
"Apa...? Kamu mau jadi waiters..? Nggak malu kamu, kamu itu mantan direktur Revand, ngapain kamu jadi waiters, harusnya kamu jadi bos disana bukan pelayan...!"
Sudah diduga, reaksi seperti itu pasti akan didapatkan Revand dari ibunya ketika ia berterus terang kepada ibunya. Beruntung, Revand mengajak ibunya bicara didalam kamar, tidak diluar, hingga ucapan ketus sang ibu tidak terdengar oleh istri dan ibu mertua nya.
"Cuma sementara mi, sambil nunggu panggilan daripada nganggur, sekalian aku juga mau kasi tau mami, Sherlin kerja jadi model jadi semisal mami melihat Sherlin dengan orang lain, bukan berarti dia selingkuh ya, mami bisa jelaskan itu pada orang orang rese yang suka gibah disekitar mami..!"
Sang ibu melotot mendengar ucapan anaknya.
"Sherlin jadi model...? Emang bisa..? Dia bukan Gisella lho yang intelek, penampilan dia juga biasa banget, PH dari mana yang mau mengontrak dia..? Jangan jangan model majalah dewasa...!"
"Mami...!! Jaga ucapan mami. Tolong jangan bicara seburuk itu untuk istriku mi, dia istriku, orang yang aku cintai, aku memberi tahu soal ini sama mami, karena ingin mami nggak salah paham, tolong mi, pahami situasi kami sekarang, kami benar benar butuh dukungan dan doa mami...!"
"Mami masih tidak rela melihat situasi kamu yang sekarang Revand, mami malu dengan teman teman mami, kenapa kamu nggak terima aja sih usul mami, menikah dengan Gisella, kamu bisa mendapatkan kedudukan kamu lagi dikantor itu sayang,"
"Cukup Mi, aku capek membahas ini sama mami. Tolong jangan memancing emosi ku terus, aku sekarang lagi banyak fikiran, aku nggak mau jadi bertindak kurang ajar sama mami, tapi mami bantu aku juga, tolong bantu aku jangan bersikap seperti ini..!"
Habis berkata seperti itu, Revand keluar dari kamar sang mami, otaknya semakin kusut, tidak dihiraukan nya suara sang ibu yang masih memanggilnya karena masih ingin bicara..
Tuhan, tolong aku untuk bisa menghadapi situasi ini terutama sikap mami, aku benar benar nggak mau jadi anak durhaka, tapi aku juga nggak mau jadi suami yang zalim...
Revand berkata didalam hati, sembari sesekali memijit kepala nya yang terkadang menimbulkan rasa sakit mendadak, namun, frekuensinya tidak sesering saat tadi malam. Rasanya, Revand jadi merinding jika mengingat apa yang telah ia alami tadi malam. Hingga ia tertidur dipelukan Sherlin, lantaran ketakutan dengan apa yang ia alami tersebut.
Gisella sialan. Masih belum puas kamu membuatku jatuh seperti ini, sekarang ingin aku terserang guna guna kamu lagi, mungkin aku harus konsultasi dengan Roy dan Pram menyoal ini ..
Revand kembali didalam hati.
***
"Sherlin, sayang astaga terima kasih ya, kamu mau datang sayang, mana suami kamu nggak ikut...?"
Ibu Zill menyambut Sherlin dengan senyum semringah saat Sherlin datang kebutiknya. Dicium nya pipi kiri dan kanan Sherlin penuh sayang.
"Ah, Revand kerja direstoran Bu, jadi nggak bisa nganterin, tapi dia ngizinin kok,"
"Kerja direstoran..? Jadi berita itu benar...?"
Tiba tiba Zill muncul dari arah dalam. Perasaan salah tingkah langsung menyerbu Sherlin seketika.
"Ia, berita itu benar, Revand sekarang udah di pecat secara tidak hormat dari perusahaan dia, karena kasus malam itu..!"
"Aneh, artinya apa yang dilakukan Gisella berarti sudah sepersetujuan bos Revand dong..?"
"Seperti nya begitu, tapi kamu bisa tanya langsung ke Revand soal itu, karena jujur aja, aku belum berani terlalu mengorek soal itu sama dia, Revand sekarang kelihatan depresi bener, aku nggak tega liatnya. Ini benar benar sulit untuk dia, mengingat karir itu dia bangun dengan susah payah, sekarang Gisella seenaknya membuat ia kehilangan segalanya dalam sekejap...!"
Zill manggut manggut mendengar ucapan Sherlin.
"Oke, nanti aku atur waktu untuk bisa bicara dengan Revand, ada yang ingin kutanyakan juga soal itu sama dia, aku nggak mau, perusahaan ku ikut dijadikan target mereka selanjutnya..!"
"Iya, lebih baik begitu, Revand lebih tau segala nya tentang hal itu, aku takut kalau aku yang bicara ntar salah bicara..!"
__ADS_1
"Sabar sayang. Kalian sedang diuji, jadi tawaran ibu ini, membantu benar untuk situasi kamu yang sekarang kan...? Anggap ini rezeki kamu, ini pekerjaan tolong jangan berfikir macam macam, ibu menghargai pernikahan kamu dengan suami kamu sayang...!"
Ya Allah, dirumah aku mendapat perlakuan buruk dari ibu mertuaku, sekarang aku diperlakukan baik oleh orang lain, tolong kuatkan hatiku Tuhan, ini benar benar ujian berat yang harus aku hadapi...
Sherlin menjerit didalam hati. Meski pun buru buru kalimat itu di tepisnya, karena ia merasa berdosa sudah membandingkan ibu mertuanya dengan orang lain.
"Makasih bu untuk dukungan nya.."
Sherlin menyahut lirih. Ibu Zill tersenyum, digamitnya lengan Sherlin, sembari mengintruksikan pada Zill untuk mengikuti nya juga.
"Tolong dandani dua model khusus saya ya dengan baik, mereka yang akan memperagakan gaun pengantin yang saya rancang..."
Wanita itu memberikan perintah kepada dua penata rias yang menyambut mereka didalam. Sherlin dan Zill dibawa keruangan yang berbeda. Ditempat nya, ibu Zill berdiri mematung seolah menguatkan diri, bahwa ini memang hanya untuk pekerjaan bukan yang lain.
Tuhan, maafkan hamba mu ini, tidak boleh mengharapkan istri orang lain menjadi istri anak sendiri, tapi hamba benar benar mengagumi wanita itu Tuhan, jika memang anakku tidak berjodoh dengan dia, berikan jodoh terbaik seperti dia untuk anakku..
Ibu Zill berucap demikian didalam hati.
"Bu, Bu Gita memberitahu kan, pemotretan kali ini bisakah selesai dengan cepat, dan Bu Gita ingin menemui modelnya langsung untuk diwawancarai..!"
Lamunan ibu Zill terbang entah kemana, mendengar suara salah satu pegawai butiknya.
"Oh, oke, boleh. Nanti setelah selesai pemotretan, dia bisa wawancara langsung dengan modelnya..!"
Sang pegawai membungkuk hormat. Kamu segera berlalu dari hadapan bosnya.
Usai didandani dan berganti pakaian, Sherlin dan Zill diajak ke studio pemotretan oleh kedua penata rias ibu Zill. Disana, sudah ada beberapa wartawan, dan fotografer, juga ibu Zill yang ditemani oleh seorang wanita cantik bernama Gita, salah satu rekan bisnis butik ibu Zill mengganti kan posisi rekan bisnis ibu Zill yang lama.
Melihat Sherlin dan Zill dengan penampilan seperti itu, ibu Zill makin dibuat terbang bersama imajinasi nya. Sherlin begitu cantik dengan balutan gaun pengantin putih rancangan nya, begitu juga dengan Zill. Mereka seperti pasangan serasi.
Awak studio yang sudah menyulap lokasi pemotretan menjadi sangat natural, segera memberikan instruksi kepada Sherlin dan Zill tentang pose.
Jangan sampai Zill menyentuh kulit kamu..
Kata kata Revand mendadak terngiang di telinga Sherlin, saat sang fotografer meminta mereka berpose mesra.
"Wajah kalian tolong jangan tegang ya, anggap hari ini hari pernikahan kalian bayangkan tentang hal hal menyenangkan mengenai sebuah pernikahan,"
Sang fotografer mengarahkan. Sherlin dan Zill saling tatap.
Ya Allah, cantik bener kamu Sherlin, rasanya aku benar benar ingin merebut mu dari Revand, tapi kalau itu kulakukan, sama aja aku biadapnya seperti Gisella, Tuhan, tolong kuatkan hati ini melihat pesona wanita didepan ku ini...
Zill berkata dalam hati sembari memejamkan mata untuk sesaat, mencoba mengontrol perasaan nya yang mendadak sangat kacau melihat, betapa cantik dan menarik nya Sherlin dalam balutan gaun hasil rancangan ibu nya.
Tuhan, maafkan aku, aku udah punya suami, tapi aku melakukan ini dengan pria lain, aku juga bukan artis yang terbiasa melakukan hal seperti ini, bagaimana aku harus bersikap normal, kalau aku aja nggak bisa enjoy menjalani pemotretan ini...
Sherlin mengeluh dalam hati ketika sang fotografer mengkritik dirinya untuk kesekian kali, karena dinilai wajahnya terlalu tegang didepan kamera. Zill sadar keadaan, jika situasi itu tidak segera diatasi, maka reputasi ibunya akan rusak dimata wartawan dan rekan bisnis nya, perlahan ia menghampiri Sherlin dan berbisik..
"Anggap aku Revand, atau kalau kamu nggak bisa juga melakukan itu, tolong ingat momen menyenangkan tentang aku sedikit aja dihati kamu, biar ekspresi kamu bisa natural, oke...?"
__ADS_1
Sherlin menatap Zill sesaat. Menganggap Zill Revand..? Ukh, ia tidak bisa, baginya Revand tetap Revand, Zill tetap Zill mereka dua orang yang berbeda, yang sama sama punya karisma nya sendiri.
Kebaikan kamu ya...? Kamu selalu bisa membuat orang lain percaya dengan ucapan kamu karena kamu bukan tipe orang yang sembarangan saat mengucapkan sesuatu Zill, kamu pria yang baik yang sangat menghormati wanita...
Aku berharap, wanita terbaik bisa menjadi pendamping kamu kelak memakai gaun pengantin ini, bukan untuk akting, tapi untuk menemani hidup kamu selamanya, terimakasih atas kebaikan kamu selama ini...
Sherlin bicara seperti itu didalam hati, senyumnya terukir, mereka saling tatap dengan tatapan yang menyuarakan perasaan mereka masing masing, fotografer merasa sangat puas dengan ekspresi wajah mereka kali ini hingga, ia memberikan aba aba...
"Perdekat jarak kalian, pertahankan ekspresi kalian, tahan beberapa menit ya...!"
"Jepret..!"
Foto pertama sukses diambil, sang fotografer kembali memberikan arahan..
"Ubah gaya, pengantin wanita melihat kearah kamera, pengantin pria bergerak mencium pengantin wanita, lakukan secara profesional atau setingan yang penting hasilnya bagus..!!"
Suara sang fotografer menggema diruangan itu, Sherlin terperangah mendengar ucapan sang fotografer.
Mencium..
Zill paham situasi. Ia berbisik ditelinga Sherlin.
"Aku tau batasan, aku nggak akan memanfaatkan situasi, kita seting aja, seolah olah aku melakukan nya..!"
Sherlin tidak mengerti maksud Zill apa, tapi yang ia tahu, ia mengikuti teriakan sang fotografer, melihat kearah kamera lalu ...
"Jepret...!!"
Foto kembali diambil. Sherlin kaget.
"Udah...? Kamu kan nggak nyentuh aku sama sekali tadi, kok tu om fotografer nggak protes...?"
Zill tersenyum simpul mendengar ucapan polos Sherlin.
"Disetting, ntar kamu liat aja hasilnya. Yang penting, kamu yang merasakan, aku nggak menyentuh mu sama sekali. Cuma maaf, aku harus menyentuh pinggang mu sedikit untuk memperdekat jarak kita..!"
Aku tahu, Zill nggak mempergunakan kesempatan ini untuk hal yang lain, kalau Revand melihat hasil nya dia marah nggak ya. Disetting..? Apa nanti hasilnya seperti seolah olah, Zill mencium ku..? Mati aku kalau benar begitu....
Sherlin lega pemotretan selesai, tapi ia was was akan hasilnya. Berbeda dengan yang lain, begitu puas melihat hasilnya, terlebih lebih ibu Zill, yang menilai foto itu sangat sempurna...
Note: Jangan mudah percaya dengan apa yang terlihat, karena yang nampak belum tentu yang sebenarnya.
👉Pembaca yang baik pasti tahu keinginan author nya 😘
👉 JANGAN LUPA BACA NOVEL TERBARU SAYA BERJUDUL CINTA SANG PENULIS DILAPAK INI YA❤️ BERIKAN DUKUNGAN KALIAN UNTUK KARYA SAYA TERSEBUT ❤️
BERSAMBUNG
__ADS_1