
" Vand, ini serius kita balik kehotel...?"
Sherlin mencoba membuat tekad Revand berubah untuk membawanya kembali ke hotel.
"Iya dong. Kan mau buat cucu untuk mama. Tempo hari di Banjarmasin, biar anaknya ntar beriman, hari ini di Jepang biar ntar sekuat Kenshin,"
Sherlin tertawa mendengar ucapan suaminya.
"Iya kalau anaknya cowok, mirip Kenshin itu keren, tapi kalau anaknya cewek masa harus sekuat Kenshin...?"
Beruntung, Sherlin cukup tahu siapa itu Kenshin, pendekar legendaris berasal dari Jepang yang dijuluki dengan Battosai tersebut.
"Biar aja. Kan biar bisa jaga diri. Biar bisa jaga mamanya juga kalau papanya nggak ada,"
Sherlin tersenyum. Iya. Tidak buruk juga. Kuat bukan harus untuk pria saja, tapi juga untuk wanita. Biar tidak mudah diinjak.
"Aku pengen nunjukin sesuatu untuk kamu dikamar..."
Bisik Revand. Kini mereka sudah berada dalam lift untuk naik kelantai atas kamar mereka.
"Apa lagi...?"
"Liat aja sendiri.."
Revand tersenyum misterius. Seorang pria Jepang masuk kedalam lift. Memberi senyum pada mereka, sembari menatap kearah Sherlin. Perlahan tangan Revand merangkul pinggang istrinya.
Sialan. Apa apaan tatapan pria ini...
Revand menggerutu dalam hati. Ia bisa melihat, betapa pria tersebut seperti terpesona pada istri nya yang saat itu, tidak sadar diperhatikan.
" Kanojo wa anata no tsumadesu ka,"
Pria itu bertanya pada Revand. Memakai bahasa Jepang.
Apa dia mengira kami orang Jepang...
Revand membathin. Sherlin melongo. Tidak paham dengan apa yang diucapkan pria yang tengah menatap mereka bergantian tersebut.
"Kanojo wa watashi no tsumadesu.."
Sahut Revand sekenanya.
Pria tersebut tersenyum.
"Kawaikute Kawai.."
Emang istri gue cantik...
Revand sebal. Sebal karena ada pria lain memuji istri nya dengan tatapan seperti itu. Segera ia membawa Sherlin keluar dari lift, ketika lantai yang mereka tuju sudah sampai. Tidak tahan jika pria tadi terus terusan menatapi istrinya.
"Tadi kalian ngomong apa...? Aku nggak ngerti,?"
Tanya Sherlin setelah mereka keluar dari lift. Lengan Revand masih merangkul pinggang nya, meskipun berulang kali Sherlin melepaskan nya dengan halus. Ini kan ditempat umum, masih diluar area kamar. Rasanya kurang pantas seperti itu. Pikir Sherlin.
"Pria tadi nanya, kamu itu istri aku bukan ..?"
Revand menjawab pertanyaan istri nya.
"Terus kamu jawab ..?"
"Ya, aku jawab iya dong, enak aja dia mandangin kamu begitu,!"
Oh, jadi itu sebabnya, Revand tadi langsung memeluk pinggang ku...
Sherlin bicara dalam hati.
"Terus kalimat kedua apa...?"
Kembali Sherlin bertanya. Revand tidak segera menjawab.
Haruskah aku bilang kalau pria tadi memuji dia...
Bathin Revand.
__ADS_1
"Vand..."
Suara Sherlin kembali terdengar.
"Dia......"
"Iya...?"
Sherlin bingung melihat betapa Revand seperti nya malas menjawab pertanyaan nya tadi.
"Kenapa kamu kayak tertekan gitu sih...?"
Revand spontan menghentikan langkahnya. Menatap istrinya dengan tatapan mata serius.
"Aku nggak suka ada yang muji kamu sambil menatap kamu seperti tadi...?"
"Oh, kalimat kedua tadi muji...?"
Revand mengangguk.
"Dia bilang apa...?"
Tanya Sherlin penasaran. Wajah Revand seketika bete.
"Kamu harus janji jangan masukin kalimat itu kedalam otak kamu.."
Astaga, apa pria dihadapan ku ini lagi cemburu...
"Iya, aku janji.."
"Dia tadi bilang kamu cantik dan imut...!"
Revand akhirnya memilih jujur saja untuk jadi penerjemah istrinya.
"Wah, berarti istri kamu nggak jelek jelek amat dong Vand, orang Jepang aja bilang gitu.."
Sherlin menggoda suaminya. Wajah cemburu suaminya itu lucu menurutnya.
"Cup..!"
Revand dibuat kaget ketika Sherlin sudah mencium pipinya spontan.
"Buat aku, pujian kamu yang lebih bermakna sayang..."
Ucap Sherlin dengan wajah bersemu. Ini kali pertama ia mencium Revand lebih dulu, selama mereka bersama. Biasanya, hanya Revand yang memulai lebih dulu, lalu ia yang menerima dan merespon. Meski bagi sebagian wanita, memulai itu tidak tabu. Entah kenapa, Sherlin malu untuk melakukan itu.
Mendapat kecupan pertama dari istrinya, wajah Revand semringah. Rasa cemburu nya seketika sirna.
"Ayo cepetan kekamar..." Bisik Revand nakal.
Duh, Revand kayaknya bener bener niat amat ngajakin kekamar buat gituan..
Bathin Sherlin berdebar. Ini memang bukan yang pertama, tapi entah kenapa rasanya masih membuatnya berdebar setengah mati.
Pintu kamar terbuka. Revand membimbing istrinya, karena tadi ia meminta Sherlin untuk menutup kedua matanya. Sherlin hanya menurut.
" Sekarang buka mata kamu..."
Sherlin menuruti perintah Revand. Membuka kedua matanya. Dan, ia dibuat terpesona melihat tempat tidur mereka sudah banyak ditaburi kelopak bunga mawar. Bunga itu membentuk love dibagian tengahnya. Ini indah sekali ..
"Vand. Cantik bener. Kapan kamu buat ini..? Tadi pagi belum gini deh waktu kita tinggal...!"
Sherlin memekik penuh rasa takjub. Ia menjumput kelopak bunga mawar tersebut dan menciumnya. Wangi.
"Kapan pun aku selalu bisa ngasi surprise buat kamu sayang, kamu suka...? Harusnya nanti malam baru kamu boleh liat, siapa suruh, bikin aku pengen cepat ajakin kamu pulang,"
Tatapan mata Revand berubah menjadi tatapan penuh arti. Sherlin tahu arti tersebut. Revand menghampiri sang istri, dan memeluk tubuh mungil tersebut, sembari ingin mencium bibir sang istri, tapi Sherlin mencegah nya.
"Vand, ntar dulu, aku mau abadiin ranjang cantik ini diponsel,"
Kata Sherlin sembari mengeluarkan ponsel nya dari tas yang belum sempat ia letakkan saat mereka tiba tadi.
__ADS_1
"Sekalian abadikan adegan yang mau kita buat diatas ranjang itu dong.."
Revand berbisik nakal kembali.
"Enggak...!!"
Sherlin spontan menolak. Wajahnya merah. Revand tergelak. Sudah ia duga Sherlin pasti tidak setuju, meskipun ia sebenarnya ingin juga mengabadikan momen bercinta mereka.
"Vand, kamu nggak ngerekam apa yang kita lakukan dikamar kan...?"
Sherlin bertanya dengan tatapan mata serius.
"Emang kenapa...? Kan kalo aku kangen kamu, aku bisa liat video kita.."
"Vand..! Aku serius. Aku nggak suka begituan kamu rekam. Ntar kalau kesebar, gimana...!"
"Ya, jangan sampai kesebar dong sayang..."
"Vand...! Kamu bener bener nyimpen semua video kita...? Mana ponsel kamu, sini aku hapus..!!"
Sherlin jadi bete. Dia benar benar tidak suka hal hal seperti itu direkam segala. Baginya itu sangat berbahaya. Begitu banyak kasus dimedia mencuat, video pribadi tersebar oleh oknum tertentu, dan Sherlin tidak bisa membayangkan jika itu juga terjadi pada rumah tangga nya.
Revand menangkap lengan kecil sang istri yang mencoba menggeledah saku celana nya untuk mencari ponsel nya.
"Ada yang bangun karena rabaan kamu, kamu harus tanggung jawab..!"
Bisiknya ditelinga Sherlin. Tapi Sherlin meronta. Ia mencoba memberi perlawanan. Sungguh ia tidak mau melakukan hubungan intim jika sedang kesal seperti sekarang.
"Aku nggak mau ngelayani kamu..!"
Kata Sherlin jutek. Revand tertawa. Sangat puas ia bisa menggoda istrinya seperti itu.
"Aku becanda sayang, emang pernah aku melakukan hal yang sekira kira kamu nggak suka...? Ya, aku sebenarnya nggak keberatan sih direkam, buat koleksi pribadi, tapi aku tau kamu pasti nggak suka, ya nggak papa, semua adegan kita udah kurekam diotak aku. Suara desahan kamu, ekskresi malu malu kamu, dan..."
"Revaaaaaand....ih, udah nggak usah diterusin...!!"
Wajah Sherlin semakin merah mendengar kalimat yang diucapkan istri nya. Tapi ia percaya, Revand tidak melakukan hal yang tidak ia suka. Jadi kekesalannya perlahan sirna.
"Makasih ya, lagi lagi kamu bikin aku merasa sangat dispesialkan..."
Kata Sherlin dengan nada serius. Revand tidak merespon ucapan yang diucapkan oleh istrinya. Ia mengangkat tubuh mungil Sherlin lalu membaringkan nya diatas tempat tidur yang penuh dengan kelopak bunga mawar tersebut. Membuat Sherlin merasa sekarang ia berubah menjadi tuan putri. Berbaring diantara kelopak bunga mawar yang sangat wangi ..
" Aku mau kata terima kasih kamu yang lain.."
"Ta, tapi Vand, kitakan dari luar. Apa nggak kita bersihkan tubuh kita dulu..."
Sherlin mulai dibuat berdebar lagi ketika jemari tangan suaminya itu sudah bergerilya dibalik pakaian yang ia kenakan.
"Kelamaan, aku maunya sekarang..."
Habis berkata begitu, Revand membungkam mulut istrinya dengan ciuman nya. Tidak ingin lagi ada kalimat penolakan dari sang istri. Gairah nya sekarang sedang berada dipuncak. Meski ini sudah yang kesekian kalinya mereka lakukan pasca menikah. Entah kenapa, Revand tidak pernah merasa bosan melakukan itu pada sang istri.
Menyentuh, mencium, membelai dan membuat tanda kepemilikan di bagian bagian sensitif tubuh istrinya, membuat Sherlin tidak bisa menahan lenguhan nya yang ditelinga Revand begitu jadi terdengar sangat indah.
"Vand, aku belum abadikan ranjangnya, kan udah rusak karna pergulatan kita.."
Saat Revand tidak lagi membungkam mulut nya dengan ciuman panasnya tersebut, Sherlin mengucapkan kalimat itu. Rasanya, Sherlin tidak terima pemandangan indah yang di buat Revand tidak diabadikan.
"Ada diponsel ku, sekarang kamu nggak usah mikir itu, fokus aja buat menikmati apa yang aku lakukan sekarang, jangan fikirin hal yang lain, fikirin aku aja, sebut nama aku saat kamu merasa mencapai puncak, aku nggak mau ada nama pria lain yang kamu sebut, saat kita melakukan hal penting ini..."
Revand masih kepikiran dengan pujian pria Jepang tadikah...
Suara hati Sherlin berkata. Tapi itu hanya sesaat. Hanya sesaat fikiran Sherlin memikirkan hal lain. Karena selanjutnya ia dibuat sibuk terbang melayang ketika Revand sudah menciumi sekujur tubuh nya yang entah sejak kapan sudah tanpa busana.
Sherlin bisa merasakan, meskipun sekarang gairah suaminya begitu besar, tapi Revand tetap memperlakukan ia dengan sangat baik dan lembut. Tidak kasar sama sekali. Hingga rasa takut yang dahulu sempat menjadi momok bagi Sherlin saat melihat betapa ibunya mengalami ketersiksaan ketika ayahnya minta dilayani, tidak menghinggapi Sherlin setiap kali Revand menyentuh nya..
Revand suami yang bisa menghargai wanita, meskipun sedang dipuncak gairah nya sebagai lelaki...
Note: Nafsu bisa menghilangkan akal sehat manusia, tapi manusia diberi otak untuk berfikir agar tidak diperalat oleh nafsu...
**Jangan lupa like, vote, klik favorit & komen jika suka yađź’ť
Bersambung**
__ADS_1