
Setelah melewati proses yang cukup melelahkan dan menyita waktu, akhirnya. Pernikahan Revand dengan Sherlin digelar. Revand benar benar merancang konsep resepsi yang indah untuk Sherlin, meski pun Sherlin sebenarnya tidak jadi soal jika pernikahan tersebut digelar, tidak besar besaran. Sayang duitnya, kata wanita itu. Tapi, Revand sudah menyiapkan dana sendiri untuk moment indah itu. Hingga meskipun Sherlin meminta tidak usah terlalu menggelar pesta, karena hidup keras yang dijalani Sherlin mengubah Sherlin jadi wanita yang hemat, Revand tidak mengindahkan keinginan Sherlin kali ini.
" Pernikahan ini adalah pernikahan pertama dan terakhir ku, jadi wajar dong kalau aku ingin pesta yang besar...? Lagipula, buatku kamu itu yang istimewa, pesta itu tujuan nya ingin mengumumkan, bahwa, aku adalah suami kamu, dan kamu adalah istriku,!"
Kata kata yang diucapkan Revand, membuat wajah Sherlin bersemu. Bukan itu saja. Hatinya juga berbunga. Wanita mana yang tidak bahagia diperlakukan se -spesial itu...? Apa yang dilakukan Revand, benar benar membuat Sherlin merasa menjadi ratu. Wanita yang paling beruntung bisa bersanding dengan pria seperti Revand.
"Sherlin. Dalam agama, menggelar pesta itu disunnahkan. Asalkan tidak memaksa kan diri, sah saja. Yang tidak boleh itu, jika Revand menggelar pesta, dengan memaksakan diri. Tidak punya uang, tapi menggelar pesta, itu yang kurang bijak. Memang, siapapun ingin pesta yang indah saat menikah. Akan tetapi, tetap harus diperhatikan, situasi, kondisi jika memaksakan, juga tidak akan baik. Karena setelah menikah, biaya pun akan bertambah. Jika saat menikah saja, kalian sudah memaksa kan diri, bagaimana cara kalian untuk menghadapi kehidupan setelah menikah...? Karena Revand tidak memaksa kan diri, turuti saja. Ibu yakin Revand punya cara sendiri untuk bertanggung jawab pada kamu setelah menikah nanti,!"
Itu kata kata ibunya ketika mereka membicarakan keberatan Sherlin tentang rencana Revand untuk pesta pernikahan. Karena ibunya tidak mempermasalahkan. Sherlin akhirnya menurut. Revand bisa menarik nafas lega mendengar nya.
"Revand. Setelah ini, Sherlin menjadi tanggung jawab kamu nak. Dan kamu juga jadi bagian keluarga kecil kami. Ibu harap, kamu menyayangi Sherlin selamanya, jangan biarkan dia menderita. Karena selama ini, dia sudah terlalu banyak menderita,!"
Ucapan ibu Sherlin dibalas Revand dengan sebuah janji. Dihadapan ibu Sherlin. Revand berjanji tidak akan pernah menyakiti Sherlin, jika itu terjadi, Revand bersedia untuk menerima hukumannya. Namun kalimat Revand di balas oleh wanita setengah baya itu dengan tegas.
"Pernikahan bukan membentuk sebuah kerajaan nak. Dimana kalian harus terlihat paling wah, dan saling menguasai satu sama lain. Ibu tidak ingin pernikahan seperti itu yang kamu berikan untuk putri ibu. Anggap kalian sedang membangun rumah bersama. Meletakkan satu demi satu bahan bangunan nya, mengisi perabotan satu demi satu setelah merundingkan nya, menghiasi rumah itu dengan keharmonisan kalian, serta ibadah yang juga dijaga. Jika itu kalian terapkan. Insya Allah, pernikahan kalian mengalir laksana sebuah ibadah yang dilakukan dengan sungguh sungguh. Karena menikah adalah penyempurnaan ibadah kita,"
"Aku mengerti, aku berjanji semua pesan mama aku ingat dan aku terapkan. Terima kasih untuk restu mama, terima kasih sudah mempercayakan putri mama untuk aku jaga,"
Dan saat itu, lagi lagi airmata Sherlin menggenang di pelupuk mata nya. Percakapan itu seperti mimpi yang jadi nyata baginya. Rasa haru menyeruak. Rasa bahagia menyelimuti. Sherlin merasa ia benar benar sudah seperti bermimpi yang sangat indah. Tapi ketika ia mencubit pipi nya, untuk menegaskan apakah ini mimpi...? Pipinya terasa sakit. Artinya ini bukan mimpi...
" Kamu cantik sayang, lagi mikirin apaan sih,?"
Lamunan Sherlin tentang awal mereka berdebat tentang rencana pesta yang digelar Revand buyar entah kemana. Sekarang mereka sudah bersanding di pelaminan. Hari sudah beranjak siang. Prosesi nikah berjalan dengan lancar. Mereka sudah sah. Ia sudah sah menjadi istri Revand Saputra Kurniawan. Semua sudah menjadi saksi. Dan sekarang resepsi sedang digelar. Tamu tamu undangan mulai datang membludak.
Kebanyakan tamu relasi kerja Revand. Dari pihak Sherlin ada, tapi tidak sebanyak Revand. Karena Sherlin memang tidak mempunyai cukup banyak teman yang bisa diundang. Hanya teman teman satu kerja Sherlin direstoran yang semua bersedia datang. Selebihnya tetangga. Itu saja.
"Ah, nggak. Aku cuma lagi menikmati suasana resepsi kita,"
Tukas Sherlin sengaja tidak berterus terang tentang apa yang sedang ia fikirkan.
"Yang harus kamu nikmati itu suasana nanti malam,"
Revand mengaduh ketika spontan jemari lentik Sherlin mencubit nya, ketika tadi ia berkata begitu. Pria itu tertawa melihat wajah istrinya bersemu merah. Ia suka ekspresi seperti itu. Dan Revand tidak sabar menantikan malam yang ia sebut tadi dihadapan Sherlin.
" Kamu suka pestanya,?"
Tanya Revand ditelinga istri nya. Sherlin mengangguk mantap. Senyum Revand terukir melihatnya.
" Makasih ya, kamu udah membuat mimpi ku menjadi nyata,"
__ADS_1
Kata Sherlin dengan nada yang sangat tulus. Jika saja sekarang mereka tidak sedang duduk di pelaminan tentu Revand akan langsung memeluk tubuh mungil itu erat. Bagaimana tidak. Dibalut gaun pengantin putih, yang dirancang khusus untuk Sherlin, membuat wanita itu berubah menjadi seperti bidadari yang sangat cantik. Ditambah sikap malu malu Sherlin, membuat Revand ingin sekali bertindak usil menggoda istrinya tersebut. Sayang, mereka sedang duduk di pelaminan. Ia harus bersabar untuk tidak bertingkah pecicilan, karena itu akan membuat karisma nya dimata para tamu undangan menurun....
"Mulai sekarang, aku akan mewujudkan semua mimpi dan impian kamu sayang,"
Sebuah janji kembali diucapkan Revand. Sherlin hanya membalas nya lewat senyum manisnya. Ia yakin meski hanya dengan senyum, pria ini tahu kalau ia bahagia mendengar itu semua.
Pembawa acara di resepsi mereka meminta para tamu memberikan permohonan. Rata rata ingin Revand naik keatas panggung untuk menyumbangkan sebuah lagu. Mereka ingin lagu itu dipersembahkan Revand untuk sang istri. Revand bengong didaulat seperti itu.
" Nyanyi gih. Suara kamu bagus lho, pesta ini jadi berkesan kalau kamu mau nyanyi,"
Sherlin ikut ikutan mendaulat suami nya. Revand jadi tidak berdaya. Jika seribu tamu yang mendaulat nya, itu tidak jadi soal buat Revand, ia bisa menolak jika tidak suka. Akan tetapi jika sudah Sherlin yang meminta, tentu saja Revand tidak bisa menolak. Meski tidak pede dengan suaranya, demi Sherlin Revand rela.
"Awas kamu ya. Sekarang kamu yang menang. Aku kalah. Aku turuti permintaan kamu. Tapi nanti malam, kamu yang harus menuruti permintaan aku,"
Revand berkelit ketika lagi lagi, Sherlin ingin mencubitnya. Ia tergelak melihat betapa wajah istrinya itu merah. Puas sekali ia melihat nya. Pria itu segera naik keatas panggung yang berada di samping pelaminan. Memberikan kata sambutan sedikit kepada para tamu undangan. Menceritakan sedikit perasaan nya tentang hari bersejarah nya hari ini. Lalu menyebut judul lagu yang akan dinyanyikan nya khusus untuk Sherlin. Mimpi yang sempurna lagu milik Peterpan yang sekarang berubah nama menjadi Noah.
Para tamu bertepuk tangan riuh ketika musik sudah mengalun. Sherlin terpukau. Ia tahu Revand serba bisa. Tapi ia tidak menyangka, pria itu benar benar naik keatas panggung dan bernyanyi untuk nya. Lagu itu salah satu lagu kesukaan Sherlin. Tentu saja Revand tahu hal itu. Bukan sekedar suka. Tapi Sherlin selalu berandai andai kapan mimpi yang ia inginkan menjadi sempurna. Dan kini Revand sudah menyempurnakan nya. Lagi lagi rasa haru menyeruak didada Sherlin. Rasa haru yang menerbitkan perasaan bahagia. Betapa beruntungnya ia menemukan pria seperti Revand. Ketika ia fikir, seluruh pria baik baik didunia ini telah habis, karena ulah ayahnya yang tidak menjaga cinta ibunya dengan baik.
"Sher. Selamat ya. Akhirnya kalian jadi satu juga, suami lu ganteng banget. Romantis lagi, mau naik panggung gitu nyanyi buat lu,!"
Ketika Sherlin larut dalam rasa bahagia yang membuncah. Sebuah suara terdengar. Dua orang temannya direstoran berdiri dihadapannya. Sherlin bangkit untuk menyalami mereka berdua.
Sherlin belepotan menanggapi ucapan selamat kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya tertawa.
"Astaga. Udah jadi nyonya Revand aja, lu masih malu malu kucing gini sih say. Emang tadi lu ngelamun apaan...? Khawatir malam pertama kagak berjalan dengan baik,!"
Sherlin melotot kearah sahabat nya tersebut, tapi wajahnya lagi lagi memerah. Amel dan Rei semakin terbahak bahak melihat ekspresi Sherlin.
"Kalian naik kesini cuma mau ngerjain aku aja? Bukan mau pamit...?"
"Hahaha, enak aja pamit. Makanan disini belum kita cicipi semua, lu kagak keberatan kan kalau gue balik kebawah, makan lagi haha,!"
Rei yang menyahut. Pria teman Sherlin direstoran tempat mereka bekerja itu salah satu chef restoran disana. Sedang Amel, sama seperti nya seorang waiters yang bertugas melayani tamu didepan. Mereka berdua satu satu nya teman yang bisa disebut sahabat oleh Sherlin. Sisanya tidak menjamin. Hanya datang ketika butuh, dan pergi ketika mereka tidak butuh. Meskipun keduanya bersikap terlalu blak blakan. Tapi Sherlin suka. Karena Rei dan Amel tidak berpura pura saat sedang bersamanya. Itu lebih baik ketimbang menghadapi orang yang bermulut manis dan berwajah malaikat, tapi dibelakang menyimpan sejuta duri yang siap untuk ditancapkan pada nya kapan saja. Tapi bercanda disaat situasi seperti ini, jujur membuat Sherlin jadi merasa malu.
" Lu balik makan lagi aja Rei. Mumpung perut lu masih cukup, gue masih mau disini ngobrol ama Sherlin,!"
Perintah Amel kepada pria tersebut.
"Ya udah. Ajarin Sherlin buat beri jatah yang baik ntar malam ya ama si Revand,!"
__ADS_1
Ingin rasanya Sherlin melepas heels yang melekat dikedua kakinya dan melemparkannya kearah chef muda tersebut. Tapi tentu saja itu tidak bisa ia lakukan. Akan jadi apa pesta resepsi nya jika itu dilakukan nya. Bisa bisa besok wartawan akan menulis berita ngaco. Istri direktur yang baru naik jabatan melakukan kekerasan pada tamu undangan nya. Bah....!
Amel hanya tersenyum senyum melihat kondisi wajah sahabatnya.
" Lu kayaknya tegang bener Sher, apa yang diucapkan Rei itu bener...? Lu kagak percaya diri soal itu...?"
Bisiknya ditelinga Sherlin. Wajah Sherlin semakin tidak karuan mendengar bisikan Amel.
"Kamu sendiri kapan jadian ama Rei...?"
Sherlin berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan Amel lagi lagi terkikik geli melihat betapa sekarang sahabat nya itu memang benar benar sedang dipuncak rasa tegang yang luar biasa.
" Gak usah terlalu tegang. Revand pasti bisa membuat lu menikmati nya dengan enjoy, yang penting Revand harus berterima kasih ama lu, lu udah menjaga diri lu dengan baik, hingga lu masih virgin sampai lu sah jadi istri nya, soal gue dan Rei. Heeem, sampe lebaran monyet juga itu anak mana bisa diajak serius soal gituan,!!"
Kali ini ucapan Amel mampu membuat Sherlin tersenyum. Benar. Ada satu hal yang masih membuat ia bangga dihadapan Revand. Ia masih Virgin. Tidak ada satu pria pun yang bisa menyentuh nya meskipun banyak pria yang ingin bersikap kurang ajar kepadanya, meskipun ia sudah menjaga penampilan nya dalam keseharian. Tapi apakah benar, itu bisa membuat Revand merasa bangga...? Bukankah zaman sekarang, wanita yang masih virgin dianggap kuno...? Satu hal yang Sherlin tahu. Hal yang berharga bagi seorang wanita adalah menjaga mahkota yang dimiliki nya. Agar kelak saat menikah, mahkota tersebut akan diserahkan kepada pria yang benar benar akan menjaganya seumur hidup. Bukan pria yang datang hanya untuk sementara. Dan Sherlin berharap, itu bisa dianggap Revand sebagat bukti, bahwa betapa besar cinta yang dimiliki nya hingga ia menjaga dengan baik hal yang berharga nya tersebut sampai mereka menikah. Tapi tidak bisa dipungkiri. Sherlin gelisah tentang hal ini. Bagaimana jika dimata Revand ia terlalu bodoh nanti malam...? Apakah Revand masih sabar menghadapi nya seperti yang selama ini dilakukan nya...?
"Mel. Makasih ya. Selain Revand dan ibuku.Kamu adalah orang yang paling berharga dalam hidup aku,!"
Kata Sherlin tulus dihadapan Amel. Amel tersenyum manis untuk Sherlin.
" Gue yang harus nya berterima kasih keelo. Lu bisa memahami sifat gue yang keras, dan menganggap gue wanita yang tangguh ketika semua orang justru menganggap gue wanita barbar karena sifat gue itu,!"
"Tapi serius, kamu dan Rei itu pasangan serasi ,"
"Hey, hey. Yang ada kalo gue ama Rei, dunia gue jadi perang melulu, dia cablak gue barbar duh anak gue ntar jadi apa hahaha,!"
"Jadi Super Hero ..."
Timpal Sherlin sembari ikut tertawa. Amel menghentikan tawanya...
" Yang kudu buat duluan super hero itu elo Sher, inget jangan tegang oke,!!"
Habis berkata begitu, Amel berlalu dari hadapan Sherlin. Berdalih menyusul Rei yang masih sibuk menikmati seporsi sate kambing diujung sana. Sherlin menatap kepergian sahabatnya itu. Akankah malam pertama ia dan Revand berjalan dengan lancar....? Kenapa juga dia jadi stres memikirkan hal ini...? Ditatapnya Revand yang masih bernyanyi diatas panggung. Lagu kedua yang dinyanyikan pria itu lagu milik Naff berjudul Akhirnya kumenemukanmu.
Lagu favorit mereka berdua. Karena liriknya begitu mereka sukai. Sama dengan apa yang mereka alami sekarang.
Akhirnya ku menemukanmu......
( Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca novel karya saya iniπ terima kasih untuk like, vote dan komennya π apa ada yang ngerasa malam pertama itu bikin kalian stres seperti Sherlin πππ)
__ADS_1