
Revand dan juga Gisella sudah duduk dihadapan bosnya. Pemilik perusahaan ditempat Revand dan Gisella bekerja itu sengaja memanggil keduanya secara khusus keruangan nya. Sebuah hal yang mau tidak mau membuat Revand dan Gisella sedikit tegang.
"Kalian sudah melakukan tugas kalian..?"
Tanya pria itu sesaat setelah mereka sama sama diam sejenak.
"Sudah pak. Tapi maaf, target kita tidak bisa diajak untuk bekerja sama..!"
Sahut Revand dengan nada bersalah. Pria dihadapan Revand dan Gisella itu menarik nafas sejenak.
"Kalian tahu itu artinya apa...?"
Tanyanya, dengan nada suara datar. Terlihat sekali ketidak puasan mempengaruhi nada suara pria tersebut.
"Kami tahu pak..!"
Sahut Revand dan Gisella bersamaan.
"Lalu, apa rencana kalian..!"
"Kami akan membuat perusahaan itu menyesal sudah menolak kerja sama dengan kita..!"
Untuk sesaat bos mereka terdiam lagi. Seolah ada yang bergolak diotak pria itu.
"Itu tidak mudah. Perusahaan mereka terkenal sangat kuat, akan lebih baik jika kalian mampu mengajak perusahaan mereka untuk mau bekerja sama dengan kita, peluang suksesnya jauh lebih besar, prospek perusahaan mereka itu sangat bagus, jika kita memilih untuk menjadikan mereka saingan kita, kita tentu sangat kepayahan setelah apa yang kita lalui sekarang, kita kehilangan satu partner bisnis kita yang bisa kita andalkan,"
"Jadi maksud bapak..?"
"Bujuk lagi mereka dengan sungguh-sungguh, saya tidak mau kalian tidak serius melakukan tugas ini, jika ada peluang sekecil apapun untuk kita bisa membujuk nya, lakukan. Lakukan apapun untuk bisa membuat mereka setuju, kalau tidak berikan janji yang bisa membuat mereka luluh...!"
"Tapi pak..."
"Saya tidak mau mendengar kata tapi, silahkan kalian keluar sekarang dan fokuslah untuk memikirkan hal ini.."
Revand dan Gisella saling pandang. Revand tahu, jika bosnya sudah mengatakan hal seperti itu, itu artinya keputusan nya tidak bisa ditawar tawar lagi. Tanpa bisa mendebat keduanya akhirnya pamit dari hadapan pria tersebut. Dengan fikiran yang luar biasa kalut.
"Vand, gue punya ide supaya pria itu mau kerja sama dengan kita..!"
"Jaga ucapan kamu Gisella. Ini kantor, bicaralah sesuai aturan yang ada,"
Revand menyela. Ia segera masuk kedalam ruangan nya dengan pikiran yang berkecamuk. Gisella mengikuti. Revand memukul meja kerjanya dengan penuh rasa emosi. Gisella tahu, saat ini pria itu sangat stres menerima ultimatum bos mereka tadi.
"Zill itu. Apa maunya hingga begitu mempersulit keadaan, apa dia tidak percaya dengan masa depan perusahaan kita, hingga berani menolak kerja sama dengan kita,!"
__ADS_1
Serunya dengan wajah merah. Gisella menghampiri pria tersebut. Menyentuh lengannya, hingga Revand sedikit kaget dengan apa yang dilakukan Gisella.
"Vand. Eh, direktur. Kita tidak boleh kalah dalam hal ini, bos seperti nya ingin sekali melihat kita berhasil membujuk Zill, tapi kita tahu jika kita melakukan itu dalam balutan bisnis, pria itu sama sekali tidak tertarik, saya punya ide, mungkin ini lebih efektif, bagaimana kalau kita minta bantuan istri anda untuk meyakinkan pria itu agar hati pria itu luluh...?"
Spontan Revand menghempaskan tangan Gisella yang memegang lengan nya, ketika wanita itu mengucapkan kalimat itu. Ia berpaling menatap wajah Gisella tidak suka.
"Kamu gila..!! Saya tidak suka Sherlin berinteraksi dengan pria itu, tapi kamu menyuruh saya meminta Sherlin untuk melakukan tugas ini...? Saya lebih baik menjadi musuh pria itu daripada rekan bisnis jika harus melibatkan istri saya dalam hal ini ..!!"
Cih, masih cemburu juga ternyata..
Gisella memaki dalam hati. Tapi wanita itu berusaha untuk mengukir senyum.
"Itu hanya usul dari saya, tidak memaksa anda untuk menuruti, hanya saja seperti nya hanya itu jalan satu satunya, cobalah untuk memikirkan nya kembali, jangan terlalu stres direktur, nanti anda tidak menarik lagi karena cepat keriput.."
Revand menepis tangan Gisella yang ingin menepuk pipinya. Gadis itu hanya tertawa kecil melihat reaksi Revand.
Makin emosi, makin hot lu Vand..
Bisiknya dalam hati sembari melangkah menuju pintu ruang kerja Revand, untuk kembali keruangan nya.
***
"Udah pulang...? Maaf ya aku ketiduran, aku buatkan makanan ya.."
Sherlin berkata seperti itu sembari mengucek matanya agar rasa kantuknya hilang.
"Nggak usah. Aku udah makan tadi sambil rapat, aku cuma mau makan kamu aja malam ini,"
Sherlin menahan wajah suaminya yang ingin menciumnya. Tidak ingin nanti ibu atau ibu mertuanya melihat apa yang mereka lakukan. Wajahnya memerah.
"Kamu itu, ntar mama ngeliat nggak enak. Hari ini kamu lelah banget ya..? Kamu pergi dengan penampilan rapi, dasi terpasang, pulang pulang kusut begini, dasi kamu kemana...?"
Sherlin meraih tas kerja Revand dan memeriksa didalam tas tersebut. Dasi sang suami ada disana.
"Aku sibuk banget hari ini, stres banget, pake dasi bikin aku serasa makin tercekik, jadi aku mau malam ini kamu bisa membuat stresku hilang ayo kekamar!"
Revand menarik lengan istrinya untuk mengikuti langkah nya menuju lantai atas untuk kekamar mereka. Ia tidak perduli sang istri yang tertatih tatih mengikuti nya karena masih setengah ngantuk. Ia butuh dihibur malam ini, dan hanya Sherlin yang bisa melakukan hal itu.
"Vand. Tunggu dulu, kamu nggak bersihin tubuh dulu biar segar, aku siapin air hangat ya,"
Sherlin berusaha untuk membuat sang suami bersabar ketika tiba dikamar, Revand sudah agresif menciumi nya, sejak tadi sebenarnya ia juga ingin membicarakan sesuatu pada Revand. Biasanya Revand tidak pulang selarut ini, entah kenapa hari ini, Revand pulang begitu telat, hingga ia seperti tidak ada waktu untuk sekedar bicara berdua seperti biasa yang mereka lakukan. Wanita itu ingin melangkah menuju kamar mandi mereka, namun Revand lebih dulu menjangkau tubuh nya dan memeluk nya erat dari belakang.
__ADS_1
Tidak hanya itu. Sang suami juga langsung menciumi area lehernya tanpa memberikan kesempatan Sherlin untuk bicara apalagi menolak.
"Vand, jangan begini, kita nggak harus terburu buru begini kan, aku pengen bicara sesuatu sama kamu dulu, bukankah kita janji kita nggak akan melakukan hubungan intim kalau salah satu dari kita merasa terpaksa..?"
Sherlin berusaha untuk melawan gairah sang suami. Tidak. Ini bukan hanya sekedar gairah, tapi sepertinya ada sebuah pelampiasan menyertai apa yang dilakukan oleh sang suami padanya. Tidak seperti biasanya, suaminya melakukan itu dengan penuh kelembutan, sekarang terkesan liar, dan setengah memaksa, jujur, Sherlin tidak menyukai hal itu.
Bayangan perbuatan ayahnya pada sang ibu yang kerap ia lihat secara tidak sengaja berkelebat satu persatu diotak wanita itu. Membuat sekujur tubuh Sherlin gemetar. Adegan kekerasan yang ia lihat dari sang ayah pada ibunya membuat Sherlin trauma jika membicarakan seputar pernikahan. Dan sekarang apa yang dilakukan Revand, justru membangkitkan rasa trauma Sherlin kembali.
Bukan terpancing gairah akibat apa yang dilakukan sang suami, Sherlin justru memberikan penolakan. Meski pun ia tahu, tidak seharusnya ia melakukan hal itu kepada suami nya sendiri, namun Sherlin benar benar tidak ingin Revand menyentuh nya dibalut perasaan emosi seperti itu.
Revand kenapa...? Ini mirip dengan apa yang ia lakukan saat di Jepang dulu, apa dia cemburu..? Apa dia nggak suka aku kerestoran terus ketemu dengan Rei...?
Tak henti hentinya Sherlin membathin. Sembari terus melakukan perlawanan. Hal ini membuat Revand jadi terpancing emosi. Ia mengira penolakan Sherlin karena dimata sang istri, ia tidak menggairahkan sama sekali.
"Cukup Vand..! Kamu ini kenapa...? Kenapa kamu kasar begini...? Kamu taukan, aku nggak mau diperlakukan kasar begini,"
Sherlin berteriak tertahan. Teriakan Sherlin membuat Revand menghentikan perbuatannya yang tadi ingin melepas pakaian sang istri dengan paksa.
"Aku memaksa...?Aku sedang bernafsu, apa kamu nggak bisa membedakan itu...? Lalu kenapa kamu keberatan suami kamu menyentuh kamu...?Apa yang dikatakan Rei selama kalian ketemu, hingga kamu bisa menolak ku seperti ini...?!
Revand balas berteriak meski pun juga berusaha untuk tidak meninggikan benar volume suaranya, takut jika keributan mereka terdengar oleh orang tua mereka dibawah ..
"Akukan sudah bilang, kamu nggak perlu cemburu dengan Rei, dia itu sahabat aku, dan kamu juga tau itu, sejak dulu. Rei juga bukan pria yang kurang ajar, harus berapa kali aku bilang hal ini sama kamu...?"
Sebenarnya, aku tidak terlalu cemburu kalau kamu berinteraksi dengan Rei, Sherlin, yang aku kesalkan, kenapa harus kamu yang menjadi jalan keluar masalahku sekarang, ide Gisella itu gila, tapi setelah difikir kenapa aku malah ingin menyetujui nya...! Aku nggak rela. Tapi apa yang harus aku lakukan untuk membujuk pria sialan itu...
Revand menyahuti ucapan istrinya dalam hati. Dihadapan nya, Sherlin masih menatap nya dengan gerak waspada, seperti berjaga jaga jika ia melakukan hal gila seperti tadi.
"Aku nggak mau melayani kamu, kalau kamu emosi seperti tadi Vand, buatku itu bukan pelampiasan cinta, tapi kemarahan kamu...!!"
"Tapi kamu istri ku Sherlin, seharian aku lelah bekerja, aku ingin kamu menghibur ku, kenapa kamu tidak mau melakukan tugasmu sebagai istri..?"
"Jadi tugas istri diotak kamu itu hanya sebagai kewajiban diatas tempat tidur...? Kamu nggak perduli istri kamu tertekan atau tidak...? Kalau begitu mulai besok aku juga mau kerja, biar kamu nggak ada alasan untuk meremehkan aku yang hanya diam dirumah hingga kamu bisa seenaknya memperlakukan aku seperti itu saat kamu sedang emosi...!!"
Habis berkata seperti itu, Sherlin berbalik dan segera masuk kamar mandi. Menutup dan mengunci pintu nya dari dalam. Sebuah hal yang selalu dilakukan Sherlin jika ingin menangis. Meredam segalanya didalam ruang sempit itu sepuas nya tanpa ada yang tahu.
Dan itu membuat Revand tergugu ditempat nya. Pria itu tersadar, sudah menyakiti sang istri untuk kesekian kalinya karena emosi nya yang tidak stabil...
Note: Meminta hak itu perlu, akan tetapi jika hanya tahu meminta hak namun tidak memperdulikan perasaan orang yang harus memberikan hak, itu sama saja sebuah pemaksaan, bukan bentuk ungkapan kasih sayang.
๐ Jangan lupa dukungan kalian untuk karya saya ini jika suka ya๐ Pembaca yang baik pasti tahu isi hati author nya๐
๐ Durasi kuis episode 27 akan di clouse jam 12 malam ini ya gaes๐ masih ada beberapa jam lagi untuk ikutan๐ buat yang udah ikutan, terima kasih ๐
__ADS_1
Bersambung