SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 40. TUNTUTAN.


__ADS_3

"Sher, dari tadi gue liat lu sedih gitu sih, lu kagak suka kita berhasil membuat pria es itu mau tanda tangan kontrak dengan kita...? Kita restoran baru lho ini, bisa bikin dia mantap kerja sama dengan kita itu luar biasa...!"


Setelah Zill pamit pulang usai menyelesaikan sejumlah persyaratan, tentang perjanjian kerja sama mereka, Rei melontarkan pertanyaan tersebut kearah Sherlin. Sherlin menghela nafas panjang, ditatapnya wajah Rei dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Sher, ada suami lu diluar tumben lu dijemput..!"


Tiba tiba saja Amel muncul, sembari mengucapkan kalimat tersebut.


"Suruh masuk aja, gue masih ngomong ama Sherlin..!"


Pinta Rei, pada Amel. Amel menatap wajah Rei, dan Sherlin bergantian.


"Kalian kenapa sih...? Bukannya seneng udah berhasil tekan tender ama orang berpengaruh, malah suram gitu..!!"


Amel tidak tahan untuk tidak protes. Sherlin menatap Amel dengan tatapan sama seperti ia tadi menatap Rei.


"Maaf ya, mungkin ini hari terakhir aku kerja disini, tapi aku janji kok, sering datang buat makan disini,"


Sherlin mengucapkan kalimat itu dengan susah payah. Rei dan Amel saling pandang.


"Maksud lu apaan Sher. Lu mau berhenti...? Kenapa..? Lu kagak suka kerja disini..? Gue terlalu menekan lu..?"


Rei tidak bisa menahan rasa terkejut nya, mendengar pernyataan Sherlin. Ini terlalu tiba tiba, disaat ia merasa gembira berhasil membuat Zill mau bekerja sama dengan nya, malah ia kehilangan rekan setianya disaat waktu yang bersamaan. Sherlin untuk sesaat bingung ingin menjelaskan alasannya, ia tidak ingin jujur bahwa, Revand lah yang melarangnya, karena ia tidak ingin dua sahabatnya itu men-cap Revand pria plin plan. Cukup dia saja yang punya fikiran seperti itu.


Ini masalah rumah tangga nya. Rasanya tidak etis, jika seluruh persoalan rumah tangga nya, diketahui oleh orang lain, meski pun itu sahabat nya.


"Aku, em, sebenarnya aku betah Rei, kamukan tau, aku suka masak. Aku bersyukur kamu mau percaya sama aku untuk kerja sama dengan kamu disini, tapi belakangan ini aku merasa sangat kelelahan, aku takut itu mengganggu kondisi ku, mertua dan juga ibuku ingin aku cepat hamil, jadi aku break dulu.."


Wajah Amel dan Rei, yang semula merasa tidak terima dengan keputusan Sherlin, perlahan jadi memancarkan aura, memahami. Alasan Sherlin menurut mereka masuk akal. Sherlin punya tubuh mungil, tapi ia selalu sergap dalam melakukan apapun, hingga terkadang wanita itu justru terkesan memforsir dirinya.


Akan tetapi suasana saling memahami itu seketika sirna ketika tiba tiba saja, Revand muncul diantara mereka dan mengucapkan hal yang benar benar tidak bisa mereka terima.


"Gue yang minta istri gue buat berhenti, gue harap kalian bisa memaklumi itu..!"


Sherlin melotot kearah Revand. Ia berusaha untuk melindungi sang suami dimata para sahabat nya, justru suaminya sendiri membongkar semua nya. Rei terlihat tidak terima, ia menghampiri Revand dengan tatapan mata serius.


"Lu itu gimana sih. Bukannya lu udah setuju, istri lu kerja sama ama gue, terus kenapa tiba tiba lu ngelarang bini lu kerja ama gue..?"

__ADS_1


"Karena gue berhak melakukan itu. Gue suami nya, dan istri wajib patuh dengan suami nya..!"


"Tapi suami juga harus konsisten dong. Lu itu plin plan Revand. Lu bisa menyakiti istri dan kami semua karna sikap lu itu...!!"


Kini yang bicara adalah Amel.


"Gue kagak peduli. Yang jelas, ini rumah tangga gue, apapun yang gue putus kan itu hak gue, tolong kalian mengerti itu..!"


"Lu egois tau kagak Vand..!! Apa itu karna kita kagak berhasil membujuk Zill buat kerja sama dengan perusahaan lu. Terus lu jadi bertindak macam ini...? Gue baru tau, ternyata lu ini kagak profesional..!!"


Rei tidak bisa menahan emosi nya, meski pun Sherlin berusaha untuk melerai pertengkaran mereka.


"Rei. Jaga sikap lu. Lu hanya teman Sherlin, gue suaminya, Sherlin berhak patuh ama gue, bukan lu. Sherlin tanggung jawab gue dunia akhirat, jadi jangan ikut campur dalam masalah rumah tangga gue..!!"


Revand mulai terpancing emosi karena ucapan Rei, cukup tepat menohok hatinya. Tapi ia tidak mau mengakui itu semua, karena ia punya gengsi yang lumayan tinggi dihadapan dua teman istrinya ini.


"Yang harus lu salahkan itu Gisella. Dia yang bawa sial perusahaan lu. Kalau aja Gisella, kagak jadi sektretaris lu, direktur itu pasti mau kerja sama ama lu, kenapa lu kagak memecat Gisella aja dari perusahaan lu..? Kenapa harus mencabut izin lu itu buat istri lu...?"


Wajah Revand mengelam mendengar ucapan frontal yang diucapkan oleh Amel. Sherlin semakin gencar melerai pertengkaran ke tiganya, namun ia kalah kuat karena Amel dan Rei benar benar tidak terima dengan perlakuan Revand, yang dinilai tidak profesional.


"Vand. Ayo kita pulang..! Rei, Amel. Aku minta maaf ya, aku mohon kalian mengerti aku dulu, maaf..."


"Kalian kagak pernah berbuat dosa ya, hingga kalian picik berfikir, bahwa semua ini kesalahan Gisella, kalau kalian mau mencap siapa yang kagak profesional disini, kalian harus nya mencap direktur itu. Bukan gue...! Dia punya masalah pribadi dengan Gisella, tapi dia mengkaitkan ini dengan pekerjaan, kalian liat siapa yang kagak profesional disini ...!!"


"Tapi mata gue menilai, Zill lebih profesional dibanding kan lu Vand, lu seenaknya mencabut izin lu tanpa alasan yang jelas...!!"


Rei menyahut, dengan nada suara meninggi. Revand menghampiri Rei, meskipun Sherlin masih berusaha untuk menarik lengan nya, untuk menjauhi dua sahabat nya tersebut.


"Alasan gue kagak mau istri gue kerja sama ama lu, emang karna gue kagak suka Zill kerja sama dengan lu, restoran yang baru buka ini, tapi dengan perusahaan gue dia seenaknya menolak seolah olah, perusahaan gue ini kagak punya prospek bagus kedepannya hanya karena ada Gisella disana. Dia kagak profesional, kenapa gue harus profesional...?"


"Lu yakin hanya karena Gisella dia kagak mau kerja sama dengan perusahaan lu...? Bagaimana kalau ternyata dia tahu, perusahaan lu itu, perusahaan yang kagak jujur...?"


"Br*ngsek lu...!!"


Dengan penuh luapan emosi, Revand mendorong tubuh Rei hingga, Rei terjajar kebelakang. Diperlakukan kasar seperti itu oleh Revand, Rei tidak terima, pemuda itu memperkokoh posisi nya, dan maju menghampiri Revand, ingin melakukan hal yang sama kepada pria tersebut. Namun Amel menahan nya, begitu juga Revand yang sekuat mungkin ditahan oleh Sherlin.


"Lu yang br*ngsek Vand, lu lampiaskan kekesalan lu pada istri lu dan kami, padahal, harusnya lu introspeksi diri, perbuatan lu sendiri yang bikin usaha lu kagak lancar, lu mempertaruhkan pernikahan lu sendiri hanya karena berlagak sok baik ama cewek binal kayak Gisella.. !! Lu fikir, dia emang benar benar mau berubah...? Lu yakin dia mau berubah...? Bukan pengen ngerebut lu dari Sherlin...!!"

__ADS_1


Revand semakin emosi mendengar ucapan Rei selanjutnya, hingga secara tidak sengaja ia menghempaskan tangan Sherlin yang memegang nya dengan kasar.


Apa yang dilakukan Revand membuat tubuh Sherlin terdorong keras kebelakang. Wanita itu terjatuh membentur kursi yang ada dibelakang nya. Hingga hal itu menimbulkan bunyi gaduh. Beberapa karyawan yang bekerja dengan Rei segera memberikan pertolongan pada Sherlin.


Beberapa tamu pun dibuat bengong dengan kejadian live yang ada dihadapan mereka, bahkan ada salah satu diantaranya yang sibuk merekam kejadian itu dengan ponsel mereka.


Sementara itu Revand kaget dengan apa yang ia lakukan sendiri pada istri nya. Pria itu segera memburu sang istri, dan memeriksa kondisi Sherlin, khawatir istrinya itu terluka. Namun Sherlin melerai pegangan tangan suaminya. Ia berusaha untuk bangkit, meski wajah nya mengerenyit menahan sakit.


"Kita pulang sekarang..!"


Katanya pada Revand, sembari membalikkan tubuhnya, dan tertatih melangkah meninggalkan tempat itu. Sherlin masih mendengar teriakkan Amel yang mengkhawatirkan nya. Tapi ia terpaksa menulikan telinga nya, karena tidak ingin, Revand dan dua sahabat nya itu kembali meneruskan pertengkaran mereka.


Revand segera memburu sang istri, tidak henti hentinya ia berusaha untuk meminta maaf pada sang istri berulang kali. Namun Sherlin memilih bungkam.


Wanita itu segera masuk kedalam mobil mereka. Dan duduk tanpa berkata apa apa lagi. Revand menyusul masuk. Duduk dibelakang stir, tapi tidak menstater mobil itu, karena ia merasa masih tidak tenang jika permintaan maaf nya tidak direspon sang istri.


"Sayang. Aku minta maaf, aku nggak sengaja melakukan itu padamu...!"


Katanya pada sang istri.


"Dibanding punggung ku yang sakit terbentur kursi, hatiku lebih sakit Vand, semula, aku berusaha untuk melindungi mu, menutupi hal yang sebenarnya, agar teman temanku nggak berprasangka buruk tentang mu, tapi kamu tanpa berfikir panjang membongkar segala nya, plus membuat keributan pula disana, kamu bisa merusak citra baik restoran Rei, dan juga merusak citra baik mu sendiri, aku heran sama kamu, kenapa selama kamu kenal Gisella, kamu banyak berubah...!!"


Suara Sherlin terbata saat mengucapkan kalimat tersebut. Wanita itu memang berusaha untuk terlihat kuat, akan tetapi sangat jelas terlihat, ia sedang begitu shock menerima kejadian yang tadi dialaminya.


"Aku minta maaf. Tapi ini nggak ada hubungannya dengan Gisella, ini karena memang dikerjaan aku lagi banyak masalah ..!"


Suara Revand merendah saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Sadarkah kamu, setiap kali kamu meminta maaf, setiap kali itu juga kamu mengulang kesalahan yang sama...? Kamu sadar nggak. Kamu ngelarang aku kerja itu karena kamu cemburu dengan Zill, setiap kali kamu cemburu, setiap kali itu pula kamu berbuat hal yang berlebihan, kamu nggak bisa merubah Gisella menjadi baik Vand. Justru kamu yang sekarang jadi berubah...! Kalau kamu begitu menuntut aku untuk berhenti bekerja sama dengan Rei, bagaimana kalau aku juga melakukan hal yang sama...? Aku juga ingin menuntut hak ku sebagai istri. Aku nggak suka kamu terlalu dekat dengan Gisella. Aku bukan ingin membuatmu jadi manusia pembenci, akan tetapi, aku nggak mau, Revand yang aku kenal baik, lembut dan jujur berubah jadi buruk hanya karena orang lain. Aku mau, kamu menjauhi Gisella. Aku nggak mau dia jadi sekretaris kamu lagi, atau, lebih baik, dia nggak kerja di perusahaan kamu...!!"


Jantung Revand seolah berhenti berdenyut, mendengar ultimatum yang diberikan Sherlin padanya. Ia tidak menyangka, istri polos yang ia tahu sangat patuh padanya ini, sekarang juga bisa balik menuntut nya...!


Note: Jika tidak cukup kuat merubah seseorang menjadi lebih baik lagi, lebih baik lindungi diri agar tidak dirusak oleh orang tersebut. Membuat seseorang berubah menjadi lebih baik lagi itu baik. Akan tetapi, jika diri sendiri berubah menjadi buruk hanya karena pengaruh orang tersebut, maka itu berarti anda belum cukup punya pertahanan yang kuat untuk berjibaku ikut andil merubah seseorang menjadi lebih baik lagi.


👉 DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA. JAYA, DAN DAMAI SELALU INDONESIA KU, SEMOGA BUMI PERTIWI LEKAS TERBEBAS DARI PANDEMI CORONA INI.


🇮🇩🇮🇩🇮🇩 MERDEKA 🇮🇩🇮🇩🇮🇩

__ADS_1


👉 pembaca yang baik pasti tahu isi hati author nya 😘


bersambung


__ADS_2