SANG PELAKOR

SANG PELAKOR
BAB 34. HUKUMAN.


__ADS_3

Mantan bos dimana Gisella dulu bekerja sebelum bekerja di perusahaan ditempat dimana Revand bekerja itu terkesiap, melihat Gisella masuk kedalam ruangan nya.


Ia tidak menyangka, tamu yang dimaksud sekretaris barunya yang menggantikan Gisella diposisi itu adalah Gisella. Lama tidak berjumpa, sebenarnya pria itu rindu. Ingin sekali ia memeluk wanita tersebut, meski pun ia sudah berjanji untuk setia pada istri nya dirumah, namun pria itu belum benar benar bisa melupakan Gisella, yang sudah bertahun tahun menjadi simpanannya.


"Gisella, kamu semakin cantik saja.."


Katanya dengan sorot mata penuh gairah. Gisella tersenyum getir.


"Apa maksud anda mengundurkan diri dari kerja sama yang sudah kita buat...?"


Gisella memilih untuk to the point mengemukakan maksud kedatangan nya. Paras pria separuh baya itu berubah.


"Oh, kamu datang untuk membahas hal itu ..?"


Sinisnya.


"Tentu saja. Anda fikir, saya datang untuk melepas rindu...?"


Gisella tidak kalah sinisnya mengucapkan kalimat itu. Pria itu berdiri dari tempat duduknya. Lalu melangkah menghampiri Gisella. Mengulurkan tangannya, ingin membelai rambut wanita tersebut, namun dengan kasar, Gisella menepis tangan tersebut. Ditolak seperti itu oleh mantan pacar gelapnya, pria itu tertawa.


"Kenapa Gisella...? Kamu ingin menjadi wanita baik baik sekarang...? Ingat, niat kamu itu akan percuma jika diotak kamu ingin merebut direktur muda itu dari istri nya. Kamu tahu, daya tarik istri nya itu apa...? Dia pandai memanjakan suami dengan masakannya, sedang kamu...? Apa yang bisa kamu lakukan...?"


"Anda lupa...? Anda terpikat dengan saya karna apa...? Itu juga yang akan saya lakukan pada direktur tersebut. Tidak ada satu pria pun yang bisa mengingkari kemampuan saya pada hal satu itu kan...?Jadi jangan terlalu percaya diri dulu bahwa anda sudah menang membuang saya..!"


"Heh. Dengar ya. Yang mau dibuang itu kamu sendiri...!Kamu yang tidak tahu balas budi, kamu fikir, kamu itu layak jadi sekretaris...? Aku yakin sebentar lagi direktur itu akan tahu, bahwa kamu wanita yang tidak punya kemampuan apa apa..! Saat itulah, kamu akan dibuang, kamu fikir siapa yang mau menampung gadis bodoh diperusahaan nya...? Kamu itu sama sekali tidak punya skil, Gisella..!!"


Wajah Gisella merah padam mendengar ucapan pria tersebut.


"Tidak usah banyak bicara, saya kesini bukan untuk membahas masalalu, saya hanya ingin anda bersikap profesional, bukankah anda selalu menekankan hal itu pada kami semua ..? Kenapa anda sekarang bersikap sebaliknya...!"


"Suka suka aku, mau meneruskan kerja sama dengan perusahaan kalian atau tidak. Toh, aku juga sudah membayar kerugian nya, kenapa kamu repot...!"


"Karena tindakan anda ini membuat repot kami semua, bertindak lah profesional, anda tidak malu, menjilat ludah anda sendiri...?"


"Buat apa aku malu pada wanita yang tidak tahu malu...?"


Gisella mengepal kan kedua telapak tangan nya. Sebisa mungkin ia menahan emosi yang sudah terpancing karena sikap mantan bos sekaligus pacar gelapnya ini.


"Apa mau anda sebenarnya. Apa yang harus saya lakukan agar anda kembali bekerja sama dengan perusahaan kami..?"


"Kembali jadi wanitaku Gisella. Selamanya. Karena aku tidak mau kehilangan kamu...!"


Gisella menatap wajah pria setengah baya itu dengan tatapan muak.


"Apakah anda bisa menceraikan istri anda...?"


"Aku tidak bisa melakukan itu. Kamu tahu sendiri alasan nya..!!"

__ADS_1


"Berarti lupakan saja harapan anda itu. Karena saya sudah tidak mau jadi yang kedua, saya ingin jadi yang pertama dan satu satu nya...!!"


"Tidak kah kamu banyak menuntut Gisella. Kamu tahu, jika aku menceraikan istri ku, reputasi ku akan hancur, keadaan kita sama sama menguntungkan, untuk apa mempermasalahkan status...? Kamu yang terspesial dihatiku, tidak kah itu cukup buatmu...?"


"Anda tidak pernah tahu rasanya menjadi seorang simpanan. Selalu mencoba mengalah, tanpa bisa memamerkan betapa ia juga punya kebahagiaan karena dicintai..!"


"Jadi menurutmu, direktur itu bisa merealisasikan impian tinggimu itu...?"


"Jangan sebut Gisella jika saya tidak bisa, karena terhadap anda saja saya bisa, membuat anda gila karena saya..!"


"Kamu benar benar wanita tidak tahu malu...!!"


"Sesama manusia yang tidak punya malu, lebih baik tidak usah saling mencela.."


"Keluar kamu dari ruangan ku. Jangan berharap, aku mau bekerja sama dengan perusahaan kalian lagi, itu bentuk hukuman ku untuk mu. Mempersulit hidup mu Gisella..!!"


Tanpa diperintah dua kali, Gisella bangkit dari tempat duduknya. Lalu membalikkan tubuhnya dan beranjak keluar dari ruangan pria itu, tanpa menoleh lagi. Tidak memperdulikan reaksi pria yang pernah dekat dengan nya itu, yang terlihat sangat dibakar emosi.


Kamu akan menyesal sudah meninggalkan ku Gisella...


Geram pria tersebut sembari mengepalkan kedua tangannya.


***


Usai berdebat dikantor milik mantan bos sekaligus mantan pacarnya, Gisella berniat untuk ke bar. Otaknya kusut. Ia mematikan ponsel nya. Sengaja, tidak ingin diganggu. Hari ini ia sudah mengirim pesan pada Revand untuk izin melakukan penyelidikan, terkait tugas yang mereka emban. Dan Revand mengizinkan.


"BUKK..!!"


"Pak Kiretta Mahendradatta..?"


Desisnya seolah tidak percaya. Pria itu adalah ayah Zill, orang yang juga pernah menjadi masa lalu Gisella. Bedanya, dengan yang ini Gisella ditinggalkan, bukan meninggal kan seperti yang ia lakukan pada mantan bosnya tadi. Tentu saja, Gisella merasa atmosfer nya berbeda. Aura berhadapan dengan pria ini jauh lebih mendebarkan. Terutama karena kekayaan pria ini jauh lebih dua kali lipat dibandingkan mantan bosnya sendiri.


"Apa kabar.."


Kata pria itu datar.


"Baik. Kamu sendiri...?"


"Tolong, bicara seperti pada umumnya saja, jangan seperti seolah olah kita akrab, karena saya berjanji pada istri saya untuk menjauhi anda, saya menyapa hanya untuk menghargai kita pernah kenal itu saja..!"


Cih, bapak sama anak, sama menyebalkan nya..


Gisella memaki. Namun, wanita itu berusaha untuk tersenyum.


"Maaf. Saya terbawa suasana. Maafkan saya. Karena kita bertemu dalam latar belakang situasi yang berbeda, bagaimana kita ke cafe itu dulu untuk membicarakan sesuatu. Ini tentang bisnis. Anda tidak perlu khawatir, saya membahas tentang masa lalu..!"


"Maaf. Saya tadi bilang pada anda, saya tidak ingin terlihat akrab dengan anda, karena ini janji saya pada istri saya. Lupakan yang pernah terjadi, kita semua pernah melakukan kesalahan, tapi hargai pilihan hidup saya, tolong jangan bersikap akrab dengan saya..!"

__ADS_1


Pria keturunan Jepang-Indo itu ingin membalikkan tubuhnya, berniat masuk kembali kedalam mobil mewah nya, akan tetapi Gisella mencekal pergelangan tangan nya, dan itu membuat pria itu kaget dan spontan melerai tangan Gisella, hingga gadis itu terjajar kebelakang.


"Maaf, saya bisa lebih kasar dari ini, jika anda tidak menghargai peringatan saya.."


Suara pria itu berubah menjadi menyeramkan ditelinga Gisella. Gisella tahu, saat ini pria itu sedang marah.


"Maaf, maafkan saya. Tapi saya mohon, beri waktu saya sebentar untuk bicara, setelah itu anda bisa memilih, pergi atau tetap disini.."


Ayah Zill untuk sesaat terdiam. Lalu..


"Baiklah. 5 menit. Bicaralah disini..!"


Gila ini orang...


Gisella memaki lagi, tapi apa mau dikata, ia tidak bisa melawan sikap dingin pria ini jika sudah marah.


"Perusahaan saya ingin bekerja sama dengan perusahaan anda pak. Jika anda tertarik, anda bisa menghubungi saya untuk membicarakan tentang ini.."


"Anda bekerja dimana...?"


Gisella menyebutkan nama perusahaan tempat ia dan Revand bekerja. Pria itu manggut manggut.


"Tapi sekarang semua kuasa sudah saya percaya kan pada anak saya, bukan saya lagi, saya hanya bertugas memantau saja..!"


"Saya tahu. Maka dari itu, saya ingin anda membantu saya untuk meyakinkan anak anda untuk mau bekerja sama dengan perusahaan kami,"


"Itu artinya, anda sudah membicarakan hal ini padanya, namun dia menolak,"


"Benar pak. Anak anda tidak profesional menolak tawaran ini, karena mengkait kaitkan kejadian kita dimasa lalu. Itu tidak adil buat saya ..!"


"Sayangnya saya sependapat dengan anak saya untuk hal itu.."


"Kalian dendam dengan saya...? Yang tersakiti disini itu saya pak. Anda yang meninggalkan saya, bukan saya, kenapa anda ingin menghukum saya...?"


"Saya tidak berhak untuk menghukum anda. Karena saya juga manusia, selama ini saya pun sudah terhukum atas perbuatan khilaf saya dimasalalu, dan hukuman itu diberikan oleh putra saya, dia tidak mau bersikap hangat pada orang tua, dan tidak mau pulang kerumah. Jadi saya tahu rasanya hukuman itu seperti apa. Jadi saya tidak berniat melakukan itu kepada anda, hanya saja dalam kehidupan ini, terkadang sikap buruk yang pernah kita lakukan, memang bisa membuat kita mendapatkan hukuman dimasa yang akan datang. Maafkan saya. Pembicaraan ini cukup sampai disini.Jaga diri anda baik baik. Berubah lah. Insya Allah, Tuhan menunjukkan kuasanya.."


Habis berkata begitu pria itu segera masuk kedalam mobil nya. Meninggalkan Gisella yang berdiri mematung ditempatnya. Gisella mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya merah.


Hukuman...? Hukum karma...? Gisella tidak mengenal apa itu hukum karma pria sombong...


Gisella memaki ayah Zill dalam hati sembari terus menatapi mobil mewah itu perlahan menjauh dari hadapan nya...


Note : Apa yang kita tanam itu juga yang kita tuai. Lakukan hal baik karena nanti ada hal baik juga yang akan kita terima. Namun, jika kita berkeras melakukan hal buruk. Maka hal buruk pula yang akan kita terima nantinya.


👉 Jangan lupa like,vote,rate 5, klik favo, dan komen jika suka ya💖💖


👉 EVENT BIRTHDAY TOKOH UTAMA PRIA NOVEL NON-FIKSI KARYA SAYA BERJUDUL RACUN CINTA SIKEMBAR SUDAH DI BUKA DI-MARKAS BESAR GSB YA, ADD AKUN FB SAYA "MITHAVIC HIMURA" UNTUK INFO LEBIH LENGKAP NYA. DURASI SESI 1 AKAN BERAKHIR PADA TGL 24 AGUSTUS 2020.

__ADS_1



Bersambung..


__ADS_2