
Sherlin terjaga dari tidurnya ketika ia kesulitan bernafas lantaran Revand memeluknya erat. Setengah mati ia keluar dari pelukan sang suami, sembari membangunkan suaminya tersebut karena hari sudah menjelang pagi. Bukannya bangun, Revand justru mempererat pelukannya ditubuh istri nya.
"Vand, bangun duuh kita nggak shalat subuh nih,"
Rengek Sherlin sembari berusaha tetap ingin melepas kan pelukan sang suami. Revand menggumam tidak jelas matanya masih terpejam, tangan nya terus memeluk tubuh mungil istrinya seolah olah Sherlin berubah menjadi bantal guling yang enak untuk dipeluk.
Sherlin menatapi situasi tempat tidur mereka, kelopak bunga mawar yang semula tertata rapi diatas tempat tidur kini berantakan tidak beraturan. Mereka benar benar tidur diantara kelopak bunga mawar semalaman...! Astaga....
Perutnya keroncongan, Sherlin baru ingat kemarin karena Revand selalu minta dan minta, meskipun berulang kali mereka mencapai puncak kenikmatan bersama tetap saja buat sang suami, itu masih kurang hingga Sherlin kelelahan dan tertidur begitu saja tanpa ingat apapun lagi. Memakai baju saja tidak. Apalagi makan...
Berulang kali membebaskan diri dari rengkuhan suami, akhirnya Sherlin mampu juga. Ia turun dari tempat tidur, meskipun tubuh nya terasa nyeri apalagi bagian kewanitaan nya yang sudah pasti sangat lelah akibat terlalu diforsir kemarin. Ia menyeret langkahnya ke kamar mandi. Ingin segera membersihkan diri. Jika mengingat apa yang mereka lakukan semalam, Sherlin terkadang malu malu sendiri. Bagaimana tidak. Apakah wajar, mereka bercinta dari sore hingga tengah malam...?
Usai mandi, Sherlin segera berpakaian rapi, Revand masih tertidur pulas diatas tempat tidur dengan kelopak bunga mawar bertebaran dimana mana. Sherlin tersenyum kembali. Melihat betapa lucunya sang suami tidur dengan ekspresi seperti itu.
Tidak ingin mengganggu sang suami, Sherlin menyibak tirai jendela kamar mereka. Mengawasi pemandangan diluar yang masih diselimuti suasana pagi. Sungguh, Sherlin tidak pernah menyangka, bisa menginjakkan kaki di negara orang lain, dalam rangka berbulan madu.
"Jepang, kamu jadi saksi indahnya bulan madu ku, kamu tau nggak aku ngerasa ini masih kayak mimpi.."
Sherlin bicara sendiri sembari menatap keluar lewat tirai jendela yang tersibak. Wanita itu tersenyum senyum sendiri. Menggeliat kan tubuhnya, merenggangkan otot tubuh nya yang masih terasa sangat letih akibat pergumulan mereka semalam. Hingga ia tidak menyadari Revand sudah memperhatikan nya dari tadi...
"Ini bukan mimpi sayang, ini nyata, apa kita perlu melakukan nya lagi biar kamu yakin ini semua bukan mimpi...?"
Mendengar suara sang suami, Sherlin kaget. Ia berpaling. Wajahnya bersemu, saat melihat sang suami menatap nya dengan tatapan penuh arti.
Enggak, aku masih terlalu lelah kalo harus melakukan itu lagi sekarang...
"Revand. Kok udah bangun sih..? Mandi gih. Kita nggak shalat subuh lho, dosa. Gimana mau dapat anak soleh kalo ortunya aja lalai shalat..."
Revand garuk garuk kepala meskipun kepalanya tidak gatal sama sekali.
"Maaf ya, lain kali kita jangan sampai lalai shalat, biar anak kita juga soleh..."
"Ya udah kamu mandi gih, aku rapiin tempat tidur dulu.."
"Nggak usah, ada yang bersihin kok, kamu nggak usah capek capek, aku bawa kamu jauh jauh kesini bukan buat beresin kamar, tapi buat seneng seneng..."
Revand menepuk pipi istri nya sembari berlalu menuju kamar mandi. Namun langkah nya terhenti. Ia memiringkan kepalanya dan berbisik ditelinga sang istri.
"Kamu cantik banget, jadi pengen minta lagi aku ..."
Wajah Sherlin bersemu mendengar bisikan nakal suaminya. Spontan ia mencubit pinggang Revand, Namun Revand berkelit hingga cubitan itu tidak mengenai nya. Revand tergelak, lalu berlari masuk kamar mandi. Meninggalkan sang istri yang masih saja malu malu mendengar bisikan bisikan nakalnya...
***
Usai mandi, Revand membawa Sherlin keluar untuk makan. Sebenarnya, mereka bisa saja makan didalam kamar karena hotel menyediakan pelayanan yang sempurna bagi semua tamu yang menginap. Namun, Revand sengaja membawa sang istri keluar karena ingin sekalian membawa Sherlin untuk berjalan jalan.
Disebuah restoran tidak jauh dari hotel, Revand mantap membawa istri nya untuk sarapan disana. Saat sibuk memilih menu, ekor matanya melihat seseorang yang ia kenal. Revand awalnya tidak percaya, jika yang ia lihat itu adalah orang yang ia kenal, akan tetapi ia yakin matanya tidak salah lihat.
Orang yang diperhatikan Revand juga sadar sudah diperhatikan Revand. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri meja dimana Revand dan Sherlin duduk.
"Revand, Sherlin astagaaaaaa kalian disini juga...?"
Sherlin mendongak. Buku menu yang ia pegang terlepas dari genggaman nya ketika tahu siapa yang sudah menyapa mereka.
__ADS_1
"Gisella..."
Ucap nya lirih.
"Kenapa lu ada disini...? Lu nggak kerja...?"
Revand melayang kan pertanyaan pada gadis itu. Gisella tersenyum. Ia meminta izin untuk ikut bergabung bersama sepasang pengantin baru tersebut. Terpaksa Revand maupun Sherlin mengizinkan. Apakah benar, jika menolak kehadiran orang yang satu negara di negara orang lain...?
"Gue izin, ada yang gue urus disini, keluarga gue masuk rumah sakit, jadi ya gue mau nggak mau nengok karena kondisi nya parah..."
Gisella mengarang cerita. Padahal yang sebenarnya, dia sengaja mengikuti Revand hingga sampai kenegara ini, karena tidak rela Revand dan Sherlin asyik berbulan madu. Beruntung, Gisella tahu detail dimana Revand membawa pergi Sherlin dari atasan mereka. Kepada atasan mereka, Gisella berdalih, akan memberikan surprise untuk Revand dan istri nya. Dan atasannya percaya begitu saja.
" Ohya, kenapa kayaknya kebetulan banget ya...?"
Kata Sherlin dengan tatap mata penuh selidik.
"Lu curiga gue alibi doang...? Gue bisa kok bawa kalian ke rumah sakit tempat keluarga gue dirawat, kalo kalian nggak percaya..."
Tukas Gisella dengan nada suara dibuat serius. Revand menghela nafas.
"Ya udah. Siapapun bebas datang kenegara ini, kita nggak berhak buat ngelarang lu juga..."
Sherlin menghela nafas. Entah kenapa, perasaan nya jadi kurang enak.
"Aku ketoilet dulu ya..."
Pamitnya kemudian.
"Aku antar ya sayang..."
"Nggak perlu, kalian ngobrol aja dulu.."
"Jangan lama lama Sher..."
Pinta Gisella yang tentu saja bertolak belakang dengan suara hati wanita itu.
Jangan balik sekalian Sher, biar suami lu sarapan bareng gue...
Heeem. Gisella benar benar tidak tahan melihat betapa Revand begitu memanjakan Sherlin seperti itu.
Sherlin berdiri. Membalik kan tubuh. Lalu melangkah menuju toilet. Tidak.Ia harus bisa menguasai diri. Tidak boleh berburuk sangka juga. Siapa tahu, Gisella memang benar benar ke Jepang karena menengok kerabat nya. Sherlin berusaha untuk berfikir positif.
Belum lagi Sherlin masuk kedalam toilet, matanya melihat ada seekor kucing lucu seperti tersesat di area toilet tersebut.
Anak kucing, kenapa ada kucing direstoran semewah ini...? Emang nggak melanggar peraturan ya...
Sherlin berjingkat menghampiri sang kucing. Memanggil dengan penuh sayang agar makhluk tersebut tidak lari. Diluar dugaan, kucing tersebut menghampiri Sherlin seolah mengucapkan terima kasih ada orang yang bersikap lunak dan bersahabat pada nya. Hingga tanpa pikir panjang, makhluk berbulu itu diam saja ketika Sherlin menggendong nya.
"My cat with you...?"
Sherlin spontan berbalik ketika suara seseorang terdengar dibelakang nya. Sementara kucing yang ada di gendongan Sherlin segera ingin melompat dari gendongan Sherlin ingin ikut dengan sang pemilik suara tadi.
"Kamu...?"
Sherlin dan orang tersebut sama sama terkejut ketika mereka saling berhadapan. Sherlin menggali memori, dimana ia pernah melihat wajah pria pemilik kucing yang ditemukan nya. Sementara sang kucing segera naik kepundak pria tersebut dengan sangat manja dan jinak. Membuat Sherlin gemas ingin sekali memeluk makhluk kecil itu...
" Oh, tuan yang dulu pernah nolong aku ya. Kucing anda tadi tersesat, aku menemukan nya disini sendirian.."
__ADS_1
Kata Sherlin sembari tersenyum.
"Thanks, dia kabur dari kandang, saat aku sarapan tadi, seperti nya kita impas nona mandiri..."
Ucap pria itu tanpa ekspresi.
"Dunia ini sempit ya, kita ketemu lagi disini dinegara orang, kamu pencinta kucing ya, imut banget."
Pria itu menyerahkan kucing itu pada Sherlin. Sherlin menerima dengan penuh kasih sayang, di ciumnya makhluk kecil itu dengan penuh sayang.
"Dia suka sama kamu. Kucing ini biasanya galak pada orang yang tidak disukai nya, tapi, dunia ini sebenarnya tidak sempit, hanya takdir yang mempertemukan kita, karena Tokyo adalah kota tempat aku kerja juga sebenarnya.."
Sherlin manggut manggut. Wanita itu sibuk mencium dan membelai kucing itu dengan penuh sayang. Membuat pria dihadapannya itu terkesima. Belum ada seorang pun yang bisa seakrab itu dengan kucing nya.
Wanita ini pasti sabar dan penyayang, hingga Mimi menyukainya..
Pria yang tidak lain Zill itu membathin.
"Sherlin..."
Sebuah suara membuat Sherlin dan Zill membalikkan tubuh mereka. Revand muncul sembari menatap Zill dengan tatapan mata menyelidik.
"Eh, Vand, lihat deh, kucingnya lucu ya, gemes deh..."
Sherlin dengan riang memperlihatkan kucing itu pada Revand. Revand tidak terpengaruh. Ia meraih pinggang sang istri dan memeluknya erat. Seolah olah ingin mengatakan pada pria tinggi dihadapan Sherlin bahwa ia pemilik wanita imut tersebut.
"Kembalikan sayang, kamu nggak boleh megang kucing..."
Suara Revand terdengar dingin saat mengucapkan kalimat itu.
"Pacar kamu membantu ku menemukan kucingku itu aja, jangan salah paham.."
Zill sadar situasi. Sadar, kalau pria itu seperti nya cemburu padanya. Sherlin memberikan kucing itu pada Zill.
"Aku nggak punya alergi kucing kok..."
Bantah Sherlin. Revand makin mengeratkan pelukannya dipinggang sang istri. Hal ini membuat Sherlin jadi malu. Malu karena Revand melakukan itu dihadapan orang lain yang tidak kurang ajar padanya.
"Oke, nikmati waktu kalian, aku pamit.."
Zill segera pamit, namun Revand bersuara. Hingga ia menghentikan langkahnya.
"Wanita ini bukan pacar ku, tapi istriku bung..."
Zill berpaling, lalu menatap wajah Revand.
"Oke, semoga rumah tangga kalian rukun selalu, jaga istri kamu dengan baik.."
Ucap nya tanpa ekspresi lalu berbalik meninggalkan Sherlin dan Revand.
"Vand, dia itu pernah nolongin aku waktu belanja di supermarket. Tadi itu aku bener bener nggak tau kalo kucing itu punya dia..."
"Kamu nggak boleh deket deket sama kucing sayang, ntar susah hamil..."
"Apa...?"
Revand segera menyuruh sang istri segera ketoilet sedang ia menunggu wanita itu diluar toilet. Mau percaya atau tidak, yang jelas larangan itu diucapkan oleh Revand semata mata hanya alibi nya saja. Ia hanya tidak suka, Sherlin bisa akrab dengan pemilik kucing tersebut apapun alasan nya...
Note: Cemburu tanda cinta, tapi memberikan kepercayaan dan menjaga kepercayaan juga salah satu tanda cinta.
__ADS_1
👉 Jangan lupa like,vote, klik favo, komen jika suka ya💖