
"Kalau begitu terima kasih banyak ya nak. Kamu tidak hanya cantik, tapi juga baik hati,"
Sherlin membimbing wanita itu kedalam mobil nya, memberitahu kan pada sopir nya alamat rumah sakit, yang tadi disebut wanita tersebut, lalu segera mobil itu meluncur menuju rumah sakit, yang tidak begitu dari jarak mereka sekarang.
Tidak lama kemudian, mereka sampai. Sherlin segera membantu wanita itu untuk mencari ruangan sang suami. Meski terlihat tidak sehat, Sherlin bisa merasa kan begitu khawatir nya wanita ini pada kondisi suaminya.
"Bu, semoga suami ibu segera sehat kembali ya, ibu juga harus memperhatikan kesehatan ibu, maaf saya harus pulang, suami saya dari tadi sudah menelpon,"
Ketika sudah menemukan ruangan suami wanita tersebut, Sherlin berniat pamit pulang. Ponsel nya dari tadi sudah berdering, Revand beberapa kali menghubungi nya. Ia yakin, suaminya itu sudah pulang kerumah.
__ADS_1
"Iya, terima kasih ya nak, andai saja anak ibu seperti kamu, bahagia sekali rasanya, disaat seperti ini, memang ingin sekali diurus oleh anak anak yang sudah besar besar...!"
"Anak ibu memangnya kemana..?"
"Dia sudah lama tidak mau kembali kerumah nak. Tapi itu juga bukan kesalahan dia sepenuhnya, kami sebagai orang tua juga bersalah, hingga mungkin dia menghukum kami seperti itu..!"
Dasar, mau seberapa besar rasa kecewa pada orang tua, kurasa sangat tidak bijak acuh pada orang tua sendiri..
Sherlin membathin.
"Semoga hati anak ibu segera dijamah Tuhan ya Bu, mungkin kalau mendengar ayahnya sakit, dia jadi tersentuh dan mau pulang..!"
"Amiiin..."
Sherlin segera pamit. Wanita itu hanya bisa menatapi kepergian Sherlin dengan tatap mata penuh perasaan.
Wanita seperti itu sangat jarang aku temui, tidak kenal tapi tulus berbuat kebaikan. Andai aku punya menantu seperti dia, tentu putraku akan sangat bahagia..
Lamunan wanita itu tersadar, ketika dokter mempersilahkan nya untuk melihat kondisi sang suami.
***
Ketika Sherlin masuk kedalam kamar, Revand baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk melilit tubuhnya yang terlihat sangat segar. Melihat sang istri, Revand segera menghampiri. Mencondongkan wajah nya mengecup bibir istri nya. Bukan. Bukan hanya mengecup, tapi juga m*lu*at hingga Sherlin yang tidak siap diperlakukan seperti itu mendorong nya secara halus...
Sherlin mengucapkan hal itu sambil membuka jaket yang dipakai nya.
"Mau kondisi apapun kamu, aku selalu bergairah melihatmu, cuma seperti nya, kamu yang nggak pernah merasa bergairah setiap kali melihat ku..!"
Sherlin yang semula ingin melangkah menuju kamar mandi, seketika menghentikan langkahnya mendengar ucapan suaminya. Ia membalik kan tubuhnya. Ditatapnya Revand yang juga tengah menatap kearah nya dengan tatapan mata serius.
"Vand. Kamu udah tau aku sejak lama kan, aku terlalu malu bersikap berlebihan dihadapan kamu, aku emang nggak pernah memulai semuanya lebih dulu, tapi bukan berarti aku nggak nafsu sama kamu kan..?"
Revand menghampiri sang istri. Berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengan sang istri.
"Kalau wanita lain, melihat suaminya berpenampilan begini pasti pengen minta lebih dari sekedar ciuman, tapi kamu tadi, aku cium malah melerai, aku jadi berfikir, apakah cuma aku yang selalu bergairah setiap kali berada didekat kamu...!"
"Aku nggak perlu menjawab pertanyaan kamu itu Vand, aku yakin kamu tau jawabnya, aku belum bisa. Aku nggak bisa merubah diriku jadi sekejap nakal kepada mu, tapi aku harap, jangan artikan itu karena aku nggak mau menyentuh kamu, aku hanya terlalu malu, aku malu memulai semua lebih dulu, kalau aku diam aja saat kamu melakukan itu padaku, artinya aku juga menginginkan nya, apa itu nggak cukup sebagai bukti, aku juga menginginkan kamu..?"
"Aku tau sayang. Aku mengerti itu. Tapi apa aku salah, punya fikiran seperti itu...? Aku merasa hanya aku yang punya peran dalam membangkitkan gairah hubungan intim kita, kamu nggak pernah mau mencoba, bahkan sekedar meminta aja kamu nggak pernah, aku juga mau mendengar itu kamu katakan dihadapan ku sayang, agar aku yakin kita sama sama menginginkan nya...!"
Rasanya, dada Sherlin seperti dihantam palu godam mendengar ucapan yang tadi diucapkan suaminya. Ia fikir kekhawatiran nya tentang sifat malunya ini tidak perlu dikhawatirkan, karena toh, mereka sudah bersama sejak lama. Tapi kenapa sekarang Revand membahasnya...? Ini seperti janggal. Apakah semua pria akan berubah seperti ini, jika tidak melihat istrinya melakukan perubahan tertentu...?
__ADS_1
Atau, ini gejala lain yang harus diwaspadai olehnya...? Bagaimana caranya ia mengucapkan bahwa meskipun ia tidak pernah memulai, tapi ia juga menginginkan nya...? Kenapa sekarang Revand justru mempermasalahkan hal ini...? Apakah ia memang benar benar keterlaluan...?
"Maafkan aku Vand. Maafkan aku, kalau mungkin dimata kamu, aku belum bisa jadi istri yang baik untuk kamu...!"
Ucap Sherlin sarat luka. Rasanya sekarang hatinya tersayat. Tapi ia tidak tahu, apakah sikapnya ini benar. Merasa terluka saat suami punya fikiran seperti itu.
Revand menghampiri sang istri. Menjangkau tubuh istrinya, lalu memeluk tubuh mungil itu erat.
"Sekali kali, aku mau kamu inginkan sayang, agar aku tau, kamu juga sama bergairah nya seperti aku yang selalu menginginkan mu. Aku takut, sikapmu yang seperti ini penyebab kamu belum hamil juga, kamu nggak pernah menginginkan aku hingga benihku tidak pernah tumbuh di rahim kamu.."
Revand berbisik seperti itu sembari membenamkan wajahnya dileher istrinya. Aroma sabun menyambar hidung Sherlin, yang keluar dari tubuh suami nya. Sebenarnya, itu sudah membuat ia menginginkan suami nya. Namun tetap saja, bibir wanita itu seolah berat untuk mengucapkan nya. Berat untuk mengucapkan, dan juga kaku untuk merealisasikan semua lewat sentuhan.
Sherlin didera berbagai perasaan yang bergolak di hati dan otak nya. Ia hanya diam saat suaminya menuntunnya menuju tempat tidur. Meski pun risih dengan kondisi tubuhnya yang kurang segar karena belum mandi setelah seharian beraktivitas, tapi ia tidak menolak. Khawatir, Revand kembali berfikiran macam macam. Untuk itulah, ia membiarkan sang suami mulai menjelajahi tubuh nya saat mereka sudah diatas tempat tidur.
Sadar istri nya tidak melawan, Revand jadi was was. Khawatir, apa yang ia lakukan membuat istri nya merasa terpaksa.
"Kamu marah..?"
Sherlin menggeleng sambil menggigit bibir bawah nya. Tidak ingin Revand tahu jika hatinya sedang terasa perih.
Revand menatap wajah istrinya begitu lama. Hingga kemudian, jemarinya terulur membelai wajah itu.
"Maaf ya, mungkin ucapan ku tadi bikin kamu sakit hati. Biasanya, kalo belum mandi begini, kamu nggak mau aku sentuh. Tapi sekarang kamu diam, itu artinya kamu terpaksa, kamu diam hanya karna tidak ingin aku kecewa, tapi aku lebih suka kamu yang kemarin, yang menolak jika kamu merasa tidak siap. Maafkan aku. Fikiranku jadi kemana mana. Aku cuma lagi banyak masalah dikantor..!"
Revand mencium kening istrinya, lalu bergerak untuk turun dari tempat tidur. Namun, Sherlin segera bangun, dan memeluk nya spontan.
"Maafkan aku. Aku benar benar nggak bisa berbuat seperti yang kamu mau, aku tau ini seperti nya konyol, tapi aku mau kamu beri aku waktu untuk bisa melakukan itu. Aku mencintai kamu Vand, aku nggak pernah meminta dan memulai bukan berarti aku nggak menginginkan kamu, aku hanya ..."
Sherlin tidak bisa meneruskan ucapannya, karena ia merasa ia tidak kuat untuk melakukan nya. Dibenamkan nya wajahnya didada polos suami nya. Mendapatkan perlakuan manis dari sang istri, senyum Revand terukir. Dipeluk nya erat tubuh istrinya nya. Tangannya membelai rambut panjang Sherlin penuh sayang.
"Maafkan aku yang berlaku janggal pada kamu, aku hanya ingin kamu wanita satu satunya yang bisa aku mintai apapun itu. Aku nggak mau wanita lain yang melakukan nya sayang, aku mau kamu yang melakukan nya, bukan wanita lain.."
Bisiknya ditelinga Sherlin. Sherlin merenggangkan pelukannya. Menatap wajah suaminya.
"Apa ada wanita lain yang melakukan itu padamu..?"
Ada Sher, apa yang ia lakukan membuatku bimbang, terkadang saat Gisella terlalu over bersikap padaku, aku merasa sangat dibutuhkan, tapi aku berharap bukan dia yang melakukan itu padaku, tapi kamu, karena aku hanya mencintai kamu Sher...
NOTE: Terkadang saat kita meminta, orang merasa ia dianggap ada, akan tetapi harus digaris bawahi, tidak semua orang mampu terbuka menyuarakan isi hati, yang penting adalah peka menilai sesuatu. Karena kata cinta bukan sebatas ucapan "aku sayang kamu" saja, tapi juga direalisasikan lewat tindakan.
👉 Jangan lupa like vote klik favo rate 5 jika suka ya💖 buat yang terus stay disini kalian warrrrrbiasah 💝😘
__ADS_1
👉 novel terbaru saya sudah terbit di platform kuning ya gantinya "FACE" yang sudah tamat, judulnya "GARA GARA CORONA" diangkat dari kisah nyata update setiap hari juga😉
bersambung